11/17/2016

Mawar Hitam Untuk Saudara di Samarinda


Suasana haru kembali menyelimuti Indonesia. Melalui media sosial, saya melihat begitu banyak ucapan duka yang mengalir kepada para saudara di Samarinda. Sebagian ada yang menggunakan tagar 'RIP Intan' untuk mengungkapkan kesedihan. Intan Olivia Marbun merupakan seorang balita korban ledakan bom molotov di depan Gereja Oikumene, Sengkotek, Samarinda, Kalimantan Timur, pada Minggu, 13 November 2016 lalu.

Bom rakitan dengan kekuatan rendah low explosive itu diledakkan di halaman gereja ketika jemaat melakukan kebaktian dan merusak empat buah motor yang parkir di sana. Yang lebih mengharukan adalah beberapa anak yang tengah bermain di halaman gereja, juga ikut menjadi korban.

Melalui layar kecil ponsel, saya melihat beberapa sahabat di twitter yang ikut menyatakan duka mendalam atas kejadian tersebut. Ada yang mengatakan "Apapun agamamu, tempat terbaik utk anak tak berdosa sepertimu adalah di surga." Seketika batin saya meleleh, sembari meresapi setiap ungkapan belasungkawa yang dituliskan.

Di postingan lain saya juga menemukan komentar "Aku membayangkan Intan lagi merajuk ke Tuhan. Gak mau bicara. Tuhan berusaha membujuk. Anak itu masih pengen main sama kawan2nya." Intan menjadi salah satu korban dari ketidakpahaman seseorang dalam memaknai nilai-nilai kebenaran.

Melihat beberapa tanggapan yang berseliweran di media sosial, saya kemudian membatin. Mengapa tak banyak aksi protes yang lahir atas aksi pelemparan bom yang tidak bertanggung jawab ini? Bukankah aksi tersebut telah berhasil memainkan orkestra duka mendalam bagi para saudara kita di Samarinda?

Mengapa pula kejadian itu tidak mampu memicu kesadaran publik lalu atas nama kemanusiaan, berjalan beriringan dalam mengutuk segala aksi teror yang kerap melanda negeri ini. Di mata saya, apa yang terjadi di Samarinda merupakan penistaan terhadap agama yang sesungguhnya. Mereka telah berhasil melumuri negeri ini dengan duka yang tak berkesudahan.

Mungkin saja lelaki yang melempar bom itu merasa tengah menegakkan kebenaran. Dia merasa telah melakukan ajaran tuhan yang sebenarnya. Dia berpandangan bahwa mereka yang berada pada gelombang pemahaman yang berbeda, tidak berhak atas rasa nyaman, lalu sekenanya melemparkan sesuatu yang mematikan dikawasan peribadatan sehingga melahirkan rasa ketegangan dan menimbulkan banyak korban.

Melihat realitas yang terjadi, perlahan saya mengamini apa yang pernah dikatakan oleh Ibnu Rusyd bahwa "Jika kau ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah segala sesuatu yang bathil dengan kemasan agama." Fenomena ini membuat saya termenung, memikirkan betapa banyak umat beragama yang hanya memikirkan bagaimana menegakkan simbol-simbol dari agama tersebut tanpa memikirkan bagaimana tujuan beragama yang sebenarnya.

Mereka hanya menjadikan agama sekedar bacaan saat beribadah, namun lupa membumikannya dalam ladang kehidupan. Mereka alpa untuk menjadikan agama sebagai pemberi rahmat bagi sekitar, lupa menjadikannya pupuk yang menggemburkan kehidupan, tidak menjadikannya sebagai jembatan untuk mencapai kebahagiaan.

Di Indonesia, agama belum sepenuhnya mampu didefinisikan sebagai kompas yang menuntun langkah setiap orang pada kebaikan, agama tidak dijadikan sebagai embun perdamaian sehingga mampu meredam api amarah yang tengah berkecamuk. Tak menjadikannya sebagai lilin penerang didalam gerbong gelap kereta tua bernama Indonesia, tidak menjadikannya sebagai makanan yang mengandung nutrisi sehingga melahirkan energi positif bagi dunia sekitar.

Di tengah keadaan negeri yang carut marut atas kasus penistaan agama, lelaki pelaku pelemparan bom di Samarinda, lebih memilih untuk kembali menebar ancaman melalui aksi terkutuk. Lelaki itu tidak sadar bahwa sesuatu yang ia lempari telah mengubur gelak tawa banyak orang.

Dia tidak memikirkan bagaimana trauma yang di diderita oleh anak-anak dari korban pelemparan bom tersebut. Bagaimana anak-anak itu harus kehilangan bab-bab terpenting dalam kehidupan mereka. Bagi korban yang selamat, orang tuanya harus menata ulang masa depan anak-anaknya. Para orangtua harus mampu meyakini si anak bahwa apa yang terjadi hanyalah sesuatu yang kebetulan.

Para orang tua harus meyakini anak-anaknya bahwa apa yang tengah menimpa mereka, tak memiliki relasi dengan perbedaan keyakinan yang kerap menjadi tembok pemisah. Bahkan anak-anak itu harus diyakini bahwa kelak ketika dewasa dan mereka hendak menjadi pemimpin di suatu wilayah, keberagaman dan keyakinan mereka tidak akan dipertanyakan oleh orang banyak.

Dibalik gemuruh air mata masyarakat Samarinda, banyak netizen yang mempertanyakan mengapa perlawanan atas aksi teror itu tidak banyak bergaung di media sosial. Tak ada aksi demo besar-besaran atas kejadian tersebut. Mereka hanya melakukan aksi mengutuk. Seolah-olah dengan mengutuk, selesailah persoalan.

Duka anak-anak korban bom di Samarinda, adalah duka kita semua. Mereka adalah serangkaian cerita panjang dari para korban aksi memilukan di negeri ini. Mereka adalah anak-anak polos yang terpaksa menjadi tumbal atas kesalahpahaman dan kebodohan segelintir orang. Semoga tuhan menitipkan angin kesabaran di sela-sela bebatuan hati para keluarga korban.

Mataram, 17 November 2016

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.