10/31/2016

Seusai Membaca Novel Tan


Novel Tan

Beberapa waktu lalu saya melihat postingan yang di bagikan oleh penerbit Javanica di salah satu media sosial. Seperti biasa, Javanica kembali menerbitkan sebuah Novel BestSeller yang kemudian banyak diminati. Setiap Novel terbitan Javanica memang selalu asik untuk di jelajahi. Namun sebagai seorang mahasiswa yang tinggal di perantauan, tentu saja saya tidak bisa begitu saja menuntaskan rasa penasaran saya terhadap sebuah buku.

Saya harus menunggu saat yang tepat untuk memboyongnya dari Gramedia, lalu dengan segera menemukan lapis makna yang terkandung pada bacaan tersebut. Dalam beberapa minggu, kembali saya harus berhemat. Menyisihkan sedikit demi sedikit keping logam untuk mendapatkan buku yang di inginkan.

Orang bijak mengatakan bahwa kesabaran itu selalu berbuah manis. Tepatnya seperti itulah yang saya rasakan. Ketika memiliki cukup uang, saya tak menyia-nyiakan waktu. Sore itu bersama seorang sahabat, saya mengunjungi Gramedia Mataram dengan tujuan membeli buku yang saya lihat tempo hari. Harganya memang tidak bersahabat bagi kantong seorang mahasiswa tingkat akhir. Tapi demi menunaikan rasa penasaran saya yang sudah sampai di ubun-ubun, saya pun membelinya.

Bagi saya, buku itu adalah embun kesejukan untuk menuntaskan dahaga keilmuan siapa saja. Membeli sebuah buku, ibarat membeli makanan yang di dalamnya memiliki kandungan nutrisi penting bagi tubuh. Namun karena status saya adalah mahasiswa dengan latar belakang perekonomian keluarga yang sederhana, maka akan ada manivestasi perjuangan yang cukup panjang setiap kali ingin membeli sebuah buku. Sebab jika buku adalah jendela ilmu, maka membaca adalah kuncinya.

Beberapa minggu berselang, akhirnya saya berhasil menutuntaskan novel yang berjudul Tan, karya Hendri Teja ini. Novel terbitan Javanica ini menceritakan tentang sisik melik kehidupan Tan Malaka. Salah satu sosok terpenting dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, tokoh yang pemikirannya mampu menggugah semua tatanan, serta segala bentuk aktivitasnya harus mendapat perhatian serius dari pemerintah kolonial masa itu. Tan Malaka adalah bapak bangsa yang terlupakan.

Isinya menarik sebab membahas satu kepingan sejarah dari seorang tokoh besar bangsa yang justru harus meregang nyawa di ujung senapan tentara republik yang ia dirikan. Kelak namanya pula harus terbenam dalam lipatan sejarah, karena ideologi yang di anut oleh tokoh ini tak mudah diterima begitu saja oleh sejumlah kalangan. Tak banyak generasi kekinian yang mengenal beliau, namanya tak pernah tersentuh di dalam buku sejarah Sekolah sekalipun.

Banyak orang yang menyebutkan bahwa sosok ini adalah komunis yang tak layak untuk dikenang. Bahkan oleh berbagai kalangan ia seringkali di cap sebagai sosok najis yang namanya tak layak diingat. Tak banyak penulis dalam negeri yang mengabadikan kisahnya dalam jeratan aksara, hiruk pikuk perjuangnya justru memikat hati sejarawan asal Belanda Albert Poeze untuk menggali lebih dalam kehidupan putra kelahiran 2 Juni tahun 1897 tersebut. Dari penelusuran yang di lakukan Poeze, publik akhirnya mengetahui siapa yang berada di balik kematian Ibrahim Datuk Tan Malaka pada 21 Februari 1949 silam.

Beberapa stigma yang melekat pada tokoh ini tak membuat saya berhenti untuk mengumpulkan lembar demi lembar karya yang ia tulis di masa kolonial. Banyak buku yang lahir dari guratan penanya memenuhi ruang bacaan saya. Salah satu buah pikiran Tan yang fenomenal tertuang dalam Naar De Republik (1925) dan Madilog (1943).

Naar De Tepublik adalah pikiran pertama yang membicarakan konsep negara republik lalu tertuang dalam sebuah kertas. Sedangkan Madilog adalah cara berfikir yang realistis, pragmatis, dan fleksibel. Mencoba mengurai pemikiran barat untuk mengikis nilai-nilai feodalisme, mental budak, dan kultus takhayul yang menurutnya tengah diidap rakyat Indonesia kala itu. Madilog, merupakan presentasi ilmiah melalui serangkaian proses berfikir dan bertindak secara materialistis, dialektis, dan logis dalam mewujudkan sebuah tujuan sistematis dan struktural.

Dalam novel karya Hendri Teja ini, saya menemukan banyak hal baru tentang Tan Malaka. Novel ini tidak saja mengulas tentang kiprah politik serta perjuangnnya, tapi juga tentang pergulatan batin seorang laki-laki normal yang juga memiliki ketertarikan dengan lawan jenisnya.

Novel setebal 245 halaman ini menyajikan secara dramatis bagaimana Tan Malaka harus mengorbankan perasaanya kepada gadis desa bernama Enur, seorang yang begitu ia cintai, demi menuntaskan rasa cintanya terhadap hal lain yang lebih besar. Cinta terhadap tanah air dan bangsanya. Cinta untuk melihat bangsanya tumbuh tanpa bayang-bayang imperialisme yang menggilas kesejahtraan rakyat.

Novel ini juga di hiasi dengan beberapa sajak getir Tan Malaka ketika berada di dalam penjara. Sajak seorang lelaki bertubuh krempeng kepada gadis yang mengisi ruang kosong di dalam dadanya. Bait demi bait yang terlontar seakan memecah kesunyian yang ia derita selama mendekam di balik kokohnya jeruji besi penjara Bandung.

Hujan adalah air mata tuhan atas dukaku
Saat jejak-jekak cinta musnah dari nafasmu
Lebur dalam satu keputus asaan
Jadi sesuatu, jadi apa yang ku tak mau

Garis khayal dan benar makin pudar
Kala di bawah gerah ku palingkan arah
Bisik kata getir dalam relung telingaku
Untuk yang terakhir, pada jiwa yang mati suri

Kalau hujan ini henti aku mau lari
Tidak menujumu-menujumu tidak
Tidak menjauhmu-menjauhmu tidak
Aku mau gerak di tempat
Bersama harapan-harapan tuak


Novel Tan

Novel ini juga secara terperinci menyajikan kisah hidup pria kelahiran Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatra Barat ini ketika bersekolah di Nedherlands. Mengulas bagaimana pertemuannya dengan Fenny, seorang gadis Belanda yang membuat Tan harus gelagapan saat memandang matanya. Cerita tentang pertemuannya dengan Wouters, seorang buruh pabrik yang akhirnya berhasil memicu Tan untuk lebih banyak mengkonsumsi buku-buku politik ketimbang buku pelajaran sekolah.

Novel ini membuat saya sesaat merenung, memikirkan betapa perjalanan panjang seorang Tan Malaka dalam usahanya merajut bingkai kemerdekaan bagi Republik yang di cintainya. Mulai dari melepaskan gelarnya sebagai Datuk Pamuncak demi melanjutkan pendidikan, hingga menjadi ketua dari organisasi pergerakan buruh yang membuatnya harus rela mendekam dari penjara ke penjara.

Di mata saya, Tan Malaka adalah tokoh yang luas. Dia bukan saja seorang Marxis tulen dalam pemikiran, tapi juga seorang Nasionalis yang tuntas dalam tindakan. Muhammad Yamin menyebutnya bapak republik Indonesia, dia dipersamakan dengan George Washington di Amerika. Ada juga Rudolf Mrazek, dia menyebut Tan Malaka sebagai manusia yang komplet. Serta DR Alfian yang menyebutnya sebagai pejuang revolusioner yang kesepian. Tan adalah seorang aktivis politik yang menghabiskan 20 tahun hidupnya sebagai buronan di berbagai negara.

Novel ini hadir dengan informasi yang sangat kaya, namun ada sejumput kekecewaan yang merembes ketika sampai di lembar-lembar terakhir. Saya di buat penasaran karena novel ini tak menyajikan cerita tentang bagaimana kehidupan Tan Malaka saat berada di negara-negara pelarian.

Saya penasaran bagaimana cerita ketika Tan Malaka di tangkap oleh polisi Hongkong, hingga pada ujungnya memicu beliau untuk mengeluarkan sebuah pernyataan yang sampai saat ini tetap terkenal di kalangan para aktivis.

Saya juga belum tahu benar bagaimana kisahnya ketika dia harus dirawat oleh gadis Tiongkok akibat penyakitnya yang kambuh di masa pelarian. Atau cerita uniknya saat mengajari gadis Asia berbahasa Inggris. Apa mungkin si penulis sedang mempersiapkan Novel selanjutnya? Ah semoga saja demikian.

Mataram, 31 Oktober 2016

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.