12/05/2016

Mereka yang Hatinya Seputih Kapas


Gumi Project Festival

Seorang sahabat mengajak saya untuk menghadiri acara festival di wilayah Gerung, Kabupaten Lombok Barat. Green Gumi Festival, adalah tema yang diangkat pada kegiatan ini. Tema ini sangat menarik perhatian saya untuk menyaksikan lansung bagaimana kegiatan ini nantinya. Saya selalu tertarik dengan kegiatan bersifat sosial. Menurut saya, ada banyak lapis makna yang dapat digali dari kegiatan semacam ini.

Acara tersebut berlansung semarak, meski pelaksanaannya harus dihentikan beberapa waktu karena cuaca yang tak bersahabat. Di sana saya bertemu banyak sahabat muda yang tergabung dari berbagai komunitas lingkungan hidup dan sosial. Dalam usia muda, apa yang mereka lakukan membuat saya takjub. Mereka adalah relawan dari latar belakang yang berbeda-beda.

Mereka diikat oleh visi yang sama, yakni bagaimana mengabdikan diri kepada masyarakat. Di lapangan, mereka aktif melakukan berbagai kegiatan sosial. Dalam hati saya membatin, bahwa generasi inilah yang dibutuhkan oleh bangsa kita sekarang. Generasi seperti ini akan membawa bangsa kita berlari cepat ke arah keunggulan. Generasi inilah yang akan membuat Garuda kita dengan bangga mengepakkan sayap. Mereka adalah orang yang membumikan ilmu pengetahuan didalam ladang kehidupan, mereka menjadikan ilmu pengetahun sebagai rahmat bagi sekitar. Mereka merancang perubahan melalui langkah-langkah sederhana namun berdampak luar biasa.

***

Hari itu saya melihat beberapa stand peserta festival berbaris rapi menghadap panggung. Setiap stand mewakili komunitas masing-masing. Tempat pertama yang saya hampiri adalah stand dari penggagas kegiatan tersebut yaitu Gumi Project. Komunitas ini bergerak di bidang lingkungan hidup. Di situ saya melihat beberapa daur ulang yang terbuat dari kardus seperti lampu kamar dan miniatur rumah. Tak hanya itu, mereka juga berhasil menyulap ranting pohon menjadi boneka yang bernilai seni tinggi.

Gumi Project Festival
Gumi Project Festival
Gumi Project Festival

Selanjutnya saya mengunjungi stand Polyglot Indonesia Chapter NTB. Mereka adalah pecinta bahasa, komunitas ini sangat terbuka bagi siapapun yang berminat untuk mendalami ilmu bahasa. Mereka adalah pejuang literasi di tanah NTB. Di saat pendidikan menjadi komoditas mahal, mereka hadir sebagai solusi yang mencerahkan.

Betapa saya terkejut ketika mengetahui bahwa mereka tak menerima bayaran sepeserpun atas jasa yang mereka lakukan. Padahal di berbagai kota besar di Indonesia, seseorang harus merogoh kocek lebih demi mendapatkan pendidikan bahasa asing. Di saat dunia pendidikan kita menjadi ladang bisnis, mereka lebih memilih menjadikan ilmu pengetahuan sebagai pepohonan rindang yang menyejukkan.

Gumi Project Festival
Gumi Project Festival

Setelah itu, saya kembali berjalan menuju stand Jage Kastare Foundation. Komunitas ini bergerak di bidang sosial. Saya tertegun ketika mendengar pemaparan seorang relawan yang menceritakan tentang sepak terjang dari komunitas ini. Dia adalah mahasiswi di Universitas Mataram.

Tubuhnya ramping mendekati kurus, namun semangatnya jauh lebih besar dari ukuran tubuhnya. Salah satu program yang mereka lakukan adalah mengumpulkan pakaian bekas dari mahasiswa. Nantinya pakaian ini akan dibersihkan hingga layak digunakan, lalu dibagikan kembali kepada masyarakat kurang mampu. Sungguh apa yang diceritakan wanita itu membuat batin saya menganga lebar. Saya tidak bisa membayangkan bahwa kegiatan semacam ini mampu dilakukan oleh mahasiswa.

Setelah mengambil brosur yang dia bagikan, sayapun bergerak menuju stand berikutnya. Komunitas selanjutnya yang saya temui adalah komunitas 1000 guru. Mereka adalah relawan yang hatinya tergerak melihat fenomena pendidikan di negeri ini. Komunitas ini melihat bahwa tujuan utama pendidikan adalah mencerdaskan masyarakat. Atas dasar itu, mereka lalu membentuk sebuah gerakan sosial. Tujuan utama mereka adalah masyarakat-masyarakat pelosok yang termarginalkan dari dunia pendidikan.

Pada kegiatan yang dilaksanakan di kompleks Perpustakaan Daerah itu, mereka juga membagikan bibit gratis kepada peserta. Mereka mengajak setiap orang yang berkesempatan hadir untuk melakukan penanaman pohon sebagai upaya dalam menjaga kelestarian lingkungan. Berada ditengah-tengah mereka, saya jadi teringat kata seorang mantan mentri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Bawsedan bahwa "Karakter bukan di ajarkan lewat teori dan wejangan, karakter diajarkan pakai teladan dan contoh nyata." Di mata saya, apa yang dilakukan oleh Gumi Project serupa cambuk kesadaran di tengah kemerosotan moral yang dialami pemuda kita hari ini.

Gumi Project Festival
Gumi Project Festival
Gumi Project Festival
Gumi Project Festival

Betapa saya terkagum mendapati komunitas seperti ini. Apa yang mereka lakukan seharusnya mendapat apresiasi lebih dari pemerintah. Mereka adalah orang-orang lapangan yang selalu menabur benih kesejukan. Mereka serupa pupuk yang menggemburkan kehidupan masyarakat. Mereka bekerja tidak berdasarkan dana aspirasi dan SPPD, tetapi atas dasar semangat sosial dan nasionalisme yang utuh. Mereka adalah para pencari cahaya kehidupan.

Dalam suasana hati yang tergugah, saya teringat pesan bibi May kepada Peter di film Spideram-Man. Dia mengatakan bahwa "Semakin besar kekuatan seseorang, maka semakin besar pula tanggung jawabnya." Komunitas ini sadar bahwa pemuda adalah tonggak perubahan bangsa. Di tangan mereka, masa depan ibu pertiwi sedang dipertaruhkan. Mereka yakin bahwa semakin tinggi ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan, maka semakin besar pula tanggung jawab sosial yang melekat dipundak mereka. Kepada sekumpulan orang seperti merekalah pemerintah patut berterimakasih. Kepada generasi seperti ini, kepala saya selalu tertunduk.

Gumi Project Festival
Gumi Project Festival
Gumi Project Festival
Gumi Project Festival

Bangsa ini tak membutuhkan generasi muda yang hanya pandai berorasi di ranah maya. Generasi yang lebih mengedepankan mulut besar ketimbang kerja nyata. Mereka adalah generasi penjilat dan pembebek. Kepada generasi seperti mereka, punggung ini tak mau membungkuk sedikitpun. Seperti yang di katakan Arsi Abdullah dalam buku "Berada di Garis Api" bahwa Jauh di seberang sana, pemuda kita lebih senang dipanggil presiden BEM ketimbang mengambil andil dalam menuntaskan permasalahan rakyat. Mereka terbiasa menggunakan jas, pakaian mereka tak lusuh, tak ada keringat karena panasnya matahari. Mereka lebih senang berada di acara-acara peresmian di gedung-gedung megah ketimbang di ruangan terbuka. Sesekali mereka bersolek ke mall-mall membicarakan penderitaan rakyat.

Di luar sana, pemuda kita lebih senang berkerumun di media sosial. Mereka bangga memajang foto dengan sejumlah pejabat dan petinggi parpol. Kepada rakyat kecil mereka jijik. Melalui jendela kecil ponsel, saya bahkan pernah mendapati pemuda yang mendebatkan sejumlah dana APBD yang diperuntukkan untuk kegiatan seni di media sosial. Mereka keberatan, sebab dimata mereka, anggaran tersebut tak bisa mencukupi kegiatan yang akan mereka lakukan. Sungguh naif, mereka tak malu mendebatkan anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk kepentingan rakyat.

Di tengah hujan yang menguyur, saya menyerap berbagai kearifan dari para sahabat muda di Lombok. Apa yang mereka lakukan adalah mata air inspirasi bagi siapapun. Bahwa berjalan beriringan demi meringankan permasalahan rakyat jauh lebih penting ketimbang menghadiri seminar di ruangan ber-ac. Saya membayangkan bahwa apa yang mereka lakukan adalah cikal bakal Revolusi yang sesungguhnya.

Mataram, 05 Desember 2016

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.