2/05/2017

Ketika Bung Karno Menjadi Immawan


Immawan Bung karno
Orang tidak bisa mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin - Soekarno (1901-1970)
Baru-baru ini saya membaca novel berjudul Immawan Bung Karno, karya Rusdianto dan Muliansyah Abdurrahman Ways terbitan Global Base Riview tahun 2016 lalu. Novel ini berkisah tentang pergulatan sejarah organisasi kemahasiswaan Ikatan Mahasisswa Muhammadiyah (IMM) yang tak luput dari peran penting Bung Karno didalamnya. Isinya menarik sebab membahas satu kepingan sejarah yang tak banyak diketahui publik.

Di mata saya, Sukarno bukan saja seorang pendiri bangsa yang hebat, tetapi juga sosok yang kontroversial. Dulu, ketika orde lama masih diselimuti otmosfer perjuangan bangsa dalam revolusi dan ideologi, Sukarno juga pernah membuat suatu himpunan kekuatan institusi politik yang menuai banyak kecaman. Himpunan kekuatan ini ia namai dengan NASAKOM (Nasionalis, Islam, Komunis). Menurut beberapa literatur sejarah, hal inilah yang juga menyebabkan Masyumi memposisikan diri sebagai oposisi karena enggan bergabung bersama kaum komunis.

Bacaan ini berfokus pada pergolakan politik orde lama yang berimbas pada terbukanya gerbang akselerasi bagi pemuda Muhammadiyah untuk membentuk satu organisasi kemahasiswaan yang hingga kini dikenal dengan nama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Dalam satu halaman dijelaskan bahwa Djazman Al Kindi beserta pengurus DPP IMM periode awal tahun 1965 menemui Bung Karno dengan membawa misi bersejarah dalam pergerakan mahasiswa dan meminta restu sang proklamator untuk mendirikan organisasi ini. Pada pertemuan itulah Kindi memanggil Sukarno dengan sebutan "Immawan" yang merupakan sebutan akrab bagi kader-kader IMM.

Novel setebal 136 halaman ini sekiranya bisa membasahi dahaga keraguan atas cikal bakal pendirian IMM sekaligus mengubah opini publik bahwa IMM dibentuk karena HMI mau dibubarkan. Masih banyak tokoh diluar sana yang kerap mempersoalkan pendirian organisasi ini. Farid Fatoni AF misalnya, dalam bukunya yang berjudul "Kelahiran IMM yang Dipersoalkan" juga membicarakan hal serupa. Namun terlepas dari iya atau tidaknya, tentu saya tidak bisa menyimpulkan begitu saja. Saya hanya penikmat buku dan bacaan yang memancing nalar.

Buku ini juga memuat berbagai script sejarah seperti tulisan pemberian restu Bung Karno atas berdirinya IMM, pidato Bung Karno saat Konferensi Asia Afrika di Bandung,hingga beberapa pidatonya sewaktu menjalani masa pengasingan di Bengkulu. Berbagai informasi dalam buku juga ini dikemas dalam bentuk cerita.

Banyak hal baru mengenai fakta sejarah berdirinya IMM yang berusaha dikemas dalam buku ini. Hanya saja, ada saja kekecawaan yang merembes saat membaca lembar demi lembar. Kesan saya, runutan cerita dalam buku ini terlampau susah dipahami sehingga para pembaca yang bukan berlatarbelakang IMM akan kebingungan dalam mengaitkan simpul-simpul sejarahnya.

Buku ini juga tidak mengandung banyak rujukan yang nantinya bisa menjadi bahan komparasi bagi pembaca dalam memaknai nilai-nilai sejarah yang terkandung didalamnya. Sebagai karya fiksi, pengarang buku juga seharusnya lebih berani mengutak atik fakta sejarah. Ia tak perlu setia dengan detail-detail, sebab fiksi membuatnya bebas dalam memainkan berbagai fakta-fakta umum yang selama ini berkembang dikalangan para sejarawan.

Mataram, 05 Februari 2017

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.