Showing posts with label Humaniora. Show all posts
Showing posts with label Humaniora. Show all posts

2/25/2018

Berhenti Bicara Politik

Ilistrasi (sumber: google)

Dimana-mana orang bicara politik. Di pinggir jalan orang ngomongin politik. Di media sosial apalagi. Kata banyak orang, politik itu adalah alat untuk menggapai kesejahteraan bersama. Akan tetapi, semua tak sesederhana itu. Di dunia nyata, politik telah mengalami penciutan makna. Politik adalah kekuasaan, lalu banyak orang rela melakukan apa saja demi kekuasaan itu.

Jika tak percaya, ikuti saja perjalanan masing-masing tim sukses calon. Lihat apa yang mereka lakukan, seberapa besar anggaran yang digelontorkan demi meraup suara. Dalam politik, tak ada makan siang gratis bro. Anda masih ingat La Nyala bukan? Ia adalah saoah satu pejabat yang statemennya dianggap kontroversial, lalu menggemparkan banyak media tempo hari.

Entah kenapa, saya tak pernah terlalu berharap pada politik. Lebih-lebih proses pilkada. Bagi saya, mustahil menggantungkan hidup pada segelintir orang. Mustahil berharap kehidupan yang lebih baik pada mereka. Neda halnya jika anda adalah tim sukses, atau pemodal yang berinvestasi melalui salah satu calon. Tapi jika anda rakyat biasa, saya sarankan untuk segera bangun dari tidur.

Mataram, 25 Februari 2018

1/16/2018

Gus Dur di Mata Orang Jepang

Gua Dur (gambar: sisterislam/twitter)

Siapa yang tidak kenal Gus Dur? Mantan Ketua Umum PBNU, sekaligus presiden ke-4 Indonesia ini merupakan salah satu tokoh bangsa yang amat fenomenal. Ia adalah cendikiawan muslim tanah air yang dikagumi banyak orang. Gagasan-gagasannya kontroversial, termasuk mengeluarkan dekrit pembubaran DPR/MPR.

Di zaman presiden Soeharto, Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang aktif mengkritisi penguasa. Setelah orde baru tumbang, ia pun terjun ke dunia politik, yang lalu mengantarkannya menjadi presiden. Posisi Gus Dur memang tak bertahan lama. Terhitung, masa jabatannya hanya berlansung selama 1 tahun 9 bulan.

Banjir kritikan karena kunjungan luar negeri yang demikian banyak, pertentangannya dengan DPR, hingga masalah investasi yang tidak jelas membuat Gus Dur terpaksa diberhentikan dari kursi kepresidenan. Posisinya kumudian digantikan oleh sang wakil, yakni Megawati Sukarnoputri.

Kisah tentang Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur saya temukan dalam buku Islam di Mata Orang Jepang karya Hisanori Kato, terbitan Kompas 2014 lalu. Buku setebal 176 halaman itu memuat cerita perjalanan Kato saat melakukan riset tentang agama islam di Indonesia.

Kato menjadikan beberapa tokoh sebagai pintu masuk untuk memahami bagaimana islam di Indonesia ditafsirkan secara berbeda. Ia meniti islam diantara lautan pemikiran. Ia merajut serpihan pandangan dari pertautan dengan banyak orang, lalu berusaha menemukan sendiri seperti apa islam yang sebenarnya. Sebagai peneliti, Kato tidak fokus pada ajaran dan teks keislaman, tetapi fokus pada bagaimana islam itu dihayati dan dibumikan dalam kehidupan penganutnya.

Kato mewawancarai beberapa tokoh yang menurutnya menjadi refresentasi islam di Indonesia. Ia menulis pertemuannya dengan Bismar Siregar, Mohamad Sobary, Ismail Yusanto (Jubir HTI), Ulil Abshar Abdalla, Eka Jaya (anggota FPI), Fadzli Dzon, Gus Dur, hingga tokoh perempuan seperti Lili Munir. Ia mengaku senang bisa mewawancarai banyak orang. Di setiap perjumpaan itu, ia mengaku selalu menyerap keping inspirasi.

Menurut Kato, agama dalam kehidupan di Indonesia memainkan peran yang begitu dominan. Hal ini bertolak belakang dengan apa yang terjadi di negara asalnya. Di sekolah umum di Jepang, kata “agama” dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Bisa disimpulkan, sangat tidak mungkin agama menjadi topik pembicaraan, kecuali dalam pelajaran sejarah. Berbeda halnya dengan pendidikan di Indonesia yang meletakan agama sebagai sesuatu yang amat penting.

Di satu bagian, Kato menceritakan pertemuannya dengan Gus Dur. Ia mengaku telah lama memendam hasrat untuk memawawancarai pemimpin agama islam yang namanya tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga di dunia itu. Kato menemui Gus Dur pertama kali di kantor pusat Nahdlatul Ulama, Jakarta pada tahun 1996.

Topik pembicaraan mereka saat itu adalah hubungan antara agama islam dan demokrasi. Gus Dur mengungkapkan dengan semangat bahwa terdapat kesamaan antara agama islam dengan demokrasi yang disebut dalam masyarakat Barat. Menyoal “benturan peradaban” yang ditulis Samuel Huntington, ia mengatakan dengan jelas kalau itu keliru. “Yang disebut demokrasi bukan nilai yang hanya ada di Barat, semua agama termasuk agama islam demokratis, mempunyai nilai atas seluruh umat manusia.” Katanya.

Gus Dur menekankan bahwa nilai-nilai demokrasi bisa diwujudkan dalam masing-masing budaya. Bersamaan dengan itu, masyarakat Indonesia seharusnya berkembang dengan tetap memelihara aspek budaya. “Saya ingin membentuk masyarakat Indonesia yang memiliki toleransi dan keluwesan, bukan masyarakat islam” tambah Gus Dur kepada Kato.

Gus Dur (gambar: infobiografi.com)

Gus Dur yang Kharismatik

Menurut Kato, Gus Dur begitu mudah menyampaikan pikiran-pikirannya tentang kesetaaran dan demokrasi, tak lain karena kharismanya yang begitu kuat. Ia menceritakan pengalamannya saat menemani Gus Dur memberi ceramah di sebuah masjid di Jakarta Utara. Hari itu, Gus Dur berbicara kepada jamaah yang hadir tentang pentingnya masyarakat islam melindungi dan hidup berdampingan dengan kelompok minoritas yakni agama kristen, budha, hindu, dan lalin-lain.

Saat itu, Kato menyaksikan orang-orang yang memadati aula mendengarkan ceramah dengan takzim. Ia melihat betapa pikiran-pikiran Gus Dur bisa dihargai. Tak semua orang yang berbicara tentang gagasan besar mudah diterima. Sebagai contoh, Ulil Abshar Abdalla, aktivis islam liberal muda yang juga begitu terinspirasi dengan sosok Gus Dur, belum tentu mendapat apresiasi masyarakat luas. Malah, dalam sati publikasi, Ulil mengaku begitu banyak mendapat ancaman saat mendirikan Jaringan Islam Liberal (JIL).

Lalu, dari mana gerangan munculnya kharisma Gus Dur? Jika dilihat dari silsilahnya, keluarga Gus Dur mempunyai garis keturunan elite di Indonesia. Kakeknya, Hasyim Asy’ari adalah ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama, salah satu ormas islam terbesar di Indonesia. Ayahnya, Wahid Hasyim dikenal sebagai menteri agama pertama tang juga ikut berjasa dalam pembentukan fondasi negara.

Sejak usia muda, Gus Dur memang telah dipandang sebagai tokoh yang mewarisi pemikiran besar dari ayah dan kakeknya. Ia belajar di Mesir dan Irak, lalu pulang ke Indonesia sebagai kritikus pemerintah. Pada tahun 1984, Gus Dur ditunjuk sebagai ketua PBNU dan menjadi presiden pada kurun waktu antara 1999-2001.

Gus Dur Sebagai Politisi

Banyak orang yang mengkritisi Gus Dur sebagai politisi. Perkataannya yang blak-blakan seringkali memunculkan antipati. Namun, siapa pun akan mengakui bahwa jasanya kian besar dalam menumbuhkan demokratisasi, kebebasan memeluk agama, dan toleransi antar umat dalam sejarah republik ini.

Setelah terpilih sebagai presiden, Gus Dur mengeluarkan begitu banyak kebijakan yang berkaitan dengan domokratisasi. Ia membebaskan tahanan politik yang dicurigai terlibat dalam komunisme, memperbolehkan budaya China yang sebelumnya dilarang, memberi hak yang sama kepada semua agama, hingga menutup departemen yang berhubungan dengan aktivitas intelijen.

Kato melihat Gus Dur sebagai sosok pemimpin yang begitu dekat dengan rakyat. Tak jarang, ia melakukan shalat jumat di masjid istana kepresidenan, lalu meluangkan waktu untuk berbincang dengan masyarakat umum. Ia tipikal pemimpin yang terbuka. Suatu hari, sekelompok aktivis yang menentang kebijakan ekonomi pemerintah melakukan demonstrasi di depan istana. Saat itu, Gus Dur justru mengundang mereka ke dalam istana untuk menyampaikan pendapatnya.

Kato juga sempat mendampingi Gus Dur saat mengisi kuliah umum di Jepang. Setelah perkuliahan selesai, ia yang dijadwalkan untuk menghadiri acara yang lain segera menuju mobilnya. Melihat itu, para mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang menghampiri Gus Dur untuk memberi salam. Meski panitia acara berusaha menghalangi, Gus Dur tetap berdiri dan berbicara dengan para mahasiswa itu. “Asalnya dari mana? Belajar apa di sini? Jepang bagaimana?” Demikian pertanyaan Gus Dur kepada mereka.

Sikap Mendasar Gusdur

Di antara sekian banyak pemimpin agama islam, Gus Dur adalah yang paling banyak diwawancarai Kato. Ia mencatat, ada tigal hal yang menjadi sikap mendasar dari tokoh yang satu ini. Pertama, ia selalu bersikap kritis kepada orang yang mempunyai kekuasaan, kedua memperlakukan agama islam sebagai urusan pribadi, dan ketiga mencari pola islam yang baru.

Tak hanya itu, Kato juga melihat Gus Dur sebagai sosok yang paling sering melontarkan lelucon. Dasar dari lelucon-leluconnya itu selalu saja berupa sindiran terhadap penguasa. Tak jarang, ia menjadikan Suharto dan Ibu Tien sebagai bahannya. Dari sana, Kato menyadari betapa Gus Dur memiliki jiwa pemberontakan terhadap kekuasaan yang besar. Dan itu sebenarnya menunjukkan keberpihakannya terhadap rakyat lemah.

***

Di akhir kisah, tak lupa Kato mengenang pertemuan terakhirnya dengan bapak pluralisme Indonesia itu. September 2009, Gus Dur tengah menjalani perawatan di rumah sakit. Kato yang berkunjung ke Jakarta dalam waktu terbatas, berusaha menyempatkan diri untuk melihat kondisi sahabatnya. Di sana, Gus Dur yang bangkit dari tempat tidur masih tampak sehat. Tak ada perubahan sedikitpun pada fisiknya.

“Gus kondisi anda apa sudah jauh membaik? Apa yang anda rasa?”
“Ini hanya komplikasi, tetapi sekarang sudah lebih baik” Jawabnya.
“Kalau begitu, kenapa anda tidak boleh pulang? Berapa lama lagi anda di opname?”
“Kira-kira tiga bulan lagi saya harus dirawat di sini” Kata Gus Dur.

Setelah pertemuan itu, Kato sedikit lebih tenang saat meninggalkan rumah sakit. Namun, persis tiga bulan kemudian, tepatnya di akhir Desember 2009, sebuah kabar duka berhembus. Gus Dur meninggal dunia. Sosok yang namanya seharum bunga itu telah tiada. Ia seakan telah meramalkan akhir dari perjalanan hidupnya sendiri.

Gus Dur adalah fenomena langka. Kepergiannya menyisahkan luka mendalam bagi banyak orang. Di tengah kondisi bangsa yang serupa benang kusut, kita kehilangan tokoh yang pikirannya melampaui zaman. Di tengah guncangan stabilitas sosial oleh berbagai isu sara, serta teriakan kafir dan intimidasi kepada sesama, kita kehilangan satu figur yang semangat hidupnya dikobarkan atas nama toleransi dan keberagaman.

Mataram, 16 Januari 2017

1/12/2018

Membincang Perselingkuhan, dari Memperpendek Umur Hingga Gejolak Sosial

Kedapatan selingkuh (gambar: metrosiantar)

Seorang sahabat berkisah tentang teman sekantornya yang ketahuan selingkuh. Ia adalah seorang diplomat yang sekarang berkarir di luar negeri. Kami memang sering berdiskusi melalui kontak media sosial. Di waktu senggang, kami biasa membahas banyak hal yang sedang ramai atau lagi hangat-hangatnya.

Hari itu, ia menghubungi saya melalui messenger. Seperti biasa, setelah bersua kabar kami pun berbincang ringan. Tanpa disengaja obrolan kami masuk ke bahasan seputar perselingkuhan.

Sahabat itu mulai bercerita tentang teman sekantornya yang terpaksa dipecat karena kedapatan selingkuh. “Di sini memang regulasinya agak ketat. Sekali melanggar, kita akan diberi sangsi pemecatan. Apalagi jika menyangkut soal perselingkuhan” Katanya.

Ia kemudian lanjut bercerita. “Kamu tau ngak, selingkuh itu ternyata bisa memperpendek umur. Teman saya yang kuliah di Dortmund baru saja melakukan penelitian tentang topik itu. Mereka yang berselingkuh rata-rata meninggal di usia muda” What??? Saya agak sedikit terkejut mendengar pernyataan itu.

Sebenarnya, tema tentang perselingkuhan ini telah beredar banyak di internet. Saya juga telah membaca beberapa artikel kesehatan yang menyebutkan bahwa perselingkuhan tak hanya bisa menyebabkan penyakit menular seksual, tetapi juga masalah medis yang lebi serius, yakni serangan jantung dan penyakit kanker.

Dalam satu publikasi ilmiah, seorang spesialis jantung di Florida, Dr Chauncey Crandall, menerangkan bagaimana stres dan tekanan saat terjadinya perselingkuhan bisa membuat risiko serangan jantung makin besar. Saat melakukan hubungan intim terlarang, denyut jantung dan tekanan darah meningkat, yang bisa memicu plak di arteri koroner pecah sehingga mengakibatkan serangan jantung. Paparnya.

Terkait cerita sahabat tadi, beberapa hari berselang, ia kembali menghubungi saya. Kali ini ia mengabarkan berita duka. Teman kantor yang dipecat karena ketahuan selingkuh tempo hari itu meninggal dunia. Yang membuat saya lebih terkejut adalah, saat mengetahui kematiannya diakibatkan oleh serangan jantung.

Saya tak hendak berkomentar. Saya tak ingin berspekulasi atas apa yang tidak benar-benar saya pahami. Saya hanya seorang mahasiswa yang hanya kebetulan sedang tertarik membaca informasi seputar dunia kesehatan. Terkait paparan Crandall, tentu kita boleh menjadikannya sebagai pemantik diskusi, serta rujukan saat harus menjelaskannya kepada banyak orang.

Kepada sahabat itu, saya hanya mengucapkan kalimat prihatin. Bagaimanapun juga, ia sudah mengakui kesalahan, lalu meminta maaf kepada istri dan anaknya. Menyoal perselingkuhan sendiri, saya lebih senang jika memaknai fenomena ini dalam spektrum yang lebih luas. Lebih-lebih jika itu terjadi di Indonesia.

Saya masih ingat saat Jennifer Dun menjadi bulan-bulanan media beberapa waktu lalu. Hampir semua berita infotaiment mengulik hubungannya dengan Faisal Haris. Masa lalu artis cantik itu menjadi bahan investigasi, yang lalu dengan cepat beredar. Bahkan, ia sempat mendapat perlakukan tidak menyenangkan dari Shafa, anak Faisal Haris, di salah satu tempat perbelanjaan umum.

Nah, seandainya kita adalah Jennifer Dun saat itu, apakah gerangan yang akan kita lakukan? Bagimanakah perasaan gadis muda itu saat foto-fotonya beredar luas di banyak media? Bagaimana pula tanggapan para keluarga, saat kalimat “Pelakor” dengan leluasa disematkan oleh publik kepadanya?

Pada skala yang lebih besar, perselingkuhan bukan sekedar jalinan kasih sepasang insan yang dilakoni secara sembunyi-sembunyi, tetapi juga menyangkut reputasi banyak pihak.

Disadari atau tidak, selain berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan, serta memantik gejolak sosial di tengah masyarakat, perselingkuhan juga merupakan ladang subur bagi beberapa acara televisi yang aktif mengusut dan menggoreng polemik tersebut hingga menjadi tontotan yang renyah untuk dikonsumsi.

Pada titik ini, medadak saya teringat lirik salah satu lagu dari group band tanah air:

Mungkin kurelakan untuk kau tinggalkan Diriku di sini harus mengakhiri Aku yang merasa lelah dan menyerah Karena tak selamanya selingkuh itu indah...

Mataram, 12 Januari 2018

1/10/2018

Akhirnya Menggunakan Domain Pribadi

Top level domain

Akhirnya hasrat untuk memiliki domain pribadi terpenuhi juga. Keinginan untuk menjadikan blog terlihat lebih profesional pun tertuntaskan. Belum lama ini, saya mengganti alamat blog dari yang sebelumnya http://imronfhatoni.blogspot.com menjadi http://www.imronfhatoni.com atau lebih tepatnya mengubah alamat itu menjadi top level domain.

Sebenarnya, keinginan untuk menggunakan jasa top level domain sudah terpendam dari jauh-jauh hari. Banyak pula sahabat blogger yang menyarankan. Untuk membuat blog terlihat lebih profesional, salah satu yang bisa kamu lakukan adalah menggunakan domain berbayar katanya.

Saya membaca informasi di media tentang kelebihan menggunakan domain pribadi. Selain tampilannya lebih prefesional, blog juga akan mudah terindex mesin pencari google, serta bisa digunakan untuk mendaftar adsense non hosted. Entahlah, saya sendiri tak terlalu paham tentang SEO.

Saya tentu memiliki penilaian khusus mengapa setiap blogger perlu menggunakan jasa top level domain. Pertama, artikel lebih memantik ketertarikan pembaca. Ini adalah pengalaman pribadi. Entah kenapa, saya akan lebih percaya terhadap artikel yang diproduksi oleh mereka yang menggunakan domain pribadi ketimbang yang menggunakan sub domain ketika mencari referensi.

Kedua, mendapatkan tawaran menulis. Sudah dua kali saya melewatkan kesempatan untuk mengikuti jasa menulis hanya karena blog saya belum menggunakan domain pribadi. Program ini biasanya dilakukan oleh berbagai perusahaan yang hendak mempromosikan produk di media sosial. Mereka akan menyasar para blogger untuk dijadikan mitra.

Ketiga, kemudahan mengikuti lomba blog. Memang, lomba blog umumnya boleh diikuti oleh setiap blogger. Tetapi pihak penyelenggara cenderung akan memberikan perhatian khusus bagi mereka yang mendaftarkan diri menggunakan domain pribadi.

Nah, demikian catatan singkat mengapa saya tertarik menggunakan jasa top level domain. Pada akhirnya, yang terpenting dalam dunia blogging adalah berusahalan untuk tetap menulis. Upayakanlah untuk selalu memproduksi konten-konten berkualitas bagi banyak orang. Terlepas dari menggunakan domain pribadi atau tidak, saya rasa jangan terlalu dipersoalkan.

Mataram, 10 Januari 2017

1/09/2018

Bunga Langka Rafflesia Arnoldi di Peringati Google

Tampilan google 09 Januari 2018

Sudahkah anda melihat tampilan google sepanjang hari ini? Sekilas, tampilan mesin pencari itu tengah memperlihatkan sesuatu yang tak biasa. Tahukah anda, hari ini, 09 Januari 2018, Google doodle ikut memperingati Bunga Rafflesia Arnoldi sebagai puspa langka nasional ke - 25.

Hal ini sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993 tentang satwa dan bunga nasional. Selain rafflesia, dua bunga lain yang juga mencakup keputusan itu adalah melati putih sebagai puspa bangsa dan anggrek bulan sebagai puspa pesona.

Sejarah pengetahuan umum mencatat, bunga rafflesia arnoldi pertama kali ditemukan oleh seorang pemandu asal Indonesia yang bekerja untuk Dr. Joseph Arnold di tahun 1818. Bunga ini kemudian dinamai berdasarkan nama Thomas Stanmford Raffles yang memipin ekspedisi itu.

Namun belakangan, Jamili Nais dalam buku "Rafflesia of the World" justru mengungkap bahwa penemu pertama rafflesia adalah Louis Auguste Deschamps, seorang ilmuan Prancis yang meneliti selama 11 tahun di Indonesia. Deschamps pernah menetap di Jawa antara kurun waktu 1792 hingga 1794. Seiring perjalanannya, ia membuat banyak ilustrasi, catatan, serta koleksi dari ragam tumbuhan di berbagai daerah. Dalam proyek itulah Deschamps menemukan rafflesia.

Terlepas dari berbagai pertentangan pandangan prihal penamaannya, bunga rafflesia arnoldi tetaplah menjadi penemuan yang langka. Bentuknya yang serupa tempat sirih membuat sebagian besar masyarakat Bengkulu menyebutnya sebagai bunga bokor setan. Sebagian masyarakat lain juga menyebut rafflesia sebagai bunga bangkai. Sebab, ketika bunga ini mekar, ia akan mengeluarkan aroma yang tak bersahabat.

Saya menyenangi google yang tak alpa memberikan apresiasi terhadap fenomena bunga raksasa ini. Bagaimanapun juga, rafflesia adalah satu dari sekian banyak simbol kekayaan dan keanekaragaman nusantara.

Dahulu, kolonialisme tak hanya datang dengan segudang senjata demi hasrat menjarah negeri, tetapi juga menggandeng para ilmuan yang kelak karyanya dinikmati warga dunia. Para ilmuan dan penakluk itu bekerja dalam dimensi yang berbeda. Mereka datang atas sebaris tanya tentang peradaban, serta kehendak untuk menyempurnakan pemahaman manusia atas alam semesta di kemudian hari.

Tak hanya bunga rafflesia arnoldi yang sedemikian spesial bagi google. Tahun lalu, perusahaan yang berbasis di Amerika itu, juga ikut merayakan hari kelahiran Pramoedya Ananta Toer, sosok sastrawan besar yang dimiliki republik ini. Saat itu, google menggambarkan ilustrasi seorang pria berambut putih, berkacamata, dan berkaus oblong yang sedang mengetik, di mesin tik manual.

12/22/2017

Titip Rindu untuk Ibu

Selamat hari ibu (Photo: islamidia.com)

Hari ini, semua orang berlomba-lomba menyatakan cinta kasih kepada ibunya. Yups, hari ini, 22 Desember adalah perayaan hari ibu (The mother’s day). Entah kenapa, aku juga rindu sosok itu. Kulitnya yang kian keriput, menandakan bahwa umurnya tak muda lagi. Wajahnya yang makin berkerut tetiba hilir mudik dalam ingatanku sejak semalam.

Aku rindu wanita itu. Setiap kali mengingatnya, terasa ada cairan bening yang perlahan-lahan menetes di mataku. Terus terang, aku merasa malu karena belum bisa berbuat banyak di usianya yang kian senja. Aku merasa malu, sebab belum bisa mengembangkan senyum di bibirnya. Rambutnya mulai memutih, matanya kian kusut. Namun, cinta kasihnya terus saja mengalir.

Sewaktu aku lulus SMA dulu, itulah pertama kali aku melihat getir di wajahnya. Barangkali saat itu, ia tengah memikirkan bagaimana cara menyekolahkanku hingga level perguruan tinggi. Mungkin ia tak ingin pendidikanku terputus sebagaimana kakak perempuanku.

Sebagai putra satu-satunya, aku sangat menghargai harapan ibuku yang setinggi gunung. Suatu hari, ia pernah berpesan, kelak jika dirinya telah tiada, aku harus mampu menyekolahkan adikku yang sekarang duduk di bangku SMP. Tiap kali mengingat kalimat itu, batinku selalu basah.

Akhir-akhir ini, aku benar-benar sedang susah dan tak punya duit. Aku tahu betul kalau ibu juga sedang kesusahan di kampung halaman, karena kami memang berasal dari keluarga sederhana. Ibuku hanyalah seorang petani dengan lahan seadanya, serta ayahku hanyalah seorang nelayan yang hari-harinya lebih banyak bergantung pada lautan.

Tiap hari aku selalu berusaha menahan diri untuk tidak menelfonnya. Aku tak mau setiap masalahku di perantauan, harus menjejali pikiran wanita itu. Tapi anehnya, ia selalu tahu kalau aku lagi susah. Ia lantas menelfonku, lalu menawari bantuan yang serupa mukjizat yang turun dari langit. Ah, dia memang serupa malaikat penolong.

Ibuku adalah cahaya yang menyala-nyala dalam jiwaku. Ia adalah api yang membakar semangat untuk terus menjalani hidup. Bagiku, ia adalah segalanya. Ia adalah sosok yang dikirimi tuhan kepadaku demi memahami apa yang disebut banyak orang sebagai cinta. Aku meyakini bahwa setiap ibu, adalah wujud dari cinta itu sendiri.

Kini, dalam bentangan jarak, aku kian kerdil setiap kali mengingat ibu. Di sini, aku masih saja tak berdaya serta belum bisa berbuat banyak untuk menuntaskan dahaga kebahagiaan di hatinya. Sekarang, aku hanya bisa berujar lirih sembari berharap kepada sang ilahi agar memberiku kemudahan untuk membalas jasa-jasanya kelak.

Selamat hari ibu.

Mataram, 22 Desember 2017, di hari ibu.

Dulu Asrama Mahasiswa, Sekarang Kandang Ayam

Ayam berlarian

Semalam, seorang sahabat mengundang saya berdiskusi seputar isu kedaerahan. Tanpa banyak pertimbangan, saya pun segera memenuhi permintaannya. Diskusi ringan itu membahas beberapa persoalan. Mulai dari kabar tak sedap perihal pembatalan pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa, hingga fenomena asrama mahasiswa Sumbawa di Mataram.

Di sela-sela diskusi, sahabat itu mulai menceritakan kegelisahannya perihal nasib bangunan tua yang dulunya menjadi sentra perkumpulan ribuan mahasiswa Sumbawa di Mataram. Setelah enam tahun paska bangunan itu terbakar, tak ada respon dari pemerintah. Tak ada etikat baik untuk merenovasi bangunan itu. Atau, minimal memberikan sekretariat sementara sebagai penggantinya.

Sebenarnya, sejak dulu saya sudah berusaha membuka keran komunikasi dengan pemerintah terkait permasalahan ini. Melalui salah satu paguyuban mahasiswa Sumbawa di Mataram, para sahabat aktivis juga getol menyuarakan hal serupa. Pernah kita menyurati Dewan Perwakilan Rakyat di Kabupaten, pernah pula kita bertemu salah satu pejabat tinggi daerah, lalu membicarakannya. Sayang, sampai hari ini pun, wacana untuk merenovasi bangunan asrama itu tak kunjung terlaksana.

Padahal, keberadaan sebuah asrama mahasiswa sangatlah penting. Di bangunan bernama asrama, mereka yang berasal dari daerah-daerah tak hanya bisa tinggal dan saling berinteraksi, tetapi juga bisa saling bertukar ide dan gagasan melalui forum-forum diskusi yang dengan mudah digelar setiap harinya. Selain di lingkungan kampus, asrama adalah tempat penyemaian pikiran-pikiran besar demi kemajuan daerah.

Terbukti, mereka yang sekarang menempati posisi strategis di Kabupaten Sumbawa, dulunya pernah menghabiskan banyak waktu di asrama itu. Hanya saja, tak semua mau bersimpati, lalu melakukan sesuatu saat mengetahui kondisi bangunan yang dulunya menjadi tempat tinggal itu kini lebih mirip kandang ayam.

Entah kenapa, hati saya selalu teriris ketika melintasi area bangunan asrama mahasiswa Sumbawa di Mataram. Kini, bangunan itu tak lagi terawat. Yang tersisa hanyalah puing-puing lapuk akibat amuk si jago merah beberapa tahun lalu. Pada gerbang yang bertuliskan Wisma Lalu Mala Syarifuddin itu, selalu dipenuhi sampah dan rumput-rumput liar.

Andai saja sosok yang disebut-sebut sebagai Doktor pertama di NTB itu bisa bangkit dari kuburnya, apakah gerangan yang akan dikataannya? Jika ia melihat kondisi wisma yang didirikannya begitu memperihatinkan, apakah gerangan reaksinya? Ataukah ia akan seperti seorang pemimpin di seberang sana yang senang mengumbar janji, acuh tak acuh, serta selalu sibuk mengurusi dirinya sendiri? Entahlah.

Saya berharap, pemerintah tidak amnesia pada janji-janji politik saat kampanye dulu, serta tetap fokus pada program skala prioritas menyangkut infrastruktur. Untuk itu, seharusnya tak perlu banyak pertimbangan untuk segera merenovasi Wisma Samawa, mengingat basis terbesar mahasiswa Sumbawa yang hidup diperantauan itu ada di Mataram.

Di akhir diskusi, saya menekankan bahwa perlunya satu sikap kesadaran kolektif dari semua pihak, termasuk seluruh mahasiswa Sumbawa di Mataram untuk ikut ambil bagian demi memperjuangkan masalah ini. Sebab, jika berlarut-larut, para generasi selanjutnya tentu akan bernasib sama. Orang bijak mengatakan, tinggalkanlah mata air, bukan air mata.

Mataram, 22 Desember 2017