9/16/2017

Sensasi Wisata Satwa di Lombok Elephant Park Bersama Blue Bird Group


Lombok tak hanya terkenal dengan sederet pantai menawan yang pasirnya sehalus tepung. Tapi pulau ini juga memiliki segudang objek wisata memukau yang susah digambarkan dalam kata. Sekali menginjakkan kaki di Lombok, seakan tak ada keinginan untuk kembali pulang.

Sebagai mahasiswa Sumbawa yang tinggal di Mataram, saya cukup beruntung sebab jarak berbagai tempat wisata di Lombok hanya sepenanak nasi. Sialnya, saya justru jarang berkeliling, sebab terkendala waktu dan uang saku. Saat sekali mendapat kesempatan, saya tak akan menyia-nyiakannya.

***

Dua hari berturut-turut saya berkesempatan meliput agenda Blue Bird Taksi Lombok. Pada momentum kali ini, mereka hendak melakukan kerjasama dengan Lombok Elephant Park, satu tempat wisata konservasi bertajuk kebun binatang yang baru saja aktif beroperasi dalam beberapa bulan terakhir.

Kesan saya, tempat ini menyajikan satu wahana rekreasi yang menarik sebab memungkinkan para pengunjung untuk berinteraksi lansung dengan berbagai satwa langka yang dilindungi. Sebagai kawasan konservasi, Lombok Elephant Park tentu sangat pantas menjadi tetirah untuk melepas penat.

Simpanse

Kawanan burung

Beruang madu

Buaya air asin

Dalam kunjungan kemarin, kami disambut hangat oleh Ketut Suadika, presiden direktur Lombok Elephant Park. Beliau adalah penggemar satwa yang humoris. Sebelum menandatangani kontrak kerjasama, ia mempersilahkan kami untuk menjajal kawasan wisata itu terlebih dahulu. Tak mau buang-buang waktu, ditemani beberapa petugas, kamipun segera berkeliling.

Tempat pertama yang saya singgahi adalah kandang burung nuri. Kandang itu terbuat dari besi dengan tinggi sekitar 3 tombak. Di situ ada beberapa ekor burung nuri dan jalak bali yang sungguh cantik. Saya sempat memberi mereka makan dari buah pisang yang telah dipotong kecil-kecil.

Selanjutnya saya mengunjungi kolam buaya. Di sudut lain, rombongan tengah asik berfoto dengan ular berukuran besar yang sudah jinak. Saya tak ikut berfoto sebab tak berani memegangi hewan bersisik cokelat itu. Saya memilih mengamati buaya. Kata petugas, buaya itu adalah jenis buaya air asin. Ia dibawa dari gili air setelah sebelumnya petugas keamanan laut menggagalkan penyelundupannya ke luar negeri.

Setelah itu, saya kembali menyusuri jalan setapak yang kedua sisinya dipagari sebagai pembatas. Di sepanjang jalan, saya menyaksikan banyak sekali koleksi satwa di tempat ini. Layaknya kebun binatang pada umumnya, Lombok Elephant Park juga mengoleksi beberapa jenis satwa seperti kambing hutan, iguana Afrika, bekantan Kalimantan, rusa, simpanse, landak, beruang madu, kudanil, serta aneka macam burung.

Memberi makan burung nuri

Kudanil

Gajah

Saya tak henti berjalan. Di satu bagian, saya melihat beberapa ekor gajah. Para pengunjung tentu bisa menaiki gajah-gajah di sini dengan biaya tiket yang tergolong murah. Seorang wanita memberitahu saya bahwa saat ini, koleksi gajah di Lombok Elephant Park berjumlah 4 ekor. Nantinya, ada tamabahan 7 ekor yang akan didatangkan. Wanita itu adalah dokter hewan yang bertugas mengecek secara rutin kondisi satwa di tempat ini.

Tak hanya itu, ia juga bercerita bahwa Lombok Elephant Park tengah menyediakan fasilitas mandi lumpur. Fasilitas itu ditujukan agar setiap pengunjung bisa leluasa menikmati sensasi mandi lumpur dengan hewan terbesar di dunia. Melihat gajah-gajah di tempat ini, saya teringat sosok Mammoth dalam film Ice Age yang ukuran tubuhnya sungguh menakjubkan.

Saya mengagumi konsep kebun binatang pertama di Lombok ini. Selain menjadi ruang rekreasi, Lombok Elephant Park juga bisa dijadikan sebagai sarana edukasi bagi setiap pengunjung. Tempat ini serupa laboratorium hewan yang memungkinkan setiap pengunjung untuk mengamati, mengenali, serta merasakan denyut nadi berbagai satwa dari belahan bumi.

Sebagai orang desa, ada banyak hal menarik yang saya rasakan. Tempat seperti ini adalah wahana yang tak bisa ditemukan di kampung halaman. Saya sangat bersyukur sebab memiliki kesempatan untuk berkunjung.

Setelah puas mengabadikan gambar bersama gajah, saya melangkah ke aula utama. Tempat itu dibangun persis di tengah taman wisata Lombok Elephant Park yang berbentuk lingkaran. Dari tempat itu, kita bisa melihat pemandangan sekeliling yang dipenuhi satwa sambil menikmati segelas kopi, teh, ataupun banyak menu lain yang tersedia.

Tak lama kemudian, penandatangan kontrak kerjasamapun dilakukan. Saya tak boleh alpa pada moment ini, sebab saya datang sebagai blogger yang ditugaskan untuk mendokumentasikan kegiatan, membuat satu informasi, lalu menyebarkannya di ranah maya.

Ketua Suadika bersama isrtinya

Penandatanganan kontrak kerjasama

Foto bersama

Seperti biasa, sambutan singkat kedua belah pihak ikut mengiringi proses kerjasama itu. Menggandeng Lombok Elephant Park, Blue Bird Taksi berharap bisa menyediakan pelayanan maksimal bagi pelanggan. Dengan adanya proses kerjasama itu, para wisatawan yang hendak mengunjungi Lombok Elephat Park bisa mendapatkan diskon dan kemudahan.

Setiap pengunjung bisa menggunakan jasa transportasi Blue Bird Taksi dengan cara memesannya melalui aplikasi resmi di Play Store, lalu menunjukkan history trip pada menejemen Lombok Elephant Park. Dengan cara itu, mereka bisa mendapatkan potongan harga tiket masuk ke area wisata sebesar 15 persen.

Hal serupa juga dilakukan Blue Bird Taksi dengan beberapa unit usaha lain di Lombok. Mereka menggaet restoran, pusat oleh-oleh, hingga spot wisata demi menunjang pelayanan serta kepuasan konsumen. Tak heran, jika perusahaan yang telah berdiri sejak 1972 itu masih bertahan hingga sekarang. Mereka selalu berusaha berafiliasi dengan selera pasar, melakukan berbagai langkah inovatif di tengah iklim persaingan dunia usaha modern yang serba kompetitif.

***

Sebenarnya, saya tak ingin cepat-cepat beranjak dari Lombok Elephant Park. Hanya saja, waktu memang tak selalu mengijinkan. Yang saya rasakan, tempat ini menyimpan sensasi wisata yang amat berbeda. Di tengah pesatnya perkembangan industri pariwisata Lombok, tempat ini hadir sebagai satu kawasan konservasi satwa yang ramah pengunjung.

Di tempat ini, kita leluasa menikmati panorama alam yang asri, udara sejuk khas perbukitan, serta riak-riak satwa yang bersenandung lirih di dalamnya. Ah, saya ingin segera kembali.

Bersambung...

Mataram, 16 September 2017

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.