12/12/2016

Duka Aceh Duka Kita Semua



Aceh kembali diguncang gempa. Di Pidie Jaya, saya mendengar kisah tentang Isak tangis para keluarga korban gempa yang tak terbendung. Sejumlah bangunan porak poranda akibat goncangan berkekuatan 6,5 Skala Ritcher itu. Dari ruko, rumah sakit hingga masjid. Semuanya luluh lantah.

Tak lama kemudian, berita ini mulai tersebar secara viral di berbagai media sosial. Kabar duka yang datang dari Aceh, sontak mengalahkan berita tentang seorang pemimpin yang sebentar lagi akan menjalani persidangan. Publik menjadi iba. Doa bersamapun digelar demi mendoakan para saudara sebangsa di Pidie Jaya Aceh.

Sejumlah tokoh nasional berbondong-bondong menuju tempat kejadian. Mulai dari presiden, hingga petinggi parpol. Mereka juga merasakan duka yang mendalam atas kejadian ini. Duka yang dirasakan oleh seorang anak yang kehilangan ayahnya. Duka yang dirasakan oleh seorang ibu yang kehilangan anaknya. Duka Aceh adalah duka kita semua.

***

Malam itu seorang sahabat mengajak saya berbincang ringan di sebuah angkringan yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari kosan saya. Sahabat itu adalah ketua dari salah satu komunitas sosial di Mataram. Hatinya bergetar melihat kejadian yang tengah melanda masyarakat Aceh.

Akhirnya kami sama-sama sepakat untuk melakukan aksi penggalangan dana demi membantu para korban. Hati kami sama-sama tergerak, ingin rasanya terjun lansung menuju Pidie Jaya dan membantu para relawan di sana. Namun sadar sebagai mahasiswa, tak ada yang bisa kami berikan selain menggelar aksi tersebut.

Dengan niat baik untuk mendapat dukungan, saya kemudian menyebar informasi melalui berbagai media sosial. Saya juga membagikannya melalui beberapa group pertemanan di whatsapp dan bbm. Berharap teman-teman mahasiswa lain ikut membantu kegiatan ini nantinya.

Tak sampai sehari, para relawan telah terkumpul. Atas nama Aliansi Mahasiswa Sumbawa-Mataram, kamipun bergerak dalam aksi yang digelar di Taman Udayana tersebut. Pagi itu, dengan berbekal sepasang kardus dan sebuah megaphone, kami tetap bersememangat melintasi sepanjang jalan meminta bantuan. Menghampiri kerumunan-kerumunan orang, mengharapkan uluran tangan dari para pengguna jalan untuk meringankan beban saudara kita di Pidie Jaya Aceh.

Mereka yang memberikan sumbangan juga kian beragam. Ada seorang pecinta sepeda ontel yang kebetulan melintas, ada juga ibu-ibu penjual perhiasan yang rutin berolahraga pagi, ada sepasang kekasih yang nampak malu-malu menyodorkan selembar uang kertas. Saya juga melihat bapak-bapak penjual roti keliling yang ikhlas menyumbangkan sekian persen keuntungannya demi membantu para saudaranya yang tertimpa bencana.

Setelah kegiatan ini selesai, saya dibuat kagum oleh rombangan lain yang juga menggelar aksi serupa. Dari kejauhan, nampak para wanita berkerudung dan pemuda berpeci lebih mendominasi barisan mereka. Tak hanya di Mataram, duka yang melanda Aceh juga berhasil menggerakkan sejumlah pemuda di berbagai daerah lain di Indonesia.

Di Garut Jawa Barat, mahasiswa dari Uniga juga ikut melakukan aksi penggalangan dana demi membantu para korban bencana. Di Madiun juga terjadi hal serupa. Sejumlah kader HMI juga melakukan aksi solidaritas sebagai bentuk kepedulian terhadap duka yang dialami masyarakat Aceh.

Dari berbagai penjuru tanah air, saya menemukan suara-suara kepedulian yang diekspresikan melalui aksi solidaritas penggalangan dana. Mereka yang memenuhi jalan-jalan, tempat-tempat umum berada pada gelombang perasaan yang sama. Mereka bergerak atas sesuatu yang amat penting. Mereka sama-sama membentuk barisan kepedulian yang kemudian menggugah hati banyak orang. Mereka adalah pencari cahaya kehidupan.

Seminggu ini saya melihat begitu banyak aksi solidaritas. Seminggu ini batin saya dibasahi oleh semangat-semangat kepedulian dari berbagai penjuru atas duka yang dialami saudaranya. Ada perasaan getir, iba, belasungkawa yang coba dirangkum dalam aksi tersebut. Saya mengamini kalimat Thomas Friedman bahwa dunia telah menjadi datar. Apa yang terjadi di satu tempat bisa menimbulkan kekhawatiran dan keresahan di tempat lain. Batasan kian mengabur. Suara kepedulian bisa datang dari mana saja.

Di situ saya menemukan rasa optimisme yang kuat bahwa bangsa ini akan semakin kokoh sebab ada banyak orang yang hatinya seluas laut tersebar di mana-mana. Di situ saya percaya bahwa bangsa ini akan selalu perkasa sebab setiap warganya saling menopang layaknya sebuah bangunan besar. Jika sudah demikian, maka pastilah garuda kita akan terbang setinggi-tingginya.

Mataram, 12 Desember 2016

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.