1/09/2018

Saat Orang Jepang Membincang Islam

Buku islam di mata orang jepang

Tak banyak orang yang mau melakukan pencarian demi sebaris tanya yang mengganjal di hati. Tak banyak yang mau berpayah-payah menelusuri, melakukan observasi, hingga menemukan jawaban atas apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Kebanyakan kita lebih senang menanti jawaban itu, mengutip, dan ikut menyebarluaskannya. Kebanyakan kita lebih senang menikmati hasil, ketimbang berusaha mencari sendiri. Padahal, yang terpenting dari sebuah jawaban adalah proses menemukannya.

Demikianlah kesan awal saat sepintas membaca buku berjudul Islam di Mata Orang Jepang, karangan Hisanori Kato. Buku ini memuat satu perjalanan peneliti Jepang yang hendak memahami wajah islam di Indonesia. Ia adalah tipe peneliti yang menyukai kajian islam. Ia mengaku telah beberapa kali menulis prihal islam Indonesia dalam bahasa inggris.

Buku ini diterbitkan dalam 176 halaman. Isinya memuat berbagai pertemuan dan wawancara Kato dengan beberapa tokoh Indonesia seperti Bismar Siregar, Muhammad Sobary, Eka Jaya, Gus Dur, Fadli Dzon, Ulil Abshar Abdallah dan lain-lain.

Kato menjadikan beberapa tokoh sebagai pintu masuk untuk memahami bagaimana islam Indonesia ditafsirkan secara berbeda. Ia meniti islam diantara lautan pemikiran. Ia merajut serpihan pandangan dari pertautan dengan banyak tokoh, lalu menemukan sendiri seperti apa islam yang sebenarnya.

Di satu bagian, Kato menulis tentang bagaimana awal mula ketertarikannya terhadap islam. Ia mengisahkan pengalaman saat menyaksikan rombongan anak kecil memakai baju putih berjalan beriringan sambil membawa obor sesaat sebelum lebaran tahun 1991 di Jakarta.

Kata Kato, islam adalah sesuatu yang asing bagi orang Jepang. Ramadhan dan Idul Fitri tek pernah menjadi pemberitaan di negeri matahari terbit. Berbeda halnya dengan Kristen dan Natal yang telah dikenal dan mengakar kuat sebagai perayaan tahunan, bahkan mendapat dukungan secara komersil.

Buku ini memang tak seberapa tebal, tetapi selalu saja ada inspirasi yang bisa diserap. Saya menyukai pandangan Muhammad Sobary yang ditemui Kato pada tahun 2003. Katanya, manusia itu sekali saja dia memegang kekuasaan, maka dia akan mulai menganiaya orang lain. Jadi, yang disebut demokrasi sulit untuk diwujudkan.

Rasanya sulit sekali menyangkal apa yang dikatakan Sobary 15 tahun lalu. Reformasi memang belum mengarah pada kesejahteraan hidup bersama sebagaimana yang pernah di cita-citakan dulu. Barangkali yang harus dilakukan adalah segera merefleksi ulang segala ingatan di masa lalu. Benarkah situasi telah berubah? Benarkah ini yang kita kehendaki dulu?

Pie kabare le, masih enak jaman ku toh?

Mataram, 09 Januari 2018

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.