10/31/2017

Selapis Kesan Saat Pelatihan Duta Damai

Duta Damai BNPT Sasambo Regional Mataram

Pekan silam, saya mengikuti program Duta Damai Dunia Maya yang digagas oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia. Tak saya sangka, pelatihan itu menjadi pelatihan yang sangat mengesankan. Saya bertemu banyak sahabat-sahabat yang menggeluti dunia teknologi informasi serta aktif berselancar di dunia maya.

Kami diikat oleh visi yang sama, yakni bagaimana menebar pesan damai melalui media sosial. Di ranah maya, kami diarahkan untuk lebih aktif dalam memproduksi konten serta informasi positif demi melawan segala bentuk propaganda radikal dan terorisme.

***

Mulanya, saya membayangkan pelatihan Duta Damai sama halnya dengan banyak pelatihan lain yang pernah saya ikuti. Dimana, para pemateri lebih aktif ketimbang peserta dan berlansung dalam waktu singkat. Dugaan saya salah. Di Lombok Astoria Hotel Mataram, sebanyak 60 peserta terpilih dilatih, dibentuk, lalu bergerak bersama-sama dalam satu barisan guna memerangi aksi terorisme dan radikalisme di dunia maya.

Mereka yang terpilih adalah para blogger, design komunikasi visual, hingga para praktisi IT. Mereka kemudian diajari cara membuat web, mengelola konten, hingga membuat satu tulisan yang berkualitas. Harapannya, kelak mereka inilah yang akan mengubah landscape dunia maya, menentukan persepsi dan opini publik di masa depan, lalu merancang perubahan melalui langkah-langkah sederhana.

Pelatihan itu dikemas selama tiga hari. Di hari pertama, para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok yang nantinya akan mendapatkan pendalaman materi terkait bidang yang diikuti. Setelah itu, barulah mereka berkolaborasi demi memproduksi satu konten yang nantinya akan dipresentasikan di akhir kegiatan.

Seorang pemateri menuturkan, pelatihan duta damai dunia maya telah dilaksanakan di banyak kota di Indonesia termasuk Malang, Jogjakarta, hingga Banjarmasin. Akan tetapi baru tahun ini, kegiatan yang diinisiasi lansung oleh BNPT tersebut bisa terselenggara di Bumi Seribu Masjid.

Apapun itu, yang jelas saya sangat senang bisa tergabung dalam satu barisan muda kreatif serta berkesempatan mendapat bimbingan dari para pemateri yang berpengalaman. Dalam banyak kesempatan, saya selalu memposisikan diri sebagai seorang murid yang berhadapan dengan para guru berusia muda, yang telah lama bermain di ranah digital.

Harapan saya, kegiatan semacam ini haruslah terus diadakan. Mengingat dewasa ini, Indonesia menjadi salah satu negara yang mengandung begitu banyak gembong terorisme. Jika dahulu, sebelum teknologi informasi menjangkau setiap rumah, doktrinisasi oleh kelompok-kelompok garis keras ini mungkin masih dilakukan secara lansung di tempat-tempat tertentu.

Belakangan, sejak media sosial menjadi standarisasi publik serta taman bermain bagi semua kalangan, mereka kemudian beralih. Mereka membentuk sindikat, membangun satu pola baru yang lebih rapi dan tertutup. Tentu saja yang menjadi sasaran utama adalah para generasi muda labil secara moral serta dangkal pemahaman kebangsaan maupun agama. Sehingga sangat mudah terpantik api propaganda.

Fenomena media sosial telah memungkinkan segala sesuatu terjadi begitu instant. Saya mengamini tulisan Thomas Friedman dalam The World Is Flat tentang realitas dunia baru yang kian datar. Konsekuensi logis dari perkembangan dunia semacam ini iyalah kian mengaburnya segala batasan antar manusia satu dengan yang lainnya. Dalam konteks gerakan terorisme kekinian, prosesi yang teramat sakral seperti pembaiatan, dapat dengan mudah dilakukan secara online. Hah???

Dunia teknologi informasi telah menjelma sebagai atmosfer demokratis yang mengubah semua tatanan. Hanya bermodalkan ujung jari, orang-orang dengan mudah melempar informasi ke ruang maya. Informasi itu lalu beresonansi dengan semesta, menyala-nyala dipikiran banyak orang, hingga menyebar serupa virus.

Tentu tak masalah jika informasi yang dibagikan memang bertujuan untuk mencerahkan publik. Tapi bagaimana jika ternyata yang telah tersebar secara viral itu justru berita bohong, hoax, serta memuat aksi propaganda terhadap kelompok tertentu?

Kesan saya, melibatkan kaum muda dalam satu gerakan kontra propaganda sangatlah tepat. Tinggal bagaimana menjaga agar semangat ini terus menyala. Setelah resmi tergabung dalam satu barisan duta damai, saya mempelajari banyak hal. Dari berbagai penjuru tanah air, saya menemukan suara-suara yang diekspresikan melalui jari-jemari dan kreatifitas kaum muda yang memutus jarak dan mendekatkan semua gagasan.

Mereka yang memproduksi konten perdamaian melalui tulisan, design grafik, serta melalui video itu berada dalam gelombang pemikiran yang sama. Mereka tergerak untuk bersuara atas sesuatu yang amat penting. Mereka sama-sama mengacungkan telunjuk demi mempertahankan keutuhan bangsa.

Ada nada khawatir, cemas, dan lirih yang coba dirangkum dalam ide. Di situ, saya juga menemukan optimisme yang kuat bahwa bangsa ini akan semakin perkasa sebab banyak orang baik yang tersebar di mana-mana. Indonesia akan selalu damai dan menjadi rumah yang nyaman untuk semua orang. Bahwa Indonesia akan menjadi negeri yang paling unggul saat semua warganya saling menguatkan, toleran, serta tak henti menyuarakan hal-hal baik tentang bangsa ini.

Jika seabad silam Karl Marx pernah berkata, "Kaum proletar sedunia, bersatulah!", maka di abad ini, kita bisa berkata, "Kaum muda sedunia bersatulah! Saatnya menyuarakan pesan perdamaian! Merdeka!

Mataram, 01 November 2017

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.