8/27/2017

Tan Malaka yang Selalu Abadi

Buku Madilog karya Tan Malaka

Beberapa waktu lalu, saya jalan-jalan ke sebuah toko buku. Di satu rak, saya menyaksikan Madilog masuk dalam daftar 100 buku yang berpengaruh dan berkontribusi terhadap gagasan kebangsaan versi majalah Tempo.

Sampai kapanpun, buki ini memang selalu keren. Seorang senior yang juga alumni UNHAS pernah mengirimkannya dalam format pdf beberapa tahun lalu. Saat itu saya agak kesulitan membacanya sebab huruf-hurufnya sangat kecil, tidak jelas. Saya juga pernah berniat mencetaknya namun selalu kandas karena katong tak mengizinkan.

Buku ini begitu fenomenal meski ditulis dalam segala keterbatasan. Saya membawanya kemana-mana, membacanya berulang-ulang. Memang tak mudah memahami setiap buku bertemakan filsafat. Perlu waktu  lama untuk mencerna isinya dengan baik.

Dulu, Madilog pernah dilarang beredar. Bahkan ketika pemikiran penulisnya dibedah di suatu kota, banyak massa dari salah satu organisasi datang menyerbu. Mereka melarang diskusi pemikiran digelar. Mereka memaki-maki, lalu menyebut si penulis adalah komunis yang tak layak dikenang. Mungkin mereka kurang piknik. Entahlah.

Di kanal-kanal media, banyak pula yang sering mendebat pemikirannya. Tan disebut-sebut sebagai antek komunis. Bukunya tak layak dibaca. Pemikirannya dianggap sesat sebab mengikuti ajaran Marx. Padahal saya tetap yakin bahwa mereka yang senang berdebat itu adalah korban ketidaktahuan. Mereka hanya mampu mendebat, tanpa mampu menghasilkan karya. Mereka tidak mampu menghasilkan buku untuk menyanggah gagas Tan Malaka.

Mereka tidak tahu bahwa pada satu masa, nama Tan Malaka hendak dihilangkan dalam lipatan sejarah. Pemikirannya dilarang beredar sebab dianggap bertentangan dengan rezim. Bahkan sampai saat ini, saya tetap yakin bahwa masih banyak generasi muda yang sama sekali tak mengenalnya. Apalagi membaca karya-karyanya.

Namun kita tidak harus menyalahkan mereka. Sikap buta sejarah itu jelas dipengaruhi sejumlah patahan realitas sosial yang kemudian memberikan kontribusi pada ketidaktahuan atas siapa-siapa yang menjadi pendiri republik ini.

Kini, Madilog bertengger di rak buku saya bersama yang lain. Saya selalu senang membacanya. Saya membawanya kemana-mana. Saya menikmati jengkal demi jengkal petualangan revolusioner itu di lembar-lembar awal. Membicarakannya adalah membicarakan benih awal tentang Indonesia.

Kalaupun belakangan tokoh yang menonjol adalah Soekarno, Hatta, dan Sjahrir, maka tetap saja tidak mengecilkan peran Tan Malaka sebagai bapak republik, yang pada setiap kalimatnya terdapat pedang yang hendak merobek-robek jantung kolonialisme.

Di mata saya, Tan adalah seorang filosof yang hadir di tengah amuk peperangan. Banyak tokoh besar di luar sana yang juga terkagum-kagum serta begitu menghormati jasa-jasanya. Muhammad Yamin menyebutnya Bapak Republik Indonesia yang dipersamakan dengan George Washington di Amerika atau Rizal di Filipina.

Kemudian, Rudolf Mrazek menyebutnya sebagai manusia komplet. Ada juga ilmuwan Dr Alfian yang mengatakn bahwa ia adalah pejuang revolusioner yang kesepian. Mereka menyebutnya hebat. Tan merupakan seorang aktivis politik yang lincah, yang menghabiskan 20 tahun di dalam pembuangan di berbagai negara.

Sampai saat ini, saya tak habis-habisnya mengagumi kemampuannya dalam menulis sebuah buku filsafat di tengah-tengah deru revolusi dan perjuangan. Madilog menjadi buku awal yang hendak membongkar aspek mitologis pada cara berpikir masyarakat kita. Ia berusaha memperkenalkan cara berpikir logis dan terstruktur, yang sejatinya bisa menjadi obor penerang bagi gelapnya cara berpikir.

Saya yakin, kekuatan berfikir semacam ini hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang gemilang seperti Tan Malaka. Orang-orang yang mau memaksakan otaknya berfikir keras terhadap realitas yang terjadi.

Di dalam Madilog, ia mengungkapkan betapa dirinya menulis dalam situasi keterbatasan. Ia menulis ditengah bayang-bayang intel yang kapan saja bisa mencium aktivitasnya. Kondisi itu membuatnya tidak memiliki banyak waktu untuk memperdalam referensi dengan membaca pustaka di banyak perpustakaan besar. Ia tak bisa leluasa meminjam banyak buku yang berkaitan dengan tulisannya. Hebatnya, Tan tak pernah berhenti menulis. Kelak, tulisannya menembus pikiran banyak orang. Karya-karyanya menjadi bacaan wajib setiap aktivis serta praktisi perubahan.

Saya mengamini ungkapannya yang fenomenal yakni “Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada di atas bumi!”

Kata-katanya menggugah. Sosoknya digandrungi oleh mereka yang benci terhadap kelaliman rezim. Bahkan belum lama ini, salah satu stasiun televisi swasta membahas kiprah bapak republik itu secara mendalam.

Tan Malaka selalu abadi. Suaranya melintasi zaman dan terus nyaring.

Mataram, 27 Agustus 2017

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.