10/22/2016

Tigor Silaban, Oase Pelayan Kesehatan Indonesia yang Meradang


Tigor Silaban

"Strive not to be a succes, but rather to be of value." Kalimat ini saya temukan dalam buku Fakta Unik dan Menarik Albert Einstein, karangan Fitria Zelfis atau lebih dikenal dengan nama pena Elshabrina. Sejak lama saya telah mengamini kebenaran dari pernyataan Einstein. Saya selalu meyakini bahwa siapa saja yang telah menuai kesuksesan di dunia ini, dahulunya, pasti mereka telah melalui fase-fase dimana setengah dari kehidupannya di dedikasikan demi kepentingan orang banyak.

Mereka yang menuai kesuksesan telah melakukan sesuatu yang tidak biasa, sesuatu yang tidak di lakukan oleh orang lain. Mereka adalah orang-orang yang terlahir untuk melawan badai besar, mereka adalah panji-panji sosial yang bekerja tidak atas dasar upah melainkan dedikasi. Tak ada satupun pemimpin besar di dunia ini yang terlahir dari zona nyaman. Mereka adalah orang-orang yang dilahirkan sebagai penentang kekuatan besar lalu menuai buah manis dari manivestasi perjuangan yang mereka lakukan.

***

Tigor Silaban adalah dokter spesialis Epidemiologi. Sejak menyelsaikan kuliah kedokterannya di Universitas Indonesia pada 1978, dia memilih untuk bekerja di pedalaman Papua sebagai dokter. Tak tanggung-tanggung, Tigor memilih kawasan zona merah yang rawan konflik sebagai tempat praktiknya.

Hingga usianya yang ke-62 tahun, anak asli Bogor, Jawa Barat itu masih mengabdikan dirinya sebagai petugas kesehatan di Tolikara, Papua. Setiap hari dia harus keluar masuk hutan untuk mencari orang yang butuh pertolongan. Bahkan ayah dari 3 anak itu lebih memilih menjadi warga sederhana di Papua dan meningalkan segala bentuk kemewahan di Jawa.

Di mata saya, Tigor adalah sosok yang jarang kita jumpai di republik ini. Di saat para dokter lain berlomba-lomba untuk bekerja di kawasan yang sudah tersentuh pembangunan dan kecanggihan teknologi, dia malah memilih mengasingkan diri ke Pedalaman Oksibil, Puncak Jaya, Papua.

Sederet cerita tentang keterbatasan alat kesehatan dan realitas terhadap kondisi sosial masyarakat Papua jaman dulu bahkan tak membuatnya mengeluh. Di tengah keterbatasannya itu, Tigor tetap melakukan operasi besar. Mulai dari operasi melahirkan sampai operasi tumor.

Tigor tak pernah berfikir tentang segala ancaman yang akan terjadi pada dirinya, dia hanya berpendapat bahwa keselamatan pasien jauh lebih penting dari apapun. Segala upaya akan dia lakukan demi melihat pasiennya sembuh. Dalam setiap senyum orang tua pasien yang dia tangani, ada setitik kebanggaan pada dirinya. Tigor senang ketika para penderita sakit di pedalam Papua, bisa kembali menjalani rutinitas mereka berkat bantuan dirinya.

Dia tak pernah berfikir bahwa apa yang dia lakukan sangat beresiko mengancam hidupnya. Dia tengah berada di Pelosok Indonesia, jauh dari gemerlap lampu kota yang menyilaukan. Dia tengah menjajaki kawasan berbahaya dari Organisasi Papua Merdeka kala itu, kelompok seperti ini jelas merupakan ancaman serius bagi Tigor. Organisasi ini dikenal radikal dan berbahaya. Mereka bahkan melawan aparatur negara dengan bermodalkan senjata.

Namun tampaknya hal seperti itu tak membuatnya gerah. Tigor tetap bersemangat melewati setiap harinya disana. Dia bekerja hampir 24 jam sehari. Di pagi hari, dia mengurus administrasi. Sore harinya dia pergi ke desa-desa, dan ketika malam dia melakukan segala macam operasi. Yang membuat saya semakin tercengang adalah semua operasi besar yang dia lakukan itu hanya menggunakan peralatan primitif.

Tentu saja kita bisa membayangkan bagaimana harus tinggal di pedalam Papua. Setiap hari kita dihadapkan pada kondisi sosial masyarakat Papua yang masih primitif, segala kebutuhan serba terbatas. Bahkan sampai era digital seperti sekarang pun, masih banyak wilayah di Pedalaman Papua yang masih terisolir. Namun mari sejenak mengamati apa yang tengah dilakukan Tigor. Dia kembali mengajak kita kepada Bab-bab perjuangan. Dia seakan mengajak semua orang untuk memaknai kembali dan lebih dalam lagi tentang sebuah kata pengabdian.

Bagi saya, Tigor adalah sosok yang kisahnya patut dijerat dalam aksara. Seseorang yang telah mendedikasikan lebih dari setengah hidupnya untuk kepentingan orang banyak, patut untuk di abadikan agar untaian jejak perjuangan yang di torehkan dapat diilhami oleh orang lain di kemudian hari. Dia layak mendapat acungan jempol dari siapapun. Dia pantas di anugrahi penghargaan sebagai dokter berprestasi. Kebulatan tekad serta keteguhan hati telah mengantarkannya kepada titik yang seharusnya.

Tigor serupa lilin penerang di tengah kabut pekat yang menyelimuti dunia kesehatan bangsa kita saat ini. Dia adalah tongkat bagi siapa saja yang telah mendeklarasikan dirinya untuk menjadi pelayan publik. Ketika dunia kesehatan kita tengah diguncang huru hara dan sederet kasus memilukan, Tigor datang sembari membawa embun kesejukan.

Ada banyak cerita tentang mereka yang tiba-tiba berhati robot ketika melayani masyarakat miskin. Di berbagai sudut negeri ini, ada sederet kisah miris tentang mereka yang belum sepenuhnya sadar bahwa pelayan kesehatan adalah manusia-manusia berhati nurani yang diberi mandat oleh jutaan masyarakat Indonesia untuk menjadi penolong mereka dikala sakit.

Di Lampung Selatan, seorang pelayan kesehatan yang berprofesi sebagai Bidan, telah berhasil menambah serentetan daftar kelam kisah pelayanan kesehatan di republik ini. Seorang bidan di Desa Betung, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan dengan sikap arogan menolak seorang bocah yang sedang mengalami sakit panas tinggi dan kejang-kejang ketika hendak berobat ke rumah praktek miliknya. Alih-alih menerima pasien dengan tangan terbuka, si bidan malah menyuruh ayah pasien untuk berobat ke tempat lain.

Kembali kita mendapati sebuah ironi yang membuat batin kita bergertar. Di Banyumas, ada kisah tragis seorang pria bernama Dartam yang ditolak berobat oleh pihak RSUD Banyumas karena alasan administratif dan sempat menjadi viral di berbagai media sosial beberapa waktu lalu.

Belum lagi sepenggal kisah dramatis tentang keluarga Dewi Angraini, ibu dari bayi Khiren yang menderita penyakit jantung bocor ini terpaksa menandatangani surat pernyataan penanggung utang selama perawatan senilai 124 juta kepada pihak BPJS dengan alasan keterlambatan mengurus Surat Egibilitas Peserta. Dewi tak di ijinkan pulang sebelum menandatangai surat pernyataan tersebut. Bihak BPJS bahkan sempat mengirimi surat kepada Dewi yang isinya apabila orang tua Khiren, tak mampu melunasi biaya operasi anaknya, maka kasus ini akan dilimpahkan ke lembaga piutang negara.

Mari pula menyimak Kisah haru tentang ibu Maryam. Seorang wanita paruh baya yang harus menitikan air mata ketika mendapat perlakuan tak wajar dari petugas puskesmas. Ketika itu saya baru pertama kali menginjakan kaki di tanah Mataram, saya sempat termenung ketika melihat pengakuan ibu Maryam di salah satu media massa. Dia mengutip celetukan yang di lontarkan oleh pihak Puskesmas kepadanya. Ketika itu dia tengah membawa anaknya yang hampir sekarat untuk berobat. Karena menggunakan kartu tanda miskin, dia mendapat perlakuan yang tidak wajar. Seorang petugas puskesmas sekenanya mengatakan "Kalau pasien yang itu, tidak usah terlalu di layani, sebab datang berobat tidak bawa uang." Kata itu di ucapkan dalam bahasa sasak.


Tigor Silaban

Ada gemuruh didada melihat paradigma yang terjadi. Pelayan masyarakat seakan bertranspormasi menjadi mahkluk yang tidak beretika. Mereka serupa budak kapitalisme yang menggilas kepercayaan rakyat. Dunia kesehatan kita menjadi titik kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Mereka yang berpenampilan nyentrik akan lebih di utamakan dalam hal pelayanan. Sementara yang terlihat kumuh dan peot sedikit di abaikan. Ada pertanyaan kritis dibenak saya melihat kondisi ini, mengapa para pelayan publik harus memancarkan energi negatif kepada masyarakat-masyarakat kecil? bukankah dibalik gaji tinggi yang mereka nikmati tiap bulan, ada sekian persen saham masyarakat yang di ikhlaskan?

Dari gaji tinggi yang mereka terima setiap bulan, ada keikhlasan seorang penjual telur yang dipotong sekian rupiah. Boleh jadi, di situ ada sekian persen dari upah seorang bapak yang membanting tulang sebagai buruh pabrik. Barangkali di situ ada jejak pembayaran seorang petani yang baru saja menjual hasil panen. Atau dipotong dari bayaran seorang tukang cuci keliling, yang baru saja menyelsaikan tumpukan pakaiannya.

Tigor tak pernah berharap lebih kepada masyarakat, dia paham akan kondisi sosial masyarakat pedalaman Papua yang terisolir. Segala kepunyaan yang ia miliki telah ia dedikasikan untuk kesembuhan orang banyak. Hatinya terlalu luas untuk melakukan tindakan yang justru akan melanggar sumpahnya dengan tuhan. Punggungnya mungkin terlalu tegap untuk membungkuk kepada kepentingan lain. Matanya terlalu jernih untuk silau kepada upah sebagai seorang pelayan kesehatan.

Di rimba pedalaman Papua, apa yang telah dilakukan Tigor telah menggilas batin kita bahwa seyogyanya menjadi manusia yang bernilai lebih utama ketimbang selalu sibuk berfikir untuk menjadi manusia sukses. Tigor mengajarkan kita untuk lebih jernih dalam memandang realitas masyarakat. Dia meletakan segala bentuk kepentingan orang banyak dan mengubur dalam-dalam egoisme yang melekat.

Dia lebih memilih untuk menepi di pedalam Papua dan berafiliasi dengan kesederhanaan dalam pengabdian, ketimbang hidup ditengah huru hara dan segala bentuk kemegahan yang ada di kota. Tigor Silaban, telah membawa obor penerang kedalam gerbong gelap dunia kesehatan kita. Dia adalah Oase bagi jutaan pelayan kesehatan di Indonesia yang meradang. Kepada manusia inspiratif seperti Tigor, kita patut menyerap hikmah.

Seusai Membaca Biografi Tigor Silaban. Mataram, 22 Oktober 2016

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.