10/02/2016

IKPPME dan Pergulatan Batin Seorang Pemimpin


IKPPM

Ikatan Keluarga Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Empang-Mataram. Kedengarannya begitu pamiliar ditelinga saya, tapi tentu berbeda dengan orang lain, jelas pikirannya masih mengapung prihal yang satu ini. Saya harus memperkenalkannya terlebih dahulu kepada para pembaca. IKPPM adalah paguyuban bersifat kekeluargaan, perkumpulan ini muncul atas rasa ingin mempersatukan, merangkul setiap mahasiswa yang berasal dari kecamatan empang dengan latar belakang yang berbeda-beda pada satu atap yang utuh dan harmonis.

Saya adalah ketua dari organisasi ini semenjak 2015 lalu sampai sekarang. Menjadi pemimpin sebenarnya bukanlah hal yang terlalu rumit, jika saja yang dipimpin layaknya sebuah perusahaan, partai politik, instansi-instansi umum. Karena pada komunitas seperti ini, anggota dan pemimpin sama-sama diikat pada aturan yang jelas sehingga kedua dari elemen penggerak komunitas tersebut tentu memiliki rasa ketakutan tinggi jika melanggar sebuah aturan yang telah ditetapkan.

Berbeda halnya dengan paguyuban sejenis IKPPM ini, segala bentuk permasalahan didalam nya menjadi sangat kompleks. Memang benar kami juga memiliki buku pedoman atas segala aturan yang melekat pada organisasi ini, tapi hukum menaati sebuah aturan, tentu tidak berlaku pada perkumpulan yang telah ada semenjak tahun 90-an ini.

Hari-hari pertama ketika dilantik sebagai ketua umum organisasi, adalah hari yang menyenangkan, saya memiliki imajinasi liar prihal masa depan organisasi ini ketika itu. Saya mulai membaca beberapa buku populer mengenai kepemimpinan, mulai dari Leadership Mastery karangan motivator kondang Del Carnigie sampai Kepemimpinan yang Memotivasi karyanya John Adair.

Tapi benarlah yang terjadi pada Umar ibn Khattab beberapa Abad silam, beliau adalah satu dari sahabat yang paling lama menuntaskan hafalan Al-Quran, ketika ditanya prihal kejadian tersebut beliau mengatakan bahwa beliau menghafal per-ayat sembari mempraktekkannya. Mempraktekkan gaya kepemimpinan yang tertulis dalam sebuah buku tentu tak segampang memilih buku disebuah perpustakaan besar, kita harus pandai memilih dengan siapa kita bekerja untuk menyongsong visi yang telah ditentukan, terlebih lagi kita sedang menghadapi manusia-manusia dengan tingkat apatisme yang tidak biasa.

Beberapa kegiatan seremonial memang mampu mempersatukan mereka dengan singkat, tapi setelah kegiatan itu selesai, kita kembali tidak saling mengenal satu sama lain. Ini bukan organisasi nasional dengan sederat alumnusnya yang kondang. Semua berjalan searah disini, stagnasi dan sedikit konflik biasa terjadi, sebenarnya itu merupakan bagian dari usaha ingin mempersatukan semangat agar organisasi kembali berjalan normal.

Tapi kita harus kembali pada kenyataan bahwa didalam lautan yang luas tentu banyak spesies yang berkembang. Tidak semua manusia memiliki tingkat kepekaan sosial yang sama, sebagai mahasiswa, tentu kita seringkali lebih mengutamakan sisi akademik ketimbang harus bergumul pada sebuah organisasi. Terlebih lagi telah banyak komunitas intra kampus yang berseliweran dan sampai saat ini terbukti mampu mengubur kepekaan sosial mahasiswanya.

Maka kondisi inilah yang tengah dihadapi oleh pemimpin IKPPM sekarang, menurut saya akan lebih gampang memimpin organisasi yang jumlah anggotanya ribuan orang tapi sadar akan aturan, ketimbang organisasi yang jumlah anggotanya tak lebih dari satu tim keseblasan bola tapi tidak sadar tentang pentingnya menegakan aturan, lebih mengerikan lagi jika anggotanya sama sekali tidak menghargai sosok pemimpin. Manusia normal sah-sah saja melakukan suatu kesalahan, baik itu disengaja atau tidak. Tapi manusia sadar adalah yang mengakui letak kesalahannya dan tidak malu untuk segera memberi pertanggungjawaban.

Itulah yang akan saya lakukan kali ini, beberapa bulan lalu saya pernah menggunakan kas organisasi untuk sebuah kebutuhan pribadi yang sangat mendesak. Nominalnya tak seberapa, tapi menggunakan sesuatu yang bukan hak saya jelas merupakan kesalahan. Sebuah kesalahan elementer dari pemimpin abal-abal kata banyak orang. Tak ada satupun aparat penegak hukum yang akan menjebloskan saya ke penjara atas kesalahan itu, saya bukan pejabat publik yang terikat, udang-undang apa yang telah saya langgar, tak ada bukan?

Tapi ketahuilah, pertanggungjawaban saya bukanlah pada aparat penegak hukum, terlebih pada anggota organisasi yang tak saya ketahui namanya satu persatu, tapi pertanggungjawaban saya adalah kepada tuhan. Dzat yang tak pernah tidur dari setiap pelanggaran yang dilakukan umatnya meskipun itu sebesar Zarah. Saya bisa saja luput hari ini, tapi batu besar sudah siap menghadang saya dikemudian hari, terlebih sampai sekarang saya masih mengamini pernyataan seorang penyair inggris terkenal Alexander Pope bahwa "Semua orang tidak perlu malu karena berbuat kesalahan selama ia menjadi lebih bijaksana dari sebelumnya" sebuah pernyataan yang jujur dari Pope dan bisa berlaku bagi siapapun.

Matahari sudah kelelahan dibalik awan, cahaya merahnya lembut mengurapi saya hari ini, begitupula maghrib telah menghimpit hari, saya harus lekas berjalan menuju masjid mengingat suara langit telah memanggil seisi bumi, "hayyaalalfalah" katanya sayup-sayup dikuping. Diatas beruga kecil didepan kamar, saya tulis permohonan maaf ini kepada segenap masyarakat Kecamatan Empang. Salam hangat, Ketua Ikatan Keluarga Pemuda Pelajar Mahasiswa Kecamatan Empang - Mataram Periode 2015-2017.

Mataram, 02 Oktober 2016


Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.