4/08/2017

Surat Kecil Untuk Mahasiswi Tingkat Akhir


Ilustrasi

Untukmu, mahasiswi tingkat akhir yang belum juga menyelsaikan studi karena masih diberatkan pihak kampus dengan alasan prosedural dalam satu siklus omong kosong idelisme dosen, tak usah terbenam dalam kesedihan. Sebab dalam hidup, terkadang kita harus menerima sebuah kenyataan pahit meski hati kita menganggap itu semua tidak adil.

Untukmu, wanita yang selalu mengeluarkan air mata ketika melihat foto teman-teman seangkatanmu yang hendak mengenakan toga dan banyak berseliweran di media sosial, jangan pernah menanam benih kedengkian kepada mereka. Sebab kelak, mereka akan mengerti mengapa kamu rela menyisipkan sedikit waktu disela-sela kegiatan akademik demi menjalani sebuah proses interaksi di luar kampus bersama sahabat lain dalam satu atmosfer organisasi.

Kelak mereka akan menyadari, betapa IPK tinggi dan wisuda tepat waktu tak pernah menjadi jaminan bahwa masa depan mereka akan lebih baik dibanding yang lain. Kelak mereka juga akan menyadari, betapa segala bentuk aktivitas sosial bukan sekedar tentang membantu proses seleksi untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri dan berkerja di perusahaan profesional semata. Tapi tentang tanggung jawab sebagai para agen perubahan ( Agen of Change ) serta pemegang estafet kepemimpinan bangsa.

Untukmu, mahasiswi yang selalu berusaha tersenyum dihadapan semua orang, meski aku tahu dirimu tidak dalam keadaan baik-baik saja, ku mohon bersabarlah sejenak. Yakinlah bahwa tuhan memiliki seribu alasan, mengapa dia belum mengizinkanmu mengenakan toga dalam waktu dekat ini.

Adikku, tuhan itu maha adil, dia maha memiliki alasan atas segalanya. Dia tidak akan menciptakan siang untuk bekerja, tanpa menciptakan malam untuk beristirahat. Begitu pula dia sengaja menciptakan sakit agar manusia menghargai arti sebuah kesehatan.

Untukmu, wanita yang dengan sukarela mengabdikan ilmu pengetahuan demi kepentingan sosial tanpa mengharap balasan apapun, melalui surat singkat ini, aku hendak memberitahukanmu beberapa hal.

Aku ingin memberitahumu bahwa sebagian besar tokoh berpengaruh di dunia ini, dulunya pernah bermasalah di bidang akademik hingga mereka terpaksa dikeluarkan oleh pihak kampus. Kamu tentunya sependapat denganku, bahwa mereka tidak memiliki permasalahan dengan kemampuan intelektual sedikitpun.

Adikku, janganlah sekali-kali berkecil hati atas pencapaianmu. Kamu hanya perlu bersukur karena melalui ujian-Nya, tuhan tengah mendidikmu menjadi sosok yang tangguh. Sebab mereka yang telah terbiasa dengan ketidaknyamanan, adalah mereka yang akan menertawakan hidup ketika diterpa ujian dikemudian hari.

Adikku, aku ingin mengajakmu pada kisah Bill Gates. Orang terkaya di dunia itu, bahkan pernah di DO dari Harvard University. Gates diberhentikan bukan karena malas, melainkan dia hanya ingin fokus pada cita-citanya yaitu mendirikan Microsoft.

Adikku, jika bagimu wisuda tepat waktu bukanlah satu-satunya jalan menuju kesuksesan, maka buktikanlah kepada mereka bahwa kelak, kamu juga berhak mendapatkannya. Bukankah mendiang Steve Jobs pernah dikeluarkan dari Reed College sebelum akhirnya menciptakan berbagai produk yang digilai masyarakat dunia?

Gates dan Jobs adalah mata air inspirasi bagi kita semua. Keduanya membuktikan bahwa kesuksesan itu tak pernah identik dengan kemudahan. Mereka mengajarkan kita untuk tidak tunduk dan menyerah pada keadaan.

Adikku, jika bagimu ilmu pengetahuan adalah cahaya dan membumikannya di dalam ladang kehidupan jauh lebih penting dari segalanya, maka pancarkanlah cahaya itu kepada dunia sekitarmu. Buktikanlah kepada mereka bahwa ilmu itu bisa menyatu dengan segala sikap, keikhlasan, serta tindakanmu yang selalu ingin melihat dunia sebagai wahana bermain, tempat menumpahkan segala bentuk kebaikan.

Adikku, kita tidak bisa memaksa orang lain untuk memberi penilaian baik atau tidak kepada kita, namun bukan berarti kita harus berhenti berbuat baik. Meski demikian, buktikanlah kepada dunia, bahwa mereka yang besar bukan karena kehebatan serta kemewahan yang dimilikinya, melainkan karena kekuatan karakternya yang membasahi semesta ini dengan embun kebajikan.

Adikku, untuk membuat kedua orangtuamu bangga, kamu tak perlu sesempurna para nabi. Kamu juga tak selalu harus wisuda tepat waktu layaknya yang lain. Kamu cukup menjadi dirimu sendiri. Kamu cukup menyerap berbagai kebijaksaan dari kampus, lalu mengembalikannya sebagai lentera yang menerangi masyarakat luas. Kamu cukup menjadi pepohonan rindang tempat orang lain berteduh. Kamu cukup menjadi pupuk yang menggemburkan bumi ini dengan senyum serta kebaktian.

Adikku, terlepas dari berhasil atau tidaknya kamu mengenakan toga dalam waktu dekat ini, aku selalu bangga padamu.

Sekian surat kecil ini aku tuliskan. Semoga bisa menghibur hatimu yang sedang digandrungi kesedihan.

Mataram, 08 April 2017

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.