8/24/2016

Keterbatasan Memaksa Mereka Menjadi Pengemis dan Penipu


Generasi Bermental Pengemis

Suatu ketika saya melakukan perjalanan dari kecamatan Empang menuju Mataram. Karena kelelahan berkendara, akhirnya saya memutuskan untuk beristirahat sebentar di salah satu warung di kota Sumbawa Besar. Ketika sedang asiknya menikmati secangkir kopi tiba-tiba beberapa anak SD berlarian didepan saya. Satu diantara kerumunan anak SD tersebut berhenti dan berdiri tepat didepan saya sambil mengulurkan tangan. Diapun mulai mengajak saya bicara:

Si Bocah: " Minta uang 2 ribu buat jajan dong om. ( Sambil mengulurkan tangannya) "
Saya: " Sini sebentar, duduklah disamping saya "
Si bocah: " Ngak om saya mau pulang! Saya minta uang nya 2 ribu om. (mengulangi lagi) "
Saya: " Saya akan memberi kamu uang sebanyak 5 ribu dengan catatan kamu tidak akan minta uang lagi sama orang lain. apalagi orang yang baru kamu kenal. gimana? ( Aku sambil mengeluarkan pecahan 5 ribu dari saku celanaku) "
Si Bocah: " Iya om saya janji (sambil senyum malu-malu) "

Sebelum dia pergi aku bersalaman dengannya sebagai tanda perjanjian bahwa dia tidak akan melakukan hal itu lagi dikemudian hari. Semoga bocah tersebut menepati janjinya kepadaku.

Hiruk-pikuk perayaan kemerdekaan masih begitu terasa di berbagai sudut negeri ini. Upacara dan berbagai kegiatan semacam hiburan menjadi titik puncak bentuk penghargaan masyarakat dalam mengapresiasi jasa para pahlawan yang telah berhasil mengusir kompeni dari bumi pertiwi.

Namun benarkah kata MERDEKA itu pantas tersematkan? Flashback pada kejadian awal bulan ini, dimana postingan foto seorang pengemis yang pura pura buntung menjadi viral di dunia maya. Adalah Alexander, pengemis yang terkena razia Dinas Sosial tepatnya di depan toko An Nur, jalan Otista Bandung (5/8). Dua petugas meminta Alexander melepaskan rompi yang membelit tubuh bagian atasnya, hingga menampilkan kondisi kedua tangan yang sebenarnya jauh dari kata cacat.

Masalah pengemis sejatinya bukanlah hal baru. Bak jamur di musim hujan, keberadaan mereka sangat mudah ditemui di lampu-lampu merah. Anak anak dan usia lanjut adalah kalangan mayoritas, meski terkadang pemuda dengan usia produktif pun turut mendominasi.

Sungguh miris. Permasalahan ekonomi pada akhirnya mampu menyeret manusia menuju jurang kesesatan dalam berpikir. Berbagai macam cara dilegalkan, dihalalkan demi menunjang terpenuhinya kebutuhan hidup. Seolah belum cukup hanya dengan mengemis, mereka juga tidak segan mengelabui masyarakat untuk menarik simpati.

Disadari atau tidak, penipuan adalah kriminalitas yang seringkali terjadi di negeri ini. Ijazah palsu untuk memudahkan mencari pekerjaan atau menjabat posisi tertentu. KTP palsu untuk mendukung partai politik yang turut dalam pemilihan umum. Kemudian terakhir adalah kasus vaksin dan serum palsu. Lantas benarkah ini yang dikatakan ‘merdeka’? Sesungguhnya karakter kita sama sekali belum merdeka.

Metode Revolusi Mental yang dulu digaungkan sang pemangku amanah pun belum nampak realisasinya. Padahal jika konsep tersebut benar-benar dijalankan dengan jujur niscaya bangsa ini akan benar-benar nampak sebagai bangsa yang besar. Bayangkan apa yang terjadi pada karakter masyarakt kita, sampai menjadi pengemis pun mereka berani membohongi orang. Apakah karakter seperti ini yang diharapkan oleh pendiri-pendiri bangsa kita?

Fakta memilukan di atas seharusnya mampu menyadarkan masyarakat bahwa sistem KAPITALISME lah sumber dari kekacauan kita sekarang ini. Sistem ekonomi ini hanya memfokuskan diri pada keberhasilan para pemilik modal, dimana penguasa dan pengusaha adalah dua tokoh utamanya. Simbiosis mutualisme yang mereka lakukan nyatanya mampu memproduksi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi masyarakat. Dari sinilah melonjaknya angka kriminalitas diturunkan, nilai fitri manusia dihancurkan. Sistem ini juga membiarkan rakyat bertarung sendiri menghadapi kehidupan. Negara hanya sebagai regulator yang minim akan tindakan.

Pemecahan atas permasalahan ini dengan jalan pengentasan kemiskinan tentu tidaklah cukup, terlebih jika masih dilakukan dengan bersandar pada paradigma kapitalis liberal. Langkah awal yang harus dilakukan adalah memperbaiki sistem pendidikan kita. Menanamkan sikap menjaga iffah/kehormatan diri dari meminta minta. Sehingga mampu memacu semangat mereka untuk lebih berusaha dalam upaya pemenuhan nafkah.

Dalam kehidupan berkeluarga, masing masing dianjurkan untuk menjamin kehidupan anggota keluarga yang lain. Seperti kewajiban anak atas orangtua, anak laki laki baligh atas saudara perempuannya. Kemudian pemahaman tentang sifat taawun juga wajib disampaikan kepada masyarakat mengingat point inilah yang nantinya mampu menyadarkan manusia untuk lebih dulu mengulurkan tangan bahkan sebelum oranglain meminta.

Hal-hal seperti inilah yang patut disampaikan pada saat proses belajar mengajar dan terus digalakkan guna membentuk karakter anak. Jika dua pilar di atas masih tidak mampu mengatasi, maka tanggung jawab tersebut dialihkan ke negara. Yang mana negara harus meriayah, memberi solusi, menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyatnya dan mengondisikan sikap kemandirian dalam diri mereka melalui tahapan-tahapan tertentu dan program-program kreatif sehingga terciptanya lapangan pekerjaan yang memadai bagi masyarakat.

Mataram, 24 Agustus 2016

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.