9/15/2018

Pengalaman Mendistribusikan Bantuan untuk Korban Gempa di Pulau Sumbawa

Dusun Santong, Desa Dalam, Kecamatan Alas

Gempa yang terjadi di NTB selama sebulan lebih tak hanya menyisahkan duka bagi masyarakat Lombok. Akan tetapi juga meninggalkan trauma yang mendalam bagi masyarakat Sumbawa.

Banyak bangunan di Pulau Sumbawa khususnya Sumbawa bagian barat ambruk pasca gempa terakhir berkekuatan 6,9 SR dengan titik pusat Pulau Panjang. Bahkan hingga sekarang, gempa masih pula terjadi dengan titik pusat yang bergantian baik di Lombok atau di Sumbawa.

Beberapa waktu lalu, kami atas nama Forum Komunikasi Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Sumbawa (FKPPMS) - Mataram bekerjasama dengan teman-teman Indorelawan menginisiasi sebuah gerakan demi membantu saudara-saudara korban gempa NTB khususnya di Pulau Sumbawa.

Mulanya, sahabat indorelawan membuka donasi amal yang lalu hasilnya dibelanjakan beberapa kebutuhan pokok seperti selimut, terpal, popok bayi, makanan ringan, kaos kaki, baju bayi dan lain-lain. Dari Jakarta, barang ini lalu dikirim ke Mataram untuk didistribusikan oleh teman-teman FKPPMS.

Saya sebagai anggota kerja tim ingin berbagi sedikit pengalaman saat mendistribusikan bantuan untuk korban gempa di Pulau Sumbawa. Kami memilih mengunjungi dua kecamatan yang paling parah dan paling berdampak gempa yakni Kecamatan Alas dan Alas Barat.

Pertama, kami mengunjungi Desa Mapin Beru yang terletak di Kecamatan Alas Barat dan memberikan beberapa item bantuan seperti selimut, popok bayi, obat-obatan, kaos kaki, makanan ringan, dan baju bayi. Serah terima bantuan disaksikan lansung oleh Kepala desa, kadus, dan masyarakat yang ada di lokasi.

Setelah itu, kami lalu mengunjungi Desa Labu Mapin di kecamatan yang sama. Bagi saya, desa ini merupakan desa yang paling parah kerusakannya. Masyarakat mendirikan tenda pengungsian persis di lapangan umum, belakang kantor desa. Ada sekitar 200 tenda yang diisi oleh ratusan pengungsi mulai dari anak-anak, hingga orang tua. Masyarakat rata-rata kehilangan tempat tinggal. Memang, ada sebagian yang tidak roboh, tapi itupun sudah retak dan tidak layak huni.

Pengungsian di Desa Labu Mapin, Alas Barat

Di pengungsian

Di Desa Labu Mapin ini, kami membagikan lansung bantuan di pengungsian. Ada beberapa staf desa yang sempat ikut menuju lokasi dan mendokumentasikannya. Saat berbincang dengan salah seorang pengungsi, mereka menuturkan bahwa selama ini tak begitu banyak bantuan yang datang. Padahal, kondisi mereka dipengungsian bisa dibilang cukup memperihatinkan.

Menggunakan pick up, teman-teman kemudian bergerak menuju Kecamatan Alas. Di sana, kami menyambangi Desa Juran Alas dan bertemu lansung dengan sekretaris desa (sekdes). Kami memberikan bantuan seperti terpal, kaos kaki, peralatan bayi, dan selimut. Juran Alas sendiri merupakan salah satu desa yang paling parah kerusakannya dibanding desa-desa lain di Kecamatan Alas.

Terakhir kami mengunjungi Dusun Santong, Desa Dalam, yang berlokasi persis di depan kantor camat Kecamatan Alas. Ada hal menarik yang terjadi saat teman-teman mendistribusikan bantuan di tempat ini. Sesaat setelaj menyerahkan bantuan secara simbolis dengan masyarakat, tiba-tiba terjadi gempa berkekuatan 5,3 SR dengan titik pusat yang tak seberapa jauh dari Kecamatan Alas.

Hal ini sempat membuat masyarakat dan beberapa pegawai sekolah berhamburan keluar. Kami kemudian berusaha menenangkan anak-anak, lalu memberi mereka makanan ringan yang masih tersisa. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Saya bisa membayangkan bagaimana kondisi psikologis masyarakat di sana sebulan terakhir ini. Gempa dengan kekuatan variatif belum juga berhenti menggoyang NTB.

***

Gempa NTB terjadi di luar kajian ilmiah dan nalar saintifik. Tak ada yang benar-benar bisa menjelaskan kapan musibah ini akan berakhir. Bahkan sampai hari ini, gempa-gempa kecil pun masih terus terjadi meski dengan rentang waktu yang agak lama. Semua kita hanya bisa bersabar. Masyarakat hanya diam terpaku menyaksikan rumah mereka terpaksa diratakan dengan alat berat. Alam seakan berpesan bahwa tak ada yang benar-benar abadi.

Lalu pertanyaannya, apa yang hendak kita sombongkan?

Mataram, 15 September 2018

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.

This Is The Newest Post