6/06/2017

Ramadhan Food Distribution Bersama Islamic Relief Lombok


Banner Kegiatan

Lebih dari sepekan saya menjadi relawan di salah satu lembaga islam internasional, Islamic Relief. Bersama relawan lain, saya tergabung dalam satu project sosial yang dimotori oleh lembaga ini. Islamic Relief hendak menyalurkan bantuan gratis saat ramadhan. Mereka lalu mengundang relawan untuk bekerjasama. Mereka meminta kami untuk melakukan survey dan pendataan kepada para calon penerima bantuan. Tujuannya, mereka tak ingin jika bantuan yang akan didistribusikan tidak tepat sasaran.

Bukan sekali ini saya menjadi relawan. Beberapa waktu lalu, saya juga terlibat dalam satu gerakan sadar lingkungan bersih. Saya berbaur dengan banyak sahabat dari berbagai komunitas di Lombok. Ada yang fokus pada kajian lingkungan, pendidikan, isu-isu sosial, hingga literasi. Bahkan dalam waktu dekat, seorang teman yang juga pegiat literasi di Mataram, mengajak saya bergabung dalam satu aksi sosial bertajuk literasi. Rencananya, aksi itu akan dilaksanakan dalam beberapa bulan kedepan.

Bagi saya, menjadi seorang relawan sungguh mengasikkan. Selain menambah khazanah ilmu dan pengalaman, kita juga leluasa bertautan dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Yang membuat saya terkesan adalah, para relawan ini justru memiliki kapasitas intelektual yang tak bisa diragukan. Buktinya, mereka kerap ikut serta di berbagai kegiatan yang digelar di luar negeri.

Melihat itu, saya terkenang kata seorang gubernur terpilih Jakarta, Anies Baswedan, bahwa “ Relawan tidak dibayar bukan karena tak bernilai, tapi karena tak ternilai.

***

Islamic Relief sendiri merupakan lembaga kemanusiaan yang didirikan di Inggris pada 1984. Organisasi ini telah diakui oleh Dewan Ekonomi dan Sosial PBB, UNECOSOC, sejak tahun 1993 lalu. Sejak pendiriannya, Islamic Relief telah berkiprah di banyak negara. Mereka juga memiliki kantor permanen dan kantor perwakilan di negara-negara tersebut termasuk di Indonesia.

Berbagai kegiatan berbentuk bantuan bencana, bantuan medis, bantuan pembangunan rumah masyarakat miskin, pemberdayaan komunitas dan lain-lain memang kerap dilakukan. Demikian pula di Lombok tahun ini. Mereka menyediakan bantuan gratis berupa sembako bagi masyarakat kurang mampu.

Baru kali ini saya mengenal Islamic Relief. Seorang teman yang sedang menempuh pendidikan di Jerman memberitahu saya. Ia bercerita banyak hal tentang lembaga ini. Kepada saya dia berbicara, “ Tidak mudah menjadi relawan di Islamic Relief. Dengar-dengar di Inggris, mereka yang menjadi relawan diseleksi dulu. Kamu beruntung! “ Ungkapnya. Dalam hati saya membatin, “ Ah, teman saya yang satu ini pandai berkelakar.

Sejumlah Bantuan Akan Didistribusikan

Penyerahan Bantuan Secara Simbolis

Bantuan Berupa Sembako

Sebagai relawan, kami telah melakukan verifikasi data dari minggu lalu. Kami melakukan pemetaan, mendatangi rumah-rumah warga, dan memilah siapa saja yang layak menerima bantuan. Targetnya adalah para lansia, yatim piatu, dan para kaum dhuafa di Mataram. Meski tak banyak, kami tetap tidak ingin jika bantuan ini tak tepat sasaran. Begitu harapan Islamic Relief.

Saya menilai, organisasi yang satu ini sungguh profesional. Cara kerjanya pun sangat terstruktur dan rapi. Mereka tak mau neko-neko dalam pekerjaan. Mungkin inilah yang mejadikan Islamic Relief bertahan hingga sekarang. Mengingat pusat lembaga ini di Inggris sana, saya menduga kuat, setiap mereka yang bekerja didalamnya mengadopsi sistem kerja di luar negeri. Sehingga, segala sesuatu yang berbau kedisiplinan sangatlah diperhatikan.

Pagi itu, di balai pertemuan yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari kantor Islamic Relief di Mataram, saya menyaksikan begitu banyak orang berdatangan. Ada lelaki muda yang mewakili ibunya, ada pula nenek tua yang punggungnya sudah membungkuk. Tujuan mereka satu yakni menukarkan kupon yang telah diberikan, dengan paket bantuan yang sudah disediakan.

Begitu pula para relawan. Mereka telah siap dengan tugas masing-masing. Ada yang bertugas meminta tanda tangan penerima, ada yang memanggilnya menggunakan pengeras suara. Ada yang menginput data, ada pula yang membagikan bingkisan. Singkatnya, mereka bekerja secara masif agar tugas rumah segera terselesaikan.

Sesaat, saya tertegun menyaksikan para relawan ini bekerja. Alih-alih terkesan malas, mereka justru semakin antusias dan bersemangat. Padahal, membagikan sumbangan sebanyak 800 paket saat berpuasa tidaklah mudah. Mereka serupa robot pekerja yang didesain untuk membantu aktivitas manusia. Tak ada lelah diwajah mereka. Yang saya lihat hanyalah sepotong senyum yang dilontarkan kepada para penerima bantuan.

Calon Penerima Bantuan

Para Relawan

Yang lebih menyenangkan lagi adalah menyaksikan selapis kebahagiaan diwajah penerima bantuan ini. Bagi sebagian orang, bantuan berupa beras dan bahan makanan mungkin tak seberapa, tetapi bagi mereka yang harus bersusah payah bekerja demi sepiring nasi, bantuan dari Islamic Relief mungkin serupa ketiban durian runtuh.

Dibalik binar-binar kebahagiaan itu, mereka mungkin hendak mengungkapkan rasa terima kasih yang tak terkira, sebab Islamic Relief telah hadir dalam sesuap santapan sahur mereka saat ramadhan. Dibalik senyuman itu, mungkin mereka hendak mengatakan “ Terimakasih Islamic Relief, bantuan ini sangat bermanfaat bagi kami.

Itulah satu kepingan berharga menjadi seorang relawan. Melalui banyak aktivitas, kita diajarkan untuk bekerja demi mengasah kepekaan. Kita diajarkan menjadi pepohonan lebat bagi banyak orang. Melalui serangkaian kegiatan, kita diajarkan untuk terjun ke masyarakat lalu bersentuhan lansung dengan mereka.

Seorang pemikir besar islam mengatakan bahwa “ Ilmu itu bukanlah apa yang dihafal, tetapi apa yang dimanfaatkan.” Boleh jadi, hiruk pikuk dunia kerelawanan menunjukkan betapa menjadikan ilmu sebagai rahmat bagi sekitar jauh lebih penting dari segalanya. Entahlah!

Mataram, 06 Juni 2017

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.