3/31/2017

Membaca Motif di Balik Fenomena Skripsi


Ilustrasi

Andai ada voting tentang penghapusan skripsi, mungkin sayalah yang paling utama mengancungkan tangan untuk setuju. Masa iya, berjuang selama bertahun-tahun tapi nasib kita ditentukan pada lembar-lembar skripsi.

Di mata saya, skripsi merupakan salah satu celah dari kesalahan sistem pendidikan kita yang amburadul. Berusaha mencontohi sistem pendidikan dari luar, lalu menerapkannya pada negara dengan culture masyarakat yang jelas-jelas berbeda.

Lihat saja sekarang, Indonesia semakin panas. Skripsi itu memberi kontribusi besar terhadap proses Global Warming. Skripsi ini semakin mempercepat rusaknya peradaban. Mari bayangkan sejenak. Sekarang ini, jurusan semakin bertambah, artinya permintaan terhadap kertas semakin bertambah pula.

Pada kasus ini, kita harus mengetahui bahwa bahan utama pembuatan kertas adalah kayu. Jika hal ini dilakukan secara terus menerus, konsekuensinya sangat jelas. Sementara itu, setelah menjalani ujian, kertas akan terbuang percuma dan skripsi menjadi usang. Kadang digunakan oleh penjual kacang keliling untuk membungkus dagangannya.

Kertas yang tadinya terbuat dari kayu itu bahkan tak bisa lagi disulap menjadi kayu, apalagi menjadi air. Memang ada beberapa yang mendaur ulang kertas menjadi pernak pernik, hingga barang-barang yang berkualitas, tapi tetap saja tak sebanding dengan jumlah yang tidak terpakai.

Akhirnya, kertas itu tertimbun dan menggunung digudang-gudang perguruan tinggi. Lebih parahnya lagi adalah, masih adanya sejumlah aktivitas pembakaran. Dimana, asap dari pembakaran ini kembali menghasilkan populasi, pencemaran udara, dan menutup lapisan ozon bumi.

Ini belum seberapa. Faktanya adalah, sejumlah masalah besar yang terjadi hari ini adalah buntut dari salahnya sistem pendidikan kita. Salah satunya adalah narkoba. Menurut data dari survey yang dilakukan oleh BNN Provinsi NTB pada 2016 lalu, sebagian besar pengguna narkoba di NTB masih berstatus mahasiswa.

Mereka yang mengkonsumsi obat-obatan terlarang ini, adalah mereka yang memiliki permasalahan seputar kampus terutama menyangkut skripsi. Bagaimana tidak, proses ini membuat mahasiswa lebih mudah mengalami stres. Belum lagi tuntutan orang tua dan justifikasi sosial yang diberikan masyarakat lokal kepadanya.

Pada bagian lain, mereka yang tak mau ambil pusing menyoal permasalahan skripsi, akhirnya memilih jalan pintas. Mereka menyuruh orang lain menanganinya. Bahkan, sejumlah praktek jual beli skripsi masih ditemui dikalangan mahasiswa hingga saat ini.

Di sejumlah kota besar di Indonesia, fenomena skripsi telah menelan banyak korban jiwa. Di Jakarta Selatan, seorang mahasiswa tingkat akhir ditemukan tewas gantung diri di kamarnya. Menurut pengakuan orang tua korban, anaknya yang saat ini tengah sibuk mengerjakan skripsi, diduga putus asa karena skirpsinya telah beberapa kali ditolak. Korban yang tak kuasa menahan malu, akhirnya memilih mengakhiri hidupnya diujung tali.

Kejadian serupa juga terjadi di Sukoharjo pada 2015 lalu. Valentina Anjuna Pangestika, seorang mahasiswa universitas Veteran Bangun Nusantara juga diduga stres karena permasalahan skripsi. Valentina ditemukan tewas bunuh diri di dapur kontrakannya kala itu.

Sungguh memilukan. Skripsi yang seharusnya menjadi tolak ukur prestasi mahasiswa, seakan menjadi ancaman. Tantangannya bukan terletak pada skripsi semata, tetapi juga pada dosen pembimbing mahasiswa. Di kalangan kampus, beredar mitos bahwa jika semuanya ingin lancar, maka jangan sekali-kali membangkang.

Salah atau benar instruksi pembimbing harus diterima dengan suka cita. Kita tidak boleh protes, karena itu menggangu keharmonisan dengan si pembimbing. Sebab konsekuensinya akan berbuntut pada revisi, revisi, dan revisi. Hingga teman-teman lain wisuda, kita masih berkutat pada skripsi yang nantinya akan menjadi mainan tikus-tikus rakus di gudang belakang kampus. Benar atau tidak, entahlah.

Jika sudah demikian, maka rusaklah cita-cita suci pendidikan kita. Lulus atau tidaknya mahasiswa, tak lagi ditentukan oleh kapasitas dan kompetensi, melainkan berdasar pada hukum kepatuhan. Sesuai atau tidaknya skripsi dengan teori, selama mahasiswa itu tunduk maka dia selamat. Tapi jika tidak, maka mahasiswa itu tamat.

Lantas setelah itu, jadilah para eks mahasiswa kita serupa kuota yang kemudian menambah volume tingkat pengangguran di pedesaan. Mereka tak bisa bersaing demi mendapat lapangan pekerjaan yang layak sesuai kapasitas dibidang ilmu masing-masing.

Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, seorang mahasiswa tingkat akhir dipersulit karena alasan klasik. Telat konsultasi. Ini jelas mengganggu idealisme dosen, katanya. Lagi-lagi tentang skripsi. Fenomena ini membuatnya terpaksa mengurungkan niat untuk melanjutkan studi ke luar negeri tahun ini. Naasnya lagi, idealisme dosen tak sepenuhnya berlaku pada mahasiswa lain di kampusnya.

Betapa mirisnya wajah dunia pendidikan kita saat ini. Sistem telah mengharuskan seluruh mahasiswa menjadi tunduk dan membebek. Sementara di sisi lain, tak ada regulasi jelas yang mengharuskan setiap dosen untuk berlaku adil serta bersikap profesional kepada segenap mahasiswanya.

Oh iya, Satu lagi. Pernakah anda membaca kisah tentang anak seorang dosen yang dipersulit oleh dosen lain namun berkuliah di kampus yang sama?

Sumbawa, 31 Maret 2017

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.