1/16/2018

Gus Dur di Mata Orang Jepang

Gua Dur (gambar: sisterislam/twitter)

Siapa yang tidak kenal Gus Dur? Mantan Ketua Umum PBNU, sekaligus presiden ke-4 Indonesia ini merupakan salah satu tokoh bangsa yang amat fenomenal. Ia adalah cendikiawan muslim tanah air yang dikagumi banyak orang. Gagasan-gagasannya kontroversial, termasuk mengeluarkan dekrit pembubaran DPR/MPR.

Di zaman presiden Soeharto, Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang aktif mengkritisi penguasa. Setelah orde baru tumbang, ia pun terjun ke dunia politik, yang lalu mengantarkannya menjadi presiden. Posisi Gus Dur memang tak bertahan lama. Terhitung, masa jabatannya hanya berlansung selama 1 tahun 9 bulan.

Banjir kritikan karena kunjungan luar negeri yang demikian banyak, pertentangannya dengan DPR, hingga masalah investasi yang tidak jelas membuat Gus Dur terpaksa diberhentikan dari kursi kepresidenan. Posisinya kumudian digantikan oleh sang wakil, yakni Megawati Sukarnoputri.

Kisah tentang Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur saya temukan dalam buku Islam di Mata Orang Jepang karya Hisanori Kato, terbitan Kompas 2014 lalu. Buku setebal 176 halaman itu memuat cerita perjalanan Kato saat melakukan riset tentang agama islam di Indonesia.

Kato menjadikan beberapa tokoh sebagai pintu masuk untuk memahami bagaimana islam di Indonesia ditafsirkan secara berbeda. Ia meniti islam diantara lautan pemikiran. Ia merajut serpihan pandangan dari pertautan dengan banyak orang, lalu berusaha menemukan sendiri seperti apa islam yang sebenarnya. Sebagai peneliti, Kato tidak fokus pada ajaran dan teks keislaman, tetapi fokus pada bagaimana islam itu dihayati dan dibumikan dalam kehidupan penganutnya.

Kato mewawancarai beberapa tokoh yang menurutnya menjadi refresentasi islam di Indonesia. Ia menulis pertemuannya dengan Bismar Siregar, Mohamad Sobary, Ismail Yusanto (Jubir HTI), Ulil Abshar Abdalla, Eka Jaya (anggota FPI), Fadzli Dzon, Gus Dur, hingga tokoh perempuan seperti Lili Munir. Ia mengaku senang bisa mewawancarai banyak orang. Di setiap perjumpaan itu, ia mengaku selalu menyerap keping inspirasi.

Menurut Kato, agama dalam kehidupan di Indonesia memainkan peran yang begitu dominan. Hal ini bertolak belakang dengan apa yang terjadi di negara asalnya. Di sekolah umum di Jepang, kata “agama” dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Bisa disimpulkan, sangat tidak mungkin agama menjadi topik pembicaraan, kecuali dalam pelajaran sejarah. Berbeda halnya dengan pendidikan di Indonesia yang meletakan agama sebagai sesuatu yang amat penting.

Di satu bagian, Kato menceritakan pertemuannya dengan Gus Dur. Ia mengaku telah lama memendam hasrat untuk memawawancarai pemimpin agama islam yang namanya tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga di dunia itu. Kato menemui Gus Dur pertama kali di kantor pusat Nahdlatul Ulama, Jakarta pada tahun 1996.

Topik pembicaraan mereka saat itu adalah hubungan antara agama islam dan demokrasi. Gus Dur mengungkapkan dengan semangat bahwa terdapat kesamaan antara agama islam dengan demokrasi yang disebut dalam masyarakat Barat. Menyoal “benturan peradaban” yang ditulis Samuel Huntington, ia mengatakan dengan jelas kalau itu keliru. “Yang disebut demokrasi bukan nilai yang hanya ada di Barat, semua agama termasuk agama islam demokratis, mempunyai nilai atas seluruh umat manusia.” Katanya.

Gus Dur menekankan bahwa nilai-nilai demokrasi bisa diwujudkan dalam masing-masing budaya. Bersamaan dengan itu, masyarakat Indonesia seharusnya berkembang dengan tetap memelihara aspek budaya. “Saya ingin membentuk masyarakat Indonesia yang memiliki toleransi dan keluwesan, bukan masyarakat islam” tambah Gus Dur kepada Kato.

Gus Dur (gambar: infobiografi.com)

Gus Dur yang Kharismatik

Menurut Kato, Gus Dur begitu mudah menyampaikan pikiran-pikirannya tentang kesetaaran dan demokrasi, tak lain karena kharismanya yang begitu kuat. Ia menceritakan pengalamannya saat menemani Gus Dur memberi ceramah di sebuah masjid di Jakarta Utara. Hari itu, Gus Dur berbicara kepada jamaah yang hadir tentang pentingnya masyarakat islam melindungi dan hidup berdampingan dengan kelompok minoritas yakni agama kristen, budha, hindu, dan lalin-lain.

Saat itu, Kato menyaksikan orang-orang yang memadati aula mendengarkan ceramah dengan takzim. Ia melihat betapa pikiran-pikiran Gus Dur bisa dihargai. Tak semua orang yang berbicara tentang gagasan besar mudah diterima. Sebagai contoh, Ulil Abshar Abdalla, aktivis islam liberal muda yang juga begitu terinspirasi dengan sosok Gus Dur, belum tentu mendapat apresiasi masyarakat luas. Malah, dalam sati publikasi, Ulil mengaku begitu banyak mendapat ancaman saat mendirikan Jaringan Islam Liberal (JIL).

Lalu, dari mana gerangan munculnya kharisma Gus Dur? Jika dilihat dari silsilahnya, keluarga Gus Dur mempunyai garis keturunan elite di Indonesia. Kakeknya, Hasyim Asy’ari adalah ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama, salah satu ormas islam terbesar di Indonesia. Ayahnya, Wahid Hasyim dikenal sebagai menteri agama pertama tang juga ikut berjasa dalam pembentukan fondasi negara.

Sejak usia muda, Gus Dur memang telah dipandang sebagai tokoh yang mewarisi pemikiran besar dari ayah dan kakeknya. Ia belajar di Mesir dan Irak, lalu pulang ke Indonesia sebagai kritikus pemerintah. Pada tahun 1984, Gus Dur ditunjuk sebagai ketua PBNU dan menjadi presiden pada kurun waktu antara 1999-2001.

Gus Dur Sebagai Politisi

Banyak orang yang mengkritisi Gus Dur sebagai politisi. Perkataannya yang blak-blakan seringkali memunculkan antipati. Namun, siapa pun akan mengakui bahwa jasanya kian besar dalam menumbuhkan demokratisasi, kebebasan memeluk agama, dan toleransi antar umat dalam sejarah republik ini.

Setelah terpilih sebagai presiden, Gus Dur mengeluarkan begitu banyak kebijakan yang berkaitan dengan domokratisasi. Ia membebaskan tahanan politik yang dicurigai terlibat dalam komunisme, memperbolehkan budaya China yang sebelumnya dilarang, memberi hak yang sama kepada semua agama, hingga menutup departemen yang berhubungan dengan aktivitas intelijen.

Kato melihat Gus Dur sebagai sosok pemimpin yang begitu dekat dengan rakyat. Tak jarang, ia melakukan shalat jumat di masjid istana kepresidenan, lalu meluangkan waktu untuk berbincang dengan masyarakat umum. Ia tipikal pemimpin yang terbuka. Suatu hari, sekelompok aktivis yang menentang kebijakan ekonomi pemerintah melakukan demonstrasi di depan istana. Saat itu, Gus Dur justru mengundang mereka ke dalam istana untuk menyampaikan pendapatnya.

Kato juga sempat mendampingi Gus Dur saat mengisi kuliah umum di Jepang. Setelah perkuliahan selesai, ia yang dijadwalkan untuk menghadiri acara yang lain segera menuju mobilnya. Melihat itu, para mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang menghampiri Gus Dur untuk memberi salam. Meski panitia acara berusaha menghalangi, Gus Dur tetap berdiri dan berbicara dengan para mahasiswa itu. “Asalnya dari mana? Belajar apa di sini? Jepang bagaimana?” Demikian pertanyaan Gus Dur kepada mereka.

Sikap Mendasar Gusdur

Di antara sekian banyak pemimpin agama islam, Gus Dur adalah yang paling banyak diwawancarai Kato. Ia mencatat, ada tigal hal yang menjadi sikap mendasar dari tokoh yang satu ini. Pertama, ia selalu bersikap kritis kepada orang yang mempunyai kekuasaan, kedua memperlakukan agama islam sebagai urusan pribadi, dan ketiga mencari pola islam yang baru.

Tak hanya itu, Kato juga melihat Gus Dur sebagai sosok yang paling sering melontarkan lelucon. Dasar dari lelucon-leluconnya itu selalu saja berupa sindiran terhadap penguasa. Tak jarang, ia menjadikan Suharto dan Ibu Tien sebagai bahannya. Dari sana, Kato menyadari betapa Gus Dur memiliki jiwa pemberontakan terhadap kekuasaan yang besar. Dan itu sebenarnya menunjukkan keberpihakannya terhadap rakyat lemah.

***

Di akhir kisah, tak lupa Kato mengenang pertemuan terakhirnya dengan bapak pluralisme Indonesia itu. September 2009, Gus Dur tengah menjalani perawatan di rumah sakit. Kato yang berkunjung ke Jakarta dalam waktu terbatas, berusaha menyempatkan diri untuk melihat kondisi sahabatnya. Di sana, Gus Dur yang bangkit dari tempat tidur masih tampak sehat. Tak ada perubahan sedikitpun pada fisiknya.

“Gus kondisi anda apa sudah jauh membaik? Apa yang anda rasa?”
“Ini hanya komplikasi, tetapi sekarang sudah lebih baik” Jawabnya.
“Kalau begitu, kenapa anda tidak boleh pulang? Berapa lama lagi anda di opname?”
“Kira-kira tiga bulan lagi saya harus dirawat di sini” Kata Gus Dur.

Setelah pertemuan itu, Kato sedikit lebih tenang saat meninggalkan rumah sakit. Namun, persis tiga bulan kemudian, tepatnya di akhir Desember 2009, sebuah kabar duka berhembus. Gus Dur meninggal dunia. Sosok yang namanya seharum bunga itu telah tiada. Ia seakan telah meramalkan akhir dari perjalanan hidupnya sendiri.

Gus Dur adalah fenomena langka. Kepergiannya menyisahkan luka mendalam bagi banyak orang. Di tengah kondisi bangsa yang serupa benang kusut, kita kehilangan tokoh yang pikirannya melampaui zaman. Di tengah guncangan stabilitas sosial oleh berbagai isu sara, serta teriakan kafir dan intimidasi kepada sesama, kita kehilangan satu figur yang semangat hidupnya dikobarkan atas nama toleransi dan keberagaman.

Mataram, 16 Januari 2017

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.

This Is The Newest Post