10/29/2016

Para Srikandi Pejuang Lingkungan di Tanah Sasak



Seorang sahabat mengajak saya untuk menghadiri acara Launching Buku sekaligus Workshop lingkungan di sebuah hotel di wilayah Sengigi, Mataram. Tak saya sangka, pertemuan itu menjadi pertemuan yang sangat mengesankan. Saya banyak bertemu dengan orang-orang yang kini setiap katanya masih mengisi ruang kosong di kepala saya.

Di sana saya bertemu dengan berbagai orang yang mampu memberikan motivasi melalui apa yang telah mereka lakukan. Saya bahkan tidak menyangka bahwa pertemuan itu sekaligus membuka indra saya untuk lebih peka terhadap sekelumit permasalahan sosial yang tengah terjadi.

Dalam Workshop yang lebih banyak mengulas permasalahan lingkungan terutama sampah itu, saya benar-benar di buat terkesima. Saya tidak menyangka bahwa apa yang dilakukan oleh para srikandi itu telah memberikan dampak yang signifikan terhadap kesadaran masyarakat Lombok tentang bagaimana menciptakan lingkungan yang bersih dan bebas dari sampah.

Tak hanya itu, mereka bahkan mengajak masyarakat untuk mengolah sampah secara kreatif. Karya-karya kreatif mereka yang berbahan dasar sampah itu saya lihat ketika hendak memasuki ruangan. Saya tidak menyangka bahwa sesuatu yang saya buang setiap hari, di tangan mereka yang inovatif, menjadi karya seni bernilai tinggi dengan harga mahal.

Di pertemuan itu saya di ajarkan untuk selalu berkomitmen dalam segala hal. Terutama masalah lingkungan. Saya telat memahami bahwa di tengah hiruk pikuk wisatawan yang memadati Lombok, ternyata ada cerita tentang perjuangan sekelompok srikandi untuk mewujudkan Lombok yang bersih dan nyaman melalui serangkaian perjuangan yang tidak biasa.

***

Kegiatan itu dimulai dengan presentasi Shoko Meneki, seorang Mahasiswi asal Jepang yang tengah mengadakan penelitian di Lombok tentang sekelumit permasalahan sampah. Saya sedemikian tercengang ketika mendapati beberapa fakta yang dia jabarkan tentang tingkat kesadaran masyarakat Lombok terhadap lingkungan.

What Is The Problem? Itulah pertanyaan yang kemudian muncul di benaknya ketika melakukan penelitian di sini. Dia bahkan tidak percaya tentang realitas sosial yang terjadi, gadis itu mengatakan bahwa apa yang dia temukan adalah fakta yang benar-benar nyata di tengah masyarakat. Dia menyesalkan tingkat kesadaran masyarakat Lombok yang masih rendah untuk sekedar menciptakan lingkungan bersih dan bebas sampah.

Saya sangat terfokus pada beberapa gambar yang dia sajikan melalui slide nya. Ada gemuruh di dada ketika melihat sampah-sampah itu berserakan memenuhi pinggiran jalan, sungai, laut bahkan di selokan yang lokasinya berada ditengah pemukiman warga.


Di acara itu saya banyak bertemu dengan rekan sesama mahasiswa dan juga para relawan asal negeri bunga Sakura. Kita dipertemukan pada gelombang pemikiran yang sama, kita juga diikat oleh satu perasaan getir terhadap keadaan lingkungan yang memperihatinkan.

Pembicaraan Shoko di tutup oleh tepuk tangan dari segenap peserta yang hadir. Sesaat setelah itu, seorang bernama Janithia Adelia Reni kembali bebicara. Dia seorang gadis yang hatinya tergerak dalam menyuarakan perlawanan terhadap segala bentuk pengrusakan lingkungan yang disebabkan oleh sampah.

Dia bercerita banyak tentang berbagai pengalamannya semenjak menjadi relawan. Suatu hari dia pernah di buat terkejut oleh fenomena yang terjadi di Gili Trawangan, salah satu tempat wisata yang telah ramai di kunjungi ini ternyata memiliki cerita lain dibalik keindahannya yang mempesona. Dia tidak menyangka ketika mendapati sebuah kawasan wisata nan indah itu ternyata mampu melahirkan volume sampah yang tidak terkira jumlahnya.

Dia menuturkan bahwa volume sampah yang ada di sana mencapai tinggi hingga 2 meter. Sehingga para petugas kebersihan harus berlalu lalang selama tak kurang dari 5 kali sehari untuk mengangkut sampah-sampah yang di produksi oleh berbagai hotel dan bungalow di Trawangan.

Sejenak mendengar pemaparan dari Lia membuat saya tertegun. Saya baru menyadari bahwa dibalik gelak tawa para pelaku industri wisata di Lombok, ada cerita haru tentang sekelompok relawan lingkungan yang dengan ikhlas mengabdikan dirinya demi melihat Lombok yang elok dan bersih.


Saya juga di buat tertarik dengan buku yang di terbitkan oleh pihak pengundang. Judulnya "Management dan Marketing Bank Sampah Kreatif". Buku itu di tulis oleh Aisyah Odist, yang juga merupakan Direktur Bank Sampah NTB. Saya tidak pernah bertemu dengannya sebelum pertemuan kami sore itu. Aisyah adalah cikal bakal dari revolusi lingkungan di Lombok, dia adalah perempuan yang mampu memberikan inspirasi bagi siapapun.

Saya sangat memahami serangkaian tantangan dalam menumbuhkan kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dari fenomena sampah. Tapi melalui tangan kreatif Aisyah, semuanya tampak mudah dilakukan. Aisyah memulai perjalanannya semenjak 2011 dengan membuka beberapa penampungan sampah di Lombok.

Dia menghimbau kepada masyarakat bahwa sampah dapat di jadikan sesuatu yang bernilai tinggi dengan sentuhan kreatifitas dari masyarakat itu sendiri. Aisyah menerima sampah dari berbagai warga lokal untuk di daur ulang menjadi beragam jenis produk terutama tas.

Wanita berambut pendek itu juga memberikan pelatihan dan mengorganisir masyarakat lokal untuk tumbuh sebagai kaki-kaki yang bergerak dalam mewujudkan kebersihan lingkungan dengan cara kreatif. Tak hanya menggandeng warga lokal, beberapa relawan asing terutama yang berasal dari Jepang pun ikut dalam berbagai aktivitas sosial yang dia lakukan.

Sore itu Aisyah Odist hadir dengan penampilan yang sangat sederhana, dia memberikan beberapa masukan dan motivasi bagi para peserta. Satu pernyataan Aisyah yang masih terekam di benak saya adalah "Kita tahu betul bahwa apa yang dilakukan oleh masyarakat itu menyimpang. Mereka membuang sampah tidak pada tempatnya, itu merupakan hal yang sederhana dan bisa dilakukan oleh siapapun. Tapi dari hal yang sederhana itu, kita tidak pernah belajar untuk mempelajarinya, bahkan bagaimana menemukan solusi untuk menghentikan aktivitas mereka". Pesan itu seakan lansung menikam saya yang duduk di bangku peserta.

Saya sepenuhnya mengamini apa yang dikatakan direktur bank sampah tersebut, bahkan dengan perasaan jujur saya juga mengakui bahwa hal-hal yang nampak sederhana kadangkala membuat saya lalai, sehingga tidak pernah terpatri dalam benak saya untuk sekedar menanggapinya dengan serius. Tapi setidaknya apa yang dikatakan Aisyah adalah jamu pahit untuk mengobati banyak penyakit di luar sana.

Dalam pertemuan yang digelar di hotel Aruna itu, hati saya kembali tergugah oleh pernyataan Takeshi San, seorang Volunteer asal Jepang yang juga berkesempatan hadir di acara tersebut. Tips sederhana yang ia bagikan kepada para peserta tentang bagaimana menumbuhkan komitmen di dalam diri pribadi untuk menjaga lingkungan, serupa cambuk kesadaran bagi siapapun yang mendengarkannya.

"Kalau kalian mau buang sampah sembarangan, peganglah dada kalian sejenak, sembari menyanyikan lagu kebangsaan kalian, Indonesia Raya." Pernyataan pria bermata sipit itu seketika membuat batin saya menjadi basah, apa yang dikatakannya seakan menghempas warga Indonesia khususnya Lombok untuk kembali mempertanyakan makna Nasionalisme mereka.

Yang tidak kalah menarik adalah cerita tentang Kiyoto San, seorang wisatawan asal Jepang yang juga sahabat dari Aisyah Odist. Kiyoto gemar berwisata di Lombok. Dia bahkan menghabiskan waktu liburannya hingga berbulan-bulan disini. Namun satu hal yang menyayat hati ketika menengok apa yang dilakukan Kiyoto. Selama berada di Lombok, dia bahkan tidak pernah membuang sampah sekalipun disini.

Sampah-sampah yang ia hasilkan selama menghabiskan waktu liburannya di kemas dan dibawa pulang ke Jepang. Suatu saat ketika Aisyah berkunjung ke penginapannya, dia mendapati Kiyoto tengah menjemur sampah plastik yang baru ia cuci untuk kembali di bawanya ke Jepang.


Sungguh betapa berharga pelajaran yang saya dapatkan di ruangan itu. Saya bertemu dengan orang-orang yang berpenampilan sederhana, namun apa yang mereka lakukan mampu menggetarkan hati siapa saja.

Saya bertemu dengan orang-orang yang mendedikasikan hidupnya sebagai pupuk untuk menggemburkan lingkungan Lombok. Mereka berjibaku demi melihat bangsa ini jauh melesat. Di tengah kemegahan Lombok sebagai destinasi wisata, mereka tak henti-hentinya menyuarakan perlawanan terhadap pengrusakan lingkungan dan sampah.

Saya juga mendapatkan definisi baru tentang Nasionalisme. Bahwa Nasionalisme juga berarti bagaimana merawat bangsa ini dari sesuatu hal yang dapat merusak citra ibu pertiwi dimata bangsa lain.

Nasionalisme tak hanya menyoal tentang tindakan-tindakan besar dalam memicu revolusi. Tapi juga melalui tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan tekun secara terus menerus hingga membawa dampak besar. Nasionalisme tidak lagi tercermin dalam kisah perjuangan melawan imperialisme, tapi juga bagaimana melawan perilaku tidak bertanggung jawab yang justru dilakukan oleh masyarakat kita sendiri.

Saya membenarkan apa yang dikatakan oleh Samuel Johnson, bahwa "pekerjaan besar tidak dihasilkan dari kekuatan, melainkan oleh ketekunan." Apa yang tengah dilakukan para srikandi pejuang lingkungan di Lombok adalah sepenggal kisah yang harus dijerat dalam aksara. Mereka tidak terhimpun dengan massa berskala besar, tapi tekad dan ketekunan mereka yang diwujudkan dalam komitmen merawat lingkungan serupa pancuran air yang lambat laun membuat lobang pada sebilah batu.

Mereka tak pernah mengumbar apa yang mereka lakukan, mereka hanya berfikir bagaimana mengetuk pintu hati orang-orang di sekeliling mereka untuk ikut berjalan secara beriringan. Dalam keterbatasan, mereka justru mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain dari hal-hal sederhana yang tidak kita duga. Bahkan tak ada pengharapan bahwa setiap jejak sosial yang mereka lakukan akan diliput oleh media manapun.

Di tanah Sasak, saya menemukan banyak embun kebijaksanaan dari para srikandi pejuang lingkungan. Apa yang mereka lakukan adalah angin kesejukan yang senantiasa akan menuntun langkah kaki kita kepada kebaikan.

Mataram, 29 Oktober 2016

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.