1/11/2018

Membaca Potensi Kemenangan Zul-Rohmi di Pilgub NTB

Ilustrasi (gambar: instagram/cepotdoank)

Peluit panjang tanda dimulainya kontestasi pilgub NTB telah berbunyi. Hari rabu kemarin, 10 Januari 2018, pasangan Zulkieflimansyah dan Siti Rohmi Djalillah yang diusung koalisi partai PKS dan Demokrat menjadi calon terakhir yang mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) NTB. Tak tanggung-tanggung, ribuan massa pendukung, simpatisan, serta para relawan turut mengantarkan paslon dengan jargon NTB Gemilang itu.

Di sudut lain arena, tiga kontestan sudah lebih dulu menunggu. Mereka adalah Ali-Sakti yang ikut melalui jalur independent, Ahyar-Mori, dan Suhaili-Amin. Jika politik adalah seni memantik simpati publik demi meraup suara sebanyak-banyaknya, maka siapakah yang akan keluar sebagai pemenang?

***

Di antara semua kandidat yang mencalonkan diri di pilgub NTB, sosok zulkieflimansyah adalah yang paling banyak menuai perbincangan. Sejak mendapatkan gelar doktor dari Strathlyde Business School, University of Strathclyde di United Kingdom (UK), Zul adalah tokoh yang tak bisa diragukan. Di berbagai diskursus politik, ia selalu tampil dengan narasi yang memikat. Ia pandai memilih diksi, lalu menyampaikan untaian kalimat yang terarah. Dalam banyak hal, kapasitasnya di atas rata-rata.

Zul terbilang sosok politisi muda yang berani menerabas pakem-pakem politik. Di Banten, ia pernah mencalonkan diri dengan Marrisa Haq meski harus menelan kekalahan saat bertarung dengan incumbent, Ratu Atut Chosiyah. Sebelumnya, ia juga sudah terpilih sebagai anggota DPR RI dari dapil Banten sejak 2004 lalu.

Di pelagan pilgub NTB, pendiri Universitas Teknologi Samawa itu berpasangan dengan Siti Rohmi Djalillah, kakak dari gubernur dua periode NTB yakni Muhammad Zainul Majdi yang kerap disapa Tuan Guru Bajang. Rohmi adalah sejarah baru dalam pesta demokrasi NTB. Ia menjadi kandidat perempuan pertama sejak pemilihan gubernur secara lansung digelar. Sebelumnya, ia sempat menjabat sebagai ketua DPRD NTB, yang lalu memilih fokus pada dunia pendidikan dengan menjadi Rektor Universitas Hamzanwadi, salah satu kampus swasta terbesar di NTB.

Di atas kertas, siapapun kandidat yang akan bertarung dalam pilgub NTB 2018 bisa saja mengklaim diri paling unggul dalam hal perolehan suara. Termasuk pula pasangan Zul-Rohmi. Keduanya juga memiliki peluang besar untuk keluar sebagai yang terbaik.

Namun, politik tetaplah sebuah drama. Selalu dibutuhkan ketenangan, ketahanan, serta kematangan demi menjadi pemenang. Bayangkan saja, mereka yang menjadi aktor harus berdarah-darah dari mendapat rekomendasi partai, hingga tahap perang taktik saat kampanye. Jalan politik memang jalan yang dipenuhi pedang. Mereka yang pertahannya paling lemah, akan menjadi pesakitan kandidat lain.

Potensi Kemenangan Zul-Rohmi


Membahas Zul-Rohmi adalah membahas pilgub NTB dari sisi paling unik. Mengapa? Sebab jika duo doktor ini menang, maka sesungguhnya sejarah baru telah terhampar di perhelatan lima tahunan. Bisakah? Marilah kita mencatat beberapa potensi kemenangan Zul-Rohmi dalam pilgub NTB 2018.

Pertama, tak ada pasangan yang dominan. Keikutsertaan Ali-Sakti sebagai pasangan independent semakin menegaskan bahwa tak akan ada pasangan yang benar-benar dominan dalam pilgub NTB. Semuanya sama-sama memiliki basis massa. Mereka yang akan keluar sebagai pemenang adalah yang berhasil menghimpun sedikit demi sedikit suara di daerah kandidat lain.

Lombok Timur sebagai lumbung pemilih terbanyak di NTB diprediksikan tak akan menjadi kunci kemenangan layaknya lima tahun silam. Lotim akan menjadi pertarungan dari tiga calon yang masing-masing memiliki kans suara yakni Ali-Sakti, Ahkyar Mori, Serta Zul-Rohmi.

Ali adalah tokoh yang sekarang tengah menjabat sebagai Bupati Lotim. Menyoal suara, tentu tak usah diragukan lagi. Sedangkan Akhyar, ia adalah putra Lotim yang sekarang menjabat sebagai Wali Kota Mataram. Seakan mempertegas kekuatan, deklarasi pasangan yang satu ini digelar dengan semarak dengan menghadirkan ketua umum Gerindra, Probowo Subianto, di Kecamatan Masbagik, Lotim tempo hari.

Kontestan lain adalah Zulkieflimansyah yang akan mendulang suara melalui wakilnya, yakni Siti Rohmi Djalillah. Seperti diketahui, Rohmi adalah tokoh NW dengan kekuatan basis Massa di Lombok Timur. Terlebih lagi, ia merupakan cucu dari pendiri ormas terbesar di NTB, Maulana Syeikh Zainuddin Muhammad Abdul Majid.

Kedua, suara Pulau Sumbawa. Zulkieflimansyah memang bukan satu-satunya calon yang berasal dari Pulau Sumbawa. Tokoh lain adalah Mori Hanafi yang menjabat Wakil DPRD NTB dan Muhammad Amin sebagai Wakil Gubernur NTB. Namun yang perlu diketahui, hanya Bang Zul lah yang mendaftar sebagai calon gubernur, sedang dua lainnya mendaftar sebagai wakil masing-masing calon dari Pulau Lombok.

Untuk kasus ini, marilah berkaca pada fenomena pilgub sebelumnya. Dulu, Amin yang kala itu berpasangan dengan TGB tak mampu mengungguli suara Kyai Zulkifli Muhadli di Sumbawa. Kenapa? Sebab kriteria pemilih masyarakat Sumbawa lebih mengharapkan calon gubernur ketimbang wakil.

Psikologi masyarakat yang jauh dari pusat pemerintahan, cenderung haus dengan perubahan di segala lini. Mereka menginginkan satu figur yang mampu merefresentasikan segala kegelisahan dan harapan di masa depan. Mereka tak mau sosok yang mewakili mimpi mereka ditingkat pusat hanya menjadi bawahan yang sesekali tampil saat acara gunting pita dan peresmian. Mereka berharap hadirnya satu tokoh sebagai penentu kebijakan, serta setia mendengar keluh kesah masyarakat di lapisan terbawah (grass root).

Ketiga, kekuatan media. Zul tak hanya politisi muda dengan segudang prestasi mentereng di bidang akademik, tetapi juga memiliki jam terbang yang mumpuni. Tak jarang ia tampil sebagai pembicara di forum-forum nasional dan internasional. Ia juga bergaul dengan sejumlah pakar IT yang lalu membuatnya begitu memahami kekuatan media.

Sejauh ini, saya melihat pemberitaan tentang dirinya adalah yang paling aktif di media sosial. Lawan-lawan politiknya tak segera sadar bahwa apapun isi pemberitaan itu, baik atau buruk, ini akan tetap melambungkan popularitas Bang Zul di tengah masyarakat. Barisan haters masih saja terjebak pada isu pribadi yang justru akan menarik lebih banyak kerumunan orang untuk menelisik kehidupan beliau.

Keempat, otoritas TGB. Sangat sulit untuk menyebutkan bahwa kemilau cahaya ketokohan TGB tidak akan berpengaruh di pilgub NTB 2018. Ia adalah gubernur dua periode dengan suara sempurna. Elektabilitasnya tak bisa diragukan lagi. Bahkan banyak masyarakat awam yang masih berharap ia memipin NTB untuk ketiga kalinya.

Kelebihan pasangan Zul-Rohmi adalah berhasil menarik TGB ke gerbong mereka. Semboyan “Lanjutkan Ikhtiar TGB” seakan-akan bertujuan untuk mengarahkan opini publik pada sikap politik tertentu. Jika saja calon lain tak mampu membendung gerak TGB untuk masuk ke dalam arena, dan muncul dalam banyak acara bersama Bang Zul, maka saya menduga peluang untuk menggapai kursi NTB kian terbuka.

Jangan lupa, Zulkieflimansyah adalah sosok yang selama ini paling banyak memberi kejutan. Beberapa waktu lalu, banyak pihak yang pesimis dengan kemampuan lelaki berkacamata itu. Mereka bahkan berani bertaruh kalau Zulkieflimansyah tak akan berhasil mendapat rekomendasi partai. Kini, bisa disaksikan bahwa omongan para pakar dadakan yang banyak berseliweran di media sosial berbanding terbalik.

***

Saat ini, yang harus dilakukan tim Zul-Rohmi adalah memastikan gagasan-gagasan besar yang ditawarkan oleh calon menggapai setiap pintu rumah. Pikiran tentang NTB gemilang harus mampu disederhanakan agar tak hanya dipahami oleh segelintir masyarakat. Terkait cyber armi di dunia maya, mereka harus terus menerus memproduksi segala konten positif prihal tokoh muda itu tanpa sedikitpun terpancing pada opini, nyinyiran, serta isu pribadi yang mulai bermunculan.

Jangan coba-coba membalas atapun memasuki ranah kampanye hitam sebab itu bisa berpotensi menjadi boomerang di kemudian hari. Mereka yang mengelola media harus pandai memilih timing berita, diksi yang tepat, serta pencitraan yang sedikit alamiah. Raih simpati publik dengan cara tetap memunculkan branding muda, cerdas, dan sederhana sesuai keperibadian calon.

Ini hanyalah pengantar awal tentang pilgub NTB 2018. Tentu semua boleh berasumsi serta memetakan kekuatan masing-masing calon. Kemerdekaan berfikir adalah keniscayaan. Di tahun politik seperti ini, kewarasan harus selalu dikedepankan.

Mataram, 11 Januari 2017

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.