10/22/2018

Mereka yang Memberi Sekeping Inspirasi

Bersama anak-anak pedalaman

Di tengah lahan kering tanah Bulaeng, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, di tengah padang-padang yang menanti air hujan, di tengah hamparan sawah yang membentang luas, terdapat pribadi hebat yang menjadi inspirasi bagi zamannya.

Ia adalah warga biasa yang tak dikalahkan oleh keadaan. Ia menjadi simbol bagi mereka yang mendedikasikan diri untuk orang banyak. Ia menyadarkan kita semua bahwa republik ini tak kekuarangan orang baik. Ia membawa optimisme kuat bahwa kita masih punya harapan.

***

Pemuda itu bernama Muhammad Iqbal. Ia kerap dipanggil Sanggo. Usianya sekitar 35 tahun. Ia baru saja pulang dari kampus tempatnya bekerja, saat saya temui di sebuah kedai kopi di Sumbawa beberapa waktu lalu.

Saat bertemu, Iqbal lansung bercerita tentang sejumlah program yang sedang ia kerjakan. Ia menamainya dengan sebutan "Siap Turun Tangan Program". Banyaknya desa yang masih terisolir di Kabupaten Sumbawa, serta demi menjawab sejumlah permasalahan sosial yang ada, membuatnya terinspirasi untuk melakukan banyak hal.

Selain berprofesi sebagai warek, Iqbal adalah pelaku seni yang aktif di berbagai event kebudayaan. Demi menyalurkan hobinya itu, ia lalu membuat komunitas seni bersama rekan-rekannya yang bertujuan positif yakni sering bepergian ke desa-desa, menghibur masyarakat sembari belajar bersama warga untuk mengatasi banyak masalah.

Niat Iqbal adalah murni berbagi pengetahuan. Bersama sahabat-sahabatnya, ia pergi ke banyak daerah terpencil demi mengekspresikan dedikasi dan perasaan cinta terhadap sesama. Beberapa sahabatnya adalah Samsun Hidayat, Widy, Aan Guna, dan Zulkifly. Mereka sama-sama prihatin terhadap kondisi masyarakat Sumbawa, terutama mereka yang tinggal di pesisir dan kerap terabaikan

Iqbal bersama sahabat
Kondisi jalanan
Bersama anak-anak setempat

Agustus lalu, Iqbal menggagas program bertajuk "Pesta Anak Langit" di Desa Tepal, Kecamatan Batu Lanteh. Salah satu daerah penghasil kopi di Sumbawa ini, memang berada jauh dari pusat kota dengan segala keterbatasan akses. Butuh waktu selama berjam-jam dengan kondisi jalan yang tak beraspal untuk sampai kesana.

Ia menyebutkan, program Pesta Anak Langit memuat beberapa konten kegiatan yang bersifat edukatif bagi anak-anak pedalaman seperti mendongeng, menggambar, menyanyi, dan sebagainya. Selain itu, ia juga mengunjungi Dusun Talagumung. Di sana, ia memberikan bantuan Solar Cell kepada masyarakat agar bisa menikmati cahaya atau penerangan yang selama ini menjadi dambaan masyarakat setempat.

Saat saya tanya dari mana anggarannya, Iqbal memaparkan bahwa ia menggandeng sejumlah NGO dan volunteer dari luar untuk bekerjasama. "Inilah cara kami turun tangan. Pesta ini tidak hanya dinikmati oleh anak-anak di desa, tapi juga para pilot, peneliti, dan berbagai profesi yang menyumbangkan barang-barangnya secara sukarela kepada kami." Jelasnya.

Hal lain yang juga tengah fokus ia lakukan saat ini adalah kampanye pelestarian Burung Kakatua Jambul Kuning di Kawasan Taman Nasional Pulau Moyo, Sumbawa. Kegiatan itu dilakukan demi merawat kesadaran masyarakat agar tetap menjaga keindahan Pulau Moyo yang dikenal memiliki potensi alam dan keanekaragaman hayati.

Sosialisasi Pelestarian

Pulau yang menjadi ikon Sumbawa ini memang memiliki pesona alam yang memukau. Salah satu daya tarik Pulau Moyo adalah Air terjun Mata Jitu yang jernih mengalir didalamnya. Tercatat beberapa tokoh dunia seperti mendiang Lady Diana dan petenis cantik Maria Sharapova pernah berkunjung ke tempat itu.

Wajar jika Iqbal merasa resah. Pasalnya, ekosistem hutan di Pulau Moyo kian hari kian mengkhawatirkan. Berdasarkan data per oktober 2015, kerusakan hutan telah mencapai 1.000 hektar dari total luas Pulau Moyo 30.000 hektar. Kerusakan tersebut diakibatkan oleh oknum masyarakat yang tak bertanggungjawab.

Belum lagi fenomena Takat Segele yang baru-baru ini dikabarkan rusak parah, sehingga tidak rekomended lagi bagi para pecinta snorkeling. Di media sosial, beredar video yang menggambarkan kondisi terkini taman laut Takat Segele di Pulau Moyo yang amat memprihatinkan. Tak ada ikan-ikan kecil yang bermain di karang. Semuanya hancur diduga karena aktivitas pengeboman.

Kampanye pelestarian kepada siswa
Kampamye pelestarian kakatua jambul kuning

Yang mengesankan bagi saya, di tengah-tengah misi idealisnya bersama kawan-kawan, Iqbal tetap menjalani profesinya sendiri. Ia menjalani hari-hari sebagai pejabat kampus yang setia dengan berbagai aturan. Ia juga menjadi salah satu donatur untuk usaha kedai kopi yang dikelola oleh anak-anak muda di Sumbawa. Melalui kedai itu, ia kemudian mempromosikan berbagai jenis kopi asli Sumbawa kepada para pengunjung.

Iqbal memang menginspirasi. Ia melakukan banyak kegiatan yang kemudian menjadi arena baginya untuk membumikan idealisme, serta niat tulusnya untuk berbagi pengetahuan dengan orang lain. Saya sungguh beruntung bisa mengenalnya.

Iqbal adalah satu dari sekian banyak pribadi-pribadi hebat di sekitar kita. Mereka bekerja dalam diam, jauh dari kilatan cahaya kamera dan pencitraan. Kepadanya saya belajar betapa ide dan kepedulian selalu memiliki kaki-kaki tindakan untuk menggapai perubahan.

Bangsa ini akan kokoh sebab di dalamnya terdapat sejumlah manusia-manusia biasa yang bertindak luar biasa demi menghadirkan senyum di wajah orang lain, serta mimpi untuk menguatkan hati serta jiwa bangsa.

Bangsa ini akan selalu kuat sebab di sekitar kita masih banyak pemuda-pemuda yang lebih memilih menjadi lentera kehidupan, ketimbang mengutuk kegelapan. Yups, mereka adalah pahlawan-pahlawan di zaman modern.

Mataram, 22 Oktober 2018

Artikel Terkait

Pelajar, Pejalan, Penikmati Kopi Hitam.

This Is The Newest Post