3/08/2017

Saidi, Kisah Calabai Suci di Tanah Bugis


Buku Calabai Karya Pepi Al-Bayqunie

Setiap orang tua selalu mengidamkan sosok anak yang mampu menjadi kebanggaan bagi semua orang. Mereka tak henti-hentinya berdoa seraya berharap agar kelak, si anak tumbuh serupa pepohonan rindang yang menyejukkan banyak orang.

Namun, apa jadinya jika ternyata ditengah perjalanan hidup, semua espektasi orang tua berbanding terbalik? Anak yang dibanggakan itu, bukanlah sosok yang mereka idamkan. Bahkan, sang buah hati berpotensi mendatangkan aib bagi keluarganya.

***

Tuntas sudah saya membaca buku berjudul Calabai, karya Pepi Al-Bayqunie, terbitan Javanica tahun 2016 lalu. Buku yang terinspirasi dari perjalanan hidup seorang bissu di Sulawesi itu sungguh membuat saya larut dalam hegemoni haru yang berkepanjangan.

Buku setebal 385 halamain ini mengantarkan saya pada sisik melik kehidupan para bissu, ahli waris adat dan tradisi luhur suku Bugis yang dipercaya menjadi penghubung antara alam manusia dan alam dewata.

Beberapa tahun silam, sebelum membaca buku ini, saya pernah diceritakan tentang keberadaan bissu di Sulawesi oleh salah seorang sahabat. Sahabat itu adalah alumni Universitas Hasanuddin Makassar. Dia berkisah tentang sosok bissu yang keseluruhannya adalah calabai. Mereka adalah para pemangku adat yang memiliki kesaktian berupa ilmu kebal terhadap benda tajam.

Cerita itupun dibenarkan dalam buku ini. Bissu memang memiliki kesaktian berupa ilmu kebal dan kemampuan supranatural sehingga dipercaya bisa berkomunikasi dengan dunia lain. Mereka adalah pemuka spritual yang telah melampaui sifat laki-laki dan perempuan di dalam dirinya. Mereka adalah para pengemban tugas sebagai penjaga keseimbangan alam.

Namun yang menarik perhatian saya tak hanya itu, yang membuat saya tertegun adalah bagaimana para bissu menjaga adat istiadat dan warisan para leluhur mereka selama ratusan, bahkan ribuan tahun. Bagaimana pula mereka mengesampingkan nafsu duniawi demi menjaga keberlansungan hidup masyarakat Bugis sekian lamanya.

Buku ini dengan apik membabar kisah perjalanan hidup Puang Matoa Saidi. Seorang yang ditunjuk dewata dalam mengemban tugas suci sebagai bissu tertinggi. Seorang yang telah mencapai tingkatan spritiual yang tinggi dalam dunia kebissuan, lalu mengabdikan dirinya demi menjaga cita-cita para leluhur suku Bugis.

Layaknya kebanyakan orang di luar sana, Saidi terlahir dengan kelamin laki-laki. Namun, tabiatnya sungguh menyerupai perempuan. Orang-orang dikampungnya, Lappariaja, Sulawesi Selatan menyebutnya calabai.

Bagi masyarakat Bugis, calabai adalah sebutan bagi laki-laki yang memiliki tabiat menyerupai perempuan. Calabai tak sepenuhnya bisa diterima dengan baik ditengah masyarakat. Saidi tidak tumbuh dalam iklim yang serba demokratis seperti sekarang. Dahulu, terlahir sebagai calabai adalah duka bagi sebagian orang. Mereka akan mendapat pengadilan sosial, dijustifikasi sesuka hati atas nama tuhan dan agama.

Tak terkecuali Puang Matoa Saidi, hukum ini juga berlaku padanya. Takdir hidup yang menggiringnya sebagai calabai bukanlah sebuah berkah di masa kecil. Bahkan dalam usia yang masih belia, Saidi harus menanggung beban yang begitu besar. Terlebih lagi ketika ayahnya, Puang Baso, marah dan menolak saat mengetahui tabiat Puang Matoa Saidi. Ternyata anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga itu, adalah seorang perempuan yang bersemayam dalam tubuh laki-laki.

Tak ingin menggoreskan luka lebih dalam di hati orang tuanya, dengan berat Saidi memilih pergi. Saidi memilih meninggalkan keluarga tercinta, maninggalkan kampung halamannya. Dia memilih berpetualang, mencari jati diri hingga kelak menjadi sosok yang kehadirannya dirindukan banyak orang.

Sepintas, Saidi serupa remaja yang hendak menemukan jawaban. Dia tidak mengerti dengan takdir. Bukankah Tuhanlah yang menghendekinya terlahir sebagai calabai? Lalu mengapa orang-orang di luar sana selalu mengatasnamakan tuhan untuk menabur orkestra getir di dalam dadanya. Setidaknya, pertanyaan inilah yang selalu membayangi benak Saidi, sebelum Daeng Madenring, lelaki tua yang belakangan menjadi ayah angkatnya itu, membawa dirinya ke Segeri, negeri para bissu.

Di Segeri, Saidi bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi hidupnya. Tak seperti di kampung halamannya, di Segeri, bissu begitu dihormati. Di sana, bissu memegang perananan penting ditengah masyarakat yakni sebagai pemangku adat.

Satu hal yang membuat saya tertarik pada buku ini adalah saya banyak menemukan hal baru di dalamnya. Saya menyukai ulasan yang berisi penjelasan-penjelasan singkat tentang budaya suku Bugis di Sulawesi. Penulis mengisahkan sesuatu dengan sederhana, sehingga mudah dipahami pembaca.

Di banyak bagian, saya menemukan beberapa referensi tentang sureq I La Galigo, sebuah epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis. Bentuknya berupa kitab yang berisi puisi bahasa Bugis dan ditulis dalam huruf Lontara kuno. Para bissu tentu sangat mahir membacakan kitab ini.

Sureq I La Galigo (Foto: Wikipedia)

Di bagian yang lain, saya juga mendapat referensi tentang ritual Mappalili. Sebuah upacara adat turun sawah yang dipimpin lansung oleh bissu. Upacara ini digelar untuk meminta rahmat kepada sang Pencipta sebelum masyarakat memulai aktivitas pertanian.

Pada saat upacara berlansung, para bissu juga menampilkan atraksi tarian Manggirik, sebuah tarian fenomenal dalam dunia kebissuan. Di sinilah ajang unjuk kebolehan bagi mereka. Para bissu memamerkan ilmu kebal kepada segenap penonton. Keris yang mereka selipkan dipinggang saat acara dimulai, perlahan dicabut, lalu dengan berani mereka tusukkan keris tersebut ketubuhnya.

Begitulah calabai. Pepi Al-Bayqunie dengan santai menjelaskan sisik melik kehidupan Puang Matoa Saidi dalam bukunya. Betapa panjangnya perjalanan yang harus ditempuh laki-laki gemulai itu, hingga mengantarkan dirinya sebagai bissu tertinggi. Punilas juga secara gamblang menjelaskan semua rutinitas para pemangku adat suku Bugis itu satu persatu. Ceritanya mengalir, pembaca digiring keadalam dunia spritualitas bissu yang dipenuhi aura mistis.

Di akhir kisah, Saidi akhirnya menemukan jawaban atas takdirnya. Di akhir perjalanan panjang itu, dia memahami bahwa segala kepedihan di masa belia, adalah cara Dewata menjadikannya sebagai orang yang begitu dihormati dan diagungkan.

Mataram, 08 Maret 2017

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.