8/18/2017

Puisi Wiji Thukul di Hari Kemerdekaan


Wiji Thukul saat membaca puisi (foto: Wahyu Susilo)

Bangsa ini semakin menua. Rambutnya keriput, tubuhnya semakin renta. Isi perutnya hendak meronta-ronta keluar sebab tak tahan digerogoti cacing tanah. Usianya sudah 72 tahun semenjak Ir Sukarno, Presiden pertama republik Indonesia membacakan teks proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, 17 Agustus, 1945 lalu.

Orang-orang tengah memperingati hari kemerdekaan. Gegap gempita kegiatan digelar demi mengenang jasa para pendiri bangsa. Satu nama yang melekat di benak saya iyalah Wiji Thukul, salah seorang aktivis orde baru yang hingga kini kematiannya masih menyisahkan misteri. Wiji tak hanya seorang aktivis. Ia adalah sastrawan yang menjadikan kata-kata jauh lebih perkasa dari butiran peluru.

Di era Presiden Suharto, Wiji menjadikan kata-kata lebih bertenaga. Puisi berjudul Kemerdekaan yang dibacanya beberapa tahun lalu itu adalah puisi singkat yang pernah menggedor kesewenangan rezim pada satu masa. Demi melawan penguasa, ia tak mengerahkan sekompi pasukan lalu bertempur hingga titik darah penghabisan. Ia cukup membacakan satu puisi dengan lantang.

Saya menghafal puisi itu sebab hanya terdiri dari satu baris. Wiji mengkritik situasi dimana kemerdekaan ibarat jauh panggang daripada api. Kemerdekaan hanyalah mitos nasionalisme yang diagungkan. Saat itu, ia diundang sebagai pengisi kegiatan di sebuah kampung di Solo dalam rangka perayaan hari kemerdekaan. Ia kemudian membaca satu puisi yang dibuatnya secara spontan spontan.

KEMERDEKAAN

Kemerdekaan adalah nasi dimakan jadi tai.

Wiji Thukul, Agustus 1982.

Puisi itu menjadi sejarah. Puisi itu menjadi satu dari sekian banyak syair perlawanan dari seorang aktivis bertubuh kerempeng yang hingga kini tak seorang pun tau dimana rimbanya itu.

Puisi itu nampak pendek dan sederhana, namun menjadikan Wiji sebagai tokoh pergerakan yang kata-katanya harus dibelenggu. Rumahnya didatangi intel-intel pemerintah, sementara dirinya menyebrangi laut Jawa dan terasing jauh di Pontianak, Kalimantan Barat.

Saya membaca beberapa penggalan informasi tentang Wiji Tukul terutama di banyak catatan dari resensi film “Istirahatlah kata-kata” yang tayang beberapa waktu lalu. Saya tak terlalu terkejut dengan puisi itu. Ia hidup di zaman reformasi. Zaman ketika rupa-rupa gerakan tengah diorganisir oleh kaum muda terutama mahasiswa demi menumbangkan satu rezim.

Ia hidup di zaman Budiman Sudjatmiko mendirikan Partai Rakyat Demokratik yang lalu menyebar serupa virus. Zaman ketika Amin Rais dengan berani menyatakan diri siap menggantikan Suharto sebagai presiden. Di zaman ini, pernyataan seperti itu adalah hal biasa. Siapa saja bisa berbicara secara terbuka tentang niat ingin menjadi presiden. Namun di era orde baru, pernyataan Amin Rais laksana guntur di telinga rezim.

Wiji semasa dengan Munir Said Thalib. Seorang pejuang HAM yang gigih dan paling menonjol di republik ini. Ia hidup di zaman Adiana Pitupulu mendirikan Forkot yang kelak menjadi basis perlawanan di Ibu Kota. Zaman ketika sejumlah mahasiswa Trisakti meninggal dunia dalam satu demonstrasi menuntut Suharto turun dari jabatannya.

Di masa ketika Wiji membaca puisi, keberanian adalah sesuatu yang tak mudah ditemukan. Tak banyak intelektual yang berani bersuara lantang layaknya Amin Rais dan Sri Bintang Pamungkas. Yang banyak justru lebih memilih bersembunyi dibalik ketiak rezim serta asik menjadi komprador orde baru. Boleh jadi yang harus dikenang dari tokoh ini adalah kata-katanya yang lantang dan menyengat jantung otoritarianisme.

Wiji memang tak mengenyam bangku pendidikan sekolah tinggi, namun kegemarannya membaca dan mengoleksi buku tokoh-tokoh perjuangan membuatnya tumbuh sebagai sosok yang sangat anti dengan kelaliman. Ia bukanlah tipe generasi yang tunduk patuh terhadap rezim penguasa. Ia ikut menyebarkan virus perlawanan yang lalu menjadi momentum bagi tokoh pergerakan lain untuk bersuara demi menyatakan sikap.

Di zaman ini, kita nyaris tak menemukan anak-anak muda yang gemar membuat puisi perlawanan. Tak banyak yang tampil dengan nuansa kritis. Tak banyak yang gelisah melihat bangsanya. Pemuda-pemuda kita lebih banyak berkerumun di media sosial, hiruk pikuk dengan berbagai kritik serta sikap nyinyir. Yah, mungkin inilah titik balik dalam sejarah kita. Inilah jalan panjang yang harus dilalui.

Saya mengamini puisi Wiji yang masih sangat relevan dengan kondisi kekinian. Peringatan hari kemerdekaan memang tak lebih dari seremoni 1x24 jam. Sisanya hanyalah banyolan-banyolan kotor yang harus segera disiram bersih-bersih. Semangat proklamasi tak lagi merujuk pada ideologi “sama rata sama rasa”, frasa yang pernah dipopulerkan oleh Mas Marco Kartodikromo. Kemerdekaan hanya bersemayam dikantong-kantong segelintir kelompok.

Ingin rasanya menulis banyak tentang penggalan puisi-puisi Wiji Thukul. Namun sejenak saya singgah di media sosial. Di situ ada berita tentang seorang pejabat yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus E-KTP senilai triliyunan rupiah namun masih sempat memimpin rapat di Senayan.

Ah, saya tidak ingin berkomentar.

Mataram, 18 Agustus 2017

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.