10/24/2016

Latihan Kader IKPPM 2016, Mengais Mereka yang Terserak


Latihan Kader

Sebagai seorang mahasiswa, sejatinya saya di tuntut untuk lebih berfokus kepada segala bentuk kepentingan di ranah akademik. Akan tetapi di mata saya, antara akademik dan organisasi haruslah di seimbangkan. Saya masih percaya bahwa akademik tanpa organisasi adalah nihil adanya dan organisasi tanpa akademik menjadi sesuatu yang mustahil. Sejauh ini keterlibatan saya pada berbagai organisasi ekstra kampus memang membuat energi saya cukup terkuras.

Saya harus pandai-pandai membagi waktu antara perkuliahan dan organisasi, terlebih lagi para sahabat telah mempercayakan saya sebagai nakhoda. Dalam banyak hal, saya selalu berusaha untuk mengedepankan totalitas terhadap apapun. Sebab saya yakin apa yang di lakukan dengan sungguh-sungguh, hasilnya tak pernah mengecewakan.

***

Di suatu malam yang pucat di Mataram, Nusa Tenggara Barat, saya bersama beberapa orang sahabat tengah berbincang serius. Kami membicarakan beberapa fakta yang terjadi pada kaum terpelajar dewasa ini. Kami berpikir keras tentang bagaimana memancing semangat kawan-kawan lain untuk ikut berkecimpung di dalam suatu wadah yang disebut organisasi.

Kurangnya minat mahasiswa Sumbawa, khususnya yang berasal dari Kecamatan Empang dalam berorganisasi membuat kami mulai memikirkan hal-hal negatif, kami berpikir jika saja kondisi seperti ini terus dibiarkan maka kemungkinan besar eksistensi dari paguyuban yang sudah ada semenjak tahun 1993 ini akan segera memudar. Ada gemuruh di dada, seketika muncul sebuah hasrat bagaimana mengikat mereka dalam bingkai kesatuan bangsa lalu meletakan rasa persaudaraan sesama mahasiswa dengan balutan paguyuban.

IKPPM Empang adalah sebuah paguyuban yang didirikan atas rasa persaudaraan dan semangat kekeluargaan antar sesama mahasiswa karena kesamaan asal dan wilayah. Paguyuban ini hadir dengan niat menyatukan keberagaman visi, lalu mengajak setiap orang di dalamnya untuk berpikir jernih terhadap paradigma yang berkembang.

Malam itu kami sama-sama sepakat untuk mengadakan kegiatan Kaderisasi. Kami berfikir, untuk memancing animo mereka dalam berorganisasi, tentunya kami memerlukan sebuah panggung untuk berbicara lebih banyak yang nantinya digunakan sebagai wadah sosialisasi dalam menjelaskan manfaat serta tujuan berorganisasi sepenuhnya. Barangkali ada sekian orang yang berminat, itu saja sudah cukup kata saya dalam hati.

Menurut saya, kaderisasi merupakan nyawa di dalam sebuah organisasi atau komunitas. Kegiatan semacam ini adalah proses untuk menumbuhkan benih-benih yang bertaburan. Kaderisasi adalah upaya untuk menyalurkan nilai-nilai baik yang terkandung di dalam organisasi kepada mereka para generasi pembaharu agar senantiasa mengedepankan loyalitas sebagai pengemban amanah sosial terhadap masyarakat.

Seorang yang bijak mengatakan bahwa pemimpin yang baik adalah dia yang bekerja untuk melahirkan pemimpin selanjutnya. Bagi saya, kaderisasi adalah secuil asa untuk melahirkan sosok-sosok pemimpin sebagai manusia yang peka terhadap gejala sosial yang timbul di tengah masyarakat. Kaderisasi adalah cara kita menyentuh batin mereka. Kembali mempertegas kepeda mereka bahwa organisasi itu serupa pupuk yang menggemburkan nilai-nilai kepekaan sosial terhadap generasi muda.

Latihan Kader
Latihan Kader

Tadinya ada sejumput keraguan tumbuh di benak saya. Bisakah kegiatan ini berjalan lancar dan efektif sesuai harapan? Sebab sejauh pengamatan saya, di setiap kegiatan yang berbau seperti ini kita selalu kekurangan peserta. Sampai saat ini, realitas yang terjadi pada tataran mahasiswa Sumbawa di Mataram adalah sulitnya menyatukan visi dan cara pandang terhadap pentingnya sebuah keberadaan organisasi.

Masih banyak diantara kita yang menganggap bahwa organisasi adalah hal sepele dan tidak penting. Padahal sejarah perjalanan bangsa ini tidak terlepas dari orang-orang yang dulunya di besarkan dalam sebuah wadah organisasi. Sejatinya organisasi mengajarkan kita tentang bagaimana mencapai sebuah solusi dengan cara permufakatan sesuai dengan apa yang tertera pada dasar negara ini. Di sadari atau tidak, dengan berorganisasi kita telah menjalankan amanat dari para pendiri bangsa yang tertuang dalam sila ke-4 pancasila kita.

Masih banyak yang beranggapan bahwa keberadaan organisasi adalah batu sandungan untuk bisa lulus kuliah tepat waktu. Sehingga berbagai komunitas intra kampus lebih ramai ketimbang ekstra kampus. Di tengah fakta itu, saya bertanya-tanya, bisakah kegiatan pengkaderan ini berjalan sesuai dengan apa yang telah di rencakan.

Dengan niat baik untuk membuktikan sejauh mana kebenaran dari hipotesis ini, kami kemudian mulai membentuk kepanitiaan kecil untuk mempersiapkan kegiatan ini nantinya. Saya mulai menyebarkan informasi melalui berbagai media sosial, mengajak mereka yang berada pada gelombang pemikiran yang sama untuk berpartisipasi.

Panitia bahu membahu dalam mempersiapkan segalanya, mereka nampak sangat berharap agar kegiatan ini dapat terselenggara dengan baik sesuai tenggat waktu yang telah ditentukan. Target pesertanya adalah semua mahasiswa baru yang berasal dari kecamatan Empang dan berdomisili di Mataram. Meskipun saya tetap pesimis bahwa mereka semua akan memenuhi undangan kami.

Beberapa hari setelahnya, informasi yang dibagikan oleh segenap panitia pelaksana mulai tersebar secara viral, beberapa sahabat telah menerima sms pendaftaran dari para calon peserta, jumlahnya telah mencapai 50 orang. Oh ya, mari sejenak membayangkan, apakah jumlah mahasiswa yang berasal dari kecamatan Empang di Mataram sebanyak itu? Tentu tidak, jumlahnya ada ratusan bahkan ribuan orang. Tapi begitulah realitas yang kami hadapi sekarang. Meski demikian, semua panitia telah berkomitmen akan tetap melaksanakan kegiatan ini berapapun jumlah peserta yang hadir.

Latihan Kader
Latihan Kader

Minggu, 23 Oktober 2016. Hari yang di tentukan telah tiba, sebagai ketua panitia pelaksana, saya harus berada di lokasi lebih awal. Pukul 08.00 saya bergegas menju Aula KNPI Provinsi NTB sebagai tempat kegiatan ini dilaksanakan. Terlihat beberapa orang sahabat tengah menunggu di sana. Kegiatan ini di mulai dari pukul 09.30 pagi hingga menjelang maghrib. Ada getir di dada ketika berbicara di hadapan para peserta, saya melihat seluruh ruangan sesak oleh puluhan kursi, tapi hanya beberapa orang di atasnya.

Namun ketika pembicaraan saya hampir selesai, para peserta mulai berdatangan. Saya mempersilahkan mereka untuk segera memasuki ruangan kemudian melanjutkan pembicaraan. Ada beberapa hal yang kami sampaikan pada kegiatan ini, kami sengaja memfokuskan beberapa pembahasan seputar organisasi dengan tujuan menggaet sejumlah peserta yang hadir.

Para pemateri memulainya dengan Kerangka Berpikir Ilmiah, lalu seputar menejemen organisasi, pengenalan IKPPM kepada mahasiswa baru, simulasi, sosial budaya, sejarah mahasiswa, hingga motivasi. Tak di sangka, ternyata mereka antusias menerima beberapa materi yang di sampaikan. Seketika batin saya menjadi basah melihat apa yang terjadi. Para peserta secara aktif melemparkan beberapa pertanyaan sehingga pemateri kelabakan menjawabnya.

Ada yang meminta agar pertemuan seperti ini rutin untuk di adakan, beberapa dari mereka bahkan dengan suka rela mengajukan diri untuk menjadi anggota inti dari paguyuban kami. Sungguh sebuah fenomena yang tidak saya duga sebelumnya. Saya mulai memahami bahwa jauh di dalam diri mereka, telah tertimbun semangat-semangat yang bergemuruh. Mereka hanya perlu di arahkan sedikit untuk menjadi kaki-kaki yang bergerak.

Latihan Kader
Latihan Kader

Saya mulai membayangkan betapa mudahnya perubahan itu dicapai ketika banyak orang mulai merespon segala bentuk ketimpangan yang terjadi di tengah masyarakat. Saya membayangkan betapa bangsa kita akan melaju dengan sedemikian pesat ketika setiap cendikia-cendikia muda mulai berani menembus batasan-batasan ide mereka, lalu mengajak semua orang untuk bergerak.

Saya yakin bahwasanya mahasiswa juga mampu berfikir jernih dalam memandang realitas. Sebab Ilmu pengetahuan itu serupa cahaya yang dalam pemahaman filsuf Heidegger sebagai pemisah antara gelap dan terang. Para cendikia muda adalah mereka yang dapat menyerap kearifan dari masyarakat kemudian mengembalikannya sebagai embun untuk menuntaskan dahaga keilmuan orang banyak.

Pemuda kita harus terjaga dari segala bentuk hawa nafsu dan kepentingan politik. Saya berfikir, seandainya mereka memiliki lebih banyak ruang, lebih berani menembus segala batasan kampus, saya yakin mereka akan tumbuh sebagai sumbu-sumbu api yang siap meledakan apa saja. Mereka akan menjelma menjadi sekumpulan orang yang kelak pemikirannya akan mempengaruhi semua tatanan.

Mataram, 24 Oktober 2016

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.