8/01/2016

'Basiru' Adalah Simbol Samawa yang Berprikemanusiaan


Basiru (Tolong menolong) adalah budaya berjudul kemanusiaan

Di tengah persaingan yang ketat, Individualisme semakin bertingkah menendang Solidaritas ke luar pagar kehidupan bermasyarakat. Ditambah lagi dinamika politik yang selalu "suka" ikut campur dalam segala dimensi kehidupan berdampak pada semakin kuatnya sentimen-sentimen sosial. Saudara dianggap musuh hanya karena persoalan sepele yang tidak sepaham. 

Orang tua dan anak saling menutup mata karena uang seribu dan sejengkal tanah. Bahkan tetangga masih seperti mahluk asing yang datang dari Mars. Di setiap ruang publik kita tampil sebagai sosok yang penolong sementara tidak tahu bahwa tetangga sebelah rumah sekarat di rumah sakit. Dalam topik-topik Rumpi kita saling berpesan untuk saling membantu, padahal pada saat yang sama Tetangga sebelah kita telah berteriak butuh pertolongan.

Beginikah cita-cita bangsa kita? Apakah ini salah satu bentuk dari semangat tolong-menolong dan gotong-royong yang diwariskan pendahulu kita? Indonesia yang saya cintai ini memiliki ciri yang khas. Yaitu begitu banyak manusia di dalamnya yang hebat merangkai kata-kata namun tidak pernah dipraktikkan. Sehingga saya berusaha menasihati diri sendiri sebagai penulis dan mencoba berbagi lewat catatan singkat ini karena sesuangguhnya ada penyakit menular yang sedang siap mewabah meruntuhkan peradaban kita. Penyakit ini tidak saja terjadi di kota-kota tetapi juga mulai melanda kehidupan di desa-desa. Termasuk di beberapa daerah di Sumbawa.


Basiru (Tolong menolong) adalah budaya berjudul kemanusiaan

Sumbawa memiliki catatan yang indah tentang semangat tolong menolong  dalam peradabannya. Terbukti dari  Salah satu Quote pendahulu kita No Si Barema Tu Pina Ne yang maksudnya adalah dalam berjalan kedua kaki tidak mungkin bergerak bersamaan.  

Quote tersebut Mendidik kita sebagai generasi cemerlang agar faham tentang kekurangan dan kelebihan. Agar tersadar akan ada dan tidak ada. Agar berbesar hati akan tinggi dan rendah. yang tujuan akhirnya adalah tercapainya kesetaraan berdasarkan kemanusian. Quote ini adalah salah satu alasan kuat yang mendasari konsep tolong menolong di Sumbawa berjudul Basiru.

Basiru merupakan istilah yang ditujukan kepada segala bentuk tolong menolong yang dilakukan oleh dua orang atau kelompok dalam menyelesaikan suatu kegiatan. Misalnya Si A membantu Si B pada hari ini dalam menanam padi. Maka Si B secara otomatis harus membantu Si A pada hari lain dalam hal yang sama. Jika tidak, bisanya Si B mencarikan pengganti. Begitu juga untuk beberapa contoh lainnya.

Beberapa orang memandang bahwa basiru tidak sesuai dengan konsep Ikhlas karena dalam membantu seseorang, dengan otomatis orang yang kita bantu harus membantu kita kembali pada kegiatan yang sama atau serupa. Saya sempat berpikir, Apakah Ya konsep ini belum tuntas? Sebagai rakyat jelata yang ingin tahu, Saya pun berhuznudzon dengan menganggap bahwa ada penjelasan lain dari konsep basiru.


Basiru (Tolong menolong) adalah budaya berjudul kemanusiaan

Bertanya kepada beberapa orang tua dan tokoh adat adalah satu-satunya cara, mengingat referensi tulis Sumbawa yang sangat minim. Dari beberapa keterangan dan penjelasan tokoh adat, akhirnya Saya cukup tercerahkan dan puas. Menurut ilmu Tau Loka Sapuan (Orang-orang dulu), bahwa basiru ada dua. Pertama, basiru ke Nene sebagai Hablumminallah dan basiru ke Manusia sebagai Hablumminannas.

Basiru Ke Nene (Basiru dengan Allah)
Basiru Ke Manusia ( Basiru dengan Manusia)

Bentuk tolong menolong dengan Allah tidak serta merta kemudian diartikan bahwa Allah membutuhkan pertolongan kita. Tetapi ungkapan itu memiliki maksud tersirat bahwa sesungguhnya Allah yang maha menolong senantiasa mengirimkan bantuan dan pertolongan kepada hambanya dengan cara mengutus hamba yang lain karena kuasa Nya dalam menggerakkan hati seseorang. Dalam hal ini kita dituntut agar peka dan senantiasa berusaha menjadi perantara pertolongan Allah kepada orang lain. Tetap saja kita akan mengharap balasan dari orang yang kita bantu? Di sinilah kita menjaga niat. Mara pangkeling Muhammad,

Sai-sai ibadat ning ya arap karedha Nene, ya dapat si lako Nene. Sai-sai ibadat ning ya arap dunia ke tau sawai, me loe de ka arap nan si loe de dapat.

Maksudnya: barang siapa yang beribadah karena mengharap ridha Allah, maka akan sampai kepada Allah. Barang siapa yang beribadah karena mengharap dunia dan wanita, maka hanya akan mendapatkan apa yang diharapkan. Jadi segala yang kita lakukan tergantung dari niat. jika membantu orang lain karena mengharap ridha Allah, maka kita pun akan mendapatkan ridha sekaligus bonus dunia yang lebih banyak. tapi jika kita membantu orang lain hanya karena mengharap balasan atau dunia (harta dan yang lain) maka kita hanya akan mendapatkan yang kita harapkan dan tidak mendapat ridha Allah.

Konsep basiru, selain sebagai konsep kebudayaan yang indah, juga merupakan salah satu bentuk Adat yang berpegang teguh kepada Syariat. lalu apa hubungannya dengan kemanusiaan. Pesan yang menarik kemudian ketika penjelasan dari Tau Loka diakhiri dengan ungkapan

Totang! lamin tau ada ate,
mana asu ya pendi si. 
goyo po ka ingo dengan dalam susa.

Ingat! orang yang memiliki hati, dengan anjing sekalipun mereka akan memiliki rasa kasihan, apalagi ketika melihat orang lain dalam susah.

Saya melihat konsep basiru sebagai konsep yang sangat indah. Meskipun kita dalam melakukan basiru ini secara tidak sadar, termasuk penulis tidak memperhatikan niat. Padahal selain keikhlasan, konsep basiru ini berbicara cukup tuntas tentang kemanusiaan. Secara tidak sadar konsep basiru sudah mencerminkan pola hidup dan prilaku masyarakat sumbawa yang hebat dan bermartabat, tinggal bagaimana kita menjaga warisan ini agar tetap tumbuh dan berkembang ditengah-tengah masyarakat.

Oleh: Samsun Hidayat

Mataram, 01 Agustus 2016

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.