9/29/2016

Udara Dingin Bukit Pergasingan


Bukit Pergasingan

Berwisata mungkin sudah menjadi kebutuhan manusia pada abad modern ini, berakhir pekan bersama keluarga, teman sekantor nampaknya sudah menjadi rutinitas. Pengapnya udara kantor serta deru kehidupan kota yang kian padat, harus kembali dinetralkan dengan pemandangan-pemandangan indah yang seakan memberi aura positif pada pikiran. Tak pelak jika beberapa tempat wisata seringkali ramai dikunjungi ketika akhir pekan.

Saya adalah mahasiswa yang tak punya banyak waktu untuk sekedar berwisata, beberapa intimidasi halus dari keluarga memaksa saya untuk senantiasa fokus pada kegiatan berbau akademik, sehingga jarang sekali saya mendapat kesempatan untuk melepas penat bersama teman-teman kampus. Akhirnya pada suatu hari saya mencoba berbaur dengan beberapa MAPALA kampus. Saya kenal betul aktivitas mereka, ditengok dari namanya saja Mahasiswa Pencinta Alam, pastilah mereka-mereka itu adalah sekelompok mahasiswa yang suka berpetualang dan menjelajah pikir saya. Tak saya abaikan lagi, inilah kesempatan yang baik untuk melepas dahaga dalam berwisata. Saya hanya tinggal menunggu jadwal keberangkatan mereka dan saya akan segera bergabung.

"Selalu terdapat peluang dari setiap masalah", itulah penggalan kalimat Tao The Cing yang selalu saya ingat, seminggu setelahnya kabar baik itu tersiar dari salah seorang teman, nama saya masuk dalam daftar rombongan perjalanan ke Bukit Pergasingan kali ini. Sebuah bukit yang menjulang tinggi, berada tepat dihadapan gunung Rinjani, butuh waktu 4 jam dari mataram untuk sampai kesana, dan lebih kurang 5-6 jam untuk mendaki bukit setinggi 1800 MDPL itu. Ketinggiannya setara dengan pos ke-3 pegununungan Rinjani.

Rombongan segera berangkat pada sabtu pagi, kami berencana untuk menghabiskan malam minggu diatas bukit, merasakan dinginnya udara khas pegunungan yang menyengat kulit. Bukit pergasingan memang telah lama dibuka untuk wisatawan, tapi baru ramai akhir-akhir ini, bukit itu berada diwilayah desa Sembalun lawang, kecamatan Sambalia, jauh sebelah timur kota Mataram.


Pergasingan

Pergasingan

Pergasingan

Kita baru menghabiskan setengah perjalanan, ketika kumandang adzan ashar menjilat telinga. Rombongan baru sampai dipuncak ketika magrib sudah dihimpit matahari. Saya memilih beristirahat sejenak sambil mengurut betis akibat sensasi perjalanan yang tak seperti biasanya. Beberapa teman lain tengah sibuk menyiapkan tenda sebagai tempat peristirahatan yang nyaman digunung. Tak terasa sudah gelap, angin gunung bertiup merayu kulit yang terbalut jaket tebal, saya dan teman-teman mengumpulkan beberapa kayu bakar untuk dijadikan penghangat. Seketika mulut saya mengeluarkan asap ketika tengah asik berbicara sambil melingkari api unggun. Disini begitu dingin, menyelinap masuk, memenuhi ruang, menusuk daging dan tulang, untung saja saya telah mempersiapkan segalanya.

Saya bersama tiga teman lain, memilih untuk begadang semalaman, sebagian wanita tengah tertidur pulas didalam tenda masing-masing. Oki, mahasiswa Fakultas Ekonomi Akutansi asal Sumbawa mengawali pembicaraan kita malam itu. Dia bercerita tentang Soe Hoek Gie, seorang idealis yang mati muda dan senang menyendiri di gunung. Dia memang lelaki yang senang menyendiri, berusaha melihat segala sesuatu dari tepian, dia tak ingin menjadi Massa, banyak sajak yang ia tulis ditengah udara gunung yang tidak bersahabat dengan kulit. Sajak-sajaknya kemudian menjadi sangat pamiliar dikalangan mahasiswa yang senang menikmati keindahan alam.

Gie adalah penyendiri yang istimewa, kemanapun dia melangkah, hanya sajak yang menjadi lawan bicaranya. Saya memang berbeda dengan Gie, saya menjajaki alam bersama teman-teman kampus, tapi antara saya dan Gie, kita sama-sama diikat oleh tali yang kuat, yaitu keberanian untuk memilih. Dia memilih sendiri untuk menelusuri gunung-gemunung, lembah-lembah dan sungai-sungai deras. Saya justru memilih menjalaninya bersama teman-teman seperjuangan, saya menyadari bahwa terdapat tali temali yang kuat dan selalu bisa menghubungkan saya dengan berbagai orang lain diluar sana melalui rasa kegaduhan dan pergolakan batin yang sama.


Pergasingan

Pergasingan

Pergasingan

Pergasingan

Pergasingan

Kegaduhan karena melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Gie memang gaduh dengan segala bentuk kehidupan kota yang serba kecurangan kala itu, dia tidak melihat sesuatu yang harmonis terjadi dikota, hingga akhirnya dia memilih untuk melangkah sendiri menyusuri alam, mencari kedamaian ditempat-tempat hening. Berbeda dengannya, setelah menyelsaikan study, tentu saya harus kembali kepada keluarga saya, kampung halaman yang telah menanti pengabdian saya. Barangkali ada rupa-rupa masalah yang harus dihadapi, ada banyak tantangan yang harus dilewati, ada batu besar yang siap menghadang laju siapa saja, disitu kerap muncul rasa pesimisme tinggi, takut, dan khawatir untuk terus melangkah maju.

Tapi keberanian dalam hidup kita selalu menjadi cahaya terang yang akan memandu perjalanan kemanapun kita pergi, Lao Tzu seorang filsuf cina yang luas pernah berkata bahwa "perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah". Kecintaan pada hidup adalah embun yang selalu memberikan harapan untuk terus bergerak, apapun resiko yang harus dijalani.

Bro.!! Jangan kebanyakan melamun, ayo gabung, kita foto bersama, sayang sunrise ini dilewatkan begitu saja. Kata seorang teman mengajak saya untuk mengabadikan moment itu.

Mataram, 29 September 2016

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.