9/09/2017

Selapis Hikmah di Balik Konflik Etnis di Sumbawa

Konflik Sumbawa 2013

Setiap daerah tak hanya menyimpan kisah tentang kemajuan dan kemunduran, tapi juga menjadi rahim dari begitu banyak kisah yang dibuat oleh manusia-manusia yang berjejalan di dalamnya. Melalui kisah itu, kita bisa bercermin dan menemukan banyak pesan dan hikmah yang selalu bisa diserap untuk kehidupan mendatang.

Sumbawa adalah titik balik dalam kehidupan saya. Beberapa tahun silam, saya selalu menjalani hidup dengan memakai sudut pandang sebagai korban. Suku Samawa yang mendiami Kabupaten Sumbawa adalah etnis yang begitu toleran. Mereka berbaur dengan banyak etnis lain secara terbuka dan penuh toleransi. Mbojo, Sasak, Bugis hingga Jawa. Tapi belakangan, tiba-tiba suku Bali datang mengganggu.

Suku Samawa selalu dizalimi. Jadi wajar saja jika kami melawan balik untuk mempertahankan diri. Wajar saja kalau kami membalas. Saya selalu yakin bahwa setiap saat suku Samawa diusik dan diganggu, maka ketika ada kesempatan mereka harus mengusik balik, membalas.

Saya baru saja mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Mataram, Nusa Tenggara Barat ketika konflik antar suku di Sumbawa pecah. Kerusuhan itu menyeret dua etnis, yakni suku Samawa dan suku Bali.

Kejadian itu berawal dari adanya informasi meninggalnya seorang gadis etnis Sumbawa dengan tubuh penuh luka lebam dan pakaian dalam robek. Namun saat keluarga korban melaporkan hal tersebut ke Mapolres Sumbawa, pihak kepolisian justru menyatakan gadis tersebut tewas akibat kecelakaan, sementara keluarga korban mengaku anak gadisnya ini berpacaran dengan seorang anggota polisi dari etnis Bali.

Saat itu, warga sempat melakukan aksi unjuk rasa di depan Mapolres Sumbawa Besar, namun jawaban dari pihak kepolisian tetap sama. Warga yang kecewa akhirnya bertindak brutal. Mereka melakukan pengrusakan dan pembakaran di sepanjang Jalan. Ribuan warga dari etnis Samawa melakukan sweeping terhadap rumah-rumah, ruko-ruko, dan mobil-mobil etnis Bali. Seketika Sumbawa menjadi kota horor yang mencekam.

Mendengar berita itu, saya sangat marah. Tapi di sisi lain, saya juga merasa was-was dan ketakutan. Saya marah kepada orang-orang Bali karena sudah sejak lama saya percaya bahwa mereka melakukan berbagai hal untuk mengganggu kehidupan masyarakat Sumbawa. Mereka menguasai pemerintah, untuk memastikan orang-orang Sumbawa terpinggirkan.

Mereka menguasai ekonomi agar masyarakat Sumbawa tetap hidup dalam kemiskinan. Dengan uang, mereka membeli banyak lahan di Sumbawa, lalu mulai mempekerjakan orang-orang Sumbawa untuk menggarapnya.

Kini mereka lebih menggila lagi. Di Sumbawa, mereka sudah berani melakukan tindak kekerasan. Mereka terang-terangan melukai dan membunuh orang Sumbawa. Mereka benar-benar musuh yang nyata. Darah saya mendidih, rasanya ingin segera saya terbang ke Sumbawa dan ikut melakukan penjarahan demi melampiaskan emosi.

Di satu sisi, saya juga merasa ketakutan sebab ketika itu, saya tinggal di satu kosan milik orang Bali di Lombok. Kerusuhan antar suku di Sumbawa bisa berimbas pada seluruh mahasiswa Sumbawa yang menempuh pendidikan di Lombok, mengingat banyaknya etnis Bali yang menetap di sini. Mereka bisa saja melakukan sweeping terhadap seluruh etnis Sumbawa di Lombok demi menuntut balas. Saat itu saya memilih berdiam diri di kamar sembari memantau keadaan.

Di media sosial, foto-foto kerusuhan itu berseliweran. Sungguh mengerikan. Toko-toko yang dulunya megah, kini dibakar massa. Rumah-rumah mereka dijarah. Orang-orang terlihat asik menenteng benda tajam di jalanan. Mereka seperti kerasukan, lalu hendak melibas apa saja yang nampak di depan mata. Aksi itu membuat etnis Bali ketakutan. Mereka kemudian melarikan diri di pos-pos kepolisian.

Tentu saja fenomena ini semakin membuat saya resah. Saya adalah mahasiswa Sumbawa yang tinggal di satu komplek yang dipenuhi etnis Bali di Lombok. Apa yang akan mereka lakukan saat saya keluar dari kamar ini? Lebih-lebih pemilik kosan saya adalah seorang hindu yang taat.

Saya tak tau harus berbuat apa. Yang muncul di benak hanyalah bagaimana cara meninggalkan tempat itu dengan segera dan mengamankan diri. Bila perlu meninggalkan Lombok dan pulang ke Sumbawa secepatnya.

Tak lama kemudian, pemilik kosan datang menyambangi saya. Rupanya berita ini sudah sampai ke telinga lelaki paruh baya itu. Di luar dugaan, Ia justru menyarankan saya untuk tetap tinggal hingga keadaan di Sumbawa benar-benar aman. Ia juga mengajak saya tinggal di rumahnya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Beberapa jenak saya terdiam. Saya tak menyangka bahwa bapak itu tidak terprovokasi sedikitpun atas apa yang terjadi di Sumbawa. Ia tidak menganggap saya sebagai musuh yang harus diganyang demi membalas amuk warga Sumbawa terhadap saudaranya. Teman-teman hindu saya juga demikian. Mereka menghubungi saya beberapa saat kemudian. Mereka menanyakan kabar, lalu menawarkan tempat tiggal.

Mendapati kenyataan itu, saya terduduk lesu. Saya kemudian membayangkan bagaimana bila orang-orang di Bali sana memandang kami orang Sumbawa sama seperti saya memandang mereka selama ini? Bagaimana bila kerusuhan itu hanyalah satu kebodohan karena cara pandang atau hanya karena provokasi kelompok-kelompok tertentu yang ingin mengambil keuntungan? Bagaimana bila cara pandang itu kita hilangkan begitu saja? Tentu kerusuhan yang mengerikan ini tak perlu ada, bukan?

Batin saya mendadak basah. Saya menangis sejadi-jadinya. Selama ini saya hanya melihat apa yang ingin saya lihat. Saya kumpulkan fakta-fakta dalam memori saya, yang mendukung kesimpulan bahwa orang-orang Bali itu memusuhi masyarakat Sumbawa. Ada banyak fakta yang tidak mendukung, tapi tetap saya abaikan. Misalnya, tetangga kami adalah etnis Bali tetapi kami hidup rukun dengan mereka selama bertahun-tahun lamanya.

Teman saya bekerja di satu institusi pemerintah di Sumbawa. Ia mengakui bahwa dirinya banyak di bantu oleh orang Bali yang telah menjadi senior di tempat itu saat kepengurusan. Fakta itu juga saya abaikan. Saya lebih percaya pada cerita-cerita bahwa orang Bali akan menjarah kekayaan alam masyarakat Sumbawa secara perlahan, lalu mengusir mereka dari tanahnya sendiri meski cerita itu sedikit bertentangan dengan pemahaman saya.

Saat itu saya bongkar seluruh memori saya, saya ubah pikiran saya. Saya membaca kisah-kisah damai di Sumbawa yang sudah berlangsung ratusan tahun. Saya ingat teman-teman hindu saya di kampus, mereka adalah orang-orang baik.

Saya juga membaca ulang sejarah pertempuran Ki Pasung Grigis dari Bali dengan raja Deldela Nata dari Sumbawa. Namun bukankah pertempuran itu terjadi akibat interpensi Gajah Mada dari Majapahit yang ingin menaklukkan kerajaan Sumbawa? Bukankah Gajah Mada yang telah lebih dulu menaklukkan Bali, memaksa Ki Pasung Grigis untuk memimpin pasukan?

Dunia tiba-tiba menjadi terlihat berbeda. Sumbawa yang saya tangisi adalah Sumbawa yang ketika itu sesak oleh nafsu amarah dan nafas kekejaman. Bukan lagi Sumbawa yang masyarakatnya dizalimi oleh etnis lain. Sumbawa yang saya tangisi adalah Sumbawa yang mudah terprovokasi lalu mengacungkan golok dan mengancam bunuh pada pelakunya.

Tragedi itu membuat saya termenung. Betapa banyak darah yang harus ditumpahkan karena perselisihan di banyak daerah di Indonesia. Betapa banyak anak yang harus menjadi yatim piatu, wanita yang menjanda, seorang ayah yang kehilangan anak dan isterinya akibat konflik dan krisis kemanusiaan. Berapa banyak kerugian finansial dan ekonomi yang diakibatkan konflik itu. Padahal, kerusuhan bisa saja dihentikan hanya dengan cara sederhana, yakni berhenti memandang pihak lain sebagai musuh.

Cara itu berlaku untuk semua tempat. Ambon, Sampit, Poso, Tolikara, Sambas, Tanjung Balai, Aceh Singkil, dimanapun itu.

Bagi saya, kerusuhan di Sumbawa adalah selapis hikmah yang mencerahkan. Kerusuhan itu mengajarkan saya tentang banyak hal. Saya bersyukur sebab memiliki kesempatan untuk memperbaiki cara berpikir saya.

Semoga di luar sana, ada lebih banyak orang yang mau menjadikan setiap tragedi sebagai renungan dan pembelajaran. Semoga di luar sana, masih banyak orang yang berpikir bijak bahwa jauh lebih penting menciptakan embun perdamaian, ketimbang memelihara api amarah.

Berhenti saling memusuhi.

Mataram, 24 Agustus 2017

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba essay konflik dan krisis kemanusiaan yang diadakan oleh ICRC bekerjasama dengan Qureta.

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.