Showing posts with label Travel. Show all posts
Showing posts with label Travel. Show all posts

1/07/2018

Pasar Pancingan Lombok, Wisata Kuliner yang Instagramable

Pasar pancingan

Dunia kepariwisataan serupa industri hiburan. Letak kekuatan utama dari sektor yang satu ini adalah bagaimana cara menata, mengelola, serta mempromosikan satu objek destinasi, yang lalu memantik minat banyak orang untuk berdatangan. Saya yakin, tak ada satupun objek wisata yang tak layak jual. Kuncinya ada pada keberanian untuk menampilkan sesuatu yang tak biasa. Kuncinya adalah kreativitas.

Setidaknya itulah yang saya rasakan saat berkunjung ke Pasar Pancingan Bilebante di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Tempat wisata ini tampaknya tengah naik daun. Letaknya hanya sekitar 30 menit dari pusat Kota Mataram. Di media sosial, banyak sahabat membagikan foto mereka saat berkunjung. Penasaran, saya pun ke sana.

Kesan saya, tempat ini menyajikan satu aktivitas pasar yang dikemas menjadi tempat wisata. Di bagian depan, saya melihat lorong-lorong kayu yang dihiasi payung. Orang-orang akan mengantri demi berfoto di situ. Sebenarnya, pasar ini terletak di area persawahan yang luasnya tak seberapa besar. Hanya saja, pihak pengelola berani memoles dan menata ulang hingga layak dikunjungi.

Dalam peta

Saat berkeliling, saya menemukan beberapa hal yang menarik. Pertama, pasar pancingan hanya buka setiap hari minggu yakni dari jam 7 pagi hingga jam 2 siang. Kedua, setiap pengunjung harus menukarkan uang terlebih dahulu di stand Money Changer jika hendak berbelanja. Di situ, kita akan diberi ‘kepeng’ sebagai medium untuk menjejal kuliner. Ketiga, banyak terdapat spot foto yang instagramable. Keempat, sesuai dengan namanya, pasar pancingan juga menawarkan aktivitas memancing di kolam-kolam sekitar lapak.

Kuliner di pasar pancingan memang kian beragam. Saya sempat memesan dua porsi nasi belut khas Lombok dan bakso rumput laut. Yang membuat saya menyukai tempat ini adalah suasana sawah yang masih asri, tenang, dan menyejukkan yang membalut aktivitas pasar. Sebagai destinasi kuliner, tentu saja pasar ini dilengkapi beberapa gazebo sebagai tempat bersantap.

Saya melihat, pengunjung mulai memadati pasar menjelang siang. Ada yang datang bersama sahabat, pasangan, serta tak ketinggalan pula mereka yang berlibur dengan keluarga. Sempat saya berbincang dengan salah seorang wisatawan dari luar daerah. Ia mengagumi konsep pasar yang mengusung suasana khas pedesaan. Pemandangan seperti ini sangat langka di perkotaan katanya.

Money changer

Pasar pancingan
'Kepeng' pasar pancingan
Pasar Pancingan

Dahulu, saat pasar pancingan pertama kali di buka, artis ibu kota sekelas Gracia Indri pernah didatangkan. Katanya, tempat ini akan diproyeksikan sebagai salah satu destinasi wisata digital unggulan di Lombok. Pantas saja, promosi tentang pasar pancingan di media sosial sedemikian kuat. Bahkan dalam waktu singkat, akun instagram miliknya sudah mendulang banyak followers.

Saat berkunjung, saya juga melihat beberapa turis asing yang berdatangan. Mereka berjalan dari satu spot ke spot lain demi mengabadikan beberapa gambar. Serasa tak mau ketinggalan, saya pun ikut berkeliling. Spot pilihan saya adalah ‘klasik view.’ Spot ini di desain dengan tikar pandan, dinding yang terbuat dari anyaman bambu, serta beberapa televisi jaman old yang sengaja dikumpulkan.

Selanjutnya, saya menuju spot ‘welcome 2018.’ Bisa dibilang, yang satu ini merupakan spot favorite bagi kaum hawa. Spot itu dihiasi ragam warna mencolok yang berbentuk segi tiga. Beberapa payung juga terlihat menghiasi bagian atasnya. Saat hendak mengambil gambar, seorang wanita tetiba menghampiri dan berucap “Mas, minta tolong fotoin saya di tempat ini.”

Pasar pancingan
Pasar pancingan
Pasar pancingan
Kolam ikan sekitar pasar pancingan

Sesaat berada di tempat ini, saya menyaksikan betapa kehidupan di desa begitu tentram. Mungkin juga, fakta inilah yang membuat salah seorang sahabat yang tengah menyelsaikan pendidikan di luar negeri sering mengabarkan bahwa dirinya selalu tak sabar untuk mengunjungi Lombok.

Boleh jadi, mereka membayangkan aktivitas desa sungguh menyenangkan sebab alam masih hijau, pepohonan di mana-mana, juga sungai jernih yang menjadi tempat bermain. Kehidupan ala desa itu dianggap jauh lebih sehat, jauh lebih membahagiakan, ketimbang kehidupan ala kota yang setiap hari harus bergegas.

Tentu saja masih banyak sesuatu yang belum saya jelaskan tentang pasar pancingan. Hal terbaik yang bisa dilakukan untuk menuntaskan rasa penasaran itu, hanyalah dengan mengunjunginya secara lansung.



Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Gramedia.

Mataram, 07 Januari 2018

12/28/2017

Lima Rekomendasi Tempat Liburan Tahun Baru di NTB

Pulau Bungin (Photo by: instagram/ers_ega)

Tahun 2017 sebentar lagi berlalu. Perayaan Natal yang baru saja digelar, menandakan kalender tahunan siap berganti. Gegap gempita perayaan malam pergantian tahun sama-samar telah terdengar. Sejumlah hotel dan tempat hiburan pun berlomba-lomba menawarkan discount menyambut momentum ini. Yup, bagi sebagian orang, penghujung tahun tentu saja merupakan waktu yang tepat untuk segera menuntaskan dahaga liburan.

Bagi saya sendiri, 2017 adalah tahun yang penuh pembelajaran. Saya belajar banyak tentang geliat industri pariwisata NTB bersama sahabat Genpi (Generasi Pesona Indonesia) Lombok Sumbawa. Saya mempelajari apa saja yang bisa berpotensi menghambat laju perkembangan sektor yang satu ini, serta bagaimana cara pemerintah mengentaskannya.

Saya mencatat, arus wisatawan sempat mengalami penurunan drastis paska letusan Gunung Agung beberapa waktu lalu. Di Gili Trawangan, seorang petugas loket antrian bertutur bahwa kunjungan wisatawan sempat menurun dari yang sebelumnya mencapai angka rata-rata 1.500 orang per harinya, menjadi 600 orang sejak letusan itu. Namun, perlahan keadaan berangsur normal menjelang pergantian tahun.

Di Lombok, sejumlah tempat penginapan seperti hotel, villa, bungalow, hingga pusat perbelanjaan telah siap menyambut arus wisatawan dari jauh-jauh hari. Mereka tahu betul, bahwa Pulau Seribu Masjid merupakan salah satu tempat favorite bagi pelancong setelah Jogja dan Bali. Belakangan, Lombok tampil dengan predikat pariwisata halal dunia, yang lalu melambungkan namanya.

Nah, sudahkah anda merencanakan liburan di akhir tahun? Daerah manakah yang hendak anda kunjungi? Tulisan ini akan sedikit mengulas beberapa rekomendasi wisata pulau di NTB, untuk anda yang tengah merencanakan liburan akhir tahun.

1. Gili Kedis, Lombok


Gili Kedis (Photo by: instagram/tubagussedo)

Di bandingkan dengan Gili Trawangan, Gili Meno, ataupun Gili Air, pulau mungil yang satu ini mungkin tak seberapa populer. Luasnya yang tak lebih besar dari lapangan bola, membuat masyarakat setempat sering menyebut Gili Kedis sebagai Pulau Burung Pipit. Gili ini ditumbuhi beberapa tanaman peneduh, serta memiliki panorama alam yang masih alami. Pasirnya begitu putih, dengan formasi batu karang terbelah yang membentuk kanal.

Gili Kedis mengingatkan saya pada film Cast Away yang berkisah tentang seorang pria yang terdampar di sebuah pulau kecil seorang diri. Suasananya yang teduh dan romantis, membut Gili yang berada di kawasan Sekotong Tengah, Kabupaten Lombok Barat ini sering dijuliki sebagai Honeymoon Island.

Untuk mengunjungi Gili Kedis, kita harus berkendara dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari pusat Kota Mataram atau dari Bandara Internasional Lombok, ke Pelabuhan Tawun. Dari sana, barulah kita melakukan penyebrangan dengan perahu seharga kurang lebih seratus ribu rupiah. Alternatif lainnya adalah, dengan cara menyewa perahu dari perkampungan nelayan di samping Pelabuhan Lembar dengan harga yang hampir sama.

2. Pulau Kenawa, Sumbawa Barat


Pulau Kenawa (Photo by: instagram/chantcute)

Beranjak ke Pulau Sumbawa, saya menetapkan Pulau Kenawa sebagai rekomendasi wisata akhir tahun. Setidaknya, ada beberapa hal yang mendasari mengapa pulau ini wajib dikunjungi.

Pertama, mereka yang berkunjung bisa menikmati indahnya alam perbukitan. Tepat di tengah pulau ini, terdapat bukit yang agak tinggi. Dari atas sana, kita bisa leluasa melihat keindahan Kenawa secara keseluruhan.

Kedua, layaknya di banyak pulau lain, Kenawa juga memiliki pantai berpasir putih. Kita bisa berjemur ala turis, sembari mengamati laut biru yang membentang. Ketiga, pulau yang masuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Sumbawa Barat ini terkenal dengan padang rumput savana. Di musim hujan, padang rumput ini akan terlihat hijau segar, serta cokelat nan eksotis saat musim kemarau.

Keempat, pesona bawah laut Pulau Kenawa sangat cocok bagi pecinta snorkeling atau pun free diving. Kelima, pulau ini ramah bagi wisata keluarga (family traveller).

Di sini juga telah disediakan beberapa fasilitas umum seperti gazebo dan toilet. Keenam, Kenawa sangat layak dijadikan lokasi camping. Tak sedikit wisatawan yang memilih bermalam di tempat ini. Sebab, sunset berikut sunrise yang ditawarkan, juga sangat pantas untuk diabadikan.

Pulau Kenawa hanya berjarak sepeminuman teh dari Pulabuhan Poto Tano, Sumbawa. Dari sana, kita bisa menyewa perahu milik nelayan dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. Anda akan mendapatkan paket komplit saat mengisi liburan tahun baru di tempat ini.

3. Gili Meriam Besar, Sumbawa

Gili Meriam Besar (Photo by: instagram/zambavaadventure)

Bagi mereka yang hendak mencari tempat indah, tenang, dan terasing, mungkin Gili Meriam bisa menjadi pilihan. Gili ini merupakan satu dari sekian banyak gugusan pulau yang mengelilingi kawasan Teluk Saleh, Sumbawa. Berbanding terbalik dengan namanya, gili ini tak seberapa luas. Bahkan, hanya ada beberapa pohon yang tumbuh disekitarnya. Namun menyoal keindahan, Gili Meriam tak perlu diragukan.

Saya merekomendasikan tempat ini, sebab benar-benar masih belum terjamah. Tak banyak wisatawan yang pernah ke sana. Entah karena keterbatasan informasi, atau tidak adanya fasilitas penunjang di kawasan itu. Di mata saya, Gili Meriam Besar termasuk destinasi wisata yang anti mainstream.

Letaknya tak begitu jauh dari daerah asal saya, yakni Kecamatan Ampang, Kabupaten Sumbawa. Untuk menyebrang, kita bisa menyewa perahu nelayan dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Tak ada tarif khusus yang harus dibayar, mengingat proses penyebrangan tak begitu intensif. Biaya yang harus dikeluarkan tergantung pada bagaimana cara negosiasi dengan masyarakat setempat.

Gili Meriam Besar menyajikan satu pemandangan pulau yang eksotis. Di satu sisi pulau, terdapat tanjung yang menjorok ke arah lautan. Bentuknya persis seperti moncong meriam. Saya menduga, dari sanalah asal muasal penamaan tempat ini. Satu hal yang perlu diingat saat berkunjung adalah, bawalah bekal pribadi secukupnya, sebab tak ada warung yang dapat dijangkau di sekitar pulau.

4. Pulau Satonda, Dompu

Pulau Satonda (Photo by: instagram/andrescarretero)

Satonda merupakan destinasi wisata yang telah lama menjadi buah bibir para traveler dan fotografer dunia. Yang membuat pulau ini sedemikian terkenal adalah, danau air asin yang terletak persis di tengahnya.

Dahulu, seorang ilmuwan Eropa, Stephan Kempe dan Josef Kazmierczak pernah meneliti Danau Satonda yakni pada tahun 1984, 1989 dan 1996. Hasil penelitian mereka menyebutkan, Danau Satonda adalah fenomena langka disebabkan airnya yang asin memiliki tingkat kebasaan (alkalinitas) sangat tinggi dibandingkan air laut umumnya.

Konon, danau purba di Pulau Satonda itu terbentuk dari letusan Gunung Satonda beribu-ribu tahun lalu. Diperkirakan, gunung api Satonda berumur lebih tua dari Gunung Tambora, atau tumbuh bersamaan dengan beberapa gunung api parasit yang tersebar di sekeliling Tambora.

Danau yang terbentuk di kawah Satonda dulunya terisi air tawar. Letusan Gunung Tambora yang mengakibatkan tsunami mengantar air laut mengisi kawah tersebut dan mengubahnya menjadi danau air asin hingga saat ini.

Tak hanya itu, Pulau Satonda juga menyimpan kekayaan terumbu karang di perairan sekitarnya. Hal ini membuat pulau yang telah ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam Laut pada 1999 ini, menjadi salah satu spot favorite bagi para penyelam.

Bagi anda yang ingin berkunjung, Pulau Satonda bisa ditempuh dengan waktu lebih kurang selama 4 jam dari Kabupaten Dompu. Selanjutnya untuk menuju pulau, kita dapat menggunakan perahu cadik bermotor dari desa terdekat, yaitu Desa Nangamiro dengan tarif berkisar dua puluh lima ribu rupiah per orangnya.

5. Pulau Kelapa, Bima

Gili Kelapa (Photo by: instagram/ama_bibu)

Takhir adalah Pulau Kelapa. Pulau yang satu ini merupakan pulau terluar dari Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat, yakni berada di Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, dan berbatasan lansung dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Untuk mencapai pulau ini, kita harus melintasi perairan Selat Sape menggunakan motorboat, dengan waktu tempuh perjalanan sekitar 2 jam.

Keindahan pulau ini memang tak terbantahkan. Yang membuatnya sedemikian menarik adalah, pulau-pulau kecil berbatu yang nampak di depannya. Sepintas, bentuknya serupa Raja Ampat di Papua.

Sama halnya dengan Kenawa, Pulau Kelapa juga memiliki perbukitan savana yang indah. Kita membutuhkan waktu tak kurang dari satu jam pendakian untuk sampai di puncak bukit.

Di sini, masih berdiri tegak beberapa bangunan kecil serta bekas kantor peninggalan masa kolonial. Bangunannya terbuat dari kayu yang sangat kuat dan masih terawat dengan rapi, meskipun tak lagi digunakan.

Sejenak mengamati sekeliling, yang tersaji adalah sekelebat pemandangan laut yang serupa permadani biru. Dari atas bukit ini pula, kita juga bisa melihat Pulau Komodo di seberang lautan sana.

***

Saya hanya mencatat beberapa destinasi pulau sebagai rekomendasi liburan di akhir tahun. NTB tentu masih menyimpan keindahan lain yang serupa serpihan surga. Sayangnya, tak banyak publikasi serta ulasan perihal berbagai objek wisata, khususnya di Pulau Sumbawa yang menyentuh telinga luar. Tempat-tempat indah itu justru saya temukan saat berselancar di instagram.

Saya menduga, tak semua orang mau mengabadikan perjalanan mereka melalui tulisan. Tak semua orang mau berpayah berpayah mencatat, lalu mengabarkan keadaan satu tempat kepada orang lain.

Mereka lebih memilih media sosial seperti facebook dan instagram sebagai medium interaksi. Padahal, yang tak selalu bisa dilakukan selain dengan menulis adalah, kita leluasa menceritakan sesuatu dari banyak sisi, objektif, dan lebih terperinci.

Mataram, 28 Desember 2017

12/08/2017

Menelusuri Jejak Wisatawan di Gili Trawangan

Gili Trawangan

Lombok memang pantas menyandang predikat sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di dunia. Pulau yang dinobatkan sebagai Top 10 Traveller’s Choice Destinations in Asia versi Trip Advisor pada Maret lalu ini, kian ramai menjelang pergantian tahun. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya kunjungan wisatawan yang menyasar berbagai objek wisata di Lombok.

Letusan Gunung Agung Bali yang sempat menghebohkan publik beberapa waktu lalu, nyatanya tak begitu berdampak pada perkembangan pariwisata Lombok. Di gili yang kami kunjungi, aktivitas wisatawan nampak biasa-biasa saja. Tak ada yang berubah. Semua berjalan layaknya tak pernah terjadi apa-apa.

***

Matahari baru saja sepenggal di atas kepala saat cahaya lembutnya membelai-belai lautan. Pantulannya menembus lautan biru yang serupa kaca hingga ke dasar. Para wisatawan yang hendak berkunjung, nampak berbaris rapi di pelabuhan sembari menunggu kapal angkutan.

Kami menaiki perahu kecil yang meluncur menuju Gili Trawangan. Dari Kota Mataram, kami menuju pelabuhan Bangsal di Kabupaten Lombok Utara. Dari sini, kami hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai di pulau yang disebut-sebut sebagai kepingan surga yang jatuh ke bumi itu.

Gili Trawangan

Gili Trawangan

Gili Trawangan

Mereka yang baru pertama kali mengunjungi Lombok, tentu akan takjub dengan pulau seindah Trawangan. Pulau ini telah menjadi magnet wisata dunia jauh sebelum Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika diresmikan.

Sebagai destinasi liburan, Gili Trawangan telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang seperti villa, cafe, pusat belanja, ATM, spa, sunset view, snorkling, sepeda, hingga cidomo atau andong yang disediakan khusus demi mengantar pengunjung untuk berkeliling.

Di pulau ini, adat istiadat masih dipegang teguh oleh penduduk setempat. Salah satunya Awik-awik, yakni sebuah larangan kepada setiap pengunjung untuk menggunakan kendaraan bermotor. Jika hendak mengelilingi pulau, wisatawan bisa memanfaatkan jasa penyewaan sepeda atau cidomo dengan tarif ysng tergolong murah.

Gili Trawangan ibarat gadis cantik yang tak henti memancarkan pesona. Di tengah banyaknya pilihan objek wisata Lombok, Trawangan tak pernah kehilangan momentum. Tempat ini selalu ramai pengunjung terutama menjelang penghujung tahun. Trawangan tak kehilangan daya pikat meski keberadaannya juga dikelilingi pulau-pulau nan cantik seperti Gili Meno dan Gili Air.

Saya beruntung sebab tinggal di pulau dengan segudang objek wisata. Jika dihitung jumlahnya, maka tak bisa mengunjungi semua objek wisata itu seharian penuh.

Lombok punya Sembalun sebagai destinasi bulan madu halal terbaik 2016, Rinjani sebagai geopark internasional, memiliki sederet wisata air terjun, hingga puluhan pantai nan eksotis dengan hamparan pasir sehalus tepung.

Gili Trawangan

Gili Trawangan

Gili Trawangan

Saya mengunjungi Trawangan bersama sahabat Generasi Pesona Indonesia Lombok Sumbuwa (Genpi LS). Kami hendak melakukan survey angka kunjungan wisatawan paska letusan Gunung Agung beberapa waktu lalu, serta mengorek informasi sebanyak-banyaknya dari para pegiat wisata prihal bencana itu.

Yang kami temukan adalah, para wisatawan justru tetap antusias berdatangan. Seorang turis asal Amerika bahkan mengatakan bahwa letusan gunung agung tak lantas mengurungkan niatnya untuk berkunjung. Demikian pula ungkap para wisnus asal Bekasi. Mereka mengaku tetap memilih Trawangan sebagai tujuan utama meski sempat was-was dengan dampak erupsi Gunung Agung.

Selain dengan para wisatawan, kami juga sempat berbincang dengan Pak Mada, seorang menejer dari salah satu villa di Trawangan. Pria asal Bali itu menyayangkan sejumlah pemberitaan miring di media sosial tentang aktivitas pariwisata Lombok paska letusan.

“Banyak pemberitaan bahwa Lombok masih sangat berbahaya untuk dikunjungi paska letusan Gunung Agung. Padahal, tak ada yang berubah. Aktivitas pariwisata berjalan normal seperti biasanya. Katakutan saya, pemberitaan seperti ini bisa berdampak pada lesunya angka kunjungan wisatawan di kemudian hari." Tukasnya.

Bagi saya, berkunjung ke lokasi wisata bukan sekadar melihat obyek, memotret lalu bergegas pulang. Saya menyenangi pertempaun-pertemuan dengan manusia-manusia di lokasi wisata, meresapi berbagai kisah, serta sisi lain dari hiruk pikuk perkembangan industri ini.

Yang tersaji di Trawangan adalah pemandangan pulau yang ramai penghuni. Di sini, saya melihat rupa-rupa aktivitas wisatawan. Ada yang tengah berjemur di bibir pantai, ada yang menenteng peralatan snorkling, ada pula yang asik bersepeda mengelilingi pulau. Semuanya berpadu dalam kesejukan, kenyamanan, serta keindahan Gili Trawangan yang melagenda.

Dalam suasana batin yang takjub, hati kecil saya berbisik, kamu kapan kesini?

Mataram, 08 Desember 2017

9/27/2017

Blue Bird Taksi Gandeng New Furama, Resto Unik di Bibir Pantai

New Furama Resto

Berkunjung ke Senggigi memang selalu menyenangkan. Selain lokasinya tak jauh dari pusat kota, di sini ada banyak perahu-perahu nelayan tradisional, hotel-hotel yang mentereng, serta aneka macam resto dengan kuliner yang menggugah selera. Jika berlayar menggunakan perahu-perahu itu, kita akan menggapai pulau-pulau yang serupa kepingan surga.

Sejak dulu, Senggigi telah lama menjadi magnet wisata yang memesona warga dunia. Popularitasnya barangkali sejajar dengan Pantai Kuta di Bali yang lebih dulu tersohor. Pantai ini menjadi destinasi yang diimpikan banyak orang. Buktinya, setiap kali berkunjung, tempat ini tak pernah sepi.

***

Kemarin, saya berkesempatan mengunjungi New Furama Resto, satu tempat kuliner dengan sajian khas seafood yang berlokasi di Sengigi. Resto ini begitu populer di kalangan wisatawan sebab selain menyajikan menu seafood yang lezat, setiap pengunjung juga bisa menikmati sensasi makan sembari menyaksikan sunset pantai Sengigi yang indah.

Mulanya, saya berfikir bahwa New Furama itu adalah sejenis restoran megah di tengah kota. Ternyata dugaan saya salah. Tempat ini dibangun persis di tepi pantai. Bentuknya terlihat sederhana namun elegan dengan hiasan lampu-lampu lampion yang menyala di malam hari.

Sunset New Furama

Sunset New Furama

Setiba di tempat itu, saya melihat banyak pasangan muda serta mereka yang datang bersama keluarga sedang bersantap. Di bagian lain, saya juga melihat sejumlah turis yang tengah asik memotret sunset. Kesan saya, resto ini memang didesain sedemikian romantis sehingga wajar jika digemari oleh segala segmen usia.

Dalam kunjungan kemarin, saya datang bersama sahabat Blue Bird Taksi Lombok. Mereka hendak melakukan launching kerjasama dengan pihak New Furama Resto. Made Sudiana selaku owner dari resto ini, sangat antusias menyambut kedatangan kami. Beliau bahkan mempersilahkan para rombongan untuk mencicipi makanan terlebih dahulu sebelum beranjak.

Melalui kerjasama itu, para wisatawan yang hendak mengunjungi New Furama Resto bisa mendapatkan diskon dan kemudahan. Caranya cukup menggunakan taksi blue bird dengan melakukan pemesanan melalui aplikasi my Blue Bird, ketik tujuan kamu ke New Furama dan tunjukkan history perjalanan menuju kesana. Dengan cara ini, kita akan mendapat potongan harga sebesar 15 persen. Hal itu disampaikan pak Amir Muslim selaku pimpinan Blue Bird Taksi Lombok sebelum makan malam.

Manajemen Lombok Taksi dan Furama Resto

Penandatanganan kontrak kerjasama

Beberapa jenak setelah pesanan datang, saya lansung mencicipinya. Mantaaaapppp! Ternyata rasanya sungguh nikmat. Saya memberinya point sembilan dari skala sepuluh point. Saya menyantap udang bumbu, kerang, serta ikan bakar. Saat itu saya paham mengapa orang-orang gemar menjajal kuliner di tempat itu. Faktor rasa selau menjadi magnet utama yang membuat orang-orang berdatangan.

Selama duduk, saya menemukan beberapa hal yang menjadi kekuatan resto ini. Pertama, suasananya yang akrab serta dialog-dialog antara Made Sudiana dan pengunjung. Ia tak canggung-canggung menyapa banyak orang. Bahkan, ia dengan senang hati membagikan kartu nama demi menjaga arus komunikasi dengan pengunjung.

Kuliner ikan bakar

Kuliner udang

Kuliner kerang

Kedua, kuliner laut yang disajikan masih sangat segar. Di banyak negara, banyak restoran besar yang rela mendatangkan bahan makanan dari pelosok daerah demi menopang rasa dan kualitas menu andalan. Hal ini sangat wajar mengingat persaingan dunia usaha kuliner sangat kompetitif.

Ketiga, letak New Furama yang berada di tepi laut. Saat makan di resto ini, angin sepoi-sepoi terasa di wajah yang kemudian membawa suasana sejuk. Makanya, saat menyantap menu ini, saya merasakan suasana hati yang adem, tentram, serta sesaat membuat saya lupa dengan semua masalah.

Nah, pernahkah anda memakan sesuatu yang sangat enak sampai-sampai melupakan semua masalah? Hmm.... Saya pernah. Saya melupakan semua utang saat makan seafood di New Furama Resto.

Mataram, 27 Sepetember 2017

9/25/2017

Seharian Mengamati TGB di Lombok Elephant Park

TGB foto bareng simpanse di Lombok Elephant Park

Meskipun bukan simpatisan Muhammad Zainul Majdi, saya selalu saja menyukai pertemuan dengan beliau. Di taman wisata satwa Lombok Elephant Park kemarin, saya bersua Gubernur muda itu bersama keluarganya. Ditemani sang istri dan anak, ia datang melepaskan penat di akhir pekan.

*** 

Lelaki itu hendak berlibur di sela-sela kesibukannya sebagai pejabat publik. Ditemani keluarga dan beberapa staf pribadi, ia tetap tampil sederhana layaknya wisatawan. Beberapa saat setelah tiba di lokasi, ia segera mengajak istri dan anaknya berkeliling untuk melihat koleksi satwa di Lombok Elephant Park.

Lelaki itu adalah Muhammad Zainul Majdi yang kerap disapa TGB. Ia adalah Gubernur dua periode Nusa Tenggara Barat. TGB adalah sosok pemimpin cerdas, sekaligus guru bagi banyak orang. Ia merupakan seorang tuan guru muda yang setiap ceramahanya selalu dinantikan.

Di Lombok Elephant Park, ia mengisi waktu senggang bersama keluarga. Tempat itu membuatnya tertarik sebab memuat satu konten wisata yang berbeda dari biasanya. Tempat itu merupakan satu kawasan konservasi bertajuk kebun binatang dengan beragam koleksi satwa seperti gajah, beruang madu, kudanil, buaya, simpanse, iguana, bekantan, dan lain-lain.

TGB dan anaknya saat menaiki gajah

TGB bersama istri dan anak

TGB bersama keluarga

TGB antusias mengunjungi satwa satu persatu. Dalam banyak kesempatan, ia menyempatkan diri untuk sekedar mengabadikan moment dalam bidikan kamera. Ia sangat senang sebab tempat itu membuat setiap pengunjung bisa leluasa berinteraksi dengan berbagai satwa yang didatangkan dari banyak daerah di nusantara.

“Ini destinasi wisata yang bagus karena sesuai dengan konsep pengembangan pariwisata yang bisa menjaga kualitas lingkungan. Tidak cukup hanya dengan buku teori, tapi di sini bisa melihat langsung dan berinteraksi. Bisa melihat dan menyentuh itu bagian dari membangun pemahaman dan kecintaan kepada alam.” Katanya.

Bersetuju dengan TGB. Selain menjadi ruang rekreasi, kebun binatang pertama di Lombok ini juga bisa dijadikan sarana edukasi bagi generasi muda. Tempat ini serupa laboratorium satwa yang memungkinkan setiap pengunjung untuk mengamati, mengenali, serta belajar mencintai alam. Pihak pengelola hanya perlu mempermudah akses agar tempat seperti ini selalu ramai dikunjungi terutama oleh para pelajar.

Selain TGB, dalam kunjungan kemirin turut hadir pula Najmul Akhyar, Bupati Lombok Utara. Pada kesempatan yang sama, saya juga sempat berbincang ringan dengan beliau terkait pariwisata. Ia mengungkap bahwa pemerintah daerah sangat konsisten dalam mengembangkan sektor pariwisata. Yang terpenting adalah pelaku wisata juga harus komitmen dalam memberdayakan masyarakat lokal.

Sejalan dengan itu, Ketut Suadika selaku owner Lombok Elephant Park juga menyambut baik hajat pemerintah. Ia menuturkan, sejauh ini pihaknya tengah gencar melakukan promosi agar keberadaan tempat itu semakin cepat menjangkau telinga wisatawan.

Bupati Lombok Utara memegangi ular bersama istri

Foto bersama owner Lombok Elephant Park

Foto bersama TGB dan Bupati 

Saya mengamini apa yang dilakukan Ketut Suadika. Sepekan silam, saya juga datang ke tempat itu sebagai blogger yang meliput kerjasama antara Lombok Elephant Park dengan Blue Bird Taksi Group. Melalui kerjasama itu, para wisatawan yang hendak mengunjungi kawasan wisata satwa Lombok Elephat Park bisa mendapatkan diskon dan kemudahan.

Setiap pengunjung bisa menggunakan jasa transportasi Blue Bird Taksi dengan cara memesannya melalui aplikasi resmi di Play Store, lalu menunjukkan history trip pada menejemen Lombok Elephant Park. Dengan cara itu, mereka akan mendapat potongan harga tiket masuk ke area wisata sebesar 15 persen.

*** 

Sharian menyaksikan kesenangan keluarga TGB di tempat ini, sempat membuat saya iri. Kelak, saya juga ingin mengajak keluarga demi menikmati sensasi menaiki gajah, foto bersama kudanil, memberi makan burung nuri, serta bermain bersama Valent, salah satu simpanse lucu di Lombok Elephant Park.

Ah, semoga!

Mataram, 25 September 2017

9/16/2017

Sensasi Wisata Satwa di Lombok Elephant Park Bersama Blue Bird Group


Lombok tak hanya terkenal dengan sederet pantai menawan yang pasirnya sehalus tepung. Tapi pulau ini juga memiliki segudang objek wisata memukau yang susah digambarkan dalam kata. Sekali menginjakkan kaki di Lombok, seakan tak ada keinginan untuk kembali pulang.

Sebagai mahasiswa Sumbawa yang tinggal di Mataram, saya cukup beruntung sebab jarak berbagai tempat wisata di Lombok hanya sepenanak nasi. Sialnya, saya justru jarang berkeliling, sebab terkendala waktu dan uang saku. Saat sekali mendapat kesempatan, saya tak akan menyia-nyiakannya.

***

Dua hari berturut-turut saya berkesempatan meliput agenda Blue Bird Taksi Lombok. Pada momentum kali ini, mereka hendak melakukan kerjasama dengan Lombok Elephant Park, satu tempat wisata konservasi bertajuk kebun binatang yang baru saja aktif beroperasi dalam beberapa bulan terakhir.

Kesan saya, tempat ini menyajikan satu wahana rekreasi yang menarik sebab memungkinkan para pengunjung untuk berinteraksi lansung dengan berbagai satwa langka yang dilindungi. Sebagai kawasan konservasi, Lombok Elephant Park tentu sangat pantas menjadi tetirah untuk melepas penat.

Simpanse

Kawanan burung

Beruang madu

Buaya air asin

Dalam kunjungan kemarin, kami disambut hangat oleh Ketut Suadika, presiden direktur Lombok Elephant Park. Beliau adalah penggemar satwa yang humoris. Sebelum menandatangani kontrak kerjasama, ia mempersilahkan kami untuk menjajal kawasan wisata itu terlebih dahulu. Tak mau buang-buang waktu, ditemani beberapa petugas, kamipun segera berkeliling.

Tempat pertama yang saya singgahi adalah kandang burung nuri. Kandang itu terbuat dari besi dengan tinggi sekitar 3 tombak. Di situ ada beberapa ekor burung nuri dan jalak bali yang sungguh cantik. Saya sempat memberi mereka makan dari buah pisang yang telah dipotong kecil-kecil.

Selanjutnya saya mengunjungi kolam buaya. Di sudut lain, rombongan tengah asik berfoto dengan ular berukuran besar yang sudah jinak. Saya tak ikut berfoto sebab tak berani memegangi hewan bersisik cokelat itu. Saya memilih mengamati buaya. Kata petugas, buaya itu adalah jenis buaya air asin. Ia dibawa dari gili air setelah sebelumnya petugas keamanan laut menggagalkan penyelundupannya ke luar negeri.

Setelah itu, saya kembali menyusuri jalan setapak yang kedua sisinya dipagari sebagai pembatas. Di sepanjang jalan, saya menyaksikan banyak sekali koleksi satwa di tempat ini. Layaknya kebun binatang pada umumnya, Lombok Elephant Park juga mengoleksi beberapa jenis satwa seperti kambing hutan, iguana Afrika, bekantan Kalimantan, rusa, simpanse, landak, beruang madu, kudanil, serta aneka macam burung.

Memberi makan burung nuri

Kudanil

Gajah

Saya tak henti berjalan. Di satu bagian, saya melihat beberapa ekor gajah. Para pengunjung tentu bisa menaiki gajah-gajah di sini dengan biaya tiket yang tergolong murah. Seorang wanita memberitahu saya bahwa saat ini, koleksi gajah di Lombok Elephant Park berjumlah 4 ekor. Nantinya, ada tamabahan 7 ekor yang akan didatangkan. Wanita itu adalah dokter hewan yang bertugas mengecek secara rutin kondisi satwa di tempat ini.

Tak hanya itu, ia juga bercerita bahwa Lombok Elephant Park tengah menyediakan fasilitas mandi lumpur. Fasilitas itu ditujukan agar setiap pengunjung bisa leluasa menikmati sensasi mandi lumpur dengan hewan terbesar di dunia. Melihat gajah-gajah di tempat ini, saya teringat sosok Mammoth dalam film Ice Age yang ukuran tubuhnya sungguh menakjubkan.

Saya mengagumi konsep kebun binatang pertama di Lombok ini. Selain menjadi ruang rekreasi, Lombok Elephant Park juga bisa dijadikan sebagai sarana edukasi bagi setiap pengunjung. Tempat ini serupa laboratorium hewan yang memungkinkan setiap pengunjung untuk mengamati, mengenali, serta merasakan denyut nadi berbagai satwa dari belahan bumi.

Sebagai orang desa, ada banyak hal menarik yang saya rasakan. Tempat seperti ini adalah wahana yang tak bisa ditemukan di kampung halaman. Saya sangat bersyukur sebab memiliki kesempatan untuk berkunjung.

Setelah puas mengabadikan gambar bersama gajah, saya melangkah ke aula utama. Tempat itu dibangun persis di tengah taman wisata Lombok Elephant Park yang berbentuk lingkaran. Dari tempat itu, kita bisa melihat pemandangan sekeliling yang dipenuhi satwa sambil menikmati segelas kopi, teh, ataupun banyak menu lain yang tersedia.

Tak lama kemudian, penandatangan kontrak kerjasamapun dilakukan. Saya tak boleh alpa pada moment ini, sebab saya datang sebagai blogger yang ditugaskan untuk mendokumentasikan kegiatan, membuat satu informasi, lalu menyebarkannya di ranah maya.

Ketua Suadika bersama isrtinya

Penandatanganan kontrak kerjasama

Foto bersama

Seperti biasa, sambutan singkat kedua belah pihak ikut mengiringi proses kerjasama itu. Menggandeng Lombok Elephant Park, Blue Bird Taksi berharap bisa menyediakan pelayanan maksimal bagi pelanggan. Dengan adanya proses kerjasama itu, para wisatawan yang hendak mengunjungi Lombok Elephat Park bisa mendapatkan diskon dan kemudahan.

Setiap pengunjung bisa menggunakan jasa transportasi Blue Bird Taksi dengan cara memesannya melalui aplikasi resmi di Play Store, lalu menunjukkan history trip pada menejemen Lombok Elephant Park. Dengan cara itu, mereka bisa mendapatkan potongan harga tiket masuk ke area wisata sebesar 15 persen.

Hal serupa juga dilakukan Blue Bird Taksi dengan beberapa unit usaha lain di Lombok. Mereka menggaet restoran, pusat oleh-oleh, hingga spot wisata demi menunjang pelayanan serta kepuasan konsumen. Tak heran, jika perusahaan yang telah berdiri sejak 1972 itu masih bertahan hingga sekarang. Mereka selalu berusaha berafiliasi dengan selera pasar, melakukan berbagai langkah inovatif di tengah iklim persaingan dunia usaha modern yang serba kompetitif.

***

Sebenarnya, saya tak ingin cepat-cepat beranjak dari Lombok Elephant Park. Hanya saja, waktu memang tak selalu mengijinkan. Yang saya rasakan, tempat ini menyimpan sensasi wisata yang amat berbeda. Di tengah pesatnya perkembangan industri pariwisata Lombok, tempat ini hadir sebagai satu kawasan konservasi satwa yang ramah pengunjung.

Di tempat ini, kita leluasa menikmati panorama alam yang asri, udara sejuk khas perbukitan, serta riak-riak satwa yang bersenandung lirih di dalamnya. Ah, saya ingin segera kembali.

Bersambung...

Mataram, 16 September 2017

9/15/2017

Blue Bird Taksi Lombok, Sasaku, dan Bagaimana Cara Memanjakan Konsumen


Kerjasama Blue Bird Taksi Dengan Sasaku

Sebuah pengalaman berharga bisa menjadi bagian dari proses kerjasama Blue Bird Taksi Lombok dengan Sasaku, outlet oleh-oleh generasi baru yang mulai beroperasi dalam beberapa tahun terakhir.

Sasaku adalah toko oleh-oleh khas Lombok. Mereka menjual beraneka ragam barang dan sovenir seperti kain pantai, batik, tas, dompet etnik, kerajinan tangan, ukiran, cukli, topeng, sandal berlukis, makanan ringan dan lain-lain yang semuanya berlabel buatan Lombok.

Bukan sekali saya menghadiri kegiatan yang diinisiasi oleh Blue Bird Taksi. Beberapa waktu lalu, saya juga ikut serta dalam acara launching aplikasi mereka di salah satu hotel di Mataram. Kini, perusahaan transportasi itu tengah berusaha menggaet beberapa unit usaha lain demi memenuhi kebutuhan konsumen dan selera pasar.

Sebagai perusahaan yang telah berdiri semenjak 1972, mereka tentu sangat memahami persaingan usaha. Dengan menyeruaknya berbagai transportasi online di Lombok, Blue Bird Taksi dituntut untuk lebih kreatif agar tetap bertahan. Mereka harus bergerak cepat, melakukan berbagai inovasi, lalu bersiap menyambut iklim persaingan baru yang lebih kompetitif.

***

Bapak itu mulai mengambil alih pembicaraan. Dengan nada optimis, ia kemudian memaparkan capaian satu perusahaan transportasi di Lombok. “Driver kami bisa mengangkut penumpang rata-rata sebanyak 15 orang dalam sehari. Jumlah itu bisa dikalikan dengan 300 unit taksi yang beroperasi. Nah maka dari itu, semoga kerjasama ini bisa mendatangkan manfaat bagi kita semua, khususnya bagi para konsumen.” Demikian katanya.

Beliau adalah Amir Muslimin, pimpinan Blue Bird Taksi Lombok. Ia mengundang para pegiat media dan blogger demi mendokumentasikan proses kerjasama mereka dengan Sasaku untuk disebarluaskan. Ia berharap agar informasi kerjasama itu segera menjadi viral, lalu mengundang banyak konsumen.

Blue Bird Taksi Lombok

Selain Sasaku, sebelumnya, Blue Bird Taksi juga menjalin kerjasama dengan beberapa unit usaha lain yang berlokasi di Epicentrum Mall Mataram seperti Burgeng King, My Kopi-O, Omah Cobek Resto dan lain-lain. Tak tanggung-tanggung, mereka bahkan menyediakan diskon bagi setiap pelanggan yang menggunakan jasa transportasi Blue Bird Taksi dengan cara memesannya melalui aplikasi yang telah tersedia di Play Store.

Begitu pula dengan para wisatawan atau siapapun yang hendak membeli oleh-oleh khas Lombok di Sasaku. Mereka juga bisa mendapatkan diskon sebesar 10 persen dengan cara yang sama. Mereka bisa menggunakan jasa transportasi Blue Bird Taksi lalu menunjukkan history trip pada manajemen Sasaku dan segera menikmati kemudahan dalam berbelanja.

Menandatangani Nota Kesepahaman

Saya menyukai pola kerjasama yang digagas oleh Blue Bird Taksi. Mereka hendak berafiliasi dengan sistem pemasaran modern dimana pelayanan, kenyamanan, serta kreativitas merebut hati konsumen adalah jalan utama yang harus dilalui agar tidak tergerus. Mereka juga mengedepankan komitmen dalam membangun pola kemitraan yang saling menguatkan.

Sebagai bukti, Blue Bird Taksi selalu membagikan brosur dan melakukan promosi kepada setiap penumpang atas nama mitra mereka. Untuk Sasaku sendiri, mereka bahkan mengklaim telah jauh-jauh hari melakukan promosi sebelum penandatanganan kontrak kerjasama dilakukan.

Di setiap kesempatan, saya selalu antusias saat diminta berpartisipasi dalam kegiatan Blue Bird. Saya belajar banyak hal. Di antaranya, konsumen hari ini adalah tipe konsumen yang selalu mencari informasi tetang satu produk sebelum membelinya. Mereka lebih mudah percaya pada saran dan rekomendasi dari orang lain, ketimbang bahasa para pengiklan.

Amir Muslimin, Pimpinan Blue Bird Taksi Lombok

Konsumen hari ini akan mencari informasi melalui berbagai media, sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu. Makanya, setiap perusahaan akan berusaha membuat semua konsumennya merasa nyaman, senang, serta puas dengan pelayanan, sebab suatu waktu konsumen itu bisa menjadi pemasar yang baik bagi produk mereka. Ketika sang konsumen tak puas, maka mereka bisa saja menyebarkan ketidakpuasan itu di ranah maya.

Saya teringat buku Wow Selling, karangan Hermawan Kertajaya yang mengungkap rahasia dibalik ilmu marketing. Saya membaca resensinya di blog sahabat beberapa waktu lalu. Di dalamnya terdapat cerita tentang Joe Girard, seles mobil paling tangguh di Amerika Serikat. Bayangkan saja, lelaki itu bisa menjual hingga 180 mobil dalam sebulan.

Saat ditanya rahasianya, Girard hanya menjawab bahwa dirinya selalu berusaha mengenali siapapun konsmennya, menghapal nama mereka, lalu secara rutin merawat pertemanan. Dengan cara itu, hingga saat ini belum ada satupun yang dapat melampaui pencapaiannya sebagai seles.

Yang saya rasakan, prinsip-prinsip seperti inilah yang tengah dikembangkan oleh Blue Bird Taksi. Mereka hendak menyapa konsumen dengan cara berbeda. Di luar soal itu, boleh jadi mereka tengah mengikuti apa yang dirumuskan dalam Wow Selling yakni:

Satukan kata dengan perbuatan
Tambahkan kejutan bagi pelanggan
Ajari pelanggan untuk tumbuh
Rawat pertemanan

Setelah Burger King, Omah Cobek Resto, My Kopi-O, Timezone, Qua-li, Rumah Makan Ikan Goreng Cianjur, Excelso, dan Sasaku, lalu pihak mana lagi yang akan menjalin kerjasama dengan Blue Bird Taksi Lombok?

Bersambung...


Mataram, 15 September 2017