Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

10/31/2017

Selapis Kesan Saat Pelatihan Duta Damai

Duta Damai BNPT Sasambo Regional Mataram

Pekan silam, saya mengikuti program Duta Damai Dunia Maya yang digagas oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia. Tak saya sangka, pelatihan itu menjadi pelatihan yang sangat mengesankan. Saya bertemu banyak sahabat-sahabat yang menggeluti dunia teknologi informasi serta aktif berselancar di dunia maya.

Kami diikat oleh visi yang sama, yakni bagaimana menebar pesan damai melalui media sosial. Di ranah maya, kami diarahkan untuk lebih aktif dalam memproduksi konten serta informasi positif demi melawan segala bentuk propaganda radikal dan terorisme.

***

Mulanya, saya membayangkan pelatihan Duta Damai sama halnya dengan banyak pelatihan lain yang pernah saya ikuti. Dimana, para pemateri lebih aktif ketimbang peserta dan berlansung dalam waktu singkat. Dugaan saya salah. Di Lombok Astoria Hotel Mataram, sebanyak 60 peserta terpilih dilatih, dibentuk, lalu bergerak bersama-sama dalam satu barisan guna memerangi aksi terorisme dan radikalisme di dunia maya.

Mereka yang terpilih adalah para blogger, design komunikasi visual, hingga para praktisi IT. Mereka kemudian diajari cara membuat web, mengelola konten, hingga membuat satu tulisan yang berkualitas. Harapannya, kelak mereka inilah yang akan mengubah landscape dunia maya, menentukan persepsi dan opini publik di masa depan, lalu merancang perubahan melalui langkah-langkah sederhana.

Pelatihan itu dikemas selama tiga hari. Di hari pertama, para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok yang nantinya akan mendapatkan pendalaman materi terkait bidang yang diikuti. Setelah itu, barulah mereka berkolaborasi demi memproduksi satu konten yang nantinya akan dipresentasikan di akhir kegiatan.

Seorang pemateri menuturkan, pelatihan duta damai dunia maya telah dilaksanakan di banyak kota di Indonesia termasuk Malang, Jogjakarta, hingga Banjarmasin. Akan tetapi baru tahun ini, kegiatan yang diinisiasi lansung oleh BNPT tersebut bisa terselenggara di Bumi Seribu Masjid.

Apapun itu, yang jelas saya sangat senang bisa tergabung dalam satu barisan muda kreatif serta berkesempatan mendapat bimbingan dari para pemateri yang berpengalaman. Dalam banyak kesempatan, saya selalu memposisikan diri sebagai seorang murid yang berhadapan dengan para guru berusia muda, yang telah lama bermain di ranah digital.

Harapan saya, kegiatan semacam ini haruslah terus diadakan. Mengingat dewasa ini, Indonesia menjadi salah satu negara yang mengandung begitu banyak gembong terorisme. Jika dahulu, sebelum teknologi informasi menjangkau setiap rumah, doktrinisasi oleh kelompok-kelompok garis keras ini mungkin masih dilakukan secara lansung di tempat-tempat tertentu.

Belakangan, sejak media sosial menjadi standarisasi publik serta taman bermain bagi semua kalangan, mereka kemudian beralih. Mereka membentuk sindikat, membangun satu pola baru yang lebih rapi dan tertutup. Tentu saja yang menjadi sasaran utama adalah para generasi muda labil secara moral serta dangkal pemahaman kebangsaan maupun agama. Sehingga sangat mudah terpantik api propaganda.

Fenomena media sosial telah memungkinkan segala sesuatu terjadi begitu instant. Saya mengamini tulisan Thomas Friedman dalam The World Is Flat tentang realitas dunia baru yang kian datar. Konsekuensi logis dari perkembangan dunia semacam ini iyalah kian mengaburnya segala batasan antar manusia satu dengan yang lainnya. Dalam konteks gerakan terorisme kekinian, prosesi yang teramat sakral seperti pembaiatan, dapat dengan mudah dilakukan secara online. Hah???

Dunia teknologi informasi telah menjelma sebagai atmosfer demokratis yang mengubah semua tatanan. Hanya bermodalkan ujung jari, orang-orang dengan mudah melempar informasi ke ruang maya. Informasi itu lalu beresonansi dengan semesta, menyala-nyala dipikiran banyak orang, hingga menyebar serupa virus.

Tentu tak masalah jika informasi yang dibagikan memang bertujuan untuk mencerahkan publik. Tapi bagaimana jika ternyata yang telah tersebar secara viral itu justru berita bohong, hoax, serta memuat aksi propaganda terhadap kelompok tertentu?

Kesan saya, melibatkan kaum muda dalam satu gerakan kontra propaganda sangatlah tepat. Tinggal bagaimana menjaga agar semangat ini terus menyala. Setelah resmi tergabung dalam satu barisan duta damai, saya mempelajari banyak hal. Dari berbagai penjuru tanah air, saya menemukan suara-suara yang diekspresikan melalui jari-jemari dan kreatifitas kaum muda yang memutus jarak dan mendekatkan semua gagasan.

Mereka yang memproduksi konten perdamaian melalui tulisan, design grafik, serta melalui video itu berada dalam gelombang pemikiran yang sama. Mereka tergerak untuk bersuara atas sesuatu yang amat penting. Mereka sama-sama mengacungkan telunjuk demi mempertahankan keutuhan bangsa.

Ada nada khawatir, cemas, dan lirih yang coba dirangkum dalam ide. Di situ, saya juga menemukan optimisme yang kuat bahwa bangsa ini akan semakin perkasa sebab banyak orang baik yang tersebar di mana-mana. Indonesia akan selalu damai dan menjadi rumah yang nyaman untuk semua orang. Bahwa Indonesia akan menjadi negeri yang paling unggul saat semua warganya saling menguatkan, toleran, serta tak henti menyuarakan hal-hal baik tentang bangsa ini.

Jika seabad silam Karl Marx pernah berkata, "Kaum proletar sedunia, bersatulah!", maka di abad ini, kita bisa berkata, "Kaum muda sedunia bersatulah! Saatnya menyuarakan pesan perdamaian! Merdeka!

Mataram, 01 November 2017

10/25/2017

TGB, Toleransi, dan Nafas Pembangunan NTB

TGB saat berdiskusi dengan Duta AS di Islamic Center

Di tengah maraknya isu sara dan ancaman perpecahan yang melanda negeri ini, NTB justru semakin konsisten dalam mencerminkan kehidupan umat islam di Indonesia yang penuh dengan moderasi dan toleransi serta selalu mengedepankan nilai-nilai kebersamaan.

Jika beberapa waktu lalu, pidato perdana Gubernur terpilih Jakarta, Anies Baswedan sempat menuai kontroversi karena menyebut kosa kata Pribumi, maka sepekan silam, Gubernur NTB, Muhammad Zainul Majdi malah menghadiri konferensi internasional bersama 400 ulama dalam rangka membahas islam moderat di Islamic Center Mataram.

***

"Contoh di NTB ini, kami kehilangan di Arab." Demikian kata Prof DR Syekh Afdul Fadhiel El-Qoushi, saat pembukaan Multaqa Nasional Alumni Mesir, di Ballroom Islamic Center NTB, Rabu (10/2017) lalu.

Qoushi bukanlah profesor sembarangan. Ia adalah ulama besar Al-Azhar. Ia wakil ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar yang juga pernah menjabat sebagai menteri Wakaf Mesir. Dikutip dari Biro Humas Protokol NTB, ia menyatakan kekagumannya sekaligus menyerukan kepada umat islam di seluruh dunia untuk mencontoh kehidupan toleransi di NTB.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bahwa islam itu bukanlah potongan-potongan tubuh manusia yang terlempar akibat bom bunuh diri. Islam itu bukanlah kehidupan yang saling membenci atau saling menjauhkan diri dengan umat lain. Namun, islam itu adalah saling berkontribusi, saling membangun hidup dan saling memberi kemanfaatan dalam kedamaian dengan seluruh umat beragama. Seperti yang dulu pernah dicontohkan oleh Rasulullah saat membangun Kota Madinah.

Hanya saja, ia masih terheran kenapa toleransi yang baik di NTB ini belum ditularkan di seluruh belahan dunia. Padahal menurutnya, umat islam di belahan bumi sana sangat merindukan kehidupan beragama yang damai dan penuh toleransi layaknya di NTB. Katanya, yang dibutuhkan islam saat ini bukanlah apa yang tertulis di buku-buku atau pidato-pidato, melainkan pengalaman nyata serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Terkait toleransi, saya mengamini pernyataan Qoushi. Di mata saya, NTB adalah oase perdamaian yang telah lama dirindukan banyak orang. Meski termasuk Provinsi dengan mayoritas penduduk muslim, faktanya sejauh ini, NTB dinilai sukses dalam menjaga toleransi antar umat beragama. Hal itu tercermin dalam tatanan kehidupan masyarakat di Bumi Seribu Masjid yang menilai keberagaman sebagai sebuah keniscayaan. Maka, tak berlebihan jika saya menyimpulkan bahwa interaksi sosial di NTB dapat meluruskan persepsi tentang islam yang selama ini sering disalahartikan.

Semangat merawat denyut toleransi di NTB tentunya tidak terlepas dari peran strategis sang Gubernur, Muhammad Zainul Majdi yang kerap disapa TGB. Dalam kurun waktu dua periode kepemimpinannya, TGB tak hanya berhasil menerapkan nilai-nilai moderasi islam dengan baik di tengah masyarakat, tetapi juga menjadikan itu sebagai energi yang kelak membawa NTB ke arah keunggulan. 

Hal ini terbukti mengingat laporan Kata Data Indonesia bahwa, selama tiga tahun berturut-turut, ekonomi NTB tumbuh di atas rata-rata nasional yakni di atas lima persen. Pada 2016, mencapai angka 5,28 persen, sementara pertumbuhan nasional di bawah angka lima persen. Sedangkan, tingkat pengangguran terbuka dengan indeks Rasio Gini sebesar 0,36, lebih baik dari rata-rata nasional yang berada pada angka 0,40. Angka kemiskinan sejak 2008 hingga 2016 juga berhasil diturunkan dari 23,4 persen menjadi 16,02 persen.

Tak hanya itu, di sektor pariwisata, NTB juga telah berhasil meraih predikat sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia dan destinasi wisata bulan madu halal terbaik dunia dalam ajang World Halal Tourism Awards 2016 lalu. "Tanpa kedamaian dan kerukunan di masyarakat yang merupakan salah satu bentuk moderasi islam, mustahil kami bisa membangun NTB" ujarnya. 

Moderasi islam yang dimaksud TGB seyogyanya adalah islam yang toleran, jalan tengah, ramah dan mengayomi, membawa kedamaian, saling menghormati dan menerima segala perbedaan. Bukan islam yang justru mengancam, saling menegasikan, serta menebar teror dan ketakutan. Pada titik tertentu, saya kerap kagum dengan sikap kepemimpinan serta wawasan Gubernur muda yang satu ini. Di saat banyak pemimpin lain lebih memilih memunculkan kontroversi yang lalu memantik kegaduhan, ia justru tampil dengan satu gagasan yang seakan menebas segala pertentangan. 

Menurut Qoushi, moderasi islam sangatlah dibutuhkan di tengah dunia yang terkoyak oleh berbagai paham, aliran, dan kelompok yang serba ekstrem, baik kanan maupun kiri. Dari liberalisme, anti agama, hingga islamofobia. Dari takfiri, hingga menganggap dirinya paling benar dan orang lain selalu salah.

Di Indonesia, perbedaan memang kerap dijadikan alat propaganda demi kepentingan tertentu. Entah kenapa, kita selalu sibuk mempersoalkan identitas seseorang, tanpa masuk ke ranah substansi. Kita selalu berdebat menyoal ideologi, agama seseorang pemimpin, berapa kali orang lain beribadah, tanpa membahas sejauh mana kapasitas dan kemampuan orang itu.

Dimana-mana, kita lebih tertarik membuktikan orang lain adalah kafir dan akan masuk neraka, tanpa menjadikan diri kita sebagai berkah bagi sekeliling. Kita juga alpa membahas bagaimana langkah-langkah kecil untuk menggapai mimpi bangsa yakni mencapai masyarakat yang adil dan makmur, material dan spritual. Kita tidak melihat keberagaman sebagai energi untuk membuat bangsa ini melesat dan jauh menjadi negeri paling unggul.

Pada titik ini, saya bisa memahami mengapa seorang TGB begitu dicintai.


Mataram, 25 Oktober 2017

8/12/2017

Kutipan Pramoedya Ananta Toer


Pramoedya Ananta Toer

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?

Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.

Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain pandai.

Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.

Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. 

A mother knows what her child's gone through, even if she didn't see it herself.

Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.

Menulis adalah sebuah keberanian.

Dan alangkah indah kehidupan tanpa merangkak-rangkak di hadapan orang lain.

Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.

Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya , tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini.

Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri.

Mataram, 13 Agustus 2017

7/26/2017

Sembilan Mental yang Harus Dimiliki Seorang Blogger


Ilustrasi

Di satu toko buku, saya melihat buku yang berisi tentang kiat-kiat sukses menjadi seorang blogger. Saya tiba-tiba saja tertarik untuk membacanya. Dalam waktu singkat, saya menyelsaikan beberapa kisah blogger sukses dunia. Mereka yang menggapai kecemerlangan karir, bermula dari aktvitias menjadi seorang blogger.

Saya akhirnya memahami betapa dibalik cerita-cerita sukses para blogger dunia seperti Darren Rowse, Yaro Starak, John Cow, Lisa Stone dan lain-lain, tersimpan sikap mental dan mindset tertentu yang menyertai langkah mereka. Benar kata pesepak bola legendaris Pele bahwa “Keberhasilan bukanlah suatu kebetulan. Untuk mencapai keberhasilan, dibutuhkan kerja keras, ketekunan, latihan, pembelajaran, pengorbanan, dan yang paling penting, cintailah apa yang kamu kerjakan”.

Buku itu membuat saya tersentak di beberapa bagian. Saya menyadari bahwa ada hal-hal yang teramat penting untuk dilakukan sebagai seorang blogger. Sesuatu yang kerap terpikirkan, namun tak selalu bisa dilakukan secara rutin, hingga mengakar kuat dalam kebiasaan. Apa saja itu? Nah, marilah kita buat daftar sederhana. Saya hanya menuliskan beberapa kiat yang telah dibagikan oleh banyak ahli dalam bidang ini.

Pertama, berani bermimpi besar. Segala sesuatu tentunya dimulai dari impian. Mimpi besar akan menggerakkan kita demi menggapai sesuatu yang kita inginkan. Kita bisa melihat sebegitu kuatnya ideologi American Dream yang membuat obsesi anak-anak Amerika hendak menggapai kemakmuran. Fenomena ini menggambarkan bahwa impian yang ditanam sejak kecil akan menjadi kompas bagi seseorang untuk bergerak ke arah yang diidam-idamkannya.

Kedua, cintailah aktivitas blogging. Hanya cintalah yang membuat kita berani melakukan hal-hal yang menurut orang lain boleh jadi tidak masuk akal. Menulis tanpa dibayar, berbagi ilmu dan tips berharga secara gratis, membalas komentar dan menjawab pertanyaan pembaca blog tanpa pamrih. Tanpa cinta, aktivitas blogging hanya akan bertahan dalam sekejap.

Mencintai aktivitas blogging bisa juga berarti memilih topik yang benar-benar kita kuasai dan sesuai untuk blog. Jangan pernah tergoda untuk menulis sesuatu yang tak benar-benar kita kuasai, sebab bisa menjadi bomerang saat pembaca mulai mempertanyakannya. Jika kebetulan hobi kita adalah travelling, menulis pengalaman, tips dan trik berwisata aman tentunya akan lebih mudah ketimbang menulis tema lain.

Ketiga, lakukan yang terbaik. Buatlah satu komitmen untuk melakukan dan memberikan yang terbaik. Ketika menulis artikel, menulislah sebaik mungkin. Berikan manfaat sebesar-besarnya kepada pembaca blog. Buatlah mereka membaca dengan alasan blog kita memuat satu kepingan informasi yang mereka butuhkan.

Ketika membalas komentar, balaslah dengan niat memberikan bantuan sehingga menunjukkan bahwa kita peduli dengan masalah mereka. Meskipun kita belum mendapatkan finansial apapun dari blog, tetaplah berkomitmen untuk melakukan yang terbaik.

Keempat, tentukan tujuan yang jelas. Kita bisa memulai dari menanyakan diri sendiri tentang apa yang memotivasi kita menekuni aktivitas blogging. Uang, hobi atau ketenaran? Jika uang, berapa yang ingin kita dapatkan? Lima juta, sepuluh juta? Kapan kita akan mendapatkan penghasilan itu? Bulan depan, tahun depan? Apapun tujuannya, usahakanlah menuliskanya di selembar kertas. Tentukan goal target untuk blog kita. Tentukan pula tenggat waktu untuk mencapainnya.

Menuliskan tujuan dari aktivitas blogging, akan mempermudah kita dalam mendapatkan sesuatu. Sebab dengan cara ini, kita dituntut untuk melakukan sesuatu secara terstruktur dan sistematis. Kita juga dengan mudah melakukan evaluasi terhadap setiap pencapaian. Dalam teori manajemen, langkah ini dikenal dengan istilah POAC yakni Planning, Organizing, Actuating dan Controlling.

Kelima, teruslah belajar. Dunia bergerak dengan cepat. Apa yang terjadi di timur dengan seketika memancing respon dari banyak orang yang tinggal di barat. Saya mengamini kalimat Thomas Friedman dalam buku “The World is Flat” bahwa dunia telah menjadi datar. Apa yang terjadi di suatu tempat bisa menimbulkan kekhawatiran dan keresahan di tempat lain. Batasan kian mengabur, informasi datang dari segala arah.

Setiap hari selalu ada hal baru, ide baru, trend baru, penemuan baru. Jika kita terlalu cepat berpuas diri, lalu malas mempelajari sesuatu yang baru, jangan terkejut jika dalam hitungan hari kita akan tertinggal. Saya teringat ungkapan seorang dosen di awal-awal kuliah dulu bahwa “Mereka yang mengasai informasi, adalah mereka yang menguasai dunia”. Setinggi apapun kesuksesan yang telah di raih, sebesar apapun penghasilan dari blog yang kita dapatkan, merasa laparlah terhadap segala informasi baru dan jangan pernah berhenti belajar.

Keenam, bergaul dengan orang-orang yang tepat. Tak ada salahnya berteman dengan siapapun. Namun jika kita benar-benar ingin mewujudkan sebuah impian, mulailah menemukan orang-orang yang mau mendukung setiap kemajuan kita. Pasalnya jika tak cermat, kita akan mendapati mereka yang selalu memberi atensi negatif terhadap apa yang kita lakukan.

Semenjak aktif menulis blog, saya mulai rutin mengikuti berbagai tulisan dari banyak maestro yang telah lebih dulu mengenal dunia aksara. Beberapa diantaranya bahkan berteman dengan saya di media sosial. Saya mengamati bagaimana mereka menulis, gagasan apa yang hendak mereka utarakan. Saya memilih untuk bersahabat dan rajin mengikuti postingan mereka yang selalu memancarkan energi positif, mencerahkan media sosial dengan ide-ide baru, serta selalu membuka ruang interaksi dan belajar bersama.

Ketujuh, bersiaplah untuk mengalami kenaikan dan penurunan. Dalam buku Creator. Inc, karya Arief Rahman, blogger merupakan salah satu profesi baru yang banyak diminati di era digital. Aktivitas blogging yang serba mudah, cepat, serta menyediakan begitu banyak peluang untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah membuat para blogger berbondong-bondong dalam membangun konten berkualitas demi memantik minat banyak pembaca.

Semakin blog itu ramai pembaca, semakin besar pula penghasilan yang didapatkan. Namun, semuanya tentu melaui proses yang sangat panjang. Saya pribadi percaya bahwa make money from blogging adalah sebuah bisnis yang menjanjikan. Tetapi layaknya bisnis lain di luar sana, dunia blogging juga mengenal kenaikan dan penurunan. Penghasilan dari aktivitas ini juga tidak bisa dipastikan. Yang harus kita lakukan hanyalah menyiapkan mindset positif bahwa dalam dunia blogging, kenaikan dan penurunan adalah hal yang biasa. Sesuatu yang perlu diutamakan adalah tetap komitmen dalam memproduksi konten-konten menarik dan berkualitas.

Kedelapan, disiplin terhadap diri sendiri. Saya selalu percaya bahwa di balik setiap kisah sukses para blogger, selalu tersimpan sikap disiplin yang luar biasa. Kualitas inilah yang membedakan Darren Rowse, Yaro Starak, John Cow, Lisa Stone dan sederet nama beken lain berbeda dengan kebanyakan blogger di luar sana. Disiplin dirilah yang membuat mereka tetap menulis nyaris setiap hari, meskipun tak ada seorangpun yang mengharuskan mereka melakukan hal itu.

Kesembilan, tetap bersabar dan persisten. Banyak blogger yang terlalu tergesa-gesa dan segera ingin meraih kesuksesan saat menekuni aktivitas blogging. Mereka terpukau dengan karir blogger lain yang mentereng. Sayangnya, ketika ekspektasi itu berbading terbalik, mereka terlalu cepat memutuskan untuk berhenti. Padahal, sejatinya setiap blog memiliki potensi dan ukuran keberhasilan yang berbeda-beda.

Saya sendiri sangat senang ketika berbagai tulisan di blog ini dibaca banyak orang. Bagi saya, berbagi pengalaman dengan rekan-rekan blogger sangatlah mengasikkan. Blog mengasah daya-daya kreativitas dan nalar saya untuk terus menyempurna. Melalui interaksi dengan pembaca, saya bisa terus belajar dan menyempurnakan tulisan, menyerap semua energi kritik demi menemukan karakter kuat dalam semua tulisan-tulisan itu. Meskipun tak selalu menuai penghasilan, saya tetap antusias menikmati setiap jengkal proses pembelajaran dalam aktivitas ini.

***

Saya hanya mencatat sembilan. Orang-orang yang berpengalaman dalam dunia blogging tentu punya lebih banyak penjelasan tentang bagaimana seharusnya bersikap sebagai seorang blogger. Kita bisa mencatat, lalu mengembangkan berbagai kiat yang diberikan demi menunjang aktivitas sebagai blogger. Ada hal-hal yang kita sadari, banyak pula hal yang tidak disadari. Namun dengan cara belajar terus-menerus, kita akan sampai pada satu kebenaran, lalu dengan segera mengaplikasikannya.

Dunia ini mempertemukan saya dengan banyak orang dalam berbagai interaksi. Saya merasakan banyak kenikmatan di dunia blog yang yang tak selalu bisa dijumpai di ranah lain. Ibarat taman bermain, dunia blog selalu saja nyaman menjadi tempat untuk tetirah dan melepas segala kepenatan. Tulisan ini pula sengaja dibuat sebagai pegangan pribadi, agar selalu survive dalam dunia yang serba menyenangkan ini.

Mataram, 26 Juli 2017

6/08/2017

Ketika Dikirimi Buku Oleh Fadli Dzon


Foto: sumber.com

Bahagia itu memang tak selalu ditafsirkan dengan keberlimpahan. Bahagia tak selalu dipicu oleh kehidupan yang serba ada. Orang bijak mengatakan, bahagia itu sangatlah sederhana. Yang membuatnya rumit adalah cara pandang dari manusia itu sendiri. Seperti banyak orang lain diluar sana, setiap kali mendapat kiriman buku-buku bagus, saya selalu semeringah. Saya tak sabar untuk segera menyelami lautan kata lalu berbenturan dengan rupa-rupa ilmu didalamnya.

Bagi saya, buku itu ibarat bahan makanan yang setiap saat bisa mengatasi rasa lapar akan pengetahuan. Buku memiliki gizi yang tak bisa ditemukan pada berbagai makanan. Menyimpan banyak buku ibarat menyimpan nutrisi yang penting bagi tubuh. Sebab didalamnya, tersimpan banyak kenangan serta jejak berpikir pada satu masa.

Saya pernah berandai-andai, jika saja surga yang banyak dibicarakan orang adalah gambaran dari tempat yang paling diinginkan, maka saya membayangkan surga sebagai taman bermain yang didalmnya dipenuhi buku-buku bagus dan bisa dibaca setiap saat.

Mungkin hanya sebuah kebetulan jika akhir-akhir ini saya banyak menerima kiriman buku gratis. Beberapa waktu lalu, saya mendapat kiriman buku dari salah seorang Wakil Ketua DPR RI, Fadzli Dzon. Ia mengirimkan bacaan berupa buku-buku sastra dan sejarah. Serupa menemukan oase di padang pasir yang terik, saya begitu senang. Dahaga untuk terus membaca akan segera teratasi.

Nampaknya, politisi Gerindra yang satu ini sangat paham jika seorang mahasiswa tak selalu leluasa mendapatkan buku-buku bagus sesuai keinginan. Terkadang dalam membeli buku, saya harus rela menunda hasrat untuk membeli ragam keperluan lain. Bahkan ketiia awal-awal kuliah, saya pernah membuat kartu khusus demi akses untuk meminjam buku di perpustakaan daerah.

Sekarang, setelah bergaul dengan banyak teman dari berbagai komunitas literasi, saya tak lagi kesulitan. Komunitas-komunitas ini serupa perpustakaan keliling. Mereka membuka lapak baca hingga memungkinkan semua orang untuk meminjam buku. Di waktu senggang, saya selalu menyempatkan diri berkunjung ke lapak mereka.

Hidup memang selalu punya sisi menarik untuk diceritakan. Cerita itu tak melulu tentang hiruk pikuk akademik yang membekap pikiran dan ambisi untuk segera diselesaikan. Cerita itu bisa saja tentang rasa suka cita saat mendapat kiriman berupa buku-buku bagus dari seorang petinggi republik ini.

Terlebih lagi, sejumlah bacaan yang dikirim merupakan koleksi perpustakaan pribadi miliknya yakni Fadli Dzon Library. Sebuah perpustakaan yang sengaja didirikan tidak hanya sebagai tempat memajang buku-buku karyanya, tetapi juga mengoleksi sejumlah naskah kuno, tombak dan keris dari berbagai kerajaan Nusantara.

Beberapa Buku Dari Fadli Dzon

Kini, buku-buku itu telah bertengger manis di rak pribadi saya. Sebagian diantaranya telah saya tuntaskan. Sebagian lagi masih saya baca. Yang paling menarik adalah ketika politisi yang kerap berdebat di layar kaca itu, membedah konsep ekonomi sang proklamator bangsa dalam buku berjudul Pemikiran Ekonomi Kerakyatan Mohammad Hatta.

Saya tak menyangka bisa mendapat kiriman buku-buku bagus dari Fadli Dzon. Jangankan darinya, dari seorang Fahri Hamzah pun tidak. Padahal, di beberapa kesempatan, saya kerap bertemu dengan politisi asal Sumbawa yang satu ini. Bahkan bersama sahabat mahasiswa lain, saya pernah mengundang beliau dalam satu acara diskusi.

Ah, hidup memang penuh kejutan yang menyenangkan. Saya jadi teringat ketika bapak-bapak petugas pos mengantarkan kiriman itu ke tempat saya beberapa waktu lalu. Sambil meminta tanda tangan ia bertanya, “Mas Imron kerabat pak Fadli Dzon ya?” Saya hanya tersenyum sembari menjawab, “Iya pak. Saya dengan beliau satu garis keturunan. Kita sama-sama keturunan Nabi Adam.” Bapak itu terbahak-bahak mendengarnya.

Mataram, 08 Juni 2017

6/01/2017

Keep Enjoy in Every Learning Process


Ilustrasi

Let me say happy about Pancasila's day. Pancasila is ideology of our nation. Today, that all of Indonesian's people celebrating Pancasila's day.

Even though many people celebrate it, we can't guarantee they adopted the values of Pancasila itself. But it's not problem. And now, let's implement together by our self to make Indonesian better.

***

Lately, I have spent many time to studied English. According to me, so difficult to study English. Because there are so many rules that make me confused. Like grammar, pronountation, and the way we speak fluent.

But I try to study hard every time, because I wanna go to overseas as soon as possible. May Allah always bless my learning process. Amin.

Thank you for always teached me patiently. Adore you as always.

Best regard, overseas hunter!

Mataram, 1th June, 2017

12/01/2016

Syair Getir di Awal Desember



BELUM BERAKHIR

Aku melihat buih-buih putih berarak
Pergi kemana angin menerpa
Mereka menyangka itu lautan mutiara

Aku mendengar panggilan langit
Hayyaalalfalah, manja mengelus kuping
Suaranya datang dari segala arah
Timur, selatan, barat, hingga utara

Batinku menganga lebar mendadak basah
Air mataku tumpah ruah mewakili saripati hatiku yang lebur
Ada apa ini, ini ada apa
Belum berakhir, berakhir belum

Aku memilih diam
Aku bertanya kepada hati dan pikiranku
Mereka belum meleleh. Masih tak setuju

Aku memilih diam
Aku mendekati penjual terompet yang tuli itu lalu bertanya lagi
Tapi lagi-lagi tidak. Katanya!

Ah, lebih baik aku memesan segelas kopi
Melarutkan hati dalam hembusan angin yang mendamaikan
Memohon agar tak ada ombak besar menitipkan kecemasan pagi ini.

01 Desember 2016. Di atas kapal kecil di tengah laut, dalam perjalanan Sumbawa-Mataram.