10/05/2016

Dimas Kanjeng, Takhayul, dan Watak Sosial Masyarakat Kita


Dimas Kanjeng

Dimas kanjeng ditangkap oleh aparat kepolisian karena tuduhan penipuan. Dia berkedok bahwa dapat melipatgandakan uang dalam jumlah banyak. Kini pemberitaannya seakan memenuhi ruang publik, bahkan salah satu pengikutnya yang diketahui telah menyerahkan sejumlah uang terlebih dahulu untuk dilipatgandakan, khawatir kalau-kalau dengan tertangkapnya Dimas Kanjeng, uang yang telah dia serahkan tidak akan kembali.

Seiring ditangkapnya dimas kanjeng, banyak pihak yang mengaku bahwa pernah ditipu oleh pria bertubuh gempal itu. Sejak beberapa hari yang lalu media massa tengah sibuk meliput kasus ini, sejumlah pernyataan dari banyak pihak mulai bermunculan. Mereka kian memojokan Dimas kanjeng dalam beberapa komentar, media-media alpa untuk melihat bahwa pengikut dimas kanjeng juga memiliki kontribusi pada apa yang sedang terjadi. Saya amat geli melihat kasus ini pertamanya, terlebih pernyataan Dimas Kanjeng terhadap pihak kepolisian diatas mobil ketika tengah dibawa menuju POLDA Jatim.

Kasubdit 1 Keamanan Negara Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Cecep Ibrahim yang saat itu juga sebagai ketua tim penangkapan menceritakan, setelah ditangkap dari dalam padepokan Dimas Kanjeng lansung dibawa kedalam mobil khusus untuk dibawa ke markas Polda Jatim di Surabaya dengan didampingi sejumlah polisi. Dengan iseng, dalam perjalanan, dia bertanya kepada Dimas Kanjeng yang katanya bisa menggandakan uang, "katanya bisa menggandakan uang, tolong dong isi mobil ini dengan uang, kata Cecep" Dimas Kanjeng dengan santainya menjawab tidak bisa, karena aksi tersebut harus dibantu dengan bantuan mahluk halus yang diperintahnya.

Sekarang mereka (Mahluk halus) tidak bisa pak, tadi mereka kena gas air mata. Haaahh? sejak kapan gas air mata berefek pada mahluk halus??? Mendengar jawaban Dimas Kanjeng sontak para polisi terpingkal-pingkal. Begitulah laporan dari Kompas pada 30 September 2016 lalu. Saya menjadi amat tertarik mengikuti kasus ini, bukan karena Dimas Kanjeng mendadak tenar pada sejumlah media massa, bukan juga untuk mendengar pengakuan beberapa orang yang mengaku telah ditipu oleh Dimas. Saya tertarik karena kasus ini bisa membantu kita untuk mengenali lapis-lapis kenyataan di masyarakat kita, sekaligus membantu kita untuk memahami kenyataan sosiologis yang menyebabkan mengapa kejadian seperti ini seringkali terjadi.

Setidaknya ada beberapa pelajaran yang dapat kita serap dari kasus ini. Pertama, kebanyakan masyarakat kita ternyata masih percaya kepada hal yang bersifat takhayul dan tidak masuk akal, acapkali mereka lebih percaya kepada kulit ketimbang isi. Dalam bahasa yang agak ilmiah, masyarakat kita gandrung percaya kepada apa yang nampak, ketimbang substansi. Ketika seseorang datang dengan pakaian berkelas, berwajah segar, terlihat memiliki kekuatan super bak dewa yang turun dari langit untuk menyelamatkan bumi, serta meyakinkan kita akan sesuatu, kita dengan mudah mempercayainya. Ini menjelaskan, mengapa para pemimpin kita adalah mereka yang berpenampilan baik serta berwajah ganteng, meskipun isi pemikirannya tidak seberapa istimewa.

Pada masyarakat yang lebih melihat penampilan ketimbang isi, sebuah gagasan tentu menjadi tidak penting. Ini juga menjadi penjelas, mengapa seseorang yang memiliki visi baik serta gagasan hebat belum tentu akan disenangi atau dipilih masyarakat sebagai pemimpin. Mereka akan lebih menyukai seorang selebritis atau seseorang yang tampak hebat dari sisi penampilan, meskipun pemikirannya biasa saja. Hukum tersebut juga berlaku pada dunia religius kita. Seorang ustadz yang tampan dan terlihat fasih akan menjadi idola ketimbang seorang kiai yang memiliki pengetahuan mendalam terhadap ilmu agama tetapi keliatan tua dan peot. Padahal jika pengetahuan adalah embun yang dapat menghilangkan dahaga keilmuan setiap orang, maka sang kiailah yang lebih layak.

Selanjutnya, masyarakat kita adalah masyarakat yang senang mencari jalan pintas. Meski yang diikuti adalah sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal, tetapi tetap saja pengikut dimas kanjeng telah tersebar diberbagai daerah. Seorang akan melakukan apapun meski itu bertentangan dengan nilai-nilai yang dianutnya. Salah satu alasan yang membuat banyak orang mau mengikuti kegilaan yang ditawarkan oleh Dimas Kanjeng adalah harapan untuk hidup makmur dimasa mendatang.

Padahal jelas bahwa aksi melipatgandakan uang adalah sebuah kemustahilan. Jika dulu Tan Malaka cukup berhasil mengurai pemikiran barat untuk mengikis nilai-nilai feodalisme, mental budak, dan kultus takhayul yang menurut dia diidap rakyat indonesia kala itu melalui Madilog, nampaknya penyakit kronis mempercayai kultus takhayul secara berlebihan kembali tumbuh ditengah masyarakat kita di era keterbukaan dan perkembangan teknologi seperti sekarang.

Jikalaupun Dimas Kanjeng benar memiliki kemampuan seperti itu, mengapa pula dia capek-capek membangun padepokannya untuk menampung sekian banyak orang? Bahkan namanya tidak termasuk kedalam 10 deretan orang terkaya di indonesia sampai saat ini. Inilah yang kemudian menjadi titik pangkal maraknya kasus-kasus korupsi di indonesia. Hampir setiap saat media menyuguhkan berita tentang seorang politisi yang kemudian terbukti melakukan korupsi demi untuk memperkaya diri dan dinastinya.

Korupsi dan kolusi kemudian dihalalkan sebagai cara tercepat untuk mendapatkan kekayaan, yang kemudian dipakai untuk melanggengkan kuasa. Kita juga sering mendengar kasus suap dan sogokan demi untuk memuluskan langkah seseorang. Bahkan di kampung saya, banyak pula orang yang rela menyogok demi menjadi Pegawai Negeri Sipil, hingga mendapatkan posisi tertentu pada sebuah instansi pemerintah. Bahkan disuatu media saya pernah membaca berita tentang seorang makelar kayu yang rela menyogok aparat penegak hukum demi melanggengkan bisnis haramnya.

Mari juga mengamati sederet kasus penipuan disekitar kita yang melibatkan pasangan muda. Beberapa hari yang lalu saya membaca berita di media massa yang diberi judul "Uang tabungan pacar di Arab dikuras karena pacaran melalui Facebook". Lihat betapa mudahnya masyarakat kita terseret pada hal-hal yang berbau penipuan. Saya bahkan berani bertaruh kalau pasangan tersebut belum pernah bertemu sebelumnya. Sebab telah banyak saya menyaksikan fenomena seperti itu akhir-akhir ini.

Pada akhirnya kita bisa belajar banyak dari kasus yang dialami Dimas Kanjeng, kasus ini seyogyanya bisa menjadi cermin bagi kita untuk melihat ulang diri kita, memahami masyarakat kita, serta menjadi pelajaran di masa mendatang. Tertangkapnya Dimas Kanjeng mengajarkan kita bahwa apa yang nampak indah, berkelas, dan meyakinkan seringkali bisa menipu kita dikemudian hari. Jangan mudah silau terhadap sesuatu yang berkilau.

Sebelum sempat mengakhiri tulisan ini, seorang teman tiba-tiba datang mengunjungi saya. Dia bercerita bahwa sehari sebelumnya dia tengah bermimpi dihadiahi sebilah keris oleh lelaki tua yang terkubur didaerah rawa dekat dengan laut. Bahkan dia bercerita panjang lebar bahwasanya mimpi tersebut layaknya sebuah mukjizat, keris yang dia maksud dalam mimpinya mempunyai kekuatan gaib untuk menyembuhkan segala macam penyakit, selain itu juga memiliki khasiat serupa pelet untuk mendapatkan perempuan manapun yang ia sukai. Panjang lebar dia bercerita didepan saya. Sambil mendengarnya, dalam hati saya berdoa semoga kelak nasibnya tidak serupa dengan para korban Dimas Kanjeng.

Mataram, 05 Oktober 2016

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.