1/05/2018

Lain Pilgub Jabar, Lain Pilgub NTB

Ilustrasi (gambar: loctita.co)

Sekali lagi, PKS kembali mengguncang jagat perpolitikan tanah air. Di menit-menit akhir, partai berlogo bulan sabit kembar itu secara sepihak menarik diri dari koalisi yang telah dibangun bersama Partai Demokrat demi mengusung calon gubernur.

Dalam situasi genting, partai dakwah justru melakukan manuver politik yang kontroversial. PKS tetiba mencabut dukungannya kepada Deddy Mizwar, lalu beralih mendukung Sudrajat yang merupakan calon usungan partai Gerindra di pilgub Jabar 2018.

Apakah gerangan yang terjadi? Benarkah kejadian itu semata-mata untuk membangun fundasi yang kokoh antara PKS, PAN, dan Gerindra di 2019 nanti, sebagaimana yang disampaikan Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera? Jika benar, mengapa pula PKS tak menampakkan gelagat itu di menit-menit awal?

***

Dari tanah suci Mekkah, Fahri Hamzah menuliskan puisi untuk sahabatnya, Deddy Mizwar yang tengah menjabat sebagai wakil gubernur Jawa Barat. Puisi itu pertama kali ditulisnya melalui akun facebook pribadi, yang kemudian dimuat di beberapa media. Tak lama berselang, Demiz pun membalasnya dengan syair yang tak kalah menyejukkan.

Melalui puisi itu, Fahri hendak mengkritisi sikap politik PKS yang memutuskan berpisah dengan Demiz di pilgub Jabar. Sebagai politisi yang juga bermasalah dengan partai serupa, Fahri tentu memahami bagaimana perasaan sahabatnya. Seorang politisi yang gagal mendapat dukungan partai, tentu akan semakin tertatih meniti jalan politik yang dipenuhi pedang.

Rupanya, bola panas tak berhenti bergulir. Yang marak belakangan justru perang kata di dunia maya. Kali ini, sosok ustadz dalam film “kiamat sudah dekat” itu terlibat tweetwar dengan Wakil Ketua Dewan Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid. Jejak digital keduanya diabadikan dalam berbagai pemberitaan yang kian memantik keriuhan.

Tweetwar (gambar: twitter/nwahid)

Terkait PKS dan Demokrat, hubungan dua partai besar itu laksana sepasang remaja labil yang baru menjalin tali kasih. Sekali waktu, keduanya kerap menunjukan hubungan yang harmonis. Namun, dalam banyak kesempatan, tak jarang pula mereka berselisih paham.

Sejarah mencatat, di dua periode kepemimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono, PKS turut serta dalam koalisi partai pendukung pemerintah. Ketegangan mulai mencuat saat Demokrat mengusulkan kebijakan non populis dengan menaikkan harga BBM di awal-awal periode kedua pemerintahan SBY, yang lalu mendapat respon keras dari PKS kala itu.

Klimaksnya terjadi pada perhelatan pilgub DKI yang diselenggarakan awal tahun 2017 lalu. Saat itu, PKS sempat menyarankan dukungan terhadap calon dari Demokrat, yakni Agus Harimurti Yudhoyono, sebelum akhirnya memutar arah perahu partai dan mendukung kontestan lain.

Jika politik adalah seni membaca peluang, maka yang sesungguhnya tengah dilakukan PKS di pilgub Jabar adalah memainkan tarian dengan amat lincah demi menemukan pijakan yang kuat, yang nantinya bisa memuluskan langkah partai dalam banyak hal.

Yang dilakukan PKS semakin mempertegas fakta, bahwa politik itu serupa karet gelang yang mudah ditarik ulur sesuai kepentingan. Semua bisa saja berubah sewaktu-waktu.

Pilgub NTB 2018

Lain lubuk lain pula ikannya. Demikianlah pepatah lama yang menggambarkan fenomena pilgub Jabar, NTB, serta hubungan PKS dan Demokrat saat ini. Seakan tidak terpengaruh dengan polemik yang semakin memanas di pilgub Jabar, PKS dan Demokrat NTB justru tengah memperlihatkan satu hubungan yang romantis.

Hari itu, Senin, 1 Januari 2018, Dewan Pimpinan Wilayah partai PKS NTB secara resmi mendeklarasikan pasangan bakal calon gubernur Zulkieflimansyah dan wakil gubernur Sitti Rohmi Djalilah dari Demokrat di hadapan ratusan pengurus dan kader partai.

Deklarasi itu disambut suka cita. Raut kebahagiaan terpancar dari wajah para relawan dan simpatisan. Mereka nampak tak sabar untuk segera memanaskan mesin politik, membentuk satu barisan, lalu memenangkan calon dengan suara sempurna.

Politik memang selalu susah diprediksi. Apapun bisa terjadi. Dalam waktu singkat, peta dukungan bisa saja berubah. Tak ada kawan ataupun lawan. Yang ada hanyalah kepentingan di hari esok. Pertentangan elit partai di tingkat pusat seakan tak mempengaruhi bandul politik hingga ke daerah.

Nyantanya, tak hanya PKS dan Demokrat yang dipersatukan, bahkan partai penguasa PDIP juga secara mengejutkan mengikuti langkah Gerindra untuk mendukung Akhyar Abduh dan Mori Hanafi di kubu sebelah.

Poster (gambar: facebook/zulzulkieflimansyah)

Di pilgub NTB, pertautan antara PKS dan Demokrat sesungguhnya diawali dengan hubungan baik sang Gubernur dua periode, Muhammad Zainul Majdi yang kerap disapa TGB (Mantan ketua DPW Demokrat NTB) dan Zulkieflimansyah (Kader PKS).

Moment kedekatan itu kerap menghiasi berbagai media lokal, yang lalu memunculkan banyak spekulasi publik. Terlebih, Zulkieflimansyah yang masih berstatus anggota DPR RI itu juga merupakan salah satu penanggung jawab urusan luar negeri ormas NW yang dipimpin TGB.

Sebenarnya, ada banyak teori yang dapat diajukan demi menjelaskan konstelasi politik yang terhampar di NTB. Salah satunya adalah apa yang pernah didefinisikan oleh Harold Lasswell, yakni “siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana.”

Politik adalah seni untuk mengelola berbagai kemungkinan. Dalam politik, kelenturan adalah keahlian yang wajib dimiliki setiap politisi. Segala hal selalu bisa dinegosiasikan di ruang-ruang tertutup. Sikap kaku dan keras kepala hanya akan menjadi boomerang yang dapat menghancurkan karir politik di tengah jalan.

Selanjutnya, yang akan banyak berseliweran di berbagai diskursus adalah janji-janji perubahan yang disampaikan oleh para tim sukses dengan nada berapi-api. Mereka akan kembali jual 'kecap' sebagaimana lima tahun lalu. Batas pendaftaran calon gubernur dan wakil gunerbur tinggal menghitung hari. Adu strategi, ketangkasan, serta kemampuan menarik simpati publik akan menjadi penentu kemenangan.

Selamat menikmati.

Mataram, 05 Januari 2017

1/03/2018

Dua Film Laga yang Saya Nantikan di Tahun 2018

Adegan film Datu Mseng & Maipa Deapati

Sebagai penggemar aksi laga, ada dua film yang paling saya nantikan di tahun ini. Pertama, film berjudul Datu Museng dan Maipa Deapati yang diangkat dari kisah legenda di tanah Makassar. Kabarnya, film ini akan tayang pada 11 Januari mendatang. Kedua, film Wiro Sableng yang disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko.

Manakah yang ingin anda tonton?

***

Film Maipa Deapati dan Datu Museng akan segera tayang di bioskop. Jika tak ada kendala, saya ingin sekali menyaksikannya. Trailer-nya telah diunggah di youtube dan ditonton ribuan kali. Saya menyenangi adegan saat Datu Museng terpaksa harus membunuh isterinya dengan sebilah keris. Siapapun yang menonton adegan itu, pasti akan membayangkan bahwa film ini tidak saja menyajikan satu aksi laga, tetapi juga memuat drama percintaan yang berujung tragis.

Yups. Dalam berbagai literatur sejarah, kisah cinta Datu Museng dan Maipadeapati memang kerap disebut-sebut lebih romantis dibanding kisah Romeo dan Juliet. Fakta lain yang juga ikut mendorong saya untuk menonton film ini adalah hubungan kesejarahan antara Makassar dan Sumbawa yang diwakili kedua tokoh.

Film yang diperankan oleh aktor berdarah India, Shaheer Sheikh dan akrtris Filhzah Burhan ini diawali dengan adegan jatuhnya Makassar ke tangan VOC. Sejumlah pihak yang hendak mempertahankan tanah leluhur, lalu menggalang kekuatan. Dalam satu pembicaraan, mereka sepakat untuk memanggil Datu Museng yang saat itu telah menikahi putri kerajaan Sumbawa, untuk kembali ke tanah daeng demi memimpin perlawanan.

Sepintas, trailer film ini sangat menarik. Kalimat-kalimat dalam bahasa Makassar sungguh heroik. Hanya saja, pakaian yang dikenakan oleh semua prajurit, aktor, maupun aktris terlampau bagus untuk menggambarkan kehidupan di zaman kolonial. Padahal, ini kisah mengenai kehidupan orang-orang Makassar di masa lampau.

Pakaian-pakaian yang dikenakan itu seperti baru keluar dari toko. Sehingga, pesan yang ingin disampaikan terasa kurang mengena. Saya juga kurang sepakat dengan pilihan aktor utamanya. Beberapa penggalan kalimat Shaheer dalam bahasa Indonesia masih terdengar kaku. Hal ini bisa membuat penjiawaan seorang aktor terhadap peran yang dimainkannya tidak maksimal.

Entahlah, ini hanya kesan sepintas saat menyaksikan trailer film. Mungkin pihak produksi ingin menampilkan sesuatu yang lebih fresh dan agak berbeda dari biasanya. Akan tetapi, sebagai seseorang yang percaya kalau film tak hanya medium untuk hiburan, namun seni dalam menyajikan sesuatu, saya sedikit berharap lebih.

Film Wiro Sableng

Film lain yang saya nantikan adalah Wiro Sableng. Selain disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko yang juga merupakan sutradara dari film Filosofi Kopi, skenario Wiro Sableng juga dikerjakan oleh Sheila Timothy, Tumpal Tampubolon, serta Seno Gumira Ajidarma. Dalam satu wawancara, Sheila mengungkapkan bahwa ada keterlibatan Fox International Productions demi mendukung dana produksi film tersebut.

Di era akhir 90-an, film ini sempat menjadi salah satu serial yang amat diminati. Dulu, saya tak pernah alpa menonton Wiro Sableng hampir di setiap episodenya. Saya ingat betul, Wiro adalah sosok inspirasi bagi banyak anak di desa saya saat bermain. Mereka bahka rela membuat tato 212 hanya agar terlihat mirip dengan jagoannya itu.

Kini, betapa semringah saat mendengar pendekar kapak maut 212 akan kembali beraksi di layar kaca. Terlebih, ketika mengetahui film ini diperankan lansung oleh Vino G Bastian, aktor sekaligus anak kandung dari Bastian Tito yang juga kreator dibalik novel fenomenal Wiro Sableng Kapak Maut Naga Geni 212.

Beberapa artis papan atas yang juga ikut bermain di film ini antara lain Yusuf Mahardika, Dian Sidik, Lukman Sardi, Marcella Zalianty, Happy Salma, serta Yayan Ruhiyan. Rencananya, Wiro Sableng akan tayang pada bulan Desember mendatang.

Yah, apapun yang terjadi, saya akan selalu menyempatkan diri untuk menyaksikan dua film ini. Saya menggemari kisah-kisah di balik aksi laga, khususnya perjuangan mencari jati diri, serta sikap rendah hati sebagai seorang kesatria yang biasa ditunjukkan oleh pemeran utama. Saya berharap, akan semakin banyak film laga tanah air yang menyusul film-film ini ke layar lebar.

Mataram, 02 Januari 2018

12/28/2017

Lima Rekomendasi Tempat Liburan Tahun Baru di NTB

Pulau Bungin (Photo by: instagram/ers_ega)

Tahun 2017 sebentar lagi berlalu. Perayaan Natal yang baru saja digelar, menandakan kalender tahunan siap berganti. Gegap gempita perayaan malam pergantian tahun sama-samar telah terdengar. Sejumlah hotel dan tempat hiburan pun berlomba-lomba menawarkan discount menyambut momentum ini. Yup, bagi sebagian orang, penghujung tahun tentu saja merupakan waktu yang tepat untuk segera menuntaskan dahaga liburan.

Bagi saya sendiri, 2017 adalah tahun yang penuh pembelajaran. Saya belajar banyak tentang geliat industri pariwisata NTB bersama sahabat Genpi (Generasi Pesona Indonesia) Lombok Sumbawa. Saya mempelajari apa saja yang bisa berpotensi menghambat laju perkembangan sektor yang satu ini, serta bagaimana cara pemerintah mengentaskannya.

Saya mencatat, arus wisatawan sempat mengalami penurunan drastis paska letusan Gunung Agung beberapa waktu lalu. Di Gili Trawangan, seorang petugas loket antrian bertutur bahwa kunjungan wisatawan sempat menurun dari yang sebelumnya mencapai angka rata-rata 1.500 orang per harinya, menjadi 600 orang sejak letusan itu. Namun, perlahan keadaan berangsur normal menjelang pergantian tahun.

Di Lombok, sejumlah tempat penginapan seperti hotel, villa, bungalow, hingga pusat perbelanjaan telah siap menyambut arus wisatawan dari jauh-jauh hari. Mereka tahu betul, bahwa Pulau Seribu Masjid merupakan salah satu tempat favorite bagi pelancong setelah Jogja dan Bali. Belakangan, Lombok tampil dengan predikat pariwisata halal dunia, yang lalu melambungkan namanya.

Nah, sudahkah anda merencanakan liburan di akhir tahun? Daerah manakah yang hendak anda kunjungi? Tulisan ini akan sedikit mengulas beberapa rekomendasi wisata pulau di NTB, untuk anda yang tengah merencanakan liburan akhir tahun.

1. Gili Kedis, Lombok


Gili Kedis (Photo by: instagram/tubagussedo)

Di bandingkan dengan Gili Trawangan, Gili Meno, ataupun Gili Air, pulau mungil yang satu ini mungkin tak seberapa populer. Luasnya yang tak lebih besar dari lapangan bola, membuat masyarakat setempat sering menyebut Gili Kedis sebagai Pulau Burung Pipit. Gili ini ditumbuhi beberapa tanaman peneduh, serta memiliki panorama alam yang masih alami. Pasirnya begitu putih, dengan formasi batu karang terbelah yang membentuk kanal.

Gili Kedis mengingatkan saya pada film Cast Away yang berkisah tentang seorang pria yang terdampar di sebuah pulau kecil seorang diri. Suasananya yang teduh dan romantis, membut Gili yang berada di kawasan Sekotong Tengah, Kabupaten Lombok Barat ini sering dijuliki sebagai Honeymoon Island.

Untuk mengunjungi Gili Kedis, kita harus berkendara dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari pusat Kota Mataram atau dari Bandara Internasional Lombok, ke Pelabuhan Tawun. Dari sana, barulah kita melakukan penyebrangan dengan perahu seharga kurang lebih seratus ribu rupiah. Alternatif lainnya adalah, dengan cara menyewa perahu dari perkampungan nelayan di samping Pelabuhan Lembar dengan harga yang hampir sama.

2. Pulau Kenawa, Sumbawa Barat


Pulau Kenawa (Photo by: instagram/chantcute)

Beranjak ke Pulau Sumbawa, saya menetapkan Pulau Kenawa sebagai rekomendasi wisata akhir tahun. Setidaknya, ada beberapa hal yang mendasari mengapa pulau ini wajib dikunjungi.

Pertama, mereka yang berkunjung bisa menikmati indahnya alam perbukitan. Tepat di tengah pulau ini, terdapat bukit yang agak tinggi. Dari atas sana, kita bisa leluasa melihat keindahan Kenawa secara keseluruhan.

Kedua, layaknya di banyak pulau lain, Kenawa juga memiliki pantai berpasir putih. Kita bisa berjemur ala turis, sembari mengamati laut biru yang membentang. Ketiga, pulau yang masuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Sumbawa Barat ini terkenal dengan padang rumput savana. Di musim hujan, padang rumput ini akan terlihat hijau segar, serta cokelat nan eksotis saat musim kemarau.

Keempat, pesona bawah laut Pulau Kenawa sangat cocok bagi pecinta snorkeling atau pun free diving. Kelima, pulau ini ramah bagi wisata keluarga (family traveller).

Di sini juga telah disediakan beberapa fasilitas umum seperti gazebo dan toilet. Keenam, Kenawa sangat layak dijadikan lokasi camping. Tak sedikit wisatawan yang memilih bermalam di tempat ini. Sebab, sunset berikut sunrise yang ditawarkan, juga sangat pantas untuk diabadikan.

Pulau Kenawa hanya berjarak sepeminuman teh dari Pulabuhan Poto Tano, Sumbawa. Dari sana, kita bisa menyewa perahu milik nelayan dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. Anda akan mendapatkan paket komplit saat mengisi liburan tahun baru di tempat ini.

3. Gili Meriam Besar, Sumbawa

Gili Meriam Besar (Photo by: instagram/zambavaadventure)

Bagi mereka yang hendak mencari tempat indah, tenang, dan terasing, mungkin Gili Meriam bisa menjadi pilihan. Gili ini merupakan satu dari sekian banyak gugusan pulau yang mengelilingi kawasan Teluk Saleh, Sumbawa. Berbanding terbalik dengan namanya, gili ini tak seberapa luas. Bahkan, hanya ada beberapa pohon yang tumbuh disekitarnya. Namun menyoal keindahan, Gili Meriam tak perlu diragukan.

Saya merekomendasikan tempat ini, sebab benar-benar masih belum terjamah. Tak banyak wisatawan yang pernah ke sana. Entah karena keterbatasan informasi, atau tidak adanya fasilitas penunjang di kawasan itu. Di mata saya, Gili Meriam Besar termasuk destinasi wisata yang anti mainstream.

Letaknya tak begitu jauh dari daerah asal saya, yakni Kecamatan Ampang, Kabupaten Sumbawa. Untuk menyebrang, kita bisa menyewa perahu nelayan dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Tak ada tarif khusus yang harus dibayar, mengingat proses penyebrangan tak begitu intensif. Biaya yang harus dikeluarkan tergantung pada bagaimana cara negosiasi dengan masyarakat setempat.

Gili Meriam Besar menyajikan satu pemandangan pulau yang eksotis. Di satu sisi pulau, terdapat tanjung yang menjorok ke arah lautan. Bentuknya persis seperti moncong meriam. Saya menduga, dari sanalah asal muasal penamaan tempat ini. Satu hal yang perlu diingat saat berkunjung adalah, bawalah bekal pribadi secukupnya, sebab tak ada warung yang dapat dijangkau di sekitar pulau.

4. Pulau Satonda, Dompu

Pulau Satonda (Photo by: instagram/andrescarretero)

Satonda merupakan destinasi wisata yang telah lama menjadi buah bibir para traveler dan fotografer dunia. Yang membuat pulau ini sedemikian terkenal adalah, danau air asin yang terletak persis di tengahnya.

Dahulu, seorang ilmuwan Eropa, Stephan Kempe dan Josef Kazmierczak pernah meneliti Danau Satonda yakni pada tahun 1984, 1989 dan 1996. Hasil penelitian mereka menyebutkan, Danau Satonda adalah fenomena langka disebabkan airnya yang asin memiliki tingkat kebasaan (alkalinitas) sangat tinggi dibandingkan air laut umumnya.

Konon, danau purba di Pulau Satonda itu terbentuk dari letusan Gunung Satonda beribu-ribu tahun lalu. Diperkirakan, gunung api Satonda berumur lebih tua dari Gunung Tambora, atau tumbuh bersamaan dengan beberapa gunung api parasit yang tersebar di sekeliling Tambora.

Danau yang terbentuk di kawah Satonda dulunya terisi air tawar. Letusan Gunung Tambora yang mengakibatkan tsunami mengantar air laut mengisi kawah tersebut dan mengubahnya menjadi danau air asin hingga saat ini.

Tak hanya itu, Pulau Satonda juga menyimpan kekayaan terumbu karang di perairan sekitarnya. Hal ini membuat pulau yang telah ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam Laut pada 1999 ini, menjadi salah satu spot favorite bagi para penyelam.

Bagi anda yang ingin berkunjung, Pulau Satonda bisa ditempuh dengan waktu lebih kurang selama 4 jam dari Kabupaten Dompu. Selanjutnya untuk menuju pulau, kita dapat menggunakan perahu cadik bermotor dari desa terdekat, yaitu Desa Nangamiro dengan tarif berkisar dua puluh lima ribu rupiah per orangnya.

5. Pulau Kelapa, Bima

Gili Kelapa (Photo by: instagram/ama_bibu)

Takhir adalah Pulau Kelapa. Pulau yang satu ini merupakan pulau terluar dari Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat, yakni berada di Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, dan berbatasan lansung dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Untuk mencapai pulau ini, kita harus melintasi perairan Selat Sape menggunakan motorboat, dengan waktu tempuh perjalanan sekitar 2 jam.

Keindahan pulau ini memang tak terbantahkan. Yang membuatnya sedemikian menarik adalah, pulau-pulau kecil berbatu yang nampak di depannya. Sepintas, bentuknya serupa Raja Ampat di Papua.

Sama halnya dengan Kenawa, Pulau Kelapa juga memiliki perbukitan savana yang indah. Kita membutuhkan waktu tak kurang dari satu jam pendakian untuk sampai di puncak bukit.

Di sini, masih berdiri tegak beberapa bangunan kecil serta bekas kantor peninggalan masa kolonial. Bangunannya terbuat dari kayu yang sangat kuat dan masih terawat dengan rapi, meskipun tak lagi digunakan.

Sejenak mengamati sekeliling, yang tersaji adalah sekelebat pemandangan laut yang serupa permadani biru. Dari atas bukit ini pula, kita juga bisa melihat Pulau Komodo di seberang lautan sana.

***

Saya hanya mencatat beberapa destinasi pulau sebagai rekomendasi liburan di akhir tahun. NTB tentu masih menyimpan keindahan lain yang serupa serpihan surga. Sayangnya, tak banyak publikasi serta ulasan perihal berbagai objek wisata, khususnya di Pulau Sumbawa yang menyentuh telinga luar. Tempat-tempat indah itu justru saya temukan saat berselancar di instagram.

Saya menduga, tak semua orang mau mengabadikan perjalanan mereka melalui tulisan. Tak semua orang mau berpayah berpayah mencatat, lalu mengabarkan keadaan satu tempat kepada orang lain.

Mereka lebih memilih media sosial seperti facebook dan instagram sebagai medium interaksi. Padahal, yang tak selalu bisa dilakukan selain dengan menulis adalah, kita leluasa menceritakan sesuatu dari banyak sisi, objektif, dan lebih terperinci.

Mataram, 28 Desember 2017

12/23/2017

Mengapa Ada Negara Kaya dan Negara Miskin?

Mengapa negara gagal?

Salah satu buku ekonomi makro yang selalu menarik untuk di baca adalah Why Nations Fail, yang diterjemahkan dengan judul Mengapa Negara Gagal. Penulisnya, Daron Acemoglu dan James A. Robinson adalah dua profesor di MIT dan Harvard University yang berhasil menggabungkan berbagai sintesis ide demi membangun argumentasi atas pertanyaan mengapa ada negara yang makmur dan negara yang jatuh miskin.

Terus terang, saya tak hanya menyenangi gaya penulisan buku ini yang sederhana, tetapi juga begitu kagum dengan banyaknya data, literatur, serta kajian di dalamnya. Melalui buku ini, penulis hendak membantah sejumlah teori tentang kesenjangan kemakmuran antar negara sebagaimana yang pernah dibentangkan para pemikir dunia seperti Montesquieu, Max Weber, hingga Lionel Robbins.

Menurutnya, fenomena kesenjangan kemakmuran yang terjadi saat ini tidaklah disebabkan oleh faktor geografi, budaya, maupun kebodohan pemimpin. Melainkan disebabkan oleh institusi ekonomi dan politik, berikut tata hukum atau perundangan yang mempengaruhi mekanisme ekonomi dan insentif bagi rakyat.

Pokok pembahasannya adalah perbedaan antara institusi ekonomi ekstraktif dan inklusif. Ekstraktif mengedepankan upaya memeras, mengeruk, menyadap, dan menghisap kekayaan satu lapisan demi memperkaya lapisan lainnya. Sedangkan inklusif adalah menciptakan pasar yang berkeadilan, memberi kebebasan bagi rakyat untuk memilih pekerjaan, serta menyediakan arena persaingan yang adil bagi siapa saja untuk berkompetisi.

Demikianlah pendekatan yang dilakukan dalam menjelaskan fenomena kesenjangan kemakmuran yang terjadi di Korea Utara dan Korea Selatan, Nogales Arizona yang masuk kawasan Amerika Serikat dan Nogales Sonora yang masuk kawasan Mexico. Metode serupa juga ikut menerangkan mengapa kebanyakan negara di bagian Sub Sahara Afrika memiliki tingkat kemakmuran yang sangat kontras jika dibandingkan dengan tetangga-tetangga mereka di kawasan Amerika, Eropa dan Asia Timur.

Demi menjelaskan institusi ekonomi dan politik, dua sejawat itu menelaah sejarah berbagai negara. Mereka hendak menunjukkan kalau di tangan penguasa yang lalim dan serakah, masa depan satu bangsa bisa menjadi kian terpuruk. Kekuatan terbesar dari negara-negara maju terletak pada kesadaran kolektif warga negaranya untuk menghadirkan solusi atas dinamika yang terjadi, melalui istitusi dan kelembagaan.

Mereka yang memiliki visi, akan membangun kelembagaan yang demokratis dan adil bagi semua warga negara serta memberikan ruang bagi siapapun untuk mengakses kebebasan. Sebaliknya di tangan mereka yang picik dan haus kuasa, kelembagaan akan direkayasa sedemikian rupa demi mempertahankan posisi dan mengumpulkan pundi-pundi kekayaan.

Di satu bagian, ada pembahasan tentang perekenomian Venesia yang maju pada tahun 810 Masehi sebab ditopang oleh institusi ekonomi inklusif yang canggih pada masanya. Setelah itu, terjadilah huru-hara politik, diikuti upaya dari segelintir elit untuk melancarkan siasat isolasi ekonomi dan ingin berkuasa penuh, yang akhirnya turut mengantarkan negeri asal pedagang legendaris, Marco Polo itu ke lubang keterpurukan.

Di akhir pekan, membaca buku seperti ini tentu amat mengasyikkan. Saat membacanya, kita serasa tengah melakukan penjelajahan ke berbagai negara, bertemu banyak tokoh, serta mengamati berbagai peradaban yang pernah berjaya di masa silam. Kita di ajak untuk merangkum semua lintasan panjang itu demi menjelaskan mengapa ada negara kaya dan negara miskin.

Ini hanyalah rangkuman sederhana yang coba saya tuliskan tentang buku ini. Tentu masih banyak hal yang tak bisa saya jelaskan secara detail dan mendalam, sehingga membuat Why Nations Fail layak mengisi top list bacaan anda.

Mataram, 23 Desember 2017

12/22/2017

Titip Rindu untuk Ibu

Selamat hari ibu (Photo: islamidia.com)

Hari ini, semua orang berlomba-lomba menyatakan cinta kasih kepada ibunya. Yups, hari ini, 22 Desember adalah perayaan hari ibu (The mother’s day). Entah kenapa, aku juga rindu sosok itu. Kulitnya yang kian keriput, menandakan bahwa umurnya tak muda lagi. Wajahnya yang makin berkerut tetiba hilir mudik dalam ingatanku sejak semalam.

Aku rindu wanita itu. Setiap kali mengingatnya, terasa ada cairan bening yang perlahan-lahan menetes di mataku. Terus terang, aku merasa malu karena belum bisa berbuat banyak di usianya yang kian senja. Aku merasa malu, sebab belum bisa mengembangkan senyum di bibirnya. Rambutnya mulai memutih, matanya kian kusut. Namun, cinta kasihnya terus saja mengalir.

Sewaktu aku lulus SMA dulu, itulah pertama kali aku melihat getir di wajahnya. Barangkali saat itu, ia tengah memikirkan bagaimana cara menyekolahkanku hingga level perguruan tinggi. Mungkin ia tak ingin pendidikanku terputus sebagaimana kakak perempuanku.

Sebagai putra satu-satunya, aku sangat menghargai harapan ibuku yang setinggi gunung. Suatu hari, ia pernah berpesan, kelak jika dirinya telah tiada, aku harus mampu menyekolahkan adikku yang sekarang duduk di bangku SMP. Tiap kali mengingat kalimat itu, batinku selalu basah.

Akhir-akhir ini, aku benar-benar sedang susah dan tak punya duit. Aku tahu betul kalau ibu juga sedang kesusahan di kampung halaman, karena kami memang berasal dari keluarga sederhana. Ibuku hanyalah seorang petani dengan lahan seadanya, serta ayahku hanyalah seorang nelayan yang hari-harinya lebih banyak bergantung pada lautan.

Tiap hari aku selalu berusaha menahan diri untuk tidak menelfonnya. Aku tak mau setiap masalahku di perantauan, harus menjejali pikiran wanita itu. Tapi anehnya, ia selalu tahu kalau aku lagi susah. Ia lantas menelfonku, lalu menawari bantuan yang serupa mukjizat yang turun dari langit. Ah, dia memang serupa malaikat penolong.

Ibuku adalah cahaya yang menyala-nyala dalam jiwaku. Ia adalah api yang membakar semangat untuk terus menjalani hidup. Bagiku, ia adalah segalanya. Ia adalah sosok yang dikirimi tuhan kepadaku demi memahami apa yang disebut banyak orang sebagai cinta. Aku meyakini bahwa setiap ibu, adalah wujud dari cinta itu sendiri.

Kini, dalam bentangan jarak, aku kian kerdil setiap kali mengingat ibu. Di sini, aku masih saja tak berdaya serta belum bisa berbuat banyak untuk menuntaskan dahaga kebahagiaan di hatinya. Sekarang, aku hanya bisa berujar lirih sembari berharap kepada sang ilahi agar memberiku kemudahan untuk membalas jasa-jasanya kelak.

Selamat hari ibu.

Mataram, 22 Desember 2017, di hari ibu.

Dulu Asrama Mahasiswa, Sekarang Kandang Ayam

Ayam berlarian

Semalam, seorang sahabat mengundang saya berdiskusi seputar isu kedaerahan. Tanpa banyak pertimbangan, saya pun segera memenuhi permintaannya. Diskusi ringan itu membahas beberapa persoalan. Mulai dari kabar tak sedap perihal pembatalan pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa, hingga fenomena asrama mahasiswa Sumbawa di Mataram.

Di sela-sela diskusi, sahabat itu mulai menceritakan kegelisahannya perihal nasib bangunan tua yang dulunya menjadi sentra perkumpulan ribuan mahasiswa Sumbawa di Mataram. Setelah enam tahun paska bangunan itu terbakar, tak ada respon dari pemerintah. Tak ada etikat baik untuk merenovasi bangunan itu. Atau, minimal memberikan sekretariat sementara sebagai penggantinya.

Sebenarnya, sejak dulu saya sudah berusaha membuka keran komunikasi dengan pemerintah terkait permasalahan ini. Melalui salah satu paguyuban mahasiswa Sumbawa di Mataram, para sahabat aktivis juga getol menyuarakan hal serupa. Pernah kita menyurati Dewan Perwakilan Rakyat di Kabupaten, pernah pula kita bertemu salah satu pejabat tinggi daerah, lalu membicarakannya. Sayang, sampai hari ini pun, wacana untuk merenovasi bangunan asrama itu tak kunjung terlaksana.

Padahal, keberadaan sebuah asrama mahasiswa sangatlah penting. Di bangunan bernama asrama, mereka yang berasal dari daerah-daerah tak hanya bisa tinggal dan saling berinteraksi, tetapi juga bisa saling bertukar ide dan gagasan melalui forum-forum diskusi yang dengan mudah digelar setiap harinya. Selain di lingkungan kampus, asrama adalah tempat penyemaian pikiran-pikiran besar demi kemajuan daerah.

Terbukti, mereka yang sekarang menempati posisi strategis di Kabupaten Sumbawa, dulunya pernah menghabiskan banyak waktu di asrama itu. Hanya saja, tak semua mau bersimpati, lalu melakukan sesuatu saat mengetahui kondisi bangunan yang dulunya menjadi tempat tinggal itu kini lebih mirip kandang ayam.

Entah kenapa, hati saya selalu teriris ketika melintasi area bangunan asrama mahasiswa Sumbawa di Mataram. Kini, bangunan itu tak lagi terawat. Yang tersisa hanyalah puing-puing lapuk akibat amuk si jago merah beberapa tahun lalu. Pada gerbang yang bertuliskan Wisma Lalu Mala Syarifuddin itu, selalu dipenuhi sampah dan rumput-rumput liar.

Andai saja sosok yang disebut-sebut sebagai Doktor pertama di NTB itu bisa bangkit dari kuburnya, apakah gerangan yang akan dikataannya? Jika ia melihat kondisi wisma yang didirikannya begitu memperihatinkan, apakah gerangan reaksinya? Ataukah ia akan seperti seorang pemimpin di seberang sana yang senang mengumbar janji, acuh tak acuh, serta selalu sibuk mengurusi dirinya sendiri? Entahlah.

Saya berharap, pemerintah tidak amnesia pada janji-janji politik saat kampanye dulu, serta tetap fokus pada program skala prioritas menyangkut infrastruktur. Untuk itu, seharusnya tak perlu banyak pertimbangan untuk segera merenovasi Wisma Samawa, mengingat basis terbesar mahasiswa Sumbawa yang hidup diperantauan itu ada di Mataram.

Di akhir diskusi, saya menekankan bahwa perlunya satu sikap kesadaran kolektif dari semua pihak, termasuk seluruh mahasiswa Sumbawa di Mataram untuk ikut ambil bagian demi memperjuangkan masalah ini. Sebab, jika berlarut-larut, para generasi selanjutnya tentu akan bernasib sama. Orang bijak mengatakan, tinggalkanlah mata air, bukan air mata.

Mataram, 22 Desember 2017

Pilkada itu Lebih Kejam dari Perempuan

Ilustrasi (Photo: acehsatu.com)

Di satu group facebook, orang-orang tengah berdebat tentang siapa yang lebih pantas memimpin NTB paska Tuan Guru Bajang. Mereka sama-sama memuji jagoan masing-masing. Mereka hendak mengumumkan kepada publik bahwa pasangan yang mereka usung adalah pahlawan yang sebenarnya. Di media sosial, mereka sesumbar bahwa sang calon layaknya manusia dengan trah separuh dewa yang turun dari langit, lalu berniat mengentaskan segala permasalahan di bumi sejuta sapi. Benarkah? Cuih!

Entah kenapa, fenomena pemilihan kepala daerah selalu seperti ini. Sebagaimana lima tahun silam, praktik menebar kebohongan secara massal melalui pilkada kembali digelar. Mereka, yang menyebut dirinya pemimpin itu, akan kembali ‘jual kecap’ melalui tim sukses dan simpatisan demi menjelekkan kandidat lain, lalu berjanji untuk mendengarkan suara hati banyak orang.

Tak percaya? Marilah kita mencermati bakal calon satu persatu. Biarpun semuanya belum mendeklarasikan diri secara resmi, tetapi siapa-siapa yang akan bertarung di pilkada NTB nanti sudah bisa dipastikan. Ada kandidat yang menjabat sebagai bupati, walikota, hingga DPR RI. Herannya, masih berani pula mereka berjanji-janji, padahal rakyatnya banyak yang miskin merana dan tak punya akses atas kehidupan yang layak.

Ah, kekuasaan memang kerap menenggelamkan sisi kemanusiaan. Demi meraih kursi kuasa, seseorang rela melakukan apa saja. Mereka yang memasuki arena politik, serupa gladiator yang bersiap menghunus pedang. Selain beradu ketahanan mental dan kelihaian, hal yang sangat penting tentulah menyangkut anggaran. Untuk memenangkan pertarungan politik, miliaran, bahkan triliunan uang rela dihamburkan.

Suatu hari, saya pernah berdiskusi dengan seorang politisi. Ia menuturkan bahwa demi menjabat sebagai anggota dewan, dirinya bahkan mengucurkan uang hingga miliaran rupiah. Dalam dunia politik, nominal sebanyak itu bukanlah jumlah yang fantastis. Sebab, bagi mereka yang terjun ke dalam rimba raya politik, mereka terlebih dahulu harus membangun satu pasukan yang siap berjibaku demi kemenangan.

Seorang doktor lulusan Ohio University pernah menulis tentang politik sebagai industri. Yang ia maksud dengan industri adalah satu mekanisme atau mata rantai yang melibatkan banyak bagian, dan masing-masing bagian itu saling membutuhkan. Lihat saja mereka yang bertarung di arena pilkada. Mereka di-backup oleh banyak tim, mulai dari tim citra, tim akademis, tim preman, hingga tim pemasang baliho.

Jika kita memiliki akses pada satu tim sukses, marilah kita hitung berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk menggerakkan mesin politik itu. Apakah semiliar? Rasanya, dana semiliar tak akan cukup untuk pilkada. Terlebih untuk konteks pilkada kekinian yang dikenal memuat begitu banyak kepentingan serta cost yang terlampau tinggi. Uang menjadi benda wajib yang dikucurkan demi melenggang ke tangga kuasa. Politik butuh modal. Minimal untuk memanaskan mesin politik atau mengalirkan energi pada setiap sendi agar mesin itu terus bekerja.

Entah kenapa, saya tak pernah percaya pada proses politik bernama pilkada. Terlebih pada tim sukses. Mereka ibarat para penyabung ayam yang menjelang pertandingan sibuk mengelus-elus jagoannya. Pilkada tak ubahnya sebuah permainan kartu. Pada akhirnya, mereka yang menang akan sukses dan memanen rezeki, sedang yang kalah akan menangis sejadi-jadinya ketika membayangkan uang yang terlanjur dibelanjakan.

Pilkada memang selalu bisa diinterpretasikan dari banyak sisi. Bagi rakyat, pilkada sudah barang tentu adalah ajang mendengarkan janji-janji surga. Bagi politisi, pilkada adalah peluang untuk menancapkan kekuatan. Bagi birokrat, pilkada adalah rasa was-was apakah kelak, posisinya akan digeser ataukah tidak. Bagi pengusaha, pilkada adalah arena untuk memasang taruhan dan siap-siap memanen keuntungan berlipat jika menang. Bagi preman, pilkada adalah saat yang tepat untuk memanen duit lewat kerja-kerja intimidasi.

Bagi saya, pilkada itu lebih kejam dari perempuan. Sebab, untuk kesekian kalinya kita memelihara harapan yang kuat sebelum akhirnya dipatahkan oleh para centeng-centeng kelas kancil serta pemimpin yang pongah atas sederet prestasinya, namun minim pengabdian kepada masyarakat.

Menurut kalian, pilkada itu bagaimana?

Mataram, 21 Desember 2017