9/15/2018

Pengalaman Mendistribusikan Bantuan untuk Korban Gempa di Pulau Sumbawa

Dusun Santong, Desa Dalam, Kecamatan Alas

Gempa yang terjadi di NTB selama sebulan lebih tak hanya menyisahkan duka bagi masyarakat Lombok. Akan tetapi juga meninggalkan trauma yang mendalam bagi masyarakat Sumbawa.

Banyak bangunan di Pulau Sumbawa khususnya Sumbawa bagian barat ambruk pasca gempa terakhir berkekuatan 6,9 SR dengan titik pusat Pulau Panjang. Bahkan hingga sekarang, gempa masih pula terjadi dengan titik pusat yang bergantian baik di Lombok atau di Sumbawa.

Beberapa waktu lalu, kami atas nama Forum Komunikasi Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Sumbawa (FKPPMS) - Mataram bekerjasama dengan teman-teman Indorelawan menginisiasi sebuah gerakan demi membantu saudara-saudara korban gempa NTB khususnya di Pulau Sumbawa.

Mulanya, sahabat indorelawan membuka donasi amal yang lalu hasilnya dibelanjakan beberapa kebutuhan pokok seperti selimut, terpal, popok bayi, makanan ringan, kaos kaki, baju bayi dan lain-lain. Dari Jakarta, barang ini lalu dikirim ke Mataram untuk didistribusikan oleh teman-teman FKPPMS.

Saya sebagai anggota kerja tim ingin berbagi sedikit pengalaman saat mendistribusikan bantuan untuk korban gempa di Pulau Sumbawa. Kami memilih mengunjungi dua kecamatan yang paling parah dan paling berdampak gempa yakni Kecamatan Alas dan Alas Barat.

Pertama, kami mengunjungi Desa Mapin Beru yang terletak di Kecamatan Alas Barat dan memberikan beberapa item bantuan seperti selimut, popok bayi, obat-obatan, kaos kaki, makanan ringan, dan baju bayi. Serah terima bantuan disaksikan lansung oleh Kepala desa, kadus, dan masyarakat yang ada di lokasi.

Setelah itu, kami lalu mengunjungi Desa Labu Mapin di kecamatan yang sama. Bagi saya, desa ini merupakan desa yang paling parah kerusakannya. Masyarakat mendirikan tenda pengungsian persis di lapangan umum, belakang kantor desa. Ada sekitar 200 tenda yang diisi oleh ratusan pengungsi mulai dari anak-anak, hingga orang tua. Masyarakat rata-rata kehilangan tempat tinggal. Memang, ada sebagian yang tidak roboh, tapi itupun sudah retak dan tidak layak huni.

Pengungsian di Desa Labu Mapin, Alas Barat

Di pengungsian

Di Desa Labu Mapin ini, kami membagikan lansung bantuan di pengungsian. Ada beberapa staf desa yang sempat ikut menuju lokasi dan mendokumentasikannya. Saat berbincang dengan salah seorang pengungsi, mereka menuturkan bahwa selama ini tak begitu banyak bantuan yang datang. Padahal, kondisi mereka dipengungsian bisa dibilang cukup memperihatinkan.

Menggunakan pick up, teman-teman kemudian bergerak menuju Kecamatan Alas. Di sana, kami menyambangi Desa Juran Alas dan bertemu lansung dengan sekretaris desa (sekdes). Kami memberikan bantuan seperti terpal, kaos kaki, peralatan bayi, dan selimut. Juran Alas sendiri merupakan salah satu desa yang paling parah kerusakannya dibanding desa-desa lain di Kecamatan Alas.

Terakhir kami mengunjungi Dusun Santong, Desa Dalam, yang berlokasi persis di depan kantor camat Kecamatan Alas. Ada hal menarik yang terjadi saat teman-teman mendistribusikan bantuan di tempat ini. Sesaat setelaj menyerahkan bantuan secara simbolis dengan masyarakat, tiba-tiba terjadi gempa berkekuatan 5,3 SR dengan titik pusat yang tak seberapa jauh dari Kecamatan Alas.

Hal ini sempat membuat masyarakat dan beberapa pegawai sekolah berhamburan keluar. Kami kemudian berusaha menenangkan anak-anak, lalu memberi mereka makanan ringan yang masih tersisa. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Saya bisa membayangkan bagaimana kondisi psikologis masyarakat di sana sebulan terakhir ini. Gempa dengan kekuatan variatif belum juga berhenti menggoyang NTB.

***

Gempa NTB terjadi di luar kajian ilmiah dan nalar saintifik. Tak ada yang benar-benar bisa menjelaskan kapan musibah ini akan berakhir. Bahkan sampai hari ini, gempa-gempa kecil pun masih terus terjadi meski dengan rentang waktu yang agak lama. Semua kita hanya bisa bersabar. Masyarakat hanya diam terpaku menyaksikan rumah mereka terpaksa diratakan dengan alat berat. Alam seakan berpesan bahwa tak ada yang benar-benar abadi.

Lalu pertanyaannya, apa yang hendak kita sombongkan?

Mataram, 15 September 2018

8/16/2018

Berusaha Memahami Sejarah Sumbawa

Ilustrasi

Di setiap diskusi sejarah, seringkali saya menilai bahwa tak semua orang mau bersusah payah membaca teks sebagaimana yang pernah dibentangkan para peneliti. Tak semua orang mau menelusuri tentang sejauh mana kebenaran informasi yang ia dapatkan. Makannya, pengetahuan tentang sejarah Sumbawa hanya dimiliki oleh sejumlah orang, sementara yang lain justru terjebak pada mitos.

Saya beri contoh. Dalam banyak diskusi, saya sering mendengar bahwa penamaan “Sale” pada teluk sale berasal dari nama salah seorang yang dikenal sakti pada zamannya. Ia dihadiahi harta sepandangan mata berkat pengabdiannya kepada Raja Sumbawa. Benarkah?

Sebenarnya, tak ada yang salah dengan cerita ini. Hanya saja, ketika didesak tentang aspek pembuktian atas informasi tersebut, mereka yang meyakini bahwa nama teluk sale diambil dari nama seorang yang sakti tadi harus mampu menyodorkan satu keping bukti. Lalu bagaimana caranya?

Mudah saja. Silahkan telusuri semua dokumen yang terkait tentang sejarah penamaan teluk sale, sejak kapan teluk itu dikatakan teluk sale dan sebagainya. Boleh jadi, kasusnya serupa bunga Raflesia yang namanya diambil dari nama penemu bunga tersebut yakni Raflesia Arnoldi.

Dalam dunia riset sejarah, dokumen memegang peranan penting sebab menjadi sumber tertulis yang mengkonfirmasikan kebenaran informasi tentang sejarah. Jika tak ada dokumen atas informasi itu, pertanyaannya, kenapa masih meyakini hal yang sama?

Pola seperti itu bisa juga diterapkan pada perdebatan tentang asal usul penamaan suku Samawa. Ada yang menyebut bahwa nama Samawa merujuk pada kitab suci Al-quran, ada pula versi yang menyebut bahwa penamaan Samawa dikutip dari bahasa Pali kuno. Ketika ditanya tentang sumber informasinya, rata-rata tidak bisa memberikan data yang kuat. Ini artinya sejarah sudah masuk pada ranah subyektivitas dan tertutup. Padahal, pengetahuan itu harus selalu terbuka dan bisa dikritisi dari banyak sisi.

Lemahnya, Sumbawa tak memiliki dokumen sejarah yang cukup kuat untuk menjelaskan beberapa contoh kasus di atas. Makannya, metodologi dalam menentukan sejarah amatlah dibutuhkan. Pada titik ini, saya akan mengamini kalimat pendiri sejarah Lord Acton bahwa metodologi amatlah penting agar sejarah tidak terjebak pada subyektivitas mereka yang hendak menuturkannya.

Melalui metodologi, kita bisa mengurai mana hal yang faktual, dan mana hal yang fiksional. Memang, metode punya banyak varian, serta bisa menggiring kita pada kesalahan, akan tetapi, metodologi menjaga agar seseorang tetap dalam koridor yang obyektif dan hati-hati dalam membahas sejarah. Melalui metode yang benar, seseorang akan bisa meminimimalisir bias subyektif, demi untuk melahirkan analisis yang lebih jernih dan kuat kebenarannya.

Selain itu, Pemda Sumbawa juga bisa membuat satu tim riset yang bertugas menggali, mengkaji, menganalisa, hingga menemukan kebenaran sejarah yang nantinya bisa dipertanggungjawabkan secara publik. Bila perlu, kirim mereka ke Belanda demi mengumpulkan dokumen-dokumen penting terkait budaya dan peradaban Sumbawa di masa silam.

Dengan begitu, tak akan ada lagi perdebatan tentang sejarah kesumbawaan kita. Tak akan ada lagi subyektivitas. Dengan cara melihat dari banyak sisi, maka sejarah itu bisa menjadi lebih obyektif, dan tidak terjebak pada mitos.

Sumbawa, 16 Agustus 2018

7/23/2018

Setelah Lama Tidak Menulis

Gambar: google

Beberapa sahabat blogger menanyakan mengapa akhir-akhir ini saya jarang sekali update tulisan di blog. Mereka kira saya sudah berhenti menulis lalu vakum di dunia blogging. Padahal, saya hanya rehat untuk beberapa saat. Dua bulan lalu, saya pulang ke kampung halaman di Sumbawa. Di sana, saya tak punya banyak waktu untuk menulis sebab siangnya harus membantu pekerjaan orang tua serta malamnya harus beristirahat.

Alasan lain adalah, saya memang sempat kecanduan bermain game online. Selain membuat saya malas menulis, game itu juga membuat saya tidak produktif dalam banyak hal. Alhasil, setelah melakukan evaluasi terhadap rutinitas harian, saya memilih menghapusnya dari perangkat.

Sebenarnya, tak ada yang benar-benar bisa menghambat saya untuk tidak menulis dalam waktu lama. Dulu jika kemalasan menulis tengah mendera, saya biasa berselancar di internet dan membaca berbagai situs, demi menemukan motivasi kuat untuk menulis sesuatu. Makannya tak ada yang spesial di blog ini selain tumpahan catatan keseharian saya dalam berbagai hal.

Saya kerap iri pada mereka yang seakan tak kehabisan energi untuk menulis. Padahal, aktivitas ini tak semudah yang dibayangkan banyak orang. Anda boleh menulis apa saja tanpa memperhatikan kaidah penulisan, tetapi saat tulisan anda dikritisi, anda juga harus selalu berbesar hati menerimanya.

Sebut saja Yusran Darmawan, blogger yang satu ini selalu konsisten dalam menulis. Ia seakan tak kehabisan topik. Produktivitasnya sekelas Goenawan Mohamad dalam dunia penulisan esai. Ia menulis apa saja mulai dari tema politik, teknologi, etnografi, sejarah, hingga meresensi buku-buku best seller. Saya tak pernah alpa membaca tulisan terbaru di blog pribadinya yang telah mencapai ribuan postingan. Alamatnya di sini.

Yang saya senangi dari penulis lulusan Ohio University itu adalah kebiasaannya membagikan kiat-kiat menulis bagi para blogger pemula. Dalam satu tulisan, ia menjelaskan bahwa menulis hanya soal keberanian menggoreskan sesuatu di atas kertas. Menulis adalah bagaimana mendengar kata hati serta mengikuti hasrat untuk menjadi penulis, tanpa terlalu memperdulikan kritikan dan cacian orang lain. Baginya, Semua orang bisa menjadi penulis. Semua orang bisa melahirkan karya tulis, apapun pendidikan, latar belakang, serta pengalamannya.

Benar atau tidak, tentu kita tidak pernah tau sebelum benar-benar mencobanya.

Mataram, 23 Juli 2018

2/25/2018

Berhenti Bicara Politik

Ilistrasi (sumber: google)

Dimana-mana orang bicara politik. Di pinggir jalan orang ngomongin politik. Di media sosial apalagi. Kata banyak orang, politik itu adalah alat untuk menggapai kesejahteraan bersama. Akan tetapi, semua tak sesederhana itu. Di dunia nyata, politik telah mengalami penciutan makna. Politik adalah kekuasaan, lalu banyak orang rela melakukan apa saja demi kekuasaan itu.

Jika tak percaya, ikuti saja perjalanan masing-masing tim sukses calon. Lihat apa yang mereka lakukan, seberapa besar anggaran yang digelontorkan demi meraup suara. Dalam politik, tak ada makan siang gratis bro. Anda masih ingat La Nyala bukan? Ia adalah saoah satu pejabat yang statemennya dianggap kontroversial, lalu menggemparkan banyak media tempo hari.

Entah kenapa, saya tak pernah terlalu berharap pada politik. Lebih-lebih proses pilkada. Bagi saya, mustahil menggantungkan hidup pada segelintir orang. Mustahil berharap kehidupan yang lebih baik pada mereka. Neda halnya jika anda adalah tim sukses, atau pemodal yang berinvestasi melalui salah satu calon. Tapi jika anda rakyat biasa, saya sarankan untuk segera bangun dari tidur.

Mataram, 25 Februari 2018

1/16/2018

Gus Dur di Mata Orang Jepang

Gua Dur (gambar: sisterislam/twitter)

Siapa yang tidak kenal Gus Dur? Mantan Ketua Umum PBNU, sekaligus presiden ke-4 Indonesia ini merupakan salah satu tokoh bangsa yang amat fenomenal. Ia adalah cendikiawan muslim tanah air yang dikagumi banyak orang. Gagasan-gagasannya kontroversial, termasuk mengeluarkan dekrit pembubaran DPR/MPR.

Di zaman presiden Soeharto, Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang aktif mengkritisi penguasa. Setelah orde baru tumbang, ia pun terjun ke dunia politik, yang lalu mengantarkannya menjadi presiden. Posisi Gus Dur memang tak bertahan lama. Terhitung, masa jabatannya hanya berlansung selama 1 tahun 9 bulan.

Banjir kritikan karena kunjungan luar negeri yang demikian banyak, pertentangannya dengan DPR, hingga masalah investasi yang tidak jelas membuat Gus Dur terpaksa diberhentikan dari kursi kepresidenan. Posisinya kumudian digantikan oleh sang wakil, yakni Megawati Sukarnoputri.

Kisah tentang Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur saya temukan dalam buku Islam di Mata Orang Jepang karya Hisanori Kato, terbitan Kompas 2014 lalu. Buku setebal 176 halaman itu memuat cerita perjalanan Kato saat melakukan riset tentang agama islam di Indonesia.

Kato menjadikan beberapa tokoh sebagai pintu masuk untuk memahami bagaimana islam di Indonesia ditafsirkan secara berbeda. Ia meniti islam diantara lautan pemikiran. Ia merajut serpihan pandangan dari pertautan dengan banyak orang, lalu berusaha menemukan sendiri seperti apa islam yang sebenarnya. Sebagai peneliti, Kato tidak fokus pada ajaran dan teks keislaman, tetapi fokus pada bagaimana islam itu dihayati dan dibumikan dalam kehidupan penganutnya.

Kato mewawancarai beberapa tokoh yang menurutnya menjadi refresentasi islam di Indonesia. Ia menulis pertemuannya dengan Bismar Siregar, Mohamad Sobary, Ismail Yusanto (Jubir HTI), Ulil Abshar Abdalla, Eka Jaya (anggota FPI), Fadzli Dzon, Gus Dur, hingga tokoh perempuan seperti Lili Munir. Ia mengaku senang bisa mewawancarai banyak orang. Di setiap perjumpaan itu, ia mengaku selalu menyerap keping inspirasi.

Menurut Kato, agama dalam kehidupan di Indonesia memainkan peran yang begitu dominan. Hal ini bertolak belakang dengan apa yang terjadi di negara asalnya. Di sekolah umum di Jepang, kata “agama” dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Bisa disimpulkan, sangat tidak mungkin agama menjadi topik pembicaraan, kecuali dalam pelajaran sejarah. Berbeda halnya dengan pendidikan di Indonesia yang meletakan agama sebagai sesuatu yang amat penting.

Di satu bagian, Kato menceritakan pertemuannya dengan Gus Dur. Ia mengaku telah lama memendam hasrat untuk memawawancarai pemimpin agama islam yang namanya tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga di dunia itu. Kato menemui Gus Dur pertama kali di kantor pusat Nahdlatul Ulama, Jakarta pada tahun 1996.

Topik pembicaraan mereka saat itu adalah hubungan antara agama islam dan demokrasi. Gus Dur mengungkapkan dengan semangat bahwa terdapat kesamaan antara agama islam dengan demokrasi yang disebut dalam masyarakat Barat. Menyoal “benturan peradaban” yang ditulis Samuel Huntington, ia mengatakan dengan jelas kalau itu keliru. “Yang disebut demokrasi bukan nilai yang hanya ada di Barat, semua agama termasuk agama islam demokratis, mempunyai nilai atas seluruh umat manusia.” Katanya.

Gus Dur menekankan bahwa nilai-nilai demokrasi bisa diwujudkan dalam masing-masing budaya. Bersamaan dengan itu, masyarakat Indonesia seharusnya berkembang dengan tetap memelihara aspek budaya. “Saya ingin membentuk masyarakat Indonesia yang memiliki toleransi dan keluwesan, bukan masyarakat islam” tambah Gus Dur kepada Kato.

Gus Dur (gambar: infobiografi.com)

Gus Dur yang Kharismatik

Menurut Kato, Gus Dur begitu mudah menyampaikan pikiran-pikirannya tentang kesetaaran dan demokrasi, tak lain karena kharismanya yang begitu kuat. Ia menceritakan pengalamannya saat menemani Gus Dur memberi ceramah di sebuah masjid di Jakarta Utara. Hari itu, Gus Dur berbicara kepada jamaah yang hadir tentang pentingnya masyarakat islam melindungi dan hidup berdampingan dengan kelompok minoritas yakni agama kristen, budha, hindu, dan lalin-lain.

Saat itu, Kato menyaksikan orang-orang yang memadati aula mendengarkan ceramah dengan takzim. Ia melihat betapa pikiran-pikiran Gus Dur bisa dihargai. Tak semua orang yang berbicara tentang gagasan besar mudah diterima. Sebagai contoh, Ulil Abshar Abdalla, aktivis islam liberal muda yang juga begitu terinspirasi dengan sosok Gus Dur, belum tentu mendapat apresiasi masyarakat luas. Malah, dalam sati publikasi, Ulil mengaku begitu banyak mendapat ancaman saat mendirikan Jaringan Islam Liberal (JIL).

Lalu, dari mana gerangan munculnya kharisma Gus Dur? Jika dilihat dari silsilahnya, keluarga Gus Dur mempunyai garis keturunan elite di Indonesia. Kakeknya, Hasyim Asy’ari adalah ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama, salah satu ormas islam terbesar di Indonesia. Ayahnya, Wahid Hasyim dikenal sebagai menteri agama pertama tang juga ikut berjasa dalam pembentukan fondasi negara.

Sejak usia muda, Gus Dur memang telah dipandang sebagai tokoh yang mewarisi pemikiran besar dari ayah dan kakeknya. Ia belajar di Mesir dan Irak, lalu pulang ke Indonesia sebagai kritikus pemerintah. Pada tahun 1984, Gus Dur ditunjuk sebagai ketua PBNU dan menjadi presiden pada kurun waktu antara 1999-2001.

Gus Dur Sebagai Politisi

Banyak orang yang mengkritisi Gus Dur sebagai politisi. Perkataannya yang blak-blakan seringkali memunculkan antipati. Namun, siapa pun akan mengakui bahwa jasanya kian besar dalam menumbuhkan demokratisasi, kebebasan memeluk agama, dan toleransi antar umat dalam sejarah republik ini.

Setelah terpilih sebagai presiden, Gus Dur mengeluarkan begitu banyak kebijakan yang berkaitan dengan domokratisasi. Ia membebaskan tahanan politik yang dicurigai terlibat dalam komunisme, memperbolehkan budaya China yang sebelumnya dilarang, memberi hak yang sama kepada semua agama, hingga menutup departemen yang berhubungan dengan aktivitas intelijen.

Kato melihat Gus Dur sebagai sosok pemimpin yang begitu dekat dengan rakyat. Tak jarang, ia melakukan shalat jumat di masjid istana kepresidenan, lalu meluangkan waktu untuk berbincang dengan masyarakat umum. Ia tipikal pemimpin yang terbuka. Suatu hari, sekelompok aktivis yang menentang kebijakan ekonomi pemerintah melakukan demonstrasi di depan istana. Saat itu, Gus Dur justru mengundang mereka ke dalam istana untuk menyampaikan pendapatnya.

Kato juga sempat mendampingi Gus Dur saat mengisi kuliah umum di Jepang. Setelah perkuliahan selesai, ia yang dijadwalkan untuk menghadiri acara yang lain segera menuju mobilnya. Melihat itu, para mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang menghampiri Gus Dur untuk memberi salam. Meski panitia acara berusaha menghalangi, Gus Dur tetap berdiri dan berbicara dengan para mahasiswa itu. “Asalnya dari mana? Belajar apa di sini? Jepang bagaimana?” Demikian pertanyaan Gus Dur kepada mereka.

Sikap Mendasar Gusdur

Di antara sekian banyak pemimpin agama islam, Gus Dur adalah yang paling banyak diwawancarai Kato. Ia mencatat, ada tigal hal yang menjadi sikap mendasar dari tokoh yang satu ini. Pertama, ia selalu bersikap kritis kepada orang yang mempunyai kekuasaan, kedua memperlakukan agama islam sebagai urusan pribadi, dan ketiga mencari pola islam yang baru.

Tak hanya itu, Kato juga melihat Gus Dur sebagai sosok yang paling sering melontarkan lelucon. Dasar dari lelucon-leluconnya itu selalu saja berupa sindiran terhadap penguasa. Tak jarang, ia menjadikan Suharto dan Ibu Tien sebagai bahannya. Dari sana, Kato menyadari betapa Gus Dur memiliki jiwa pemberontakan terhadap kekuasaan yang besar. Dan itu sebenarnya menunjukkan keberpihakannya terhadap rakyat lemah.

***

Di akhir kisah, tak lupa Kato mengenang pertemuan terakhirnya dengan bapak pluralisme Indonesia itu. September 2009, Gus Dur tengah menjalani perawatan di rumah sakit. Kato yang berkunjung ke Jakarta dalam waktu terbatas, berusaha menyempatkan diri untuk melihat kondisi sahabatnya. Di sana, Gus Dur yang bangkit dari tempat tidur masih tampak sehat. Tak ada perubahan sedikitpun pada fisiknya.

“Gus kondisi anda apa sudah jauh membaik? Apa yang anda rasa?”
“Ini hanya komplikasi, tetapi sekarang sudah lebih baik” Jawabnya.
“Kalau begitu, kenapa anda tidak boleh pulang? Berapa lama lagi anda di opname?”
“Kira-kira tiga bulan lagi saya harus dirawat di sini” Kata Gus Dur.

Setelah pertemuan itu, Kato sedikit lebih tenang saat meninggalkan rumah sakit. Namun, persis tiga bulan kemudian, tepatnya di akhir Desember 2009, sebuah kabar duka berhembus. Gus Dur meninggal dunia. Sosok yang namanya seharum bunga itu telah tiada. Ia seakan telah meramalkan akhir dari perjalanan hidupnya sendiri.

Gus Dur adalah fenomena langka. Kepergiannya menyisahkan luka mendalam bagi banyak orang. Di tengah kondisi bangsa yang serupa benang kusut, kita kehilangan tokoh yang pikirannya melampaui zaman. Di tengah guncangan stabilitas sosial oleh berbagai isu sara, serta teriakan kafir dan intimidasi kepada sesama, kita kehilangan satu figur yang semangat hidupnya dikobarkan atas nama toleransi dan keberagaman.

Mataram, 16 Januari 2017

1/12/2018

Membincang Perselingkuhan, dari Memperpendek Umur Hingga Gejolak Sosial


Seorang sahabat berkisah tentang teman sekantornya yang ketahuan selingkuh. Ia adalah seorang diplomat yang sekarang berkarir di luar negeri. Kami memang sering berdiskusi melalui kontak media sosial. Di waktu senggang, kami biasa membahas banyak hal yang sedang ramai atau lagi hangat-hangatnya.

Hari itu, ia menghubungi saya melalui messenger. Seperti biasa, setelah bersua kabar kami pun berbincang ringan. Tanpa disengaja obrolan kami masuk ke bahasan seputar perselingkuhan.

Sahabat itu mulai bercerita tentang teman sekantornya yang terpaksa dipecat karena kedapatan selingkuh. “Di sini memang regulasinya agak ketat. Sekali melanggar, kita akan diberi sangsi pemecatan. Apalagi jika menyangkut soal perselingkuhan” Katanya.

Ia kemudian lanjut bercerita. “Kamu tau ngak, selingkuh itu ternyata bisa memperpendek umur. Teman saya yang kuliah di Dortmund baru saja melakukan penelitian tentang topik itu. Mereka yang berselingkuh rata-rata meninggal di usia muda” What??? Saya agak sedikit terkejut mendengar pernyataan itu.

Sebenarnya, tema tentang perselingkuhan ini telah beredar banyak di internet. Saya juga telah membaca beberapa artikel kesehatan yang menyebutkan bahwa perselingkuhan tak hanya bisa menyebabkan penyakit menular seksual, tetapi juga masalah medis yang lebi serius, yakni serangan jantung dan penyakit kanker.

Dalam satu publikasi ilmiah, seorang spesialis jantung di Florida, Dr Chauncey Crandall, menerangkan bagaimana stres dan tekanan saat terjadinya perselingkuhan bisa membuat risiko serangan jantung makin besar. Saat melakukan hubungan intim terlarang, denyut jantung dan tekanan darah meningkat, yang bisa memicu plak di arteri koroner pecah sehingga mengakibatkan serangan jantung. Paparnya.

Terkait cerita sahabat tadi, beberapa hari berselang, ia kembali menghubungi saya. Kali ini ia mengabarkan berita duka. Teman kantor yang dipecat karena ketahuan selingkuh tempo hari itu meninggal dunia. Yang membuat saya lebih terkejut adalah, saat mengetahui kematiannya diakibatkan oleh serangan jantung.

Saya tak hendak berkomentar. Saya tak ingin berspekulasi atas apa yang tidak benar-benar saya pahami. Saya hanya seorang mahasiswa yang hanya kebetulan sedang tertarik membaca informasi seputar dunia kesehatan. Terkait paparan Crandall, tentu kita boleh menjadikannya sebagai pemantik diskusi, serta rujukan saat harus menjelaskannya kepada banyak orang.

Kepada sahabat itu, saya hanya mengucapkan kalimat prihatin. Bagaimanapun juga, ia sudah mengakui kesalahan, lalu meminta maaf kepada istri dan anaknya. Menyoal perselingkuhan sendiri, saya lebih senang jika memaknai fenomena ini dalam spektrum yang lebih luas. Lebih-lebih jika itu terjadi di Indonesia.

Saya masih ingat saat Jennifer Dun menjadi bulan-bulanan media beberapa waktu lalu. Hampir semua berita infotaiment mengulik hubungannya dengan Faisal Haris. Masa lalu artis cantik itu menjadi bahan investigasi, yang lalu dengan cepat beredar. Bahkan, ia sempat mendapat perlakukan tidak menyenangkan dari Shafa, anak Faisal Haris, di salah satu tempat perbelanjaan umum.

Nah, seandainya kita adalah Jennifer Dun saat itu, apakah gerangan yang akan kita lakukan? Bagimanakah perasaan gadis muda itu saat foto-fotonya beredar luas di banyak media? Bagaimana pula tanggapan para keluarga, saat kalimat “Pelakor” dengan leluasa disematkan oleh publik kepadanya?

Pada skala yang lebih besar, perselingkuhan bukan sekedar jalinan kasih sepasang insan yang dilakoni secara sembunyi-sembunyi, tetapi juga menyangkut reputasi banyak pihak.

Disadari atau tidak, selain berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan, serta memantik gejolak sosial di tengah masyarakat, perselingkuhan juga merupakan ladang subur bagi beberapa acara televisi yang aktif mengusut dan menggoreng polemik tersebut hingga menjadi tontotan yang renyah untuk dikonsumsi.

Pada titik ini, medadak saya teringat lirik salah satu lagu dari group band tanah air:

Mungkin kurelakan untuk kau tinggalkan Diriku di sini harus mengakhiri Aku yang merasa lelah dan menyerah Karena tak selamanya selingkuh itu indah...


Mataram, 12 Januari 2018

1/11/2018

Membaca Potensi Kemenangan Zul-Rohmi di Pilgub NTB

Ilustrasi (gambar: instagram/cepotdoank)

Peluit panjang tanda dimulainya kontestasi pilgub NTB telah berbunyi. Hari rabu kemarin, 10 Januari 2018, pasangan Zulkieflimansyah dan Siti Rohmi Djalillah yang diusung koalisi partai PKS dan Demokrat menjadi calon terakhir yang mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) NTB. Tak tanggung-tanggung, ribuan massa pendukung, simpatisan, serta para relawan turut mengantarkan paslon dengan jargon NTB Gemilang itu.

Di sudut lain arena, tiga kontestan sudah lebih dulu menunggu. Mereka adalah Ali-Sakti yang ikut melalui jalur independent, Ahyar-Mori, dan Suhaili-Amin. Jika politik adalah seni memantik simpati publik demi meraup suara sebanyak-banyaknya, maka siapakah yang akan keluar sebagai pemenang?

***

Di antara semua kandidat yang mencalonkan diri di pilgub NTB, sosok zulkieflimansyah adalah yang paling banyak menuai perbincangan. Sejak mendapatkan gelar doktor dari Strathlyde Business School, University of Strathclyde di United Kingdom (UK), Zul adalah tokoh yang tak bisa diragukan. Di berbagai diskursus politik, ia selalu tampil dengan narasi yang memikat. Ia pandai memilih diksi, lalu menyampaikan untaian kalimat yang terarah. Dalam banyak hal, kapasitasnya di atas rata-rata.

Zul terbilang sosok politisi muda yang berani menerabas pakem-pakem politik. Di Banten, ia pernah mencalonkan diri dengan Marrisa Haq meski harus menelan kekalahan saat bertarung dengan incumbent, Ratu Atut Chosiyah. Sebelumnya, ia juga sudah terpilih sebagai anggota DPR RI dari dapil Banten sejak 2004 lalu.

Di pelagan pilgub NTB, pendiri Universitas Teknologi Samawa itu berpasangan dengan Siti Rohmi Djalillah, kakak dari gubernur dua periode NTB yakni Muhammad Zainul Majdi yang kerap disapa Tuan Guru Bajang. Rohmi adalah sejarah baru dalam pesta demokrasi NTB. Ia menjadi kandidat perempuan pertama sejak pemilihan gubernur secara lansung digelar. Sebelumnya, ia sempat menjabat sebagai ketua DPRD NTB, yang lalu memilih fokus pada dunia pendidikan dengan menjadi Rektor Universitas Hamzanwadi, salah satu kampus swasta terbesar di NTB.

Di atas kertas, siapapun kandidat yang akan bertarung dalam pilgub NTB 2018 bisa saja mengklaim diri paling unggul dalam hal perolehan suara. Termasuk pula pasangan Zul-Rohmi. Keduanya juga memiliki peluang besar untuk keluar sebagai yang terbaik.

Namun, politik tetaplah sebuah drama. Selalu dibutuhkan ketenangan, ketahanan, serta kematangan demi menjadi pemenang. Bayangkan saja, mereka yang menjadi aktor harus berdarah-darah dari mendapat rekomendasi partai, hingga tahap perang taktik saat kampanye. Jalan politik memang jalan yang dipenuhi pedang. Mereka yang pertahannya paling lemah, akan menjadi pesakitan kandidat lain.

Potensi Kemenangan Zul-Rohmi


Membahas Zul-Rohmi adalah membahas pilgub NTB dari sisi paling unik. Mengapa? Sebab jika duo doktor ini menang, maka sesungguhnya sejarah baru telah terhampar di perhelatan lima tahunan. Bisakah? Marilah kita mencatat beberapa potensi kemenangan Zul-Rohmi dalam pilgub NTB 2018.

Pertama, tak ada pasangan yang dominan. Keikutsertaan Ali-Sakti sebagai pasangan independent semakin menegaskan bahwa tak akan ada pasangan yang benar-benar dominan dalam pilgub NTB. Semuanya sama-sama memiliki basis massa. Mereka yang akan keluar sebagai pemenang adalah yang berhasil menghimpun sedikit demi sedikit suara di daerah kandidat lain.

Lombok Timur sebagai lumbung pemilih terbanyak di NTB diprediksikan tak akan menjadi kunci kemenangan layaknya lima tahun silam. Lotim akan menjadi pertarungan dari tiga calon yang masing-masing memiliki kans suara yakni Ali-Sakti, Ahkyar Mori, Serta Zul-Rohmi.

Ali adalah tokoh yang sekarang tengah menjabat sebagai Bupati Lotim. Menyoal suara, tentu tak usah diragukan lagi. Sedangkan Akhyar, ia adalah putra Lotim yang sekarang menjabat sebagai Wali Kota Mataram. Seakan mempertegas kekuatan, deklarasi pasangan yang satu ini digelar dengan semarak dengan menghadirkan ketua umum Gerindra, Probowo Subianto, di Kecamatan Masbagik, Lotim tempo hari.

Kontestan lain adalah Zulkieflimansyah yang akan mendulang suara melalui wakilnya, yakni Siti Rohmi Djalillah. Seperti diketahui, Rohmi adalah tokoh NW dengan kekuatan basis Massa di Lombok Timur. Terlebih lagi, ia merupakan cucu dari pendiri ormas terbesar di NTB, Maulana Syeikh Zainuddin Muhammad Abdul Majid.

Kedua, suara Pulau Sumbawa. Zulkieflimansyah memang bukan satu-satunya calon yang berasal dari Pulau Sumbawa. Tokoh lain adalah Mori Hanafi yang menjabat Wakil DPRD NTB dan Muhammad Amin sebagai Wakil Gubernur NTB. Namun yang perlu diketahui, hanya Bang Zul lah yang mendaftar sebagai calon gubernur, sedang dua lainnya mendaftar sebagai wakil masing-masing calon dari Pulau Lombok.

Untuk kasus ini, marilah berkaca pada fenomena pilgub sebelumnya. Dulu, Amin yang kala itu berpasangan dengan TGB tak mampu mengungguli suara Kyai Zulkifli Muhadli di Sumbawa. Kenapa? Sebab kriteria pemilih masyarakat Sumbawa lebih mengharapkan calon gubernur ketimbang wakil.

Psikologi masyarakat yang jauh dari pusat pemerintahan, cenderung haus dengan perubahan di segala lini. Mereka menginginkan satu figur yang mampu merefresentasikan segala kegelisahan dan harapan di masa depan. Mereka tak mau sosok yang mewakili mimpi mereka ditingkat pusat hanya menjadi bawahan yang sesekali tampil saat acara gunting pita dan peresmian. Mereka berharap hadirnya satu tokoh sebagai penentu kebijakan, serta setia mendengar keluh kesah masyarakat di lapisan terbawah (grass root).

Ketiga, kekuatan media. Zul tak hanya politisi muda dengan segudang prestasi mentereng di bidang akademik, tetapi juga memiliki jam terbang yang mumpuni. Tak jarang ia tampil sebagai pembicara di forum-forum nasional dan internasional. Ia juga bergaul dengan sejumlah pakar IT yang lalu membuatnya begitu memahami kekuatan media.

Sejauh ini, saya melihat pemberitaan tentang dirinya adalah yang paling aktif di media sosial. Lawan-lawan politiknya tak segera sadar bahwa apapun isi pemberitaan itu, baik atau buruk, ini akan tetap melambungkan popularitas Bang Zul di tengah masyarakat. Barisan haters masih saja terjebak pada isu pribadi yang justru akan menarik lebih banyak kerumunan orang untuk menelisik kehidupan beliau.

Keempat, otoritas TGB. Sangat sulit untuk menyebutkan bahwa kemilau cahaya ketokohan TGB tidak akan berpengaruh di pilgub NTB 2018. Ia adalah gubernur dua periode dengan suara sempurna. Elektabilitasnya tak bisa diragukan lagi. Bahkan banyak masyarakat awam yang masih berharap ia memipin NTB untuk ketiga kalinya.

Kelebihan pasangan Zul-Rohmi adalah berhasil menarik TGB ke gerbong mereka. Semboyan “Lanjutkan Ikhtiar TGB” seakan-akan bertujuan untuk mengarahkan opini publik pada sikap politik tertentu. Jika saja calon lain tak mampu membendung gerak TGB untuk masuk ke dalam arena, dan muncul dalam banyak acara bersama Bang Zul, maka saya menduga peluang untuk menggapai kursi NTB kian terbuka.

Jangan lupa, Zulkieflimansyah adalah sosok yang selama ini paling banyak memberi kejutan. Beberapa waktu lalu, banyak pihak yang pesimis dengan kemampuan lelaki berkacamata itu. Mereka bahkan berani bertaruh kalau Zulkieflimansyah tak akan berhasil mendapat rekomendasi partai. Kini, bisa disaksikan bahwa omongan para pakar dadakan yang banyak berseliweran di media sosial berbanding terbalik.

***

Saat ini, yang harus dilakukan tim Zul-Rohmi adalah memastikan gagasan-gagasan besar yang ditawarkan oleh calon menggapai setiap pintu rumah. Pikiran tentang NTB gemilang harus mampu disederhanakan agar tak hanya dipahami oleh segelintir masyarakat. Terkait cyber armi di dunia maya, mereka harus terus menerus memproduksi segala konten positif prihal tokoh muda itu tanpa sedikitpun terpancing pada opini, nyinyiran, serta isu pribadi yang mulai bermunculan.

Jangan coba-coba membalas atapun memasuki ranah kampanye hitam sebab itu bisa berpotensi menjadi boomerang di kemudian hari. Mereka yang mengelola media harus pandai memilih timing berita, diksi yang tepat, serta pencitraan yang sedikit alamiah. Raih simpati publik dengan cara tetap memunculkan branding muda, cerdas, dan sederhana sesuai keperibadian calon.

Ini hanyalah pengantar awal tentang pilgub NTB 2018. Tentu semua boleh berasumsi serta memetakan kekuatan masing-masing calon. Kemerdekaan berfikir adalah keniscayaan. Di tahun politik seperti ini, kewarasan harus selalu dikedepankan.

Mataram, 11 Januari 2017