11/20/2016

Semalam Bersama Sahabat Sumbawa Barat



Sebuah kehormatan saat saya diajak berkumpul pada suatu kegiatan yang dipelopori oleh teman-teman mahasiswa dari Sumbawa Barat. Mereka adalah sebuah komunitas yang telah didirikan semenjak 2014 lalu. Berawal dari keresahan satu orang atas sekelumit permasalahan yang terjadi, lalu dengan serius mengajak para sahabat lain yang berada pada gelombang pemikiran yang sama, untuk berkecimpung pada satu wadah yang kehadirannya diharapkan mampu menjadi tali perekat solidaritas mahasiswa Sumbawa Barat di Mataram.

Mereka mengundang saya untuk menghadiri kegiatan pengkaderan yang dilakukan di salah satu kawasan wisata terbuka di Lombok. Pantai tiga adalah satu dari sekian banyak objek wisata yang letaknya berada di sebelah utara Kota Mataram.

Pantai ini bisa menjadi referensi bagi para sahabat yang lebih senang kengamati keindahan laut. Selain menawarkan pemandangan yang menyejukkan mata, jaraknya hanya sepeminuman teh dari Kota Mataram. Kita akan melewati kawasan wisata Sengigi terlebih dahulu, sebelum tiba di lokasi.

Berbeda dengan tempat lain, pantai ini kerap kali dijadikan sebagai lokasi perkemahan untuk sekedar mengisi liburan akhir pekan dan beberapa kegiatan berbasis pengkaderan yang dilakukan oleh sejumlah organisasi kemahasiswaan.

Saya memenuhi undangannya sebagai sahabat. Saya pikir pertemuan ini akan dihadiri oleh banyak orang. Benar dugaan saya, di sana terlihat sejumlah mahasiswa yang notabenenya berasal dari Kabupaten Sumbawa Barat hadir memenuhi undangan.

Beberapa bulan yang lalu, saya mulai akrab dengan komunitas mereka. Di mata saya, mereka adalah sekumpulan anak muda yang kritis terhadap realitas yang berkembang. Lebih dari itu, kami memiliki identitas kesukuan yang sama. Kami adalah mahasiswa yang berasal dari pulau Sumbawa, dan masih menempuh pendidikan di tanah Sasak.

Saya begitu antusias ketika menghadiri pertemuan itu. Di sana, saya ditunjuk sebagai salah satu pembicara untuk sharing pengetahuan seputar organisasi. Saya senang karena bisa hadir ditengah-tengah mereka, mengisi akhir pekan dengan kegiatan berbau diskusi dan dialog bersama rekan-rekan mahasiswa.

Kegiatan yang diinisiasi lansung oleh Komunitas Anak Harapan Sumbawa Barat itu, juga dilengkapi dengan serangkaian acara hiburan seperti aksi sulap, hipnotis, hingga stand up comedy. Bahkan yang membuat saya kagum adalah semua atraksi yang mereka tampilkan, talentanya berasal dari komunitas itu sendiri.


Pertemuan kami tadi malam, membawa keberkahan tersendiri bagi saya. Semilir angin pantai yang menyengat kulit, tak menyurutkan semangat kami demi menuai hikamat kebersamaan. Sejenak berada di tengah mereka, membuat saya teringat kisah haru dari Soe Hoek Gie. Seorang idealis yang mati muda itu lebih memilih mengasingkan diri dan melihat segala sesuatu dari tepian, ketimbang larut dalam hiruk pikuk suasana kota yang serba gemerlap.

Berbeda dengan Gie, kami justru memilih melakukannya secara berkelompok. Bagi sebagian besar mahasiswa Sumbawa yang memadati Lombok, pantai tiga bukanlah titik yang tepat untuk menghabiskan malam minggu mereka.

Sederet cafe-cafe beken yang menawarkan aneka ragam minuman, jelas akan lebih diminati oleh kaum muda ketimbang duduk melingkari api unggun di tepian pantai sembari memikirkan langkah-langkah strategis guna ikut berkontribusi bagi pembangunan daerah.


Malam ini, saya begitu banyak meyerap embun kearifan dari para sahabat Sumbawa Barat. Apa yang dilakukan oleh Komunitas Anak Harapan, membuat batin saya tergugah. Mereka yang berasal dari latar belakang akademik yang berbeda-beda, ternyata memiliki kesamaan visi demi membangun kampung halaman. Mereka mulai berfikir jernih terhadap realitas, lalu atas nama kelompok, mengundang rekan-rekan mahasiswa lain untuk bertukar pikiran demi merumuskan langkah mereka kedepan.

Saya jadi teringat akan petuah Bunda Theresa, "ketimbang mengutuk kegelapan, jauh lebih baik menyalakan lilin." Jauh di luar sana, kita kerap kali mendapati sejumlah pemuda yang mencaci maki pemimpinnya di ranah media tanpa alasan yang jelas. Mereka lupa, bahwa ketimbang menebar kebencian, jauh lebih baik jika kita berfikir bagaimana menjadikan diri sebagai rahmat bagi sekeliling.

Mataram, 20 November 2016

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.