11/10/2016

Bung Tomo Sang Penggugat

Bung Tomo

Di hari ini, jutaan penduduk Indonesia memperingati hari pahlawan. Nama Bung Tomo disebut-sebut sebagai orator ulung dan gagah berani menentang tentara Inggris yang kembali berniat menguasai Surabaya. Tapi saya ingin mengenang lelaki yang aslinya bernama Sutomo itu dengan cara lain. Beliau bukan sekedar singa podium, beliau adalah seorang religius yang anti poligami. Bahkan diatas semua itu, lelaki kelahiran Surabaya, 02 Oktober 1920 ini adalah seorang yang terbiasa menggugat rezim pengusa.

Semenjak belia, Bung Tomo telah memiliki ketertarikan tersendiri terhadap dunia jurnalistik. Dia mengawali kariernya sebagai wartawan ketika berusia 17 tahun. Media tempatnya bekerja antara lain harian Soeara Oemoem, harian berbahasa Jawa Ekspres, mingguan Pembela Rakyat, dan majalah Poestaka Timoer. Dia juga pernah menjabat sebagai wakil pemimpin redaksi kantor berita pendudukan Jepang, Domei, dan pemimpin redaksi kantor berita Antara di Surabaya.

Berada di dalam gerbong jurnalisme, membuat Bung Tomo sangat dekat dengan segala aktivitas dan kebijakan pemerintah kala itu. Dia tak segan untuk mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap melenceng dari nilai-nilai demokrasi.

Kejujuran serta semangat nasionalisme yang ia miliki tak pernah goyah, bahkan hingga bangsa ini melepaskan diri dari bayang-bayang imperialisme sekalipun. Di masa pemerintahan Presiden Sukarno, beliau pernah menggugat kebesan pers yang dinilainya kembali membawa masyarakat kepada pembatasan kemerdekaan pers di jaman kolonial.

Hal lain yang dilakukan oleh ayah lima anak ini adalah menggugat presiden Sukarno karena keputusannya membubarkan DPR. Di mata Bung Tomo, jelas sekali bahwa apa yang dilakukan oleh bapak proklamator itu telah menciderai nilai-nilai demokrasi dan kedaulatan rakyat. Menurutnya, membubarkan hasil pemilu yang sah, adalah sebuah penyimpangan.

Tak sampai disitu, orator yang yang pidatonya pernah membakar semangat perjuangan arek arek Surabaya itu juga pernah dipenjarakan pada masa pemerintahan presiden Suharto. Ketika itu dia dengan lantang mengkritik pembangunan TMII yang dinilainya tidak tepat. Beliau juga mengkritik praktek cukongisme sebagai realisasi nepotisme dan klik, melalui peran ekonomi yang berlebihan dari pengusaha nonpribumi.

Bung Tomo sangat keberatan atas sikap Suharto dan Ali Sadikin yang seolah-olah lebih menganakemaskan etnis tionghoa ketimbang pribumi. Akibat hal tersebut, dia pun terpaksa ditangkap dengan tuduhan melakukan tindakan subversif. Bung Tomo dikerangkeng tanpa proses pengadilan di Penjara Nirbaya, Pondok Gede selama satu tahun.



Bung Tomo
Bung Tomo
Cerita tentang sekelumit kehidupan Bung Tomo adalah cerita tentang perlawanan. Dia tidak hanya berjuang mengusir penjajah, tapi juga bertekad meniadakan segala bentuk penindasan di negeri ini. Tak peduli siapapun pemegang tampuk kepemimpinan, sebab ia bukanlah tipe generasi yang tunduk patuh dan membebek pada rezim penguasa. Tapi ia telah menjelma sebagai mimpi buruk bagi penguasa mamanpun.

Dalam bukunya yang berjudul "Bung Tomo Menggugat" kita setidaknya disuguhkan oleh semangat serta konsistensi dari tokoh ini sebagai pejuang yang benar-benar ingin membebaskan bangsanya dari belenggu penjajah dan kemiskinan. Dari sana kita bisa melihat bagaimana keberanian, kejujuran, serta kepolosan Bung Tomo dalam menghadapi situasi dan kondisi zamannya.

Barangkali yang patut dikenang dari tokoh ini adalah kata-katanya yang lugas dan lantang sehingga mampu menyentuh batin rakyat Surabaya kala itu. Pidatonya yang fenomal, adalah virus yang menyengat rakyat Surabaya, lalu menjadikan mereka sebagai kaki-kaki yang bergerak tanpa rasa takut sedikitpun. Slogan merdeka atau mati yang beliau ucapkan puluhan tahun lalu, serupa pupuk yang menggemburkan semangat bangsa ini dalam mengusir penjajah. Takbir yang beliau kumandangkan layaknya suara langit yang menggetarkan nurani rakyat untuk ikut bertempur melawan penindasan.

Di zaman ini, kita bahkan nyaris tak menemukan anak-anak muda yang suka membacakan naskah perlawanan. Anak muda kita lebih banyak berkerumun di media sosial, lebih memilih menulis status yang memusingkan pembacanya, sembari sesekali menampilkan foto selfie dengan bibir serupa donal bebek dan lidah yang menjulur keluar.

Anak muda kita lebih banyak membincangkan berbagai gadged terbaru, lalu melupakan pentingnya kesadaran sejarah, mereka lupa betapa bangsa ini masih membutuhkan orang-orang yang senantiasa ikhlas berada di garis perlawanan.

Mungkin inilah serentetan dinamika yang tengah dihadapi bangsa kita sekarang. Entah kapan kesadaran itu akan tumbuh dan mengakar lalu menjadi sumbu yang meledakan penindasan dalam diri generasi muda kita. Hari ini, nama Bung Tomo disebut-sebut, tapi semangatnya jauh tertinggal di lembar-lembar lusuh buku sejarah.

Mataram, 10 November 2016

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.