1/16/2018

Gus Dur di Mata Orang Jepang

Gua Dur (gambar: sisterislam/twitter)

Siapa yang tidak kenal Gus Dur? Mantan Ketua Umum PBNU, sekaligus presiden ke-4 Indonesia ini merupakan salah satu tokoh bangsa yang amat fenomenal. Ia adalah cendikiawan muslim tanah air yang dikagumi banyak orang. Gagasan-gagasannya kontroversial, termasuk mengeluarkan dekrit pembubaran DPR/MPR.

Di zaman presiden Soeharto, Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang aktif mengkritisi penguasa. Setelah orde baru tumbang, ia pun terjun ke dunia politik, yang lalu mengantarkannya menjadi presiden. Posisi Gus Dur memang tak bertahan lama. Terhitung, masa jabatannya hanya berlansung selama 1 tahun 9 bulan.

Banjir kritikan karena kunjungan luar negeri yang demikian banyak, pertentangannya dengan DPR, hingga masalah investasi yang tidak jelas membuat Gus Dur terpaksa diberhentikan dari kursi kepresidenan. Posisinya kumudian digantikan oleh sang wakil, yakni Megawati Sukarnoputri.

Kisah tentang Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur saya temukan dalam buku Islam di Mata Orang Jepang karya Hisanori Kato, terbitan Kompas 2014 lalu. Buku setebal 176 halaman itu memuat cerita perjalanan Kato saat melakukan riset tentang agama islam di Indonesia.

Kato menjadikan beberapa tokoh sebagai pintu masuk untuk memahami bagaimana islam di Indonesia ditafsirkan secara berbeda. Ia meniti islam diantara lautan pemikiran. Ia merajut serpihan pandangan dari pertautan dengan banyak orang, lalu berusaha menemukan sendiri seperti apa islam yang sebenarnya. Sebagai peneliti, Kato tidak fokus pada ajaran dan teks keislaman, tetapi fokus pada bagaimana islam itu dihayati dan dibumikan dalam kehidupan penganutnya.

Kato mewawancarai beberapa tokoh yang menurutnya menjadi refresentasi islam di Indonesia. Ia menulis pertemuannya dengan Bismar Siregar, Mohamad Sobary, Ismail Yusanto (Jubir HTI), Ulil Abshar Abdalla, Eka Jaya (anggota FPI), Fadzli Dzon, Gus Dur, hingga tokoh perempuan seperti Lili Munir. Ia mengaku senang bisa mewawancarai banyak orang. Di setiap perjumpaan itu, ia mengaku selalu menyerap keping inspirasi.

Menurut Kato, agama dalam kehidupan di Indonesia memainkan peran yang begitu dominan. Hal ini bertolak belakang dengan apa yang terjadi di negara asalnya. Di sekolah umum di Jepang, kata “agama” dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Bisa disimpulkan, sangat tidak mungkin agama menjadi topik pembicaraan, kecuali dalam pelajaran sejarah. Berbeda halnya dengan pendidikan di Indonesia yang meletakan agama sebagai sesuatu yang amat penting.

Di satu bagian, Kato menceritakan pertemuannya dengan Gus Dur. Ia mengaku telah lama memendam hasrat untuk memawawancarai pemimpin agama islam yang namanya tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga di dunia itu. Kato menemui Gus Dur pertama kali di kantor pusat Nahdlatul Ulama, Jakarta pada tahun 1996.

Topik pembicaraan mereka saat itu adalah hubungan antara agama islam dan demokrasi. Gus Dur mengungkapkan dengan semangat bahwa terdapat kesamaan antara agama islam dengan demokrasi yang disebut dalam masyarakat Barat. Menyoal “benturan peradaban” yang ditulis Samuel Huntington, ia mengatakan dengan jelas kalau itu keliru. “Yang disebut demokrasi bukan nilai yang hanya ada di Barat, semua agama termasuk agama islam demokratis, mempunyai nilai atas seluruh umat manusia.” Katanya.

Gus Dur menekankan bahwa nilai-nilai demokrasi bisa diwujudkan dalam masing-masing budaya. Bersamaan dengan itu, masyarakat Indonesia seharusnya berkembang dengan tetap memelihara aspek budaya. “Saya ingin membentuk masyarakat Indonesia yang memiliki toleransi dan keluwesan, bukan masyarakat islam” tambah Gus Dur kepada Kato.

Gus Dur (gambar: infobiografi.com)

Gus Dur yang Kharismatik

Menurut Kato, Gus Dur begitu mudah menyampaikan pikiran-pikirannya tentang kesetaaran dan demokrasi, tak lain karena kharismanya yang begitu kuat. Ia menceritakan pengalamannya saat menemani Gus Dur memberi ceramah di sebuah masjid di Jakarta Utara. Hari itu, Gus Dur berbicara kepada jamaah yang hadir tentang pentingnya masyarakat islam melindungi dan hidup berdampingan dengan kelompok minoritas yakni agama kristen, budha, hindu, dan lalin-lain.

Saat itu, Kato menyaksikan orang-orang yang memadati aula mendengarkan ceramah dengan takzim. Ia melihat betapa pikiran-pikiran Gus Dur bisa dihargai. Tak semua orang yang berbicara tentang gagasan besar mudah diterima. Sebagai contoh, Ulil Abshar Abdalla, aktivis islam liberal muda yang juga begitu terinspirasi dengan sosok Gus Dur, belum tentu mendapat apresiasi masyarakat luas. Malah, dalam sati publikasi, Ulil mengaku begitu banyak mendapat ancaman saat mendirikan Jaringan Islam Liberal (JIL).

Lalu, dari mana gerangan munculnya kharisma Gus Dur? Jika dilihat dari silsilahnya, keluarga Gus Dur mempunyai garis keturunan elite di Indonesia. Kakeknya, Hasyim Asy’ari adalah ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama, salah satu ormas islam terbesar di Indonesia. Ayahnya, Wahid Hasyim dikenal sebagai menteri agama pertama tang juga ikut berjasa dalam pembentukan fondasi negara.

Sejak usia muda, Gus Dur memang telah dipandang sebagai tokoh yang mewarisi pemikiran besar dari ayah dan kakeknya. Ia belajar di Mesir dan Irak, lalu pulang ke Indonesia sebagai kritikus pemerintah. Pada tahun 1984, Gus Dur ditunjuk sebagai ketua PBNU dan menjadi presiden pada kurun waktu antara 1999-2001.

Gus Dur Sebagai Politisi

Banyak orang yang mengkritisi Gus Dur sebagai politisi. Perkataannya yang blak-blakan seringkali memunculkan antipati. Namun, siapa pun akan mengakui bahwa jasanya kian besar dalam menumbuhkan demokratisasi, kebebasan memeluk agama, dan toleransi antar umat dalam sejarah republik ini.

Setelah terpilih sebagai presiden, Gus Dur mengeluarkan begitu banyak kebijakan yang berkaitan dengan domokratisasi. Ia membebaskan tahanan politik yang dicurigai terlibat dalam komunisme, memperbolehkan budaya China yang sebelumnya dilarang, memberi hak yang sama kepada semua agama, hingga menutup departemen yang berhubungan dengan aktivitas intelijen.

Kato melihat Gus Dur sebagai sosok pemimpin yang begitu dekat dengan rakyat. Tak jarang, ia melakukan shalat jumat di masjid istana kepresidenan, lalu meluangkan waktu untuk berbincang dengan masyarakat umum. Ia tipikal pemimpin yang terbuka. Suatu hari, sekelompok aktivis yang menentang kebijakan ekonomi pemerintah melakukan demonstrasi di depan istana. Saat itu, Gus Dur justru mengundang mereka ke dalam istana untuk menyampaikan pendapatnya.

Kato juga sempat mendampingi Gus Dur saat mengisi kuliah umum di Jepang. Setelah perkuliahan selesai, ia yang dijadwalkan untuk menghadiri acara yang lain segera menuju mobilnya. Melihat itu, para mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang menghampiri Gus Dur untuk memberi salam. Meski panitia acara berusaha menghalangi, Gus Dur tetap berdiri dan berbicara dengan para mahasiswa itu. “Asalnya dari mana? Belajar apa di sini? Jepang bagaimana?” Demikian pertanyaan Gus Dur kepada mereka.

Sikap Mendasar Gusdur

Di antara sekian banyak pemimpin agama islam, Gus Dur adalah yang paling banyak diwawancarai Kato. Ia mencatat, ada tigal hal yang menjadi sikap mendasar dari tokoh yang satu ini. Pertama, ia selalu bersikap kritis kepada orang yang mempunyai kekuasaan, kedua memperlakukan agama islam sebagai urusan pribadi, dan ketiga mencari pola islam yang baru.

Tak hanya itu, Kato juga melihat Gus Dur sebagai sosok yang paling sering melontarkan lelucon. Dasar dari lelucon-leluconnya itu selalu saja berupa sindiran terhadap penguasa. Tak jarang, ia menjadikan Suharto dan Ibu Tien sebagai bahannya. Dari sana, Kato menyadari betapa Gus Dur memiliki jiwa pemberontakan terhadap kekuasaan yang besar. Dan itu sebenarnya menunjukkan keberpihakannya terhadap rakyat lemah.

***

Di akhir kisah, tak lupa Kato mengenang pertemuan terakhirnya dengan bapak pluralisme Indonesia itu. September 2009, Gus Dur tengah menjalani perawatan di rumah sakit. Kato yang berkunjung ke Jakarta dalam waktu terbatas, berusaha menyempatkan diri untuk melihat kondisi sahabatnya. Di sana, Gus Dur yang bangkit dari tempat tidur masih tampak sehat. Tak ada perubahan sedikitpun pada fisiknya.

“Gus kondisi anda apa sudah jauh membaik? Apa yang anda rasa?”
“Ini hanya komplikasi, tetapi sekarang sudah lebih baik” Jawabnya.
“Kalau begitu, kenapa anda tidak boleh pulang? Berapa lama lagi anda di opname?”
“Kira-kira tiga bulan lagi saya harus dirawat di sini” Kata Gus Dur.

Setelah pertemuan itu, Kato sedikit lebih tenang saat meninggalkan rumah sakit. Namun, persis tiga bulan kemudian, tepatnya di akhir Desember 2009, sebuah kabar duka berhembus. Gus Dur meninggal dunia. Sosok yang namanya seharum bunga itu telah tiada. Ia seakan telah meramalkan akhir dari perjalanan hidupnya sendiri.

Gus Dur adalah fenomena langka. Kepergiannya menyisahkan luka mendalam bagi banyak orang. Di tengah kondisi bangsa yang serupa benang kusut, kita kehilangan tokoh yang pikirannya melampaui zaman. Di tengah guncangan stabilitas sosial oleh berbagai isu sara, serta teriakan kafir dan intimidasi kepada sesama, kita kehilangan satu figur yang semangat hidupnya dikobarkan atas nama toleransi dan keberagaman.

Mataram, 16 Januari 2017

1/12/2018

Membincang Perselingkuhan, dari Memperpendek Umur Hingga Gejolak Sosial

Kedapatan selingkuh (gambar: metrosiantar)

Seorang sahabat berkisah tentang teman sekantornya yang ketahuan selingkuh. Ia adalah seorang diplomat yang sekarang berkarir di luar negeri. Kami memang sering berdiskusi melalui kontak media sosial. Di waktu senggang, kami biasa membahas banyak hal yang sedang ramai atau lagi hangat-hangatnya.

Hari itu, ia menghubungi saya melalui messenger. Seperti biasa, setelah bersua kabar kami pun berbincang ringan. Tanpa disengaja obrolan kami masuk ke bahasan seputar perselingkuhan.

Sahabat itu mulai bercerita tentang teman sekantornya yang terpaksa dipecat karena kedapatan selingkuh. “Di sini memang regulasinya agak ketat. Sekali melanggar, kita akan diberi sangsi pemecatan. Apalagi jika menyangkut soal perselingkuhan” Katanya.

Ia kemudian lanjut bercerita. “Kamu tau ngak, selingkuh itu ternyata bisa memperpendek umur. Teman saya yang kuliah di Dortmund baru saja melakukan penelitian tentang topik itu. Mereka yang berselingkuh rata-rata meninggal di usia muda” What??? Saya agak sedikit terkejut mendengar pernyataan itu.

Sebenarnya, tema tentang perselingkuhan ini telah beredar banyak di internet. Saya juga telah membaca beberapa artikel kesehatan yang menyebutkan bahwa perselingkuhan tak hanya bisa menyebabkan penyakit menular seksual, tetapi juga masalah medis yang lebi serius, yakni serangan jantung dan penyakit kanker.

Dalam satu publikasi ilmiah, seorang spesialis jantung di Florida, Dr Chauncey Crandall, menerangkan bagaimana stres dan tekanan saat terjadinya perselingkuhan bisa membuat risiko serangan jantung makin besar. Saat melakukan hubungan intim terlarang, denyut jantung dan tekanan darah meningkat, yang bisa memicu plak di arteri koroner pecah sehingga mengakibatkan serangan jantung. Paparnya.

Terkait cerita sahabat tadi, beberapa hari berselang, ia kembali menghubungi saya. Kali ini ia mengabarkan berita duka. Teman kantor yang dipecat karena ketahuan selingkuh tempo hari itu meninggal dunia. Yang membuat saya lebih terkejut adalah, saat mengetahui kematiannya diakibatkan oleh serangan jantung.

Saya tak hendak berkomentar. Saya tak ingin berspekulasi atas apa yang tidak benar-benar saya pahami. Saya hanya seorang mahasiswa yang hanya kebetulan sedang tertarik membaca informasi seputar dunia kesehatan. Terkait paparan Crandall, tentu kita boleh menjadikannya sebagai pemantik diskusi, serta rujukan saat harus menjelaskannya kepada banyak orang.

Kepada sahabat itu, saya hanya mengucapkan kalimat prihatin. Bagaimanapun juga, ia sudah mengakui kesalahan, lalu meminta maaf kepada istri dan anaknya. Menyoal perselingkuhan sendiri, saya lebih senang jika memaknai fenomena ini dalam spektrum yang lebih luas. Lebih-lebih jika itu terjadi di Indonesia.

Saya masih ingat saat Jennifer Dun menjadi bulan-bulanan media beberapa waktu lalu. Hampir semua berita infotaiment mengulik hubungannya dengan Faisal Haris. Masa lalu artis cantik itu menjadi bahan investigasi, yang lalu dengan cepat beredar. Bahkan, ia sempat mendapat perlakukan tidak menyenangkan dari Shafa, anak Faisal Haris, di salah satu tempat perbelanjaan umum.

Nah, seandainya kita adalah Jennifer Dun saat itu, apakah gerangan yang akan kita lakukan? Bagimanakah perasaan gadis muda itu saat foto-fotonya beredar luas di banyak media? Bagaimana pula tanggapan para keluarga, saat kalimat “Pelakor” dengan leluasa disematkan oleh publik kepadanya?

Pada skala yang lebih besar, perselingkuhan bukan sekedar jalinan kasih sepasang insan yang dilakoni secara sembunyi-sembunyi, tetapi juga menyangkut reputasi banyak pihak.

Disadari atau tidak, selain berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan, serta memantik gejolak sosial di tengah masyarakat, perselingkuhan juga merupakan ladang subur bagi beberapa acara televisi yang aktif mengusut dan menggoreng polemik tersebut hingga menjadi tontotan yang renyah untuk dikonsumsi.

Pada titik ini, medadak saya teringat lirik salah satu lagu dari group band tanah air:

Mungkin kurelakan untuk kau tinggalkan Diriku di sini harus mengakhiri Aku yang merasa lelah dan menyerah Karena tak selamanya selingkuh itu indah...

Mataram, 12 Januari 2018

1/11/2018

Membaca Potensi Kemenangan Zul-Rohmi di Pilgub NTB

Ilustrasi (gambar: instagram/cepotdoank)

Peluit panjang tanda dimulainya kontestasi pilgub NTB telah berbunyi. Hari rabu kemarin, 10 Januari 2018, pasangan Zulkieflimansyah dan Siti Rohmi Djalillah yang diusung koalisi partai PKS dan Demokrat menjadi calon terakhir yang mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) NTB. Tak tanggung-tanggung, ribuan massa pendukung, simpatisan, serta para relawan turut mengantarkan paslon dengan jargon NTB Gemilang itu.

Di sudut lain arena, tiga kontestan sudah lebih dulu menunggu. Mereka adalah Ali-Sakti yang ikut melalui jalur independent, Ahyar-Mori, dan Suhaili-Amin. Jika politik adalah seni memantik simpati publik demi meraup suara sebanyak-banyaknya, maka siapakah yang akan keluar sebagai pemenang?

***

Di antara semua kandidat yang mencalonkan diri di pilgub NTB, sosok zulkieflimansyah adalah yang paling banyak menuai perbincangan. Sejak mendapatkan gelar doktor dari Strathlyde Business School, University of Strathclyde di United Kingdom (UK), Zul adalah tokoh yang tak bisa diragukan. Di berbagai diskursus politik, ia selalu tampil dengan narasi yang memikat. Ia pandai memilih diksi, lalu menyampaikan untaian kalimat yang terarah. Dalam banyak hal, kapasitasnya di atas rata-rata.

Zul terbilang sosok politisi muda yang berani menerabas pakem-pakem politik. Di Banten, ia pernah mencalonkan diri dengan Marrisa Haq meski harus menelan kekalahan saat bertarung dengan incumbent, Ratu Atut Chosiyah. Sebelumnya, ia juga sudah terpilih sebagai anggota DPR RI dari dapil Banten sejak 2004 lalu.

Di pelagan pilgub NTB, pendiri Universitas Teknologi Samawa itu berpasangan dengan Siti Rohmi Djalillah, kakak dari gubernur dua periode NTB yakni Muhammad Zainul Majdi yang kerap disapa Tuan Guru Bajang. Rohmi adalah sejarah baru dalam pesta demokrasi NTB. Ia menjadi kandidat perempuan pertama sejak pemilihan gubernur secara lansung digelar. Sebelumnya, ia sempat menjabat sebagai ketua DPRD NTB, yang lalu memilih fokus pada dunia pendidikan dengan menjadi Rektor Universitas Hamzanwadi, salah satu kampus swasta terbesar di NTB.

Di atas kertas, siapapun kandidat yang akan bertarung dalam pilgub NTB 2018 bisa saja mengklaim diri paling unggul dalam hal perolehan suara. Termasuk pula pasangan Zul-Rohmi. Keduanya juga memiliki peluang besar untuk keluar sebagai yang terbaik.

Namun, politik tetaplah sebuah drama. Selalu dibutuhkan ketenangan, ketahanan, serta kematangan demi menjadi pemenang. Bayangkan saja, mereka yang menjadi aktor harus berdarah-darah dari mendapat rekomendasi partai, hingga tahap perang taktik saat kampanye. Jalan politik memang jalan yang dipenuhi pedang. Mereka yang pertahannya paling lemah, akan menjadi pesakitan kandidat lain.

Potensi Kemenangan Zul-Rohmi


Membahas Zul-Rohmi adalah membahas pilgub NTB dari sisi paling unik. Mengapa? Sebab jika duo doktor ini menang, maka sesungguhnya sejarah baru telah terhampar di perhelatan lima tahunan. Bisakah? Marilah kita mencatat beberapa potensi kemenangan Zul-Rohmi dalam pilgub NTB 2018.

Pertama, tak ada pasangan yang dominan. Keikutsertaan Ali-Sakti sebagai pasangan independent semakin menegaskan bahwa tak akan ada pasangan yang benar-benar dominan dalam pilgub NTB. Semuanya sama-sama memiliki basis massa. Mereka yang akan keluar sebagai pemenang adalah yang berhasil menghimpun sedikit demi sedikit suara di daerah kandidat lain.

Lombok Timur sebagai lumbung pemilih terbanyak di NTB diprediksikan tak akan menjadi kunci kemenangan layaknya lima tahun silam. Lotim akan menjadi pertarungan dari tiga calon yang masing-masing memiliki kans suara yakni Ali-Sakti, Ahkyar Mori, Setra Zul-Rohmi.

Ali adalah tokoh yang sekarang tengah menjabat sebagai Bupati Lotim. Menyoal suara, tentu tak usah diragukan lagi. Sedangkan Akhyar, ia adalah putra Lotim yang sekarang menjabat sebagai Wali Kota Mataram. Seakan mempertegas kekuatan, deklarasi pasangan yang satu ini digelar dengan semarak dengan menghadirkan ketua umum Gerindra, Probowo Subianto, di Kecamatan Masbagik, Lotim tempo hari.

Kontestan lain adalah Zulkieflimansyah yang akan mendulang suara melalui wakilnya, yakni Siti Rohmi Djalillah. Seperti diketahui, Rohmi adalah tokoh NW dengan kekuatan basis Massa di Lombok Timur. Terlebih lagi, ia merupakan cucu dari pendiri ormas terbesar di NTB, Maulana Syeikh Zainuddin Muhammad Abdul Majid.

Kedua, suara Pulau Sumbawa. Zulkieflimansyah memang bukan satu-satunya calon yang berasal dari Pulau Sumbawa. Tokoh lain adalah Mori Hanafi yang menjabat Wakil DPRD NTB dan Muhammad Amin sebagai Wakil Gubernur NTB. Namun yang perlu diketahui, hanya Bang Zul lah yang mendaftar sebagai calon gubernur, sedang dua lainnya mendaftar sebagai wakil masing-masing calon dari Pulau Lombok.

Untuk kasus ini, marilah berkaca pada fenomena pilgub sebelumnya. Dulu, Amin yang kala itu berpasangan dengan TGB tak mampu mengungguli suara Kyai Zulkifli Muhadli di Sumbawa. Kenapa? Sebab kriteria pemilih masyarakat Sumbawa lebih mengharapkan calon gubernur ketimbang wakil.

Psikologi masyarakat yang jauh dari pusat pemerintahan, cenderung haus dengan perubahan di segala lini. Mereka menginginkan satu figur yang mampu merefresentasikan segala kegelisahan dan harapan di masa depan. Mereka tak mau sosok yang mewakili mimpi mereka ditingkat pusat hanya menjadi bawahan yang sesekali tampil saat acara gunting pita dan peresmian. Mereka berharap hadirnya satu tokoh sebagai penentu kebijakan, serta setia mendengar keluh kesah masyarakat di lapisan terbawah (grass root).

Ketiga, kekuatan media. Zul tak hanya politisi muda dengan segudang prestasi mentereng di bidang akademik, tetapi juga memiliki jam terbang yang mumpuni. Tak jarang ia tampil sebagai pembicara di forum-forum nasional dan internasional. Ia juga bergaul dengan sejumlah pakar IT yang lalu membuatnya begitu memahami kekuatan media.

Sejauh ini, saya melihat pemberitaan tentang dirinya adalah yang paling aktif di media sosial. Lawan-lawan politiknya tak segera sadar bahwa apapun isi pemberitaan itu, baik atau buruk, ini akan tetap melambungkan popularitas Bang Zul di tengah masyarakat. Barisan haters masih saja terjebak pada isu pribadi yang justru akan menarik lebih banyak kerumunan orang untuk menelisik kehidupan beliau.

Keempat, otoritas TGB. Sangat sulit untuk menyebutkan bahwa kemilau cahaya ketokohan TGB tidak akan berpengaruh di pilgub NTB 2018. Ia adalah gubernur dua periode dengan suara sempurna. Elektabilitasnya tak bisa diragukan lagi. Bahkan banyak masyarakat awam yang masih berharap ia memipin NTB untuk ketiga kalinya.

Kelebihan pasangan Zul-Rohmi adalah berhasil menarik TGB ke gerbong mereka. Semboyan “Lanjutkan Ikhtiar TGB” seakan-akan bertujuan untuk mengarahkan opini publik pada sikap politik tertentu. Jika saja calon lain tak mampu membendung gerak TGB untuk masuk ke dalam arena, dan muncul dalam banyak acara bersama Bang Zul, maka saya menduga peluang untuk menggapai kursi NTB kian terbuka.

Jangan lupa, Zulkieflimansyah adalah sosok yang selama ini paling banyak memberi kejutan. Beberapa waktu lalu, banyak pihak yang pesimis dengan kemampuan lelaki berkacamata itu. Mereka bahkan berani bertaruh kalau Zulkieflimansyah tak akan berhasil mendapat rekomendasi partai. Kini, bisa disaksikan bahwa omongan para pakar dadakan yang banyak berseliweran di media sosial berbanding terbalik.

***

Saat ini, yang harus dilakukan tim Zul-Rohmi adalah memastikan gagasan-gagasan besar yang ditawarkan oleh calon menggapai setiap pintu rumah. Pikiran tentang NTB gemilang harus mampu disederhanakan agar tak hanya dipahami oleh segelintir masyarakat. Terkait cyber armi di dunia maya, mereka harus terus menerus memproduksi segala konten positif prihal tokoh muda itu tanpa sedikitpun terpancing pada opini, nyinyiran, serta isu pribadi yang mulai bermunculan.

Jangan coba-coba membalas atapun memasuki ranah kampanye hitam sebab itu bisa berpotensi menjadi boomerang di kemudian hari. Mereka yang mengelola media harus pandai memilih timing berita, diksi yang tepat, serta pencitraan yang sedikit alamiah. Raih simpati publik dengan cara tetap memunculkan branding muda, cerdas, dan sederhana sesuai keperibadian calon.

Ini hanyalah pengantar awal tentang pilgub NTB 2018. Tentu semua boleh berasumsi serta memetakan kekuatan masing-masing calon. Kemerdekaan berfikir adalah keniscayaan. Di tahun politik seperti ini, kewarasan harus selalu dikedepankan.

Mataram, 11 Januari 2017

1/10/2018

Akhirnya Menggunakan Domain Pribadi

Top level domain

Akhirnya hasrat untuk memiliki domain pribadi terpenuhi juga. Keinginan untuk menjadikan blog terlihat lebih profesional pun tertuntaskan. Belum lama ini, saya mengganti alamat blog dari yang sebelumnya http://imronfhatoni.blogspot.com menjadi http://www.imronfhatoni.com atau lebih tepatnya mengubah alamat itu menjadi top level domain.

Sebenarnya, keinginan untuk menggunakan jasa top level domain sudah terpendam dari jauh-jauh hari. Banyak pula sahabat blogger yang menyarankan. Untuk membuat blog terlihat lebih profesional, salah satu yang bisa kamu lakukan adalah menggunakan domain berbayar katanya.

Saya membaca informasi di media tentang kelebihan menggunakan domain pribadi. Selain tampilannya lebih prefesional, blog juga akan mudah terindex mesin pencari google, serta bisa digunakan untuk mendaftar adsense non hosted. Entahlah, saya sendiri tak terlalu paham tentang SEO.

Saya tentu memiliki penilaian khusus mengapa setiap blogger perlu menggunakan jasa top level domain. Pertama, artikel lebih memantik ketertarikan pembaca. Ini adalah pengalaman pribadi. Entah kenapa, saya akan lebih percaya terhadap artikel yang diproduksi oleh mereka yang menggunakan domain pribadi ketimbang yang menggunakan sub domain ketika mencari referensi.

Kedua, mendapatkan tawaran menulis. Sudah dua kali saya melewatkan kesempatan untuk mengikuti jasa menulis hanya karena blog saya belum menggunakan domain pribadi. Program ini biasanya dilakukan oleh berbagai perusahaan yang hendak mempromosikan produk di media sosial. Mereka akan menyasar para blogger untuk dijadikan mitra.

Ketiga, kemudahan mengikuti lomba blog. Memang, lomba blog umumnya boleh diikuti oleh setiap blogger. Tetapi pihak penyelenggara cenderung akan memberikan perhatian khusus bagi mereka yang mendaftarkan diri menggunakan domain pribadi.

Nah, demikian catatan singkat mengapa saya tertarik menggunakan jasa top level domain. Pada akhirnya, yang terpenting dalam dunia blogging adalah berusahalan untuk tetap menulis. Upayakanlah untuk selalu memproduksi konten-konten berkualitas bagi banyak orang. Terlepas dari menggunakan domain pribadi atau tidak, saya rasa jangan terlalu dipersoalkan.

Mataram, 10 Januari 2017

1/09/2018

Bunga Langka Rafflesia Arnoldi di Peringati Google

Tampilan google 09 Januari 2018

Sudahkah anda melihat tampilan google sepanjang hari ini? Sekilas, tampilan mesin pencari itu tengah memperlihatkan sesuatu yang tak biasa. Tahukah anda, hari ini, 09 Januari 2018, Google doodle ikut memperingati Bunga Rafflesia Arnoldi sebagai puspa langka nasional ke - 25.

Hal ini sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993 tentang satwa dan bunga nasional. Selain rafflesia, dua bunga lain yang juga mencakup keputusan itu adalah melati putih sebagai puspa bangsa dan anggrek bulan sebagai puspa pesona.

Sejarah pengetahuan umum mencatat, bunga rafflesia arnoldi pertama kali ditemukan oleh seorang pemandu asal Indonesia yang bekerja untuk Dr. Joseph Arnold di tahun 1818. Bunga ini kemudian dinamai berdasarkan nama Thomas Stanmford Raffles yang memipin ekspedisi itu.

Namun belakangan, Jamili Nais dalam buku "Rafflesia of the World" justru mengungkap bahwa penemu pertama rafflesia adalah Louis Auguste Deschamps, seorang ilmuan Prancis yang meneliti selama 11 tahun di Indonesia. Deschamps pernah menetap di Jawa antara kurun waktu 1792 hingga 1794. Seiring perjalanannya, ia membuat banyak ilustrasi, catatan, serta koleksi dari ragam tumbuhan di berbagai daerah. Dalam proyek itulah Deschamps menemukan rafflesia.

Terlepas dari berbagai pertentangan pandangan prihal penamaannya, bunga rafflesia arnoldi tetaplah menjadi penemuan yang langka. Bentuknya yang serupa tempat sirih membuat sebagian besar masyarakat Bengkulu menyebutnya sebagai bunga bokor setan. Sebagian masyarakat lain juga menyebut rafflesia sebagai bunga bangkai. Sebab, ketika bunga ini mekar, ia akan mengeluarkan aroma yang tak bersahabat.

Saya menyenangi google yang tak alpa memberikan apresiasi terhadap fenomena bunga raksasa ini. Bagaimanapun juga, rafflesia adalah satu dari sekian banyak simbol kekayaan dan keanekaragaman nusantara.

Dahulu, kolonialisme tak hanya datang dengan segudang senjata demi hasrat menjarah negeri, tetapi juga menggandeng para ilmuan yang kelak karyanya dinikmati warga dunia. Para ilmuan dan penakluk itu bekerja dalam dimensi yang berbeda. Mereka datang atas sebaris tanya tentang peradaban, serta kehendak untuk menyempurnakan pemahaman manusia atas alam semesta di kemudian hari.

Tak hanya bunga rafflesia arnoldi yang sedemikian spesial bagi google. Tahun lalu, perusahaan yang berbasis di Amerika itu, juga ikut merayakan hari kelahiran Pramoedya Ananta Toer, sosok sastrawan besar yang dimiliki republik ini. Saat itu, google menggambarkan ilustrasi seorang pria berambut putih, berkacamata, dan berkaus oblong yang sedang mengetik, di mesin tik manual.

Saat Orang Jepang Membincang Islam

Buku islam di mata orang jepang

Tak banyak orang yang mau melakukan pencarian demi sebaris tanya yang mengganjal di hati. Tak banyak yang mau berpayah-payah menelusuri, melakukan observasi, hingga menemukan jawaban atas apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Kebanyakan kita lebih senang menanti jawaban itu, mengutip, dan ikut menyebarluaskannya. Kebanyakan kita lebih senang menikmati hasil, ketimbang berusaha mencari sendiri. Padahal, yang terpenting dari sebuah jawaban adalah proses menemukannya.

Demikianlah kesan awal saat sepintas membaca buku berjudul Islam di Mata Orang Jepang, karangan Hisanori Kato. Buku ini memuat satu perjalanan peneliti Jepang yang hendak memahami wajah islam di Indonesia. Ia adalah tipe peneliti yang menyukai kajian islam. Ia mengaku telah beberapa kali menulis prihal islam Indonesia dalam bahasa inggris.

Buku ini diterbitkan dalam 176 halaman. Isinya memuat berbagai pertemuan dan wawancara Kato dengan beberapa tokoh Indonesia seperti Bismar Siregar, Muhammad Sobary, Eka Jaya, Gus Dur, Fadli Dzon, Ulil Abshar Abdallah dan lain-lain.

Kato menjadikan beberapa tokoh sebagai pintu masuk untuk memahami bagaimana islam Indonesia ditafsirkan secara berbeda. Ia meniti islam diantara lautan pemikiran. Ia merajut serpihan pandangan dari pertautan dengan banyak tokoh, lalu menemukan sendiri seperti apa islam yang sebenarnya.

Di satu bagian, Kato menulis tentang bagaimana awal mula ketertarikannya terhadap islam. Ia mengisahkan pengalaman saat menyaksikan rombongan anak kecil memakai baju putih berjalan beriringan sambil membawa obor sesaat sebelum lebaran tahun 1991 di Jakarta.

Kata Kato, islam adalah sesuatu yang asing bagi orang Jepang. Ramadhan dan Idul Fitri tek pernah menjadi pemberitaan di negeri matahari terbit. Berbeda halnya dengan Kristen dan Natal yang telah dikenal dan mengakar kuat sebagai perayaan tahunan, bahkan mendapat dukungan secara komersil.

Buku ini memang tak seberapa tebal, tetapi selalu saja ada inspirasi yang bisa diserap. Saya menyukai pandangan Muhammad Sobary yang ditemui Kato pada tahun 2003. Katanya, manusia itu sekali saja dia memegang kekuasaan, maka dia akan mulai menganiaya orang lain. Jadi, yang disebut demokrasi sulit untuk diwujudkan.

Rasanya sulit sekali menyangkal apa yang dikatakan Sobary 15 tahun lalu. Reformasi memang belum mengarah pada kesejahteraan hidup bersama sebagaimana yang pernah di cita-citakan dulu. Barangkali yang harus dilakukan adalah segera merefleksi ulang segala ingatan di masa lalu. Benarkah situasi telah berubah? Benarkah ini yang kita kehendaki dulu?

Pie kabare le, masih enak jaman ku toh?

Mataram, 09 Januari 2018

1/07/2018

Pasar Pancingan Lombok, Wisata Kuliner yang Instagramable

Pasar pancingan

Dunia kepariwisataan serupa industri hiburan. Letak kekuatan utama dari sektor yang satu ini adalah bagaimana cara menata, mengelola, serta mempromosikan satu objek destinasi, yang lalu memantik minat banyak orang untuk berdatangan. Saya yakin, tak ada satupun objek wisata yang tak layak jual. Kuncinya ada pada keberanian untuk menampilkan sesuatu yang tak biasa. Kuncinya adalah kreativitas.

Setidaknya itulah yang saya rasakan saat berkunjung ke Pasar Pancingan Bilebante di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Tempat wisata ini tampaknya tengah naik daun. Letaknya hanya sekitar 30 menit dari pusat Kota Mataram. Di media sosial, banyak sahabat membagikan foto mereka saat berkunjung. Penasaran, saya pun ke sana.

Kesan saya, tempat ini menyajikan satu aktivitas pasar yang dikemas menjadi tempat wisata. Di bagian depan, saya melihat lorong-lorong kayu yang dihiasi payung. Orang-orang akan mengantri demi berfoto di situ. Sebenarnya, pasar ini terletak di area persawahan yang luasnya tak seberapa besar. Hanya saja, pihak pengelola berani memoles dan menata ulang hingga layak dikunjungi.

Dalam peta

Saat berkeliling, saya menemukan beberapa hal yang menarik. Pertama, pasar pancingan hanya buka setiap hari minggu yakni dari jam 7 pagi hingga jam 2 siang. Kedua, setiap pengunjung harus menukarkan uang terlebih dahulu di stand Money Changer jika hendak berbelanja. Di situ, kita akan diberi ‘kepeng’ sebagai medium untuk menjejal kuliner. Ketiga, banyak terdapat spot foto yang instagramable. Keempat, sesuai dengan namanya, pasar pancingan juga menawarkan aktivitas memancing di kolam-kolam sekitar lapak.

Kuliner di pasar pancingan memang kian beragam. Saya sempat memesan dua porsi nasi belut khas Lombok dan bakso rumput laut. Yang membuat saya menyukai tempat ini adalah suasana sawah yang masih asri, tenang, dan menyejukkan yang membalut aktivitas pasar. Sebagai destinasi kuliner, tentu saja pasar ini dilengkapi beberapa gazebo sebagai tempat bersantap.

Saya melihat, pengunjung mulai memadati pasar menjelang siang. Ada yang datang bersama sahabat, pasangan, serta tak ketinggalan pula mereka yang berlibur dengan keluarga. Sempat saya berbincang dengan salah seorang wisatawan dari luar daerah. Ia mengagumi konsep pasar yang mengusung suasana khas pedesaan. Pemandangan seperti ini sangat langka di perkotaan katanya.

Money changer

Pasar pancingan
'Kepeng' pasar pancingan
Pasar Pancingan

Dahulu, saat pasar pancingan pertama kali di buka, artis ibu kota sekelas Gracia Indri pernah didatangkan. Katanya, tempat ini akan diproyeksikan sebagai salah satu destinasi wisata digital unggulan di Lombok. Pantas saja, promosi tentang pasar pancingan di media sosial sedemikian kuat. Bahkan dalam waktu singkat, akun instagram miliknya sudah mendulang banyak followers.

Saat berkunjung, saya juga melihat beberapa turis asing yang berdatangan. Mereka berjalan dari satu spot ke spot lain demi mengabadikan beberapa gambar. Serasa tak mau ketinggalan, saya pun ikut berkeliling. Spot pilihan saya adalah ‘klasik view.’ Spot ini di desain dengan tikar pandan, dinding yang terbuat dari anyaman bambu, serta beberapa televisi jaman old yang sengaja dikumpulkan.

Selanjutnya, saya menuju spot ‘welcome 2018.’ Bisa dibilang, yang satu ini merupakan spot favorite bagi kaum hawa. Spot itu dihiasi ragam warna mencolok yang berbentuk segi tiga. Beberapa payung juga terlihat menghiasi bagian atasnya. Saat hendak mengambil gambar, seorang wanita tetiba menghampiri dan berucap “Mas, minta tolong fotoin saya di tempat ini.”

Pasar pancingan
Pasar pancingan
Pasar pancingan
Kolam ikan sekitar pasar pancingan

Sesaat berada di tempat ini, saya menyaksikan betapa kehidupan di desa begitu tentram. Mungkin juga, fakta inilah yang membuat salah seorang sahabat yang tengah menyelsaikan pendidikan di luar negeri sering mengabarkan bahwa dirinya selalu tak sabar untuk mengunjungi Lombok.

Boleh jadi, mereka membayangkan aktivitas desa sungguh menyenangkan sebab alam masih hijau, pepohonan di mana-mana, juga sungai jernih yang menjadi tempat bermain. Kehidupan ala desa itu dianggap jauh lebih sehat, jauh lebih membahagiakan, ketimbang kehidupan ala kota yang setiap hari harus bergegas.

Tentu saja masih banyak sesuatu yang belum saya jelaskan tentang pasar pancingan. Hal terbaik yang bisa dilakukan untuk menuntaskan rasa penasaran itu, hanyalah dengan mengunjunginya secara lansung.



Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Gramedia.

Mataram, 07 Januari 2018