8/09/2016

Jangan Takut, Sultan dan Orang-Orang Shaleh Akan Menshalatkan Jenazahku



Sultan Murad

Sultan Murad IV, Sultan kekaisaran Ottoman yang hidup pada tahun 1623-1640, sering menyamar, kemudian berbaur ditengah-tengah rakyat dan melihat secara lansung kehidupan negerinya. Suatu malam, ia merasakan kegelisahan didalam dirinya dan merasakan keinginan yang sangat kuat untuk pergi keluar. Dia memanggil kepala keamanan dan merekapun segera keluar dari istana.

Ketika sudah agak jauh dari istana, mereka menemukan seorang pria yang tergeletak ditanah. Sultan memegang lelaki itu, dia ternyata sudah mati. Pada saat itu tidak ada orang yang peduli dengan kondisi mayat tersebut, orang-orang disekitar tampak sibuk dengan dirinya sendiri.

Akhirnya sultan berseru. Karena suaranya yang keras, semua orang melirik dan memperhatikannya.  Tapi tidak ada yang mengenali bahwa itu sultan. "Mengapa orang ini tergeletak mati ditanah dan mengapa tidak ada yang peduli? Dimana keluarganya?" tanyanya.

Orang-orang menjawab. " Dia memang begitu, dia seorang Pemabuk dan Pezina!"

Sultan mengatakan " Apakah dia bukan dari umat Nabi Muhammad SAW? sekarang, bantu aku membawanya ke rumahnya!"

Akhirnya orang-orang bersama sultan membawa jenazah itu ke rumahnya. Setelah mereka sampai disana, orang-orang pergi kembali. Namun sultan dan para pembantunya tetap tinggal, ketika istri si pria itu melihat keadaan suaminya, dia mulai menangis.

Dia berkata berkata kepada mayat suaminya, "Allah merahmatimu! Aku bersaksi bahwa kamu adalah seorang lelaki yang shaleh."

Sultan tiba-tiba kebingungan lalu berkata "Bagaimana anda bisa mengatakan bahwa suami anda ini shaleh padahal orang-orang mengatkan hal-hal ini dan itu tentang dia. Begitu banyak orang yang mengatakan soal buruk tentang suami anda sehingga tidak ada yang peduli bahkan ketika dia sudah meniggal?"

Dia menjawab "Saya hanya mendoakannya. Suami saya setiap malam pergi ke kedai dan membeli anggur sebanyak-banyaknya. Dia kemudian akan membawanya pulang dan kemudian menuangkan semua anggur-anggur itu ke tanah tanpa dia minum sedikitpun. Dia kemudian selalu mengatakan, "Aku menyelamatkan umat islam sedikit hari ini." Dia kemudian akan pergi pada pelacur, memberinya uang dan menyuruhnya menutup pintu sampai pagi tiba. Dia kemudian akan kembali kerumah untuk kedua kalinya dan berkata, "Hari ini aku menjaga seorang wanita muda dan remaja dari orang-orang yang akan memberinya hina."

Orang-orang selama ini memang hanya melihat dia memberi anggur dan mereka terbiasa melihat dia pergi kerumah pelacuran dan mereka mencemoohnya. Suatu hari saya berkata kepadanya, "Kalau kamu mati, tidak akan ada satu orang pun yang akan memandikanmu, tidak akan ada yang menshalatkanmu, dan tidak akan ada yang menguburkanmu!"

Dia tertawa dan menjawab, "Jangan takut istriku, Sultan, orang terpercaya, dan orang-orang shaleh akan menyalatkan jenazahku."

Mendengar cerita dari sang istri pemilik jenazah itu Sultan pun menangis. Dia mengatakan, "Demi Allah! dia mengatakan kebenaran, karena aku adalah Sultan Murad. Besok kita akan memandikannya, menshalatkannya dan menguburkannya."

Keesokan harinya Sultan, para ulama, orang-orang shaleh dan para rakyatnya berbondong-bondong datang untuk menshalatkan jenazah lelaki itu.

***

Kisah tentang orang saleh ini saya temukan dalam sebuah bacaan yang meyuguhkan kisah-kisah islami. Pesannya sangat kuat yakni jangan selalu memberi citra buruk terhadap perilaku orang lain. Kenali dulu siapa dia sebenarnya. Barangkali apa yang nampak tak selalu memberi gambaran tentang pribadi seseorang secara keseluruhan.

Betapa saya tertegun membaca kisah ini. Apa yang menimpa rakyat Ottoman beberapa abad lalu, juga sedang diidap masyarakat kita sekarang. Kisah ini membuka indra saya tentang banyak hal. Sultan Murad membantu kita dalam memahami lapis-lapis sosial yang tengah terjadi.

Di zaman ini, ketika seorang lain lebih unggul dalam beberapa hal, maka ada saja cibiran dan celaan yang ditujukan kepadanya. Ini adalah zaman dimana orang tak selalu berfikir positif atas kemajuan yang dilakukan oleh orang lain. Kadang mereka mencari-cari kesalahan yang pernah dilakukan si maju lalu dengan perasaan bangga mulai menebar kebencian kemana-mana.

Mengapa sikap-sikap seperti ini masih tertimbun rapi di tengah masyarakat kita. Kita tak selalu melihat apa yang ditorehkan oleh orang lain sebagai cahaya yang memimbing, lalu perlahan kita berusaha mengikuti cahaya itu untuk menggapai kesuksesan serupa.

Di tanah Ottoman, Sultan Murad mengajarkan hal lain yang juga penting. Bahwa seorang pemimpin yang baik adalah mereka yang ikut berbaur dengan rakyatnya. Pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu melebur dalam satu atmosfer masyarakat dalam keadaan apapun. Memang, ini adalah salah satu ciri dari pemimpin-pemimpin besar islam kala itu. Dalam kisah lain, saya juga menemukan bahwa hal serupa juga terjadi di zaman khalifah Umar ibn Khattab. Beliau kerap berkeliling dan mendatangi lansung rakatnya ketika malam hari.

Kepada mereka, orang yang menjadikan sebuah jabatan sebagai pepohonan rindang tempat bernaungnya semua khalayak, sepatutnya kita menyerap hikmah. Dewasa ini, tak jarang kita temui orang yang rela melakukan segalanya demi sebuah jabatan. Bahkan di negeri ini, jabatan adalah kapasitas yang kerap disalah gunakan. Dengan sebuah jabatan, mereka membangun kejayaan diri, golongan, dan kelompok tertentu. Sungguh miris!

Mataram, 09 Agustus 2016
Seusai Membaca Buku 1000 Kisah Islami

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.