10/27/2016

Bom Waktu di Sumbawa Itu Bernama Illegal Logging


Illegal Logging

Di berbagai media online terdapat diskusi tentang Pilkada Jakarta yang semeraut. Hiruk pikuk pusat pemerintahan membuat mereka alpha untuk membicarakan fenomena yang terjadi di sekitar mereka saat ini. Dari jendela kecil di layar ponsel saya mengamati beberapa postingan mereka.

Mulai dari tukang sate yang memprotes harga daging, sekelompok pemuda yang masih saja menebar kebencian pada salah satu bakal calon, seorang yang menganggap dirinya pengamat politik sungguhan lalu lebih dulu membicarakan pilgub NTB yang akan berlansung beberapa tahun lagi, ada juga tentang sekelompok massa yang memadati kantor bupati demi menuntut kecurangan di pilkades, hingga sekelompok pejabat yang lebih banyak berbicara prestasi mereka ketimbang penderitaan rakyat.

Dari semua postingan itu, tak ada satupun diskusi mendalam tentang realitas sosial yang tengah menimpa masyarakat Sumbawa umumnya. Semuanya tak lebih dari usaha memperjuangkan suatu kelompok. Semua hanya berkutat pada kepentingan kaum tertentu, tak nampak diskusi mengenai Sumbawa secara menyeluruh.

Tak ada diskusi tentang bagaimana seharusnya kita menyingkapi permasalahan narkoba yang tengah mengancam generasi, saya juga tak melihat diskusi tentang bagaimana memutus rantai jaringan Illegal logging di Sumbawa yang sudah sedemikian mengakar. Nampaknya kita terlalu pandai membicarakan keutuhan rumah tangga orang lain, sehingga segala bentuk kerusakan yang berpotensi menjadi bomerang bagi keutuhan rumah tangga kita sendiri serasa di abaikan.

***

Di suatu sore yang pucat di Empang, Kabupaten Sumbawa. Ketika itu hujan seakan mengajak kita bermain petak umpet. Sesaat langit berhenti tumpah, tapi kemudian air jatuh bak ribuan jarum. Disana saya melihat senyum getir warga kampung memandangi sungai. Ada banyak tanya yang tersirat di wajah mereka, entah perasaan senang karena sebagian besar dari mereka adalah petani yang telah menanti kedatangan hujan atau rasa gundah melihat volume air sungai yang kian naik namun hujan belum juga berhenti?

Saya tidak tahu persis kata hati mereka satu persatu. Namun seperti biasa, bagi sebagian besar masyarakat Kecamatan Empang, musim penghujan tidak sepenuhnya membawa berkah. Perasaan takut akan terjadinya banjir adalah sejumput alasan mengapa kita wajib was-was ketika memasuki musim penghujan. Terutama bagi keluarga saya yang tinggal di pinggiran sungai.

Fenomena hujan bagi sebagian besar masyarakat pinggiran sungai bukanlah sekedar cerita tentang anugrah tuhan semata, tetapi juga tentang perasaan getir warga kampung yang takut kalau-kalau rumahnya kembali terendam banjir. Sepenggal cerita pahit tentang genangan air yang menyelimut rumah warga pada 2007 silam tidak serta merta hilang di dalam ingatan.

Masih terpatri dalam benak saya, ketika itu banjir datang dengan cita rasa yang ganas lalu menghanyutkan beberapa rumah warga kami. Saya berada di antara puluhan warga yang berlarian.

Beberapa diantara mereka tengah berusaha menyelamatkan harta benda yang masih tersisa. Sungguh miris melihat fakta yang terjadi ketika itu. Setahu saya desa kami tidak memiliki kawasan hutan, tapi mengapa cerita tentang banjir serupa sahabat yang mengetuk pintu rumah kami tiap tahun.

Ade gemuruh di dada melihat yang terjadi. Fenomena banjir yang salah satunya di sebabkan oleh maraknya Ilegal logging dan pembukaan lahan terbukti telah menjadi momok menakutkan bagi keberlansungan hidup masyarakat Sumbawa.

Tak hanya di Empang, beberapa tempat lain juga megalami hal yang serupa. Sebut saja Kecamatan Ropang, Lantung, Labangka dan Lenangguar. Beberapa wilayah ini tercatat mengalami kerusakan hutan terparah di Sumbawa.

Illegal logging serupa bom waktu yang siap meledak kapan saja. Illegal logging bagai angin yang tengah menanti datangnya badai. Sungguh benar-benar menghawatirkan. Para perambah seakan tak kenal takut dan kebal terhadap hukum. Tak hanya hutan lindung, kawasan Hutan Tanaman Industri juga ikut di rambah. Bahkan hutan Kecamatan Batulanteh yang juga diketahui sebagai kawasan penyanggah air Sumbawa juga di laporkan rusak.

Seiring hal itu, temuan demi temuan juga terus terjadi. Beberapa waktu lalu, berita tentang terbakarnya sejumlah kayu sitaan KPHP Batulanteh sempat menggetarkan publik. Belum lagi temuan BKSDA atas perambahan yang terjadi di hutan konservasi di pulau Moyo. Menurut data yang berkembang sejauh ini, ada sekitar 1.000 hektar lebih lahan yang sudah di rambah. Di ketahui juga bahwa kejadian ini telah terjadi semenjak 2010 lalu hingga sekarang.

Apa sebenarnya yang tengah terjadi di Sumbawa? Apakah para penegak hukum terlalu takut untuk bertindak tegas terhadap setiap mafia kayu? Atau jangan-jangan ada kekuatan besar yang bersemayam di balik setiap aksi mereka? banyak interpretasi liar prihal masalah ini. Tentunya publik bebas menebar opini sesuai analisa mereka terhadap berbagai kasus.

Peran serta pemerintah dan masyarakat dalam mengatasi masalah pelestarian lingkungan sangat dibutuhkan. Mungkin saja Sumbawa tengah menanti pejuang sekaliber Chico Mendez. Seorang aktivis lingkungan asal Brasil yang lebih dari setengah hidupnya di habiskan untuk berjuang demi upaya melestarikan hutan hujan Amazon dan menganjurkan hak asasi manusia untuk petani Brasil serta masyarakat adat.

Salah satu kalimat Mendez yang masih melekat dalam benak saya adalah "Hanya satu hal yang saya inginkan, kematian saya akan menghentikan impunitas terhadap para pembunuh yang dilindungi oleh polisi Acre…Seperti saya, para tokoh penyadap karet telah bekerja menyelamatkan hutan hujan Amazon, dan membuktikan, kemajuan tanpa penghancuran adalah mungkin” Sebuah ungkapan yang bisa membasahi batin setiap pembacanya.

Mendez berusaha mengorganisir suatu gerakan yang di dalamnya terdapat peran serta masyarakat sekitar kawasan hutan demi memerangi praktik ilegal loging dan pembukaan lahan yang mengancam kelestarian hutan. Hal itu di lakukan dalam upaya menyelamatkan hajat hidup masyarakat banyak. Mendez berfikir jika saja praktik ilegal loging dan pembukaan lahan secara terus menerus di lakukan maka Brasil khususnya wilayah seputar kawasan hutan Amazon tinggal menunggu kehancuran.

Kasus-kasus besar seperti korupsi, pungli, serta isu-isu seputar barang haram yang mengancam generasi memang patut di sikapi, namun bukan berarti isu lingkungan sosial luput dari pandangan kita. Bayangkan ketika setiap hutan kita menjadi rusak, lalu tak ada secuil pun fungsi hutan yang dapat diserap oleh masyarakat banyak karena ulah beberapa oknum tak bertanggung jawab.

Masalah tentang kecurangan yang terjadi ketika pemilihan kepala desa justru lebih berhasil memicu banyak orang untuk melakukan aksi demonstrasi ketimbang menyuarakan tentang pelestarian hutan. Masyarakat kita justru lebih sibuk mengkafirkan orang lain yang sama sekali tidak mereka kenal ketimbang membuka mata lebih lebar sembari sejenak mengamati kondisi lingkungan sekitarnya.

Sejenak saya membayangkan kondisi masyarakat Sumbawa yang ideal. Di mana setiap petani kita dapat mewujudkan kemandirian pangan tanpa memikirkan pupuk yang kian langka. Di mana setiap nelayan kita dapat dengan tenang melakukan kegiatan laut mereka tanpa di khawatrikan oleh sejumlah aktivitas pengrusakan seperti pengeboman dan semacamnya. Di mana setiap peternak kita dapat leluasa memanjakan hewan mereka karena ketersediaan lahan LAR yang memadai.

Ah..!!! mungkin saya terlalu berlebihan.

Mataram, 27 Oktober 2016

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.