Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

1/09/2018

Saat Orang Jepang Membincang Islam

Buku islam di mata orang jepang

Tak banyak orang yang mau melakukan pencarian demi sebaris tanya yang mengganjal di hati. Tak banyak yang mau berpayah-payah menelusuri, melakukan observasi, hingga menemukan jawaban atas apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Kebanyakan kita lebih senang menanti jawaban itu, mengutip, dan ikut menyebarluaskannya. Kebanyakan kita lebih senang menikmati hasil, ketimbang berusaha mencari sendiri. Padahal, yang terpenting dari sebuah jawaban adalah proses menemukannya.

Demikianlah kesan awal saat sepintas membaca buku berjudul Islam di Mata Orang Jepang, karangan Hisanori Kato. Buku ini memuat satu perjalanan peneliti Jepang yang hendak memahami wajah islam di Indonesia. Ia adalah tipe peneliti yang menyukai kajian islam. Ia mengaku telah beberapa kali menulis prihal islam Indonesia dalam bahasa inggris.

Buku ini diterbitkan dalam 176 halaman. Isinya memuat berbagai pertemuan dan wawancara Kato dengan beberapa tokoh Indonesia seperti Bismar Siregar, Muhammad Sobary, Eka Jaya, Gus Dur, Fadli Dzon, Ulil Abshar Abdallah dan lain-lain.

Kato menjadikan beberapa tokoh sebagai pintu masuk untuk memahami bagaimana islam Indonesia ditafsirkan secara berbeda. Ia meniti islam diantara lautan pemikiran. Ia merajut serpihan pandangan dari pertautan dengan banyak tokoh, lalu menemukan sendiri seperti apa islam yang sebenarnya.

Di satu bagian, Kato menulis tentang bagaimana awal mula ketertarikannya terhadap islam. Ia mengisahkan pengalaman saat menyaksikan rombongan anak kecil memakai baju putih berjalan beriringan sambil membawa obor sesaat sebelum lebaran tahun 1991 di Jakarta.

Kata Kato, islam adalah sesuatu yang asing bagi orang Jepang. Ramadhan dan Idul Fitri tek pernah menjadi pemberitaan di negeri matahari terbit. Berbeda halnya dengan Kristen dan Natal yang telah dikenal dan mengakar kuat sebagai perayaan tahunan, bahkan mendapat dukungan secara komersil.

Buku ini memang tak seberapa tebal, tetapi selalu saja ada inspirasi yang bisa diserap. Saya menyukai pandangan Muhammad Sobary yang ditemui Kato pada tahun 2003. Katanya, manusia itu sekali saja dia memegang kekuasaan, maka dia akan mulai menganiaya orang lain. Jadi, yang disebut demokrasi sulit untuk diwujudkan.

Rasanya sulit sekali menyangkal apa yang dikatakan Sobary 15 tahun lalu. Reformasi memang belum mengarah pada kesejahteraan hidup bersama sebagaimana yang pernah di cita-citakan dulu. Barangkali yang harus dilakukan adalah segera merefleksi ulang segala ingatan di masa lalu. Benarkah situasi telah berubah? Benarkah ini yang kita kehendaki dulu?

Pie kabare le, masih enak jaman ku toh?

Mataram, 09 Januari 2018

12/23/2017

Mengapa Ada Negara Kaya dan Negara Miskin?

Mengapa negara gagal?

Salah satu buku ekonomi makro yang selalu menarik untuk di baca adalah Why Nations Fail, yang diterjemahkan dengan judul Mengapa Negara Gagal. Penulisnya, Daron Acemoglu dan James A. Robinson adalah dua profesor di MIT dan Harvard University yang berhasil menggabungkan berbagai sintesis ide demi membangun argumentasi atas pertanyaan mengapa ada negara yang makmur dan negara yang jatuh miskin.

Terus terang, saya tak hanya menyenangi gaya penulisan buku ini yang sederhana, tetapi juga begitu kagum dengan banyaknya data, literatur, serta kajian di dalamnya. Melalui buku ini, penulis hendak membantah sejumlah teori tentang kesenjangan kemakmuran antar negara sebagaimana yang pernah dibentangkan para pemikir dunia seperti Montesquieu, Max Weber, hingga Lionel Robbins.

Menurutnya, fenomena kesenjangan kemakmuran yang terjadi saat ini tidaklah disebabkan oleh faktor geografi, budaya, maupun kebodohan pemimpin. Melainkan disebabkan oleh institusi ekonomi dan politik, berikut tata hukum atau perundangan yang mempengaruhi mekanisme ekonomi dan insentif bagi rakyat.

Pokok pembahasannya adalah perbedaan antara institusi ekonomi ekstraktif dan inklusif. Ekstraktif mengedepankan upaya memeras, mengeruk, menyadap, dan menghisap kekayaan satu lapisan demi memperkaya lapisan lainnya. Sedangkan inklusif adalah menciptakan pasar yang berkeadilan, memberi kebebasan bagi rakyat untuk memilih pekerjaan, serta menyediakan arena persaingan yang adil bagi siapa saja untuk berkompetisi.

Demikianlah pendekatan yang dilakukan dalam menjelaskan fenomena kesenjangan kemakmuran yang terjadi di Korea Utara dan Korea Selatan, Nogales Arizona yang masuk kawasan Amerika Serikat dan Nogales Sonora yang masuk kawasan Mexico. Metode serupa juga ikut menerangkan mengapa kebanyakan negara di bagian Sub Sahara Afrika memiliki tingkat kemakmuran yang sangat kontras jika dibandingkan dengan tetangga-tetangga mereka di kawasan Amerika, Eropa dan Asia Timur.

Demi menjelaskan institusi ekonomi dan politik, dua sejawat itu menelaah sejarah berbagai negara. Mereka hendak menunjukkan kalau di tangan penguasa yang lalim dan serakah, masa depan satu bangsa bisa menjadi kian terpuruk. Kekuatan terbesar dari negara-negara maju terletak pada kesadaran kolektif warga negaranya untuk menghadirkan solusi atas dinamika yang terjadi, melalui istitusi dan kelembagaan.

Mereka yang memiliki visi, akan membangun kelembagaan yang demokratis dan adil bagi semua warga negara serta memberikan ruang bagi siapapun untuk mengakses kebebasan. Sebaliknya di tangan mereka yang picik dan haus kuasa, kelembagaan akan direkayasa sedemikian rupa demi mempertahankan posisi dan mengumpulkan pundi-pundi kekayaan.

Di satu bagian, ada pembahasan tentang perekenomian Venesia yang maju pada tahun 810 Masehi sebab ditopang oleh institusi ekonomi inklusif yang canggih pada masanya. Setelah itu, terjadilah huru-hara politik, diikuti upaya dari segelintir elit untuk melancarkan siasat isolasi ekonomi dan ingin berkuasa penuh, yang akhirnya turut mengantarkan negeri asal pedagang legendaris, Marco Polo itu ke lubang keterpurukan.

Di akhir pekan, membaca buku seperti ini tentu amat mengasyikkan. Saat membacanya, kita serasa tengah melakukan penjelajahan ke berbagai negara, bertemu banyak tokoh, serta mengamati berbagai peradaban yang pernah berjaya di masa silam. Kita di ajak untuk merangkum semua lintasan panjang itu demi menjelaskan mengapa ada negara kaya dan negara miskin.

Ini hanyalah rangkuman sederhana yang coba saya tuliskan tentang buku ini. Tentu masih banyak hal yang tak bisa saya jelaskan secara detail dan mendalam, sehingga membuat Why Nations Fail layak mengisi top list bacaan anda.

Mataram, 23 Desember 2017

9/30/2017

Membaca Sapiens, Membaca Manusia

Buku Sapiens

Sejak buku ini diresensikan oleh penulis kondang Yusran Darmawan beberapa waktu lalu, saya sudah tidak sabar untuk membacanya. Sayang, butuh beberapa bulan menanti kehadiran Sapiens di Lombok.

Kemarin, saat berkunjung ke toko buku, saya melihat buku ini telah diterbitkan dalam versi bahasa Indonesia. Tanpa banyak menimbang, saya langsung membelinya.

Mulanya, Sapiens: A Brief History of Humankind diterbitkan dalam bahasa Hebrew, bahasa yang digunakan orang Yahudi di Israel. Ketika diterjemahkan dalam bahasa Inggris, buku ini langsung menjadi best-seller internasional.

Topik yang dibahas adalah lintasan panjang yang dilalui manusia selama 150.000 tahun eksis di planet bumi. Penulisnya, Yuval Noah Harari adalah anak muda kelahiran 1976, sejarawan yang meraih gelar PhD dari Oxford University. Kata Yusran, ia sepopuler JK Rowling di ranah fiksi anak. Yuval juga sehebat Samuel Huntington di ranah ilmu politik.

Yah apapun itu, rasanya memang selalu menyenangkan membaca satu buku yang didiskusikan secara luas di level internasional hingga menjadi bestseller dan dibahas di banyak media. Yukkk mari membaca.

Mataram, 30 September 2017

8/28/2017

Siwa: Novel Mitologi Bertabur Kejutan

Siwa: Rahasia Kaum Naga, karya Amish Tripathi

Mencari buku bagus tak semudah memancing di kolam yang dipenuhi ikan. Bayangkan saja saat anda pergi ke toko buku. Di sana, kita bisa mendapati begitu banyak bacaan yang terkadang tidak sesuai dengan ekspektasi. Ada begitu banyak buku yang tidak dibangun berdasar data dan riset-riset serius. Dalam sekian kali pencarian, kita tak selalu menemukan buku bagus. Namun sekali bertemu, ada rasa puas yang susah digambarkan dalam kata.

Baru-baru ini, saya menemukan buku bagus karya novelis India, Amish Tripathi. Buku ini menyajikan kisah mitologi hindu yang renyah dan mengasikkan. Kesuksesan novel debutnya yakni Siwa: Kesatria Wangsa Surya, membuat penulis kelahiran 1974 itu kembali hadir dengan kisah lanjutan yang tak kalah keren.

Jika Siwa: Kesatria Wangsa Surya lebih banyak membahas tentang kehadiran Sang Nilakantha sebagai juru selamat dalam ramalan kuno, kisah Siwa: Rahasia Kaum Naga hadir dengan petualangan Siwa yang dipenuhi intrik, bertabur kejutan serta mampu mengaduk-aduk emosi.

Dalam novel terbarunya, Amish menyajikan kisah petualang Batara Siwa yang hendak menumpas kejahatan. Ia menyusuri daratan India kuno demi menemukan negeri kaum naga yang telah merenggut sahabatnya dan tengah mengintai istrinya. Pada saat yang sama, sang mahadewa juga bertemu banyak orang yang kelak menuntunnya menyingkapi sebuah tabir kelam wangsa surya di masa silam. Ia tak menduga bahwa kaum naga yang sangat dibencinya itu, ternyata memiliki hubungan erat dengan orang-orang terdekatnya.

Ada bagian yang membuat saya terdiam. Yakni ketika Sati, istri Mahadewa Siwa bertemu dengan seekor naga perempuan yang juga saudari raja Athithigwa, lalu berdebat tentang aturan-aturan Sri Rama yang menurutnya tidak adil bagi kaum naga. Selama ribuan tahun, kaum naga telah dikucilkan. Mereka terpaksa berpisah dengan keluarga hanya karena terlahir cacat dan mengerikan. Mereka merasa bahwa seperangkat aturan hanya dibuat untuk setiap orang yang terlahir sempurna.

Sati hanya bisa terdiam sebab menyadari bahwa yang dikatakan oleh seekor naga adalah kenyataan yang tak bisa dibantah. Ia memahami bagaimana perasaan kaum naga yang selalu di cap jahat oleh setiap orang hanya karena bentuk tubuh mereka yang mengerikan. Sati menyadari bahwa tidak akan mudah bagi siapapun untuk menjalani kehidupan seperti mereka. Ia pun berjanji kepada raja Athithigwa bahwa tak akan menceritakan rahasia sang raja yang memiliki saudari seekor naga kepada siapapun.

Bagian lain yang tak kalah mengejutkan adalah saat Siwa bertemu Parasurama, seorang pemimpin penyamun yang bersembunyi di hutan belantara sungai Madhumati. Parasurama berkisah tentang kaum naga yang hanya berperang demi membela kaum tertindas. Siwa terperanjat. Bukankah kaum naga adalah pangkal dari segala kejahatan? Mengapa pula mereka membela kaum tertindas? Bukankah hal semacam itu hanya dilakukan oleh kesatria seperti dirinya? Pengakuan Parasurama membuat Siwa kian penasaran. Apa sebenarnya makna kejahatan?

Siwa: Kesatria Wangsa Surya

Tentu saja masih banyak kejutan lain dalam novel ini yang tak bisa saya jelaskan secara terperinci. Setiap kisah laksana kabut gelap yang hendak disibakkan secara perlahan melalui serentetan peristiwa yang tak terduga.

Sesaat, Amish terlihat begitu pandai mengayun-ayun imajinasi pembaca. Ia juga menyelipkan ujaran-ujaran filsafat yang mendalam pada karya-karyanya. Baginya, kejahatan dan kebaikan ibarat dua sisi mata uang. Keduanya senantiasa berjalan selaras. Semua hal butuh penyeimbang. Sisi lelaki membutuhkan sisi perempuan. Demikian pula kekuatan membutuhkan beban.

Sebagai novelis, ia serupa Jostein Gaarder yang mampu merangkum tema-tema besar dan filosofis dalam kalimat-kalimat sederhana. Ia pandai memainkan ritme, menjebak pembaca pada satu perasaan terhadap situasi. Di setiap bagian, selalu terselip kemungkinan-kemungkin yang mampu memancing rasa penasaran hingga akhir. Tak heran jika novel pertamanya lansung menjadi best seller international.

Amish Tripathi merupakan satu dari sekian banyak penulis yang mampu melahirkan karya-karya besar dan dilirik banyak pembaca. Salah satu kekuatan penulis terletak pada seberapa banyak orang yang memburu karya mereka, berapa banyak hati yang tergugah serta berapa banyak pikiran yang melayang-layang ketika membaca karya itu.

Pada akhirnya, mereka yang menyukai sejarah, filsafat dan mitologi pasti antusias menikmati jengkal demi jengkal petualangan Siwa dalam novel ini. Namun saran saya, bacalah dari seri pertama agar lebih memahami penokohan serta alur ceritanya secara lengkap.

Dugaan saya, Amish tengah mempersiapkan kisah lanjutan dari novel ini. Sebab pada seri kedua, ada beberapa bagian yang masih terasa ganjil. Saya masih penasaran dengan Bhrigu, sosoknnya masih setengah misterius. Mengapa resih itu meminta imbalan atas bantuannya terhadap Dilippa? Lalu siapa pula dalang di balik serangan yang menimpa kelompok Siwa saat hendak mencapai negeri kaum naga?

Ah, tak sabar menanti seri berikutnya.

Mataram, 28 Agustus 2017

7/31/2017

Membaca Peluang Baru di Era Digital


Buku Creator. Inc

Jika dikelola dengan baik, pendapatan dari profesi ini bisa mencapai 50 juta per bulannya. Hal itu disampaikan Yoga Arizona, pemuda yang sukses menjalani profesi sebagai content creator. Ia populer di instagram dan youtube. Berawal dari sering ditolak tiap kali ikut kasting, ia akhirnya mulai membuat video sendiri.

Pria berkacamata yang akrab disapa Kuka itu memiliki 300 ribu lebih pengikut di instagram dan 21 ribu subscriber di youtube. Tak hanya itu, Yuga juga sering diundang menjadi bintang tamu dalam acara talk show televisi, serta aktif menjadi nara sumber di berbagai seminar.

Demi menggaet sejumlah followers, Yoga sering mengunggah video lucu-lucuan melalui akun dubsmash miliknya. Ia kerap menirukan gaya selebriti papan atas negeri seperti Syahrini, Cinta Laura, hingga Deddy Corbuzier. Walhasil, aksi kocak itu mengundang banyak respon dan gelak tawa. Mulailah ia dikenal sebagai content creator.

Yoga memperolah income yang tak sedikit dari aktivitasnya itu. Kini, setiap bulannya ada saja klien yang meminta dirinya untuk memasarkan produk di instagram. “Kadang dalam satu bulan produk iklan yang masuk banyak. Kadang cuma ada satu. Kadang juga ngak ada sama sekali. Bergantung ramai atau tidak. Jika sedang ramai, dalam sebulan aku bisa menghasilkan hampir 50 juta, tapi kalau lagi sepi, paling 10 juta”. Ungkapnya dalam satu wawancara.

***

Kisah tentang pemuda sukses ini saya temui saat membaca buku Creator. Inc, karya Arief Rahman, yang terbit beberapa waktu lalu. Buku ini membuka wawasan tentang perkembangan dunia baru, lahirnya banyak peluang usaha berkat kemajuan teknologi serta perubahan sosial yang sedang dan akan terjadi. Arief merangkum wawancara dengan sejumlah anak muda yang telah sukses membangun bisnis. Terlebih, mereka menjalankannya sesuai passion masing-masing.

Tesis utama yang diusung dalam buku ini adalah bagaiama perkembangan teknologi turut menggandeng sejumlah profesi baru yang menggiurkan. Blogger, animator, kreator konten, perencana keaungan, hingga menjadi seorang komika merupakan beberapa profesi baru yang banyak dijumpai di abad digital.

Argumentasi dalam buku ini sangat kuat dan bertabur banyak bukti. Wajar saja sebab buku ini diolah dari hasil riset. Saya juga membaca metode penelitiannya. Arief membangun tim peneliti, lalu mewawancarai ratusan narasumber, para kreator yang berhasil dalam karier. Semula ada 150 anak muda, kemudian mereka memilih sejumlah nama untuk dijadikan sampel yang refresentatif. Melalui proses yang panjang, buku ini lalu lahir dengan bahasa yang renyah sehingga memudahkan siapapun yang membacanya.

Hal lain yang saya temukan adalah bagaimana memaksimalkan sebuah hobi sebagai jalan setapak menuju dunia impian. Ada kiat-kiat enterpreneur skills yang dapat dipelajari dan diaplikasikan dalam membangun karier sebagai seorang kreator. Yang perlu diketahui adalah, membangun sebuah usaha, tak cukup hanya dengan mengandalkan keterampilan teknis yang bisa diperoleh saat bekerja di perusahaan profesional, tetapi juga membutuhkan keterampilan bisnis. Tak percaya?

Arief memberikan contoh. Dua perusahaan digital dunia sekelas Facebook dan Google pernah terjebak pada produk mereka sendiri. Kreator Facebook Mark Zuckerberg, awalnya hanya membuat aplikasi ini sebagai hiburan. Ketika tumbuh dengan jumlah pengguna yang banyak, Facebook tetap saja belum menghasilkan pendapatan yang memuaskan. Sebagai seorang programmer dari universitas sekelas Hardvard, Mark berpikir akan tetap mendapatkan penghasilan jika Facebook menjadi media sosial yang keren. Namun, ini tidak cukup untuk mempertahankan pertumbuhannya, bahkan sempat melambat.

Barulah ketika Sheryl Sandberg, mantan wakil presiden pemasaran Google, bergabung dalam tim, orientasi Facebook pun berubah. Sejumlah strategi disusun untuk fokus pada pendapatan iklan, dari sinilah salah satu media sosial terlaris ini mendapat banyak keuntungan. Sharyl sanggup menangkap visi dan misi teknologi yang diusung Mark dan mengubahnya menjadi laha  gembur yang sedemikian menguntungkan.

Google pun sama. Situs yang mulai beroperasi pada 1998 ini didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin, dua orang mahasiswa program ilmu komputer di Stanford. Sebagai ilmuan komputer, mereka adalah jagoan pembuat algoritma dan koding-kodingan, tetapi tidak memiliki pengetahuan bisnis yang cukup agar ide mereka bisa dipasarkan. Eric Schmidt adalah orang yang kemudian melengkapinya dengan pengetahuan bisnis yang mempuni. CEO Novell ini sangat berpengalaman dan mampu membawa Google dengan IPO senilai 1,67 US Dolar.

Keterampilan inilah yang dirangkum oleh buku ini dalam beberapa bagian. Pertama, merintis jalan dan tapaki. Di bagian awal terdapat empat bab yang berisi fondasi, pemahaman konsep dari profesi seorang kreator. Terutama bagi mereka yang ingin merencanakan karier, bahwa ada profesi-profesi baru yang menjanjikan dan relevan dengan passion yang kita miliki.

Kedua, tunjukan karyamu. Bagian ini berisi enam bab yang berfokus pada pembahasan bagaimana cara sebuah produk bisa diterima oleh pasar. Ketiga, dari kreator menjadi perusahaan. Bagian terakhir ini berisi empat bab yang menguraikan tahapan transformasi yang harus dijalani, dari yang awalnya kreator, hingga menjadi seorang pebisnis dalam sebuah unit usaha. Ada tahapan-tahapan kecil yang harus dilewati serta strategi khusus di setiap tahapan agar perusahaan tetap bertahan dan terus tumbuh.

***

Pada akhirnya, di tangan mereka yang pas, hobi itu ibarat ayam bertelur emas. Mereka yang tak akrab dengan keputusasaan, akan terus mengasah skill hingga kelak menjadi pepohonan rindang berbuah kesuksesan. Selama ketekukan dan kemauan untuk terus belajar masih ada, selama itu pula pintu peluang tetap lebar menganga.

Masih banyak yang beranggapan bahwa sejumlah profesi baru yang lahir karena kemajuan teknologi belum bisa menjadi sandaran hidup. Masih banyak orang tua yang mengkhawatirkan anak-anaknya tidak bisa sejahtera tanpa berstatus sebagai pegawai negeri, karyawan kantoran atau berbagai pekerjaan bergengsi peninggalan masa lalu.

Akan tetapi, seiring waktu berjalan, keadaan mulai berbalik. Siapa sangka, anak muda yang dulunya hanya menjual stiker untuk para penyelam, kini bisnisnya mengakar kuat dibidang penjualan t-shirt hingga luar negeri. Ada pula seseorang ilustrator muda yang karyanya turut tercatat dalam buku cerita dongeng karya oenulis dari Amerika Serikat.

Sesaat membaca buku ini mengingatkan saya pada kisah pendiri youtube. Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim memiliki hobi mendokumentasikan sesuatu. Mereka kerap kesal karena selalu kesulitan meng-upload video di internet. Tak disangka, kekesalan itu berbuntut pada revolusi besar di dunia visual.

Yah, dunia memang bergerak dengan cepat. Seiring dengan kemajuan teknologi, generasi baru pun bermunculan. Dalam usia muda, mereka punya kecerdasan, kreatifitas, serta solidaritas yang sangat kuat. Mereka dengan cepat bisa membangun kolaborasi dan jejaring, kemudian bersama-sama mendorong terjadinya perubahan.

Jika dulu, jabatan layaknya anak tangga yang harus ditapaki secara bertahap, sekarang bak tebing yang luas, curam, dan penuh rintangan. Tidak ada rute khusus, kita bisa melompat dari satu pijakan ke pijakan lain dengan bebas. Yang terpenting adalah jangan berhenti mencoba.

Inilah zaman ketika generasi baru bebas menentukan karir dan membuat dunia bekerja untuk mereka. Mereka lahir sebagai antitesa dari generasi sebelumnya. Mereka membentuk gaya baru, passion baru, serta cara kerja baru. Generasi baru ini bergerak lincah, dan bermanuver cepat, memahami aturan main, serta akrab dengan teknologi. Mereka disebut Net Generations, selalu terkoneksi dengan internet.

Generasi ini mampu melakukan banyak hal secara bersamaan. Mereka pandai memanfaatkan peluang, lalu menciptakan solusi sendiri terhadap suatu persoalan. Generasi-generasi baru ini juga membenci sistem birokrasi dan struktur yang bertele-tele, mereka selalu berusaha mendobrak tatanan tanpa harus melanggar aturan yang ada.

Ah, mungkin generasi seperti inilah yang dimaksudkan Soekarno dulu. Generasi yang akan membuat bangsa kita berlari cepat.

Mataram, 01 Agustus 2017

5/24/2017

Catatan Kritis George Orwell


Two Books From George Orwell

Selalu saja ada kekaguman pada sastrawan George Orwell. Setiap buku yang dihasilkannya selalu membahas tema-tema sosial yang rumit, namun dikemas dalam kalimat-kalimat sederhana. Bayangkan saja, sebuah fenomena besar tentang totalitarianisme Uni Soviet mampu ia sajikan dalam bentuk novel alegori satiris berjudul Animal Farm.

Dalam novel yang pertama kali terbit pada tahun 1949 itu, Orwell bercerita tentang pergolakan politik kekuasaan serta sistem pemerintahan totaliter yang dibangun Soviet. Dia menganalogikannya dengan kisah sekelompok hewan peternakan yang melakukan pemberontakan pada ras manusia demi mencapai kesetaraan hidup dan kemerdekaan.

Namun, kesetaraan yang seharusnya menjadi cita-cita bersama para binatang itu tak berlansung lama. Semua hanya sebatas euforia semata. Bangsa babi yang awalnya dipercayakan menjadi pemimpin peternakan karena lebih unggul dalam hal kapasitas dibanding yang lain, ternyata berhianat.

Atas nama bekerja keras dan mengelola peternakan, para babi diberikan hak istimewa. Mereka mendapatkan makanan yang lebih enak dan banyak, tempat yang lebih layak, dan beberapa hal lain yang menguntungkan bangsa mereka sendiri. Sementara para binatang lain tetaplah memproduksi segala jenis kebutuhan peternakan untuk lima persen kehidupan mereka. Sisanya dikuasai penuh oleh Napoleon, babi gendut sang penguasa peternakan binatang.

Animal Farm merupakan salah satu karya terbaik Orwell. Novel ini membuat namanya kian dikenal. Bahkan beberapa waktu lalu, beredar kabar bahwa novel ini kembali laku keras dipasaran. Berita itu dimuat oleh Antara News, edisi Kamis, 26 Januari 2017.

Setelah sebelumnya menyelsaikan Animal Farm, kini saya kembali hanyut saat mengikuti perjalanan Orwell di Inggris. Perjalan itu berisikan catatan tentang kemiskinan, penggangguran, kehidupan pekerja tambang, hingga bentuk pertentangan kelas di Inggris yang sangat menajam.

Melalui catatan perjalanan ini, Orwell pun kemudian melahirkan gagasannya mengenai pertentangan kelas sosial antara kaum borjuis dan proletar, serta lahirnya peradaban mesin dengan bentuk indistrialisme yang menyertakan lahirnya sosialisme.

Benang merah dari kedua karya ini adalah sama-sama mengandung kritikan tajam dan menukik. Jika dalam Animal Farm, penulis kelahiran India itu lebih banyak berbicara tentang paktik-praktik pemerintahan rezim bengis yang tengah berkuasa, maka dalam buku setebal 258 halaman berjudul The Road to Wigan Pire ini, ia memokuskan catatannya terhadap orang-orang sosialis.

Buku itu menjelaskan kerasahan Orwell terhadap gagalnya sosialisme, lalu dengan berani mengungkapkan pandangannya sendiri tentang paham tersebut. Ia berpendapat bahwa sosialis yang sesungguhnya adalah seseorang yang secara aktif ingin melihat tirani dihancurkan namun tidak sebatas membayangkan itu sebagai hal yang diinginkanya.

Di banyak bagian, saya menandai beberapa pandangan Orwell tentang betapa pertentangan kelas sosial di inggris pada dasarnya mewakili pertentangan kelas sosial yang terjadi di setiap lapisan masyarakat. Bahkan hingga saat ini, ketika kabut gelap totalitarianisme perlahan bergeser pada harapan hidup setara dalam kemewahan demokrasi, sebuah pertentangan sosial tak begitu sulit ditemukan.

Di Indonesia, di tengah demokrasi yang telah berjalan puluhan tahun ini, pertentangan-pertentangan sosial masih teramat nyata. Hal ini kemudian berimbas pada merosotnya nilai-nailai persamaan hak dimuka hukum. Sehingga, impian tentang sebuah negara yang menjamin keadilan bagi segenap rakyatnya belum juga tercapai.

Jika benar demokrasi itu adalah cita-cita suci demi menggapai perubahan bersama, mengapa masih banyak yang merasa dikreditkan? Mengapa pula para kelas menengah itu nampak acuh pada kami kaum hambasaya? Atau apa mereka dan kami memang berbeda? Jika benar demokrasi itu menjamin keamanan setiap warga negara, mengapa para tukang kepret yang berbekal surat dari negara itu merasa berhak mementung dan menghardik para pedagang dan buruh di pasar-pasar sana?

Jika benar demokrasi itu adalah hadirnya negara dalam setiap permasalahan rakyat, lalu dimana negara saat para pejabat brengsek dengan seenaknya merampas tanah petani lalu menjualnya ke korporasi bangsat dalam satu siklus kongkalikong perizinan? Dimanakah negara saat perusahaan-perusahaan yang entah datang dari mana tiba-tiba mengusir kami dari atas tanah nenek moyang kami yang diwariskan turun-temurun?

Ah, sudahlah. Bagi kami, semua yang kerap kalian sebutkan dilayar kaca itu hanyalah ilusi dan omong kosong belaka. Kami memilih untuk tetap melawan. Layaknya Orwell yang selalu gelisah, lalu melahirkan berbagai catatan kritis, kami pun akan tetap menjaga nilai-nilai kritis dalam diri guna mencapai kehidupan yang lebih baik. Harapan-harapan kami akan selalu ada, sebab kami masih memiliki ide-ide untuk perubahan, serta kebaikan yang akan terus tumbuh bak mawar di tengah reruntuhan.

Melalui ide-ide itu, kami berharap negeri ini akan selalu lebih baik. Indonesia akan selalu tersenyum, layaknya senyuman saya pagi tadi saat membaca tulisan kritis seorang siswi SMA tentang perbedaan pandangan politik antar kelompok, hingga berpotensi memecah belah persatuan.

Mataram, 24 Mei 2017

5/21/2017

Kucing, Cinta, dan Kejujuran


Dewey, Karya Vicki Myron dan Bret Writter

Seberapa besar dampak yang dapat ditimbulkan oleh seekor hewan? Berapa banyak kehidupan yang dapat disentuh oleh seekor kucing? Bagaimana mungkin seekor kucing buangan mengubah sebuah perpustakaan kecil menjadi tempat pertemuan dan daya tarik wisata, memberi inspirasi kepada penduduk sebuah kota klasik Amerika, mempersatukan warga di seluruh kawasan, dan pelan-pelan menjadi terkenal di seluruh dunia?

Tentu saja anda tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas sebelum menghabiskan bacaan setebal 392 halaman, karya Vicki Myron dan Bret Writter berjudul Dewey. Sebuah buku bestseller international yang menyajikan kisah heroik seekor kucing perpustakaan kecil Spencer, yang membuat dunia jatuh hati.

Diangkat dari sebuah kisah nyata, buku ini pertama kali diterbitkan oleh Grand Central Publishing, New York, pada 2008 lalu. Dewey adalah alarm yang menyala. Buku ini mengajarkan kita bahwa betapa selalu berfikir positif adalah satu-satunya lentera penerang di tengah segala kesulitan hidup. Dewey menitipkan pesan yang amat menyentuh hati, lucu, sekaligus memberi inspirasi bagi siapapun yang membacanya.

Perjalanan panjang kucing ini sungguh dimulai dengan cara paling menyedihkan. Umurnya baru beberapa minggu ketika pada malam terdingin tahun itu, dia dimasukkan ke sebuah kotak pengembalian buku perpustakaan umum Spencer, Lowa, oleh orang tak dikenal.

Dewey baru ditemukan pada keesokan harinya oleh direktur perpustakaan, Vicki Myron, orangtua tunggal yang berhasil bertahan dari kehilangan tanah pertanian, penyakit kanker payudara, dan suami yang kecanduan minuman keras. Pertemuan tak terduga itu menjadi berkah bagi keduanya. Dewey berhasil mencuri hati Vicki dan hati para pegawai perpustakaan.

Saat ketenarannya berkembang dari kota ke kota, melintasi berbagai negara bagian, dan akhirnya merebak ke seluruh dunia, Dewey menjadi sumber kebanggaan bagi sebuah kota pertanian yang bangkrut di pedalaman Amerika dan membuatnya bangkit dari krisis berkepanjangan yang telah berakar jauh di masa silam.

Ada bagian yang membuat saya takjub yakni ketika Dewey mampu menjadi aktor pengganti dibalik alpanya peran sebagian orang tua di Spencer yang selalu sibuk dengan berbagai aktivitas pertanian, hingga lupa menyisihkan waktu bagi anak-anak mereka.

Di banding seekor kucing, saya lebih memilih memaknai Dewey sebagai tokoh rekonsiliatif dalam buku ini. Vicki dengan sederhana menjelaskan bagaimana kehadiran kucing tampan itu menjelma serupa maghnet lalu mempersatukan segalanya.

Saya bisa merasakan bagaimana perasaan Vicki pada Dewey. Kucing itu telah menemani seorang direktur perpustakaan selama bertahun-tahun. Dewey telah memberi Vicki sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Hubungan keduanya bukanlah tentang seekor kucing dan majikannya, tetapi tentang sebuah persahabatan, cinta, dan kejujuran.

Tak ayal setelah kepergian kucing itu, Vicky harus membongkar ingatannya. Ia berusaha menyusun satu demi satu kepingan manis bersama kucing itu untuk diceritakan. Dia menyadari bahwa dengan cara inilah, Dewey akan selalu abadi dan terpatri dalam benak semua orang. Bagaimanapun juga, saya sangat mengapresiasi kisah ini. Saya mengapresiasi kecintaan Vicky yang begitu besar.

Dulu, ketika pacar saya memelihara kucing, saya juga melihat rasa kecintaan yang sama. Entah mengapa, dia menjadi begitu bersemangat. Dia merawat kucing itu penuh suka cita. Bahkan setiap akhir bulan, saya kerap diminta untuk menemaninya membeli makanan si pus, panggilan akrab kucing peliharaannya.

Kesan saya seusai membaca buku ini adalah betapa sebuah memoar manis, selalu diawali dengan rasa cinta kasih yang jujur dan teramat mendalam. Pada akhirnya, rasa itu akan menyatu dengan segala sikap serta senantiasa memancarkan energi positif dalam diri manusia. Cinta itu teramat luas, cinta itu adalah bagaimana memberi kebaikan.

Setelah membaca Dewey, sayapun ingin memelihara kucing.

Mataram, 21 Me1 2017