10/01/2016

Epos Cinta di Penghujung September




Bermula dari beberapa bulan yang lalu. Ketika itu, dia sedang mengajar di kelas khusus bahasa inggris, sebuah program bimbingan belajar yang diadakan untuk calon mahasiswa baru di Mataram. Saya yang kebetulan waktu itu juga sempat hadir, tak sengaja mengawasi gayanya menyampaikan materi.

Tubuhnya ramping mendekati kurus, kulitnya putih dan bening, matanya coklat kehitaman dan ada beberapa tahi lalat di sana. Tingginya persis sebahu denganku. Perempuan itu sehat dengan kecantikan yang tak perlu riasan. Kemurniannya memancarkan rasa percaya diri yang mempesona, pakaiannya yang sederhana tak pernah mampu membatalkan kecantikannya. Begitu anggun, senantiasa menggunakan kain penutup kepala.

Saya kagum melihatnya, dia nampak sopan dan terdidik. Beberapa menit kemudian dia keluar dari ruangan, menandakan bahwa kelasnya telah berakhir. Tak mau buang-buang waktu, saya lansung mengulurkan tangan untuk berkenalan. Ia pun menyambut saya dengan ramah.

Jujur, sikapnya semakin menambah kekaguman saya pada wanita itu. Saya memulai pembicaraan dengan beberapa pertanyaan. Sebenarnya, beberapa pertanyaan yang saya lontarkan adalah pertanyaan yang sangat mainstream. Pahamilah, itu merupakan kelainan saya sejak dulu. Saya selalu gelagapan ketika berhadapan dengan perempuan, tapi sore itu saya tetap memberanikan diri untuk berbicara lebih jauh dengannya.

Saat maghrib menghimpit hari, perlahan kami melangkah menuju bangunan musholla yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari tempat tadi. Ini adalah pengalaman pertama saya menghadap tuhan dengan wanita yang bahkan alamatnya belum saya ketahui.

Meskipun dipisahkan oleh lentera khas bangunan suci, tapi tetap saja itu hal yang menakjubkan. Pengalaman pertama bertemu sekaligus memanjatkan doa pada satu bangunan yang dirahmati. Sungguh pertemuan yang akan selalu membekas dalam dada saya.

Seketika saya teringat ungkapan salah seorang novelis Prancis, Alponse De Lamartine bahwa "Di awal peristiwa-peristiwa besar selalu ada perempuan dan cinta." Setidaknya penggalan tadi cukup menjadi sanggahan bahwa pertemuan kita saat itu bukanlah sesuatu yang kebetulan.

Dia adalah mahasiswa jurusan bahasa inggris di salah satu Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Mataram. Kita memang seangkatan, tapi umur saya lebih tua beberapa minggu darinya. Saya memahami betul keterampilannya di bidang kebahasaan. Dia berbicara bahasa inggris layaknya sedang mengucapkan kalimat dalam bahasa Indonesia.

Di mata saya, ia adalah gadis yang cerdas. Keikutsertaannya sebagai satu-satunya wanita yang tergabung dalam komunitas polyglot NTB bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh banyak orang. Saya mengakui kapasitasnya dalam bidang bahasa. Sesekali saya juga memperdalam ilmu kebahasaan padanya. Yah, mumpung tidak dipungut biaya kenapa tidak.

Sekarang setelah berjalan beberapa bulan, saya mulai nyaman menjalani sebuah hubungan. Layaknya pasangan lain, kita selalu melakukan komunikasi. Ketimbang percakapan mesra dari sepasang kekasih, saya lebih nyaman jika menyebutnya sebagai sebuah diskusi. Acapkali kita membahas tentang pelbagai isu kekinian yang terjadi di tengah masyarakat. Cerita-cerita tentang percintaan jarang tersentuh dalam tema pembicaraan kami.

Sebelumnya saya tidak pernah menikmati sebuah hubungan yang seperti ini. Saya telah menemukan guru, sahabat dan teman diskusi yang praktis. Satu-satunya yang sering membuat saya jengkel adalah ketika pesan saya di balas dengan bahasa-bahasa aneh.

Kadang saya menghubunginya di pagi hari. "selamat pagi" ujarku melalui bbm. Beberapa jenak kemudian, muncul bahasa-bahasa aneh yang tak pernah saya pelajari sebelumnya. Seringkali dia menjawab pesan saya menggunakan bahasa Spanyol, Rusia, Jerman. Macam-macam.  Jika boleh jujur, kadang saya merasa kesal dengan tingkahnya yang tak biasa. Saya juga kerap ditertawakan sambil ia menjelaskan arti kata-kata itu secara perlahan.

Jujur saja, saya adalah tipikal orang yang jarang mempublikasikan hubungan pribadi kepada siapapun, terlebih melalui media sosial. Jikalau tulisan ini pun saya buat, itu hanya sekedar untuk mengenang wanita yang telah berhasil membuat diri saya jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia memang tidak secantik kebanyakan perempuan di luar sana, tapi wawasan, kesopanan sikap, serta kesederhanaannya membuat saya bangga.

Di mata saya, setiap manusia memiliki sebuah pengharapan besar terhadap hubungan yang telah mereka bangun, dan hukum itu juga sedang berlaku pada saya. Saya berharap nasib baik akan menimpa kita dikemudian hari. Saya kira tak berlebihan jika saya katakan bahwa saya sedang jatuh cinta setiap hari pada gadis yang sama.

Sebagai mahasiswa, tentu saya tidak ingin jika kisah percintaan saya hanyalah di isi dengan guyonan-guyonan berbau melankolisme yang kebanyakan dianut remaja kita dewasa ini. Saya juga tidak ingin jika cinta membuat saya terseret pada jurang apatisme yang tak berkesudahan. Keinginan saya hanyalah melakukan pembuktikan bahwa bersama orang yang tepat, semuanya bisa berjalan beriringan tanpa ada yang perlu dikorbankan.

Bagi saya, cinta yang ideal itu adalah cinta yang dijalani dengan cara intelektualitas tinggi dan elegan. Saya tidak pernah melihat banyak tokoh besar yang mengumbar kemesraan mereka di media-media sosial, alay dan semacamnya. Justru yang sering saya amati beberapa public figur yang kelihatan mesra di media sosial, cendrung hubungannya tidak bisa bertahan lama.

Sebenarnya ada begitu banyak pertimbangan sebelum saya menulis tulisan ini. Saya takut kalau-kalau dikatakan sebagai orang yang suka mengumbar hubungan pribadi seperti yang telah saya katakan di atas. Tapi pada dasarnya blog ini memang saya gunakan sebagai tumpahan catatan harian saya. Saya berusaha membangun jejak sejarah saya sendiri melalui tiap-tiap tulisan yang tertera di sini.

Bagi siapapun yang pernah membaca ujaran dari seorang sastrawan besar yang pernah dimiliki bangsa kita, Pramoedya Ananta Toer bahwa "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian". Pasti akan melakukan hal yang sama.

Jadi wajar-wajar saja ketika seorang mahasiswa tingkat akhir menulis kisahnya melalui beberapa sulam kalimat sederhana yang sedang anda baca di sini. Bahkan sebuah ekspektasi pribadi kerap muncul, saya berharap suatu saat nanti saya bisa kembali menulis artikel-artikel dengan tema pernikahan, atau semacamnya. Ah, semoga saja.

Mataram, 01 Oktober 2016

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.