12/22/2017

Pilkada itu Lebih Kejam dari Perempuan

Ilustrasi (Photo: acehsatu.com)

Di satu group facebook, orang-orang tengah berdebat tentang siapa yang lebih pantas memimpin NTB paska Tuan Guru Bajang. Mereka sama-sama memuji jagoan masing-masing. Mereka hendak mengumumkan kepada publik bahwa pasangan yang mereka usung adalah pahlawan yang sebenarnya. Di media sosial, mereka sesumbar bahwa sang calon layaknya manusia dengan trah separuh dewa yang turun dari langit, lalu berniat mengentaskan segala permasalahan di bumi sejuta sapi. Benarkah? Cuih!

Entah kenapa, fenomena pemilihan kepala daerah selalu seperti ini. Sebagaimana lima tahun silam, praktik menebar kebohongan secara massal melalui pilkada kembali digelar. Mereka, yang menyebut dirinya pemimpin itu, akan kembali ‘jual kecap’ melalui tim sukses dan simpatisan demi menjelekkan kandidat lain, lalu berjanji untuk mendengarkan suara hati banyak orang.

Tak percaya? Marilah kita mencermati bakal calon satu persatu. Biarpun semuanya belum mendeklarasikan diri secara resmi, tetapi siapa-siapa yang akan bertarung di pilkada NTB nanti sudah bisa dipastikan. Ada kandidat yang menjabat sebagai bupati, walikota, hingga DPR RI. Herannya, masih berani pula mereka berjanji-janji, padahal rakyatnya banyak yang miskin merana dan tak punya akses atas kehidupan yang layak.

Ah, kekuasaan memang kerap menenggelamkan sisi kemanusiaan. Demi meraih kursi kuasa, seseorang rela melakukan apa saja. Mereka yang memasuki arena politik, serupa gladiator yang bersiap menghunus pedang. Selain beradu ketahanan mental dan kelihaian, hal yang sangat penting tentulah menyangkut anggaran. Untuk memenangkan pertarungan politik, miliaran, bahkan triliunan uang rela dihamburkan.

Suatu hari, saya pernah berdiskusi dengan seorang politisi. Ia menuturkan bahwa demi menjabat sebagai anggota dewan, dirinya bahkan mengucurkan uang hingga miliaran rupiah. Dalam dunia politik, nominal sebanyak itu bukanlah jumlah yang fantastis. Sebab, bagi mereka yang terjun ke dalam rimba raya politik, mereka terlebih dahulu harus membangun satu pasukan yang siap berjibaku demi kemenangan.

Seorang doktor lulusan Ohio University pernah menulis tentang politik sebagai industri. Yang ia maksud dengan industri adalah satu mekanisme atau mata rantai yang melibatkan banyak bagian, dan masing-masing bagian itu saling membutuhkan. Lihat saja mereka yang bertarung di arena pilkada. Mereka di-backup oleh banyak tim, mulai dari tim citra, tim akademis, tim preman, hingga tim pemasang baliho.

Jika kita memiliki akses pada satu tim sukses, marilah kita hitung berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk menggerakkan mesin politik itu. Apakah semiliar? Rasanya, dana semiliar tak akan cukup untuk pilkada. Terlebih untuk konteks pilkada kekinian yang dikenal memuat begitu banyak kepentingan serta cost yang terlampau tinggi. Uang menjadi benda wajib yang dikucurkan demi melenggang ke tangga kuasa. Politik butuh modal. Minimal untuk memanaskan mesin politik atau mengalirkan energi pada setiap sendi agar mesin itu terus bekerja.

Entah kenapa, saya tak pernah percaya pada proses politik bernama pilkada. Terlebih pada tim sukses. Mereka ibarat para penyabung ayam yang menjelang pertandingan sibuk mengelus-elus jagoannya. Pilkada tak ubahnya sebuah permainan kartu. Pada akhirnya, mereka yang menang akan sukses dan memanen rezeki, sedang yang kalah akan menangis sejadi-jadinya ketika membayangkan uang yang terlanjur dibelanjakan.

Pilkada memang selalu bisa diinterpretasikan dari banyak sisi. Bagi rakyat, pilkada sudah barang tentu adalah ajang mendengarkan janji-janji surga. Bagi politisi, pilkada adalah peluang untuk menancapkan kekuatan. Bagi birokrat, pilkada adalah rasa was-was apakah kelak, posisinya akan digeser ataukah tidak. Bagi pengusaha, pilkada adalah arena untuk memasang taruhan dan siap-siap memanen keuntungan berlipat jika menang. Bagi preman, pilkada adalah saat yang tepat untuk memanen duit lewat kerja-kerja intimidasi.

Bagi saya, pilkada itu lebih kejam dari perempuan. Sebab, untuk kesekian kalinya kita memelihara harapan yang kuat sebelum akhirnya dipatahkan oleh para centeng-centeng kelas kancil serta pemimpin yang pongah atas sederet prestasinya, namun minim pengabdian kepada masyarakat.

Menurut kalian, pilkada itu bagaimana?

Mataram, 21 Desember 2017

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.