8/10/2017

Segelas Kopi yang Menyatukan


Kopi Hitam

Selalu saja ada hal yang mengharukan dalam hidup. Hari ini, saya dihadiahi gelas tapperware oleh seseorang. Ia membawa satu gelas plastik berisi kopi lalu menyuruh saya meminumnya. Ia sangat paham kalau saya menyukai kopi.

Dipikirnya, dengan gelas plastik itu, saya bisa leluasa menikmati kopi kapan pun dan dimana pun sesuka hati. Gelas itu semacam tumblr yang dirancang khusus untuk mengisi minuman saat bepergian. Meski demikian, ia tetap menyarankan saya agar lebih mengutamakan air putih. “Kopi itu selingannya saja. Terlalu banyak minum kopi tidak baik untuk kesehatan.” Katanya.

Entah kenapa, dari dulu saya memang senang menikmati kopi. Saya suka menjajal seduhan kopi dari berbagai daerah. Pernah saya mencicipi kopi Aceh, Toraja, Sumbawa dan tak lupa kopi bideng khas Lombok yang banyak saya temukan di sini. Semuanya sama-sama menyajikan satu rasa yang khas dan nikmat.

Bagi saya, kopi itu bukan sekedar minuman penunda kantuk. Tapi lebih dari itu, kopi bisa menjadi penanda dan ikon kebudayaan. Di balik aroma kopi, terselip sebuah kisah, romansa, tragedi, ataupun sejarah tentang bagaimana manusia berusaha menyajikan sesuatu yang rasanya nikmat di lidah. Melalui pesona budaya, manusia menyebarkan rasa nikmat itu ke seantero bumi, bersintesa dengan lokalitas, lalu menjadi ikon globalisasi.

Kini, di hadapan saya tersaji segelas kopi. Saya membayangkan dirinya pergi ke tempat perbelanjaan umum lalu mencari-cari sesuatu hingga ia menemukan gelas plastik itu. Saya melihat cermin perhatian yang luar biasanya padanya. Gambaran tentang ibu saya seketika menyusup dibenak.

Ah, bahagia itu sederhana rupanya. Bahagia itu bisa dijumpai dimana saja. Kali ini, saya menemukannya dalam segelas kopi. Sambil sesekali tersenyum, saya lansung mereguknya.

Syurrruuppppp...syyrruupppppp!

Mataram, 10 Agustus 2017

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.