5/26/2017

Personal Branding dan Sosial Media


Ilustrasi

Beberapa waktu lalu, saya berbincang ringan dengan salah seorang sahabat melalui messengger. Dia bekerja di Kedutaan Indonesia di Jerman. Kami memang sering bersua kabar. Menanyakan keadaan masing-masing. Kami sering berdiskusi tentang apa saja. Ketika sama-sama senggang, kami membahas banyak persoalan.

Tanpa di sengaja, obrolan kami masuk ke bahasan soal media sosial. Sahabat saya bercerita tentang teman sekantornya yang tidak memiliki akun media sosial apapun. Katanya, ia kerap terheran dengan berbagai kelakuan orang di media sosial. Dia tidak tahu apa yang ia hasilkan melalui aktivitas ini. Baginya, media sosial hanyalah mainan yang akan menghambat pekerjaannya.

Saya sudah terbiasa dengan pertanyaan ini.
Kenapa saya harus membagikan foto saya saat makan, atau bepergian, apakah hanya untuk dilihat oleh orang lain?” Ada begitu banyak orang yang heran dengan perilaku manusia di dunia maya. Untuk apa itu semua?

Suka atau tidak, media sosial adalah kebutuhan sebagian orang. Kalau bukan kebutuhan, produk ini tidak akan bertatahan sebagai industri besar hingga saat ini. Namun sebagaimana produk lain, tentu saja ada yang tidak membutuhkannya. Itu juga sudah biasa.

Tapi pertanyaan di atas tadi penting untuk dijawab. Untuk apa kita membagikan foto saat kita makan? Atau, makanan yang kita makan? Untuk apa pula kita membagikan foto bersama orang terdekat kita? Atau, foto kita saat liburan?

Jawabannya bisa beragam. Kadang kita ingin memamerkan kebahagiaan kita, atau keberadaan materi kita. Ada juga yang ingin memamerkan, dengan siapa saja dia bergaul. Baik dengan kalangan elit, maupun dengan kalangan pinggiran, keduanya ingin memamerkan. Kita sedang membangun citra diri. Ada yang mencitrakan dirinya sebagai orang sukses dan kaya. Ada pula yang membangun citra sederhana, bahkan darmawan.

Sesuai dengan namanya, media sosial juga terkadang membuat penggunanya lebih peka terhadap permasalahan sosial. Entah kenapa, banyak yang tiba-tiba humanis bahkan kritis ketika bermain di ranah ini. Padahal di kehidupan nyata, mereka nampak biasa-biasa saja.

Pernah sekali saya melihat foto kakek-kakek tua sedang mengemis di facebook. Saya terkejut sebab interaksi terhadap poto tersebut mencapai angka ratusan ribu. Dalam kehidupan nyata? Semuanya mungkin akan berbanding terbalik. Entahlah.

Tapi, inilah yang disebut dengan proses membangun citra. Membuat frame untuk mempengaruhi pandangan orang lain. Lalu pertanyaannya, apakah membangun citra itu sebuah masalah? Tentu tidak. Membangun citra, itu hal yang biasa saja. Dalam kehidupan keseharian pun, kita sedang membangun citra.

Yang tidak bagus adalah membangun citra palsu. Orang miskin berlagak kaya. Korup, tapi sok suci. Atau, membangun citra yang berlebihan. Tapi tidak sedikit juga orang yang sekadar menjadikan media sosial sebagai tempat berbagi kabar dengan teman, atau sanak saudara.

Ada pula yang menggunakan media sosial untuk mempengaruhi orang lain. Melakukan sebuah propaganda. Propaganda bisa positif, bisa negatif secara absolut, bisa pula secara relatif. Yang jelas, tujuan dari aktivitas ini adalah untuk menggiring orang pada suatu pemikiran, nilai, atau bahkan pada tindakan-tindakan tertentu. Semacam sugesti universal di ranah maya.

Propaganda dengan mudah bisa kita temukan di media sosial. Bahkan, mungkin ini salah satu komponen terbesar media sosial kita saat ini. Propaganda politik, agama, dan kepentingan golongan. Hal terpenting pada propaganda adalah, ia tidak begitu memperhatikan basis fakta, atau kebenaran. Yang utama adalah bagaimana menggiring semua orang.

Aktivitas semacam ini pernah dilakukan oleh Chris Hughes. Dalam usia 23 tahun, ia bertemu Barrack Obama, yang saat itu masih menjadi senator. Obama meminta Chris untuk merancang kampanye yang berbasis dunia maya. Ia menerimanya sebagai tantangan.

Chris membangun satu web yang diniatkan sebagai kanal informasi, lalu menyebarkannya ke mana-mana. Ia juga mengorganisir kaum muda, mengelola manajemen pencitraan di dunia maya, menyebarkan berbagai pesan baik yang dimiliki Obama. Tak disangka, kerja keras itu berbuah kesuksesan, saat Obama terpilih menjadi presiden.

Dewasa ini, ada begitu banyak pengguna media sosial yang ambil bagian dalam permainan propaganda. Ingat, kunci terpenting pada media sosial adalah pada peran para pengguna. Suatu muatan tidak akan bermakna kalau tidak diteruskan secara massal, lalu menjadi viral. Kekuatan media sosial bukan sekedar pada pembuat muatannya, tapi justru pada penyebarnya.

Tanpa disadari, banyak orang yang menjadi bagian sebuah propaganda. Ikut menyebar sesuatu, link, bahkan berita hoax yang ia sendiri mungkin tidak tahu dan tidak membacanya. Padahal secara tidak sadar, dia adalah korban propaganda, yang sedang mencari korban lain.

Tak bisa dipungkiri, propaganda serupa arus besar yang menghujam dunia media sosial kita saat ini. Salah bergerak, kita akan tergelincir didalamnya. Bahkan banyak yang telah menjadi korban dari aktivitas ini. Yang terbaru adalah seorang jurnalis senior asal NTB. Ia dituduh sengaja menyebarluaskan video kampanye seorang Gubernur sehingga menimbulkan konflik.

Tentu kita tak ingin bernasib serupa. Maka agar terhindar dari hal-hal seperti ini, kita butuh kebijakan dalam mengolah sosial media. Seperti banyak pengguna lain, saya juga terbiasa menetapkan sebuah nilai. Kemudian mulai bermain di dunia sosial media, berdasar nilai itu.

Yang terpenting adalah bagaimana menjadikan media sosial sebagai tempat untuk mengevaluasi nilai-nilai yang kita anut. Persis seperti saat bergaul di dunia nyata, di mana kita hidup dengan nilai, dalam interaksi, kita mengubah nilai kita, atau membuat orang lain mengubah nilainya.

Dalam media sosial, saya banyak membuat posting tentang nilai yang saya anut. Misalnya soal kesadaran sosial, lingkungan, pendidikan, kerelawanan, kepemudaan dan sebagainya. Saya posting berbagai kegiatan, kemudian saya berbagi pengetahuan tentang aktivitas itu, apa yang kita lakukan, atau seluk beluk lain terkait dengannya.

Demikian pula saat bepergian. Saya berbagi informasi tentang tempat liburan, kuliner, hingga berbagai keunikan lain yang bisa memancing antusiasme banyak orang untuk berdatangan. Ya, hitung-hitung membantu pemerintah dalam agenda promosi wisata.

Tapi, seperti yang saya ceritakan di atas, saya juga narsis. Namanya juga manusia biasa. Saya kerap membangun citra, pamer dan sebagainya. Hal-hal yang biasa dilakukan banyak orang di media sosial.

Ingat, media sosial adalah tempat di mana orang bisa melihat kita. Dalam istilah keren, ini adalah tempat untuk melakukan personal branding. Maka, saya membiasakan diri untuk menghasilkan dan membagikan gagasan di media sosial. Saya berharap orang akan mengenal saya melalui gagasan itu.

Saya menikmati hasil dari kegiatan di media sosial. Saya menjadi terbiasa menulis. Menyebarluaskan gagasan di berbagai media online, membuat artikel, menghasilkan opini, dan sesekali diterbitkan melalui media cetak. Bahkan ada yang mengajak saya mengelola satu kanal informasi, lalu menghasilkan berbagai tulisan di sana. Saya juga sering mendapatkan kiriman buku-buku bagus dari beberapa teman di luar daerah melalui aktivitas ini.

Nah, menurut saya, penting bagi setiap orang untuk bertanya pada diri sendiri, apa yang dia hasilkan dari aktivitas sosial media. Sayang jika kemewahan teknologi yang sedemikian maju ini, tak dimanfaatkan dengan baik.

Mataram, 26 Mei 2017

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.